by

Syiah-Sunni dan Penelitian Hadis

Mari kita baca hadis ini dengan teliti dan kita nilai sendiri apakah mungkin kata-kata demikian telah diucapkan oleh Nabi Muhammad. Hadis ini ada di kitab Shahih Muslim dan ditulis pada bagian’Pentingnya Mengikuti Mayoritas Umat. Dan bagaimana hubungan sejarah Syiah-Sunni dan penelitian hadis?
Perkembangan Sejarah dan Kumpulan Hadis
Diriwayatkan oleh Hudzaifah bin Yaman bahwa Nabi Muhammad  berkata “ Akan datang penguasa-penguasa setelahku yang tidak menaati petunjukku, Melaksanakan   sunnahku.   Hati   mereka   setan   tetapi   tubuh   mereka   berwujud manusia.” Aku bertanya, “Apa yang harus aku lakukan jika aku berada saat itu?” Nabi Muhammad berkata “ Engkau harus mendengar mereka dan menanti pemimpin-pemimpin itu. Walaupun mereka menyakitimu dan merampas hartamu, engkau harus mengikuti dan menaati mereka.”37
Hadis ini hanyalah sebuah contoh. Masih ada lebih dari 12 hadis yang sama dengan hadis ini pada bagian pembahasan yang sama di Shahih Muslim. Siapakah yang menyatakan bahwa hadis ini shahih bagi kita? Bukankah mereka adalah orang-orang yang ingin menjadikan kerajaan mereka kuat dan terbebas dari kemungkinan ada penentangnya?
Pendapat apapun yang bertentangan dengan ucapan Nabi yang dibuat- buat tadi, dan orang-orang yang bertentangan dengannya akan dihukum mati. Di hadis lain pada bagian selanjutnya pada hadis Shahih Muslim, Nabi telah memerintahkan untuk membunuh orang-orang yang tidak menaati penguasa-penguasa zalim ini. Mari kita lihat asal kitab-kitab ini dan siapa yang mengendalikan penulisannya.
Muawiyah adalah orang pertama yang tertarik ingin menulis sejarah dan mengumpulkan hadis-hadis palsu. Ia mendapatkan sebuah sejarah masa lalu yang ditulis oleh seorang bernama Ubaid yang ia panggil dari Yaman.
Marwan yang telah diasingkan oleh Nabi Muhammad karena kegiatan-kegiatan anti  Islamnya  dan  yang  memiliki  pengaruh  besar  pada  Utsman,  adalah  musuh bebuyutan Ali. Putranya, Abdul Malik naik tahta pada tahun 65 H mengangkat dirinya sendiri pada tahun 73 dan meninggal pada tahun 86. Abdul Malik adalah salah satu orang yang melalui sumbangannya, serangkaian sejarah Islam, hadis, dan tafsir Quran diberikan.
Zuhri adalah sejarahwan pertama yang menulis sejarah Islam atas perintah dan pembiayaan langsung dari Abdul Malik. Ia juga menulis kumpulan hadis. Karya Zuhri adalah  salah  satu  sumber  utama  hadis-hadi s   Bukhari.  Zuhri  sangat  dekat  dengan keluarga bangsawan Abdul Malik, dan guru bagi putra-putranya.38
Dua orang murid Zuhri yang bernama Musa   bin Uqbah dan Muhammad bin Ishaq menjadi menjadi sejarahwan terkenal. Musa dulunya adalah seorang budak di rumah Zubair. Meskipun sejarahnya  sekarang  tidak  ada karyanya  merupakan  karya yang terkenal untuk waktu yang lama. Anda akan menemukan referensi-referensinya di banyak buku-buku sejarah dengan pembahasan yang berbeda-beda.
Murid kedua, Muhammad bin Ishaq adalah sejarahwan terkemuka bagi kaum Sunni.  Biografi  Nabi  karyanya,  berjudul  ‘Sirah  Rasulullah’  masih  menjadi  sumber sejarah  yang  diakui  dalam  bentuk  yang  diberikan  oleh  Ibnu  Hisyam,  dan  dikenal sebagai Sirah ibn Hisyam.
Zuhri adalah orang pertama yang menyusun hadis seluruh sejarah dan kitab Sunni ditulis setelahnya oleh orang-orang yang berpengaruh dalam karya-karya ini.
Penjelasan diatas memberi bukti pada fakta-fakta berikut; 1) Kitab sejarah kaum Sunni pertama kali disusun atas perintah langsung dari Dinasti Umayah; 2) Penulis pertama adalah Zuhri, lalu dilanjutkan oleh kedua muridnya, Musa dan Muhammad bin Ishaq; 3) Para penulis ini sangat dekat dengan keluarga Dinasti Umayah.
Kebencian keluarga Umayah kepada Bani Hasyim (keluarga Nabi Muhammad dan Ali bin Abi Thalib) sangat terkenal. Perang antara Abu Sufyan dengan Nabi Muhammad di Karbala oleh cucu Abu Sufyan, hanya beberapa perkara kejahatan paling utama dari sederetan kejahatan lain. Penjahat-penjahat inilah yang pertama kali menuliskan kitab-kitab sejarah dan hadis. Mereka memalsukan hadis untuk membenarkan  tindakan  mereka  dan  menyatakan  bahwa  Nabi  telah  memerintahkan untuk menaati mereka walau mereka zalim. Kutipan ini hanya salah satu contoh hadis di atas.
Siapa orang pertama yang memakai istilah ’Ahlussunnah wal Jamaah’? Jika diteliti dalam kitab-kitab sejarah, akan ditemukan bahwa mereka sepakat menyebut saat-saat ketika Muawiyah merampas kekuasaan dengan sebutan ‘tahun al-Jama’ah’ yang artinya mayoritas umat. Disebut demikian karena negara Islam terbelah menjadi dua golongan setelah Wafatnya Utsman, yaitu, Syi-ah Ali dan Syi-ah Muawiyah (Sunni sekarang).
Ketika Imam Ali syahid dan Muawiyah mengambil alih kekuasaan, tahun itu disebut  ‘tahun  Jama’ah’  selain  dua golongan  ini,  umat  yang  dipimpin  Muawiyah memenangkan kekuasaan, dan golongan lain dianggap sebagai saingan yang berbahaya. Oleh  karenanya,  istilah  ‘Ahlulssunnah  wal Jamaah’  menunjukkan  sunnah  Nabi  yang dibuat-buat oleh Muawiyah dan kesepakatan akan kepemimpinannya.
Para Imam dan anggota Ahlulbait yang merupakan keturunan Nabi Muhammad, lebih mengetahui sunnah kakek mereka serta semua yang menyertainya dari pada orang lain, sebagaimana pepatah menyatakan; “Orang Mekkah lebih mengetahui jalannya dari pada orang lain.” Tetapi banyak orang tidak mengikuti 12 Imam yang telah disebutkan Nabi Muhammad tentang jumlah mereka (sebagaimana dalam Shahih alBukhari) dan nama-nama mereka (sebagaimana dalam Yanabi al-Mawaddah oleh  Qunduzi Hanafi). Meskipun Bukhari dan Muslim mengakui 12 Imam itu, mereka senantiasa berhenti pada empat khalifah.
Syi’ah-Sunni dan Penelitian Hadis
Satu perbedaan utama antara Syi’ah dan Sunni adalah bahwa Sunni menerima hadis  dari  sahabat  Nabi  manapun  meskipun  para  sahabat  ini  saling  berperang, bermusuhan, berontak kepada khalifah yang sah dan membuat-buat hal-hal. baru dalam agama. Syi’ah, meyakini bahwa perawi dalam rangkaian sebuah hadis harus adil. Jika mereka pernah melakukan ketidakadilan dalam sejarah (seperti yang disebutkan sebelumnya) riwayat mereka tidak diterima bagi kami kecuali jika hadis yang sama telah diriwayatkan oleh rangkaian perawi lain yang semuanya terbukti dapat dipercaya.
Salah satu sahabat dari Mazhab Wahabi mengatakan bahwa Syi’ah, ketika meriwayatkan sebuah hadis, hanya menyatakan Imam ini dan itu berkata, satu teman kami berkata lalu bagaimana kita dapat menshahihkan hadis tersebut?
Jika  seseorang  telah  mendengar  sesuatu  langsung  dari  12  Imam  dan  orang tersebut dapat dipercaya dan riwayatnya tidak bertentangan  dengan Quran, hadis tersebut bagi kami shahih, karena kami meyakini kesucian para Imam juga para Rasul. Pengetahuan ilmu Imam berasal dari ilmu kakek dan nenek moyang mereka hingga dari Rasul.
Tetapi, rangkaian perawi tetap harus diperhatikan. Jika rangkaiannya terputus, hadis tersebut dianggap lemah sanadnya. Oleh karenanya, semua nama perawi harus disebut namanya, dan itulah keadaan sesungguhnya bagi mayoritas kumpulan hadis Syi’ah.
Bagaimanapun, hanya ada sejumlah hadis dalam Ushul al-Kaji yang unsur terakhirnya hilang yaitu, nama orang yang meriwayatkan kepada Kulaini. Kulaini tidak menyebutkan nama, tetapi menggunakan frase  ‘kelompok sahabat kami’. Tetapi Kulaini telah menyebutkan semua elemen-elemen lain dalam rangkaian tersebut.
Alasan yang mendasari hal. tersebut adalah, seperti yang Mall kami sebutkan sebelumnya, Syi’ah senantiasa berada dalam ancaman/ penganiayaan pemimpin- pemimpin zalim termasuk penguasa Abbasiali. Jika Kulaini menyebutkan nama orang yang meriwayatkan hadis kepadanya dan masih hidup, lalu apabila kitabnya ditemukan oleh para pejabat, semua perawi akan dibunuh. Untuk melindungi mereka, ia tidak menyebutkan nama mereka dan menggantinya dengan sebutan ‘sekelompok sahabat kami’. Namun ia menyebutkan nama orang-orang tersebut padanya setelah mereka wafat.
Untungnya karena Kulaini mengetahui aturan penelitian hadis Syi’ah, ia mengatakan kepada beberapa muridnya bagaimana nama-nama perawi terakhir itu disusun. Secara lebih spesifik, disebutkan bahwa:
Ketika disebutkan dalam Ushul    al-Kafi, bahwa ‘sekelompok sahabat meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Isa’, kelompok ini terdiri dari   5 orang yang bernama Abu Ja’far Muhammad bin Yahya Attar Qu mmi,  Ali bin Musa bin Ja’far Kamandani, Abu Sulaiman Daud bin Kaurah, Qummi, Abu Ali Ahmad bin Idris Ahmad Asy’ari Qummi, Abu Hasan Ali bin Ibrahim bin Hasyim Qummi.
Ketika  disebutkan  dalam  Ushul  al-Kafi;  ‘Sekelompok  sahabat  yang meriwayatkan  dari  Ahmad  bin  Muhammad  bin  Khalid  Baraqi’,  mereka  adalah  Abu Hasan  Ali  bin  Ibrahim  bin  Hasyim  Qummi,  Muhammad  bin  Abdillah  bin  Udainah, Ahmad bin Abdillah bin Umayah, Ali bin Husain Sa’d Abadi.
Apabila disebutkan dalam Ushul  al-Kafi,  ‘Sekelompok sahabat meriwayatkan dari Sahl bin Ziyad’, mereka adalah 4 orang bernama Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin  Aban  Razi,  yang  dikenal  sebagai  Kulaini,  Abu  Husain  Muhammad  bin Abdillah bin Ja’far bin Muhammad bin Aun Asadi Kufi, penduduk Ray, Muhammad bin Husain bin Farrukh Saffar Qummi, Muhammad bin Aqil Kulaini.
Apabila disebutkan dalam Ushul  al-Kafi,  ‘sekelompok sahabat meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad yang meriwayatkan dari Hasan bin Ali bin Fadhl’, mereka adalah Abu Abdillah Husain bin Muhammad bin Imran bin Abi Bakr Asy’ari Qummi.
Dengan demikian, perawi hadis-hadis tersebut diketahui dan dapat diteliti. Tetapi kami tidak mengklaim bahwa al-Kafi merupakan buku yang semua hadisnya shahih bagi Syi’ah.
 
(sumber : Antologi Islam)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed