by

Zuhairi Misrawi : Masa Depan Islam adalah Titik Temu Antara Sunni dan Syiah

“Masa depan Islam adalah masa depan titik temu. Jika titik temu Sunni-Syiah tidak ada, maka tidak ada masa depan Islam” – Zuhairi Misrawi –

Suasana masyarakat Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Gejala radikalisme dan ekstrimisme agama terus menguat ditengah-tengah masyarakat yang majemuk ini. Sekelompok orang ingin memaksakan keyakinan dan penafsiran agamanya untuk memfonis pemahaman dan keyakinan orang lain salah dan sesat. Sekelompok yang lain menggunakan kekerasan, seakan tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah keberagamaan.
Dalam kondisi seperti ini, bangsa Indonesia membutuhkan sosok-sosok yang mampu menjembatani umat. Pada kesempatan menghadiri peringatan ulang tahun Dr. Jalaluddin Rahmat MSc., cendekiawan muda NU Zuhairi Misrawi menyampaikan refleksinya tentang Kang Jalal dan masa depan Islam di Indonesia.
Gus Mis (sapaan akrab Zuhairi Misrawi) mengenang bagaimana ia berkenalan dengan pemikirang Kang Jalal. “Perjalanan saya mengenal kang Jalal dimulai dari sebuah buku berjudul Islam Aktual karya beliau” ceritanya. Buku tersebut akhirnya mempengaruhi cara pandangnya tentang Islam.
Dengan nada guyon, ia mengatakan “jika tidak berkenalan dengan buku Kang Jalal mungkin saya sudah jadi ekstrimis seperti ANNAS di Bandung itu”.
Alumni Al-Azhar Mesir ini juga memuji dengan mengatakan bahwa Kang Jalal maqomnya di atas Gus Dur dan Cak Nun. Karena menurutnya orang yang sering disebut sebagai “gembong Syiah” tersebut menguasai khazanah keilmuan Ahlussunnah. Disamping juga menguasai filsafat Barat dan tentunya khazanah keilmuan Syiah.
Refleksi Zuhairi Misrawi : Peran Strategis Kang Jalal dalam Mendorong Titik Temu Sunni-Syiah di Indonesia
Zuhairi juga melihat bagaimana hubungan peran strategis kang Jalal sebagai tokoh Syiah sekaligus anggota DPR dengan masa depan Islam di Indonesia. Ia mengatakan “kehadiran Kang Jalal sangat penting untuk menjadi juru bicara umat Syiah yang baik, di tengah pengkafiran dan pensesatan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab”. Dapat menjelaskan Syiah itu apa, tanpa orang merasa digiring menjadi Syiah.
Zuhairi melanjutkan, sebagai anggota DPR, posisi kang Jalal sangat strategis untuk mendorong titik temu Sunni-Syiah di Indonesia.  Ia mengatakan “Indonesia harus menjadi contoh titik temu Sunni-Syiah, dan Kang Jalal dengan segala keilmuan dan kemampuannya harus mendorong titik temu Sunni Syiah di Indonesia.”
Sekali lagi Indonesia harus menjadi contoh titik temu antara Sunni dan Syiah. Pancasila sudah terbukti mempersatukan seluruh agama dan etnis melalui Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Mestinya tidak ada hambatan untuk membangun lembaga khusus Titik-Temu Sunni-Syiah. Indonesia berperan aktif dalam diplomasi dengan negara-negara Timur-Tengah untuk mendorong titik-temu Sunni-Syiah, karena titik-temu merupakan jalan menuju perdamaian dan kokohnya demokrasi.
Iran punya lembaga titik temu Sunni-Syiah atau dikenal dengan Majma’ Taqrib Bayna Madzahib. Lembaga ini mempunyai kegiatan rutin dalam mendorong titik temu antara Sunni dan Syiah. “Saya ingin Indonesia menjadi seperti Iran, yang mempunyai lembaga yang mengurus titik temu Sunni-Syiah”, harapannya.
Ia melanjutkan, “karena masa depan Islam adalah masa depan titik temu”. Menurut salah satu murid Gus Dur ini, jika titik temu Sunni-Syiah tidak ada, maka tidak ada masa depan Islam. Sebaliknya, yang terjadi adalah konflik sektarian semakin membabi buta.
Misalnya, muslim Syiah dan muslim Sunni tentu sepakat dengan sosok Imam Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat maupun keluarga Nabi Muhammad yang keutamaannya tidak diragukan lagi. Konflik sektarian, di Indonesia khususnya, dapat diredakan jika mau kembali pada teladan nabi dan Ali bin Abi Thalib. “Titik temunya Sunni-Syiah itu mam Ali, dan Sayyida Fatimah Az” tegas Zuhairi Misrawi.
Syamsuddin Baharudin (Ketum PP IJABI) juga menegaskan “Semoga kedepan, Titik Temu Sunni-Syiah segera terjalin”. Menurut Syamsuddin, perayaan Ulang tahun Kang Jalal adalah bagian dari upaya menjaga khazanah pemikiran Kang Jalal. Selain itu, Syamsuddin mengatakan “dalam suasana kebatinan bangsa Indonesia seperti ini, kita membutuhkan sosok seperti ust Jalal”. Ketika gejala ekstrimisme dalam keberagamaan muslim menguat akhir-akhir ini, bangsa ini membutuhkan sosok-sosok seperti kang Jalal.
Acara peringatan ulang tahun Kang Jalal yang diadakan di Aula Komplek DPR RI Kalibata (29/08) ini juga dihadiri oleh Kang Jala sendiri, ust Agus Abu Bakar Arsyal, para pengurus IJABI dan jamah Ahlulbait Jakarta. Dalam sambutan di akhir acara, Kang Jalal mengatakan, “misi hidup saya adalah saya tidak peduli dengan ocehan orang-orang, tapi saya ingin sejarah mencatat tentang apa yang kita lakukan dalam hidup kita.” (QasimAli).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed