by

Siapakah Syiah Ali itu ?

Tiada keraguan sedikit pun, bahwa Syiah Ali dan Ahlul-Bayt adalah orang- orang Muslim yang mengikuti mereka (Ahlul-Bayt) dalam urusan agama dan mendukung mereka.

Alhamdulillah, kami telah mengikuti mereka sepenuhnya dalam seluruh cabang agama dan akidahnya, ushul-fiqh serta kaidah-kaidahnya, ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadis dan Al-Quran serta ilmu akhlak, perilaku dan sopan santun.
Semua itu sebagai manifestasi ketundukan kami sepenuhnya kepada kepemimpinan mereka serta demi pengakuan atas perwalian mereka. Kami pun selalu mendukung para pencinta mereka dan menjauhi musuh-musuh mereka sebagai perwujudan kaidah-kaidah kecintaan serta penerapan norma-norma akhlak dalam hal kasih sayang terhadap keluarga Rasulullah SAW.
Dengan demikian kami selalu bertindak sebagai syi’ah (pendukung) mereka sementara mereka selalu kami jadikan sebagai wasilah dan perantara.
Segala puji bagi Allah atas petunjuk-Nya kepada kami untuk mengikuti agama-Nya serta taufik-Nya atas kami untuk memenuhi seruan yang disampaikan oleh Rasulullah SAWW agar berpegang teguh pada Ats-Tsaqalain (Al-Quran suci dan ‘itrah, keluarga suci Nabi SAWW), serta memasuki “kota ilmunya” melewati “pintunya”.
Yaitu “pintu pengampunan dosa”, “jaminan keamanan bagi segenap penghuni bumi”, serta “bahtera-bahtera penyelamat bagi umat ini”. Dan sekali lagi, segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami jalan ini. Sungguh kami tiada akan memperoleh hidayah seandainya Allah SWT tiada memberinya kepada kami.
Dalam kitab Ash-Shawa’iq, halaman 91, diriwayatkan dari Ibn Sa’ad bahwa Ali berkata: Rasulullah SAWW pernah mengatakan kepadaku bahwa sesungguhnya orang pertama yang masuk surga adalah aku, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husain.
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan para pencinta-pencinta kita?” Jawab beliau: “Mereka berada di belakang kalian.”
Ad-Dailami meriwayatkan seperti yang tersebut dalam kitab di atas sebuah hadis marfu’: “Putriku Fathimah diberi nama seperti itu karena Allah SWT telah memisahkannya serta para pencintanya dari jilatan api neraka.”
Pada halaman dan kitab yang sama, Ahmad bin Hanbal dan Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW menggandeng tangan Hasan dan Husain seraya bersabda: “Siapa pun yang mencintaiku dan mencintai kedua anak ini, serta ayah dan ibu mereka berdua, maka ia akan bersamaku pada derajatku di Hari Kiamat kelak.”
Dalam At-Tafsir Al-Kabir, Ats-Tsa’labi meriwayatkan dengan sanad kepada Jarir bin Abdullah Al-Bajali, bahwa Rasulullah SAWW pernah bersabda:
Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, maka ia mati syahid.
Barang siapa mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, niscaya ia akan terampuni. Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, maka ia mati dalam keadaan bertobat. Barangsiapa mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, maka berarti ia mati dalam keadaan beriman yang sempurna.
Barangsiapa mati dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, maka Malaikat Al-Maut beserta Munkar dan Nakir akan mengabarinya dengan surga. Barangsiapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad akan diantar ke surga laksana pengantin perempuan yang diantar ke rumah suaminya.
Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, maka Allah SWT akan menjadikan kuburannya sebagai tempat kunjungan Malaikat rahmat. Barangsiapa wafat dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, maka ia mati (sebagai pengikut) sunnah (Muhammad) dan anggota jamaah (kaum Muslim).
Adapun Orang yang meninggal dunia dalam keadaan membenci keluarga Muhammad, maka, di Hari Kiamat kelak, akan tertulis di antara kedua matanya ‘Orang ini telah putus asa dari rahmat Allah ‘. ” ( Al-Hadits)
Az-Zamakhsyari telah menukilkan hadis ini, secara mursal, dalam tafsir ayat “Al-Mawaddah fi Al-Qurba”, surah Asy-Syura: 23, dalam kitab tafsir Kasysyaf-nya, sebagai hadis yang tidak mengandung keraguan sedikit pun. Demikian pula para penyusun tulisan mengenai “Manaqib” dan Fadha’il” telah meriwayatkan hadis ini, adakalanya dengan menyebutkan sanadnya, namun adakalanya secara mursal, yakni tanpa merasa perlu menyebutkan sanadnya.
Anda pun pasti tahu bahwa martabat yang mulia ini dikaruniakan kepada mereka, mengingat bahwa mereka adalah “bukti-bukti Allah” yang amat kuat, tempat menimba air syariat-Nya yang jernih dan bersih. Mereka adalah orang-orang kepercayaan-Nya sepeninggal Nabi Muhammad SAWW Dan mereka adalah duta-duta-Nya dalam penyampaian amar ma’ruf nahi munkar.
Itulah sebabnya, barangsiapa mencintai mereka karena hal tersebut, maka ia adalah pencinta AUah dan siapa membenci mereka maka ia adalah pembenci Allah SWT Mengingat hal inilah, Al-Farazdaq menyenandungkan bait-bait syairnya tentang mereka (Ahlul-Bayt):
… Mereka itu dari keluarga mulia kecintaan terhadap mereka adalah sebagian dari agama kebencian terhadap mereka adalah kekafiran.
Dekat kepada mereka berarti keselamatan!
Jika dihitung-hitung orang yang bertakwa Merekalah pemuka-pemukanya!
Atau, bila ada orang yang bertanya: Siapa penghuni bumi paling utama? Jawabnya pasti: Itulah mereka!
Dalam kitab Ash-Shawa’iq, Bab IX, di bagian akhir Pasal 2, halaman 75, disebutkan bahwa Imam Ahmad merawikan dari Ali, yang berkata: Pemah Rasulullah SAWW mencariku lalu menemuiku di sebuah kebun. Beliau bersabda; “Bangkitlah, demi Allah, sungguh aku akan membuatmu ridha! Engkau adalah saudaraku dan ayah putra-putraku. Engkau berjuang demi tegaknya sunnahku. Barangsiapa mati dalam keadaan berpegang teguh pada pesanku, maka ia tergolong ahli surga.
Dan barangsiapa wafat dalam keadaan mencintaimu, maka ia telah memenuhi kewajibannya. Dan siapa pun meninggal dunia dalam keadaan mencintaimu sesudah kematianmu, niscaya Allah SWT akan menjamin keselamatan dirinya serta keimanannya selama matahari masih terbit dan terbenam.”
Pada penjelasan makna kedua dari makna-makna yang disebut dalam penafsiran ayat “al- mawaddah fi al-qurba”, dalam kitabnya Ash-Shawa’iq, Ibn Hajar menyebutkan sebuah hadis38:
Nabi Muhammad SAWW pada suatu hari muncul di hadapan sahabat-sahabatnya dengan wajahnya yang berseri-seri laksana bulan purnama. Abdur-Rahman bin Auf bertanya mengenai itu. Maka Rasul SAWW bersabda:
“Berita gembira disampaikan Tuhanku kepadaku mengenai saudaraku, sepupuku serta putriku. Yaitu bahwa Allah mengawinkan Ali dengan Fathimah, dan memerintahkan malaikat Ridwan, penjaga pintu surga, untuk menggerakkan pohon thuba (di surga) sehingga menumbuhkan lembaran-lembaran sejumlah para pencinta Ahlul Bayt-ku. Dan Ia menciptakan di bawahnya malaikat dari cahaya, lalu menyampaikan satu lembar kepada setiap malaikat.
Maka apabila tiba Hari Kiamat, berserulah para malaikat di antara seluruh makhkik. Dan tidak terkecuali seorang pun dari pencinta-pencinta Ahlul-Bayt melainkan disodorkan sehelai surat kepadanya sebagai tanda keselamatan dari azab neraka. Dengan demikian, jadilah saudaraku, sepupuku dan putriku sebagai pembebas dari api neraka bagi sejumlah besar laki-laki dan wanita dari umatku.”
Hadis-hadis seperti ini tidak mungkin tercakup semuanya dalam tulisan ini. Namun cuplikan sebagiannya di atas, mudah-mudahan cukup memuaskan bagi siapa saja yang dikaruniai Allah SWT hidayah dan inayah-Nya.
Dan mudah-mudahan sesudah keterangan ini, setiap Syi’i mengerti bahwa kalangan Ahlus- Sunnah telah berkata yang sebenarnya serta mengakui. Begitu pula semoga orang Sunni mengetahui bahwa sesudah adanya berita-berita yang menggembirakan ini, tidak akan muncul lagi perasaan kurang senang terhadap saudara-saudara mereka dari kalangan Syiah.
Salam sejahtera serta rahmat Allah dan berkah-Nya atas mereka yang senantiasa mengikuti sunnah dan menjauhi segala bentuk fitnah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed