by

Gagasan Mengenai Ali sebagai Pengganti Rasulullah

Saif lebih jauh menyatakan bahwa Ibnu Saba adalah orang yang menyebarkan gagasan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pengganti dan penerus Rasulullah. la mengatakan bahwa ada seribu rasul sebelum Muhammad, setiap rasul memiliki penerus, dan Ali adalah penerus Nabi Muhammad. Selain itu, Saif menyatakan bahwa Ibnu Saba berkata bahwa tiga khalifah yang akan berkuasa setelah Nabi adalah perampas kekuasaan Islam.
Saif dan pengikutnya lupa bahwa mereka menyebutkan dalam karya fiksi mereka bahwa Abdullah bin Saba datang ke Madinah dan memeluk Islam selama pemerintahan Utsman. Hal ini terjadi lama setelah Rasulullah wafat. Di sisi lain, sejarah Sunni membenarkan bahwa Rasulullah sendiri adalah orang yang menyatakan bahwa Ali adalah penerusnya sejak saat ‘misi pertamanya’ dimulai. Berikut ini hadis mengenai khutbah pertama Rasul.
Ali meriwayatkan, ketika ayat ‘Dan berilah peringatan kepada kerabat dekatmu’ diturunkan Rasulullah memanggilku dan berkata “ Ali sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku agar  memberi peringatan kepada keluarga terdekatku dan aku merasa  kesulitan  dengan  tugas  ini.  Aku  tahu  bahwa  ketika  aku  berhadapan dengan mereka membawa peringatan ini, aku tidak akan menyukai jawaban mereka.” Kemudian Rasulullah mengundang keluarga dari kaumnya untuk makan malam bersamanya dengan sedikit hidangan dan susu. Di sarta ada empat puluh orang. Setelah mereka makan, Rasulullah bersabda kepada mereka :
“Wahai Bani Abdul Muththalib! Demi Allah, aku tidak tahu apakah ada seseorang dari bangsa Arab yang membawa sesuatu kepada umatnya lebih baik dari yang aku bawa untuk kalian. Aku membawa kebaikan dunia ini dan dunia akhirat. Allah memerintahkan kepadaku untuk mengajak kalian. Barangsiapa yang akan membantuku dalam misi ini ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, dan penerusku.”
Tidak seorangpun menerima ajakan Rasul, dan aku (Ali) berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan menjadi pembantumu.” Rasul memegang tengkukku dan berkata kepada  mereka,  “Ini  adalah  saudaraku,  pewaris  (washi),  dan  penerus  (pemimpin)  di antara kalian. Oleh karena itu, dengarkanlah dia dan taatilah dia!” Mereka tertawa sambil berkata  kepada  Abu  Thalib,  “Ia  (Muhammad)  memerintahkanmu  untuk  mendengar anakmu dan menaatinya.”18
Berikut ini kami ingin mengemukakan pertanyaan. Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah   adalah   orang   yang   memberinya   kedudukan   sebagai   penggantinya, keluarganya, dan kepemimpinan. Saif bin Umar meriwayatkan bahwa gagasan tersebut berasal dari orang Yahudi bernama Abdullah bin Saba. Riwayat siapakah yang perlu dipercaya? Riwayat Ali ataukah Saif bin Umar? Riwayat Saif dianggap oleh para ulama Sunni terkemuka sebagai riwayat yang lemah, dusta, dan fitnah.
Tentu saja, kita tidak berharap ada orang Islam sejati manapun untuk memilih riwayat seorang pendusta seperti Saif bin Umar dan menyangkal   riwayat Ali bin Abi Thalib, pemimpin orang-orang beriman, “saudara” Rasulullah. Rasulullah sering berkata kepada Ali, “Kedudukanmu bagiku  seperti Harun bagi Musa, kecuali bahwa tidak ada Nabi setelahku”19
Dengan demikian, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW adalah sebagaimana Musa mengangkat Harun untuk mengurusi umatnya sebagai khalifah ketika ia pergi untuk menerima perintah dari Tuhannya, Nabi Muhammad juga mengangkat Ali untuk mengurusi semua persoalan Islam setelah ia wafat. Allah berfirman, …dan Musa berkata kepada saudaranya, Harun, “Ambillah tempatku di antara umatku!” (QS. al-A’raf : 142)
Perhatikanlah bahwa kata ukhlufni dan khalifah berasal dari akar kata yang sama. Apakah para penulis bayaran yang berusaha menyebarkan kebencian di tengah umat Islam lupa bahwa ketika kembali dari haji perpisahan, dan di hadapan lebih dari seratus ribu jamaah haji di Ghadir Khum, Nabi Muhammad SAW mengumumkan :
“Bukankah aku memiliki hak yang lebih besar atas orang-orang beriman daripada hak mereka sendiri?” Mereka berseru, “Benar, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah mengangkat lengan Ali dan berkata, “Barangsiapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya,   Ali   adalah   pemimpinnya   juga.   Ya   Allah,   cintailah   mereka   yang mencintainya, bencilah mereka yang membencinya!”20
Tidak ada umat Islam manapun yang ragu bahwa Rasulullah adalah pemimpin semua umat Islam di dunia sepanjang masa. Dalam perkataannya, Rasulullah memberi kedudukan yang sama kepada Ali dengan kedudukannya, ketika ia berkata bahwa Ali adalah pemimpin setiap orang yang mengikuti Rasulullah.
Pernyataan yang diriwayatkan lebih dari seratus perawi dan sepuluh sahabat, lalu dianggap shahih dan mutawatir oleh para ulama Sunni terkemuka, tidak hanya menunjukkan bahwa Ali adalah pewaris Rasulullah, tetapi juga menunjukkan bahwa Ali menjadi pengganti kepemimpinan seluruh umat Islam setelah Rasulullah. Tetapi, orang- orang gadungan ini masih mengatakan bahwa keyakinan bahwa Ali adalah pewaris Rasulullah berasal dari seorang Yahudi yang masuk Islam ketika Utsman menjadi khalifah.
Abdullah bin Saba tidak memiliki peranan pada perseteruan yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah berkaitan dengan penerusnya dan semua pernyataan Syi’ah yang benar terbukti   terjadi ketika Rasul   wafat atau bahkan sebelum wafatnya Rasul, tetapi bukan terjadi selama Utsman memerintah, yang artinya terjadi lama setelah Rasul wafat. Baru saja Rasul wafat dan tak lama setelah itu, Syi’ah Ali, meliputi para sahabat yang setia seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar Ghifari, Miqdad, Salman Farisi, Ibnu Abbas, dan lain-lain, yang berkumpul di rumah Fathimah.
Bahkan Thalhah dan Zubair yang setia kepada Ali pada awalnya juga bergabung dengan para sahabat lain di rumah Fathimah. Bukhari meriwayatkan bahwa Umar berkata, “Dan tidak diragukan bahwa setelah Rasul wafat, kami diberitahu bahwa kaum Anshar tidak setuju dertgan kami dan berkumpul di Balairung Bani Sa’da. Ali dan Zubair dan mereka yang bersamanya, menentang kami, sedangkan kaum muhajirin berkumpul bersama Abu Bakar.”21
Perawi hadis lairmya meriwayatkan bahwa pada hari Saqifah Umar berkata, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam beserta orang-orang yang bersama mereka memisahkan diri dari kami (dan berkumpul) di rumah Fathimah, putri Rasulullah.”22
Selain itu, mereka meminta sumpah setia, tetapi Ali dan Zubair pergi. Zubair menghunus pedang (dari sarungnya) sambil berkata, “Aku tidak akan menyarungkan pedang ini hingga sumpah setia diberikan kepada Ali.” Ketika berita ini sampai kepada Abu Bakar dan Umar, Umar berkat;), “Lempar ia dengan batu dan rampas pedangnya!” Diriwayatkan bahwa Umar bergegas (ke pintu rumah Fathimah) dan memaksa mereka keluar sambil berkata kepada mereka bahwa mereka harus memberikan sumpah setianya secara sukarela atau secara paksa.23
Tentu saja, di sini orang Yahudi tidak memiliki peran dalam perpecahan sahabat ke dalam dua kelompok tak lama setelah Rasul wafat, sejak ia tidak ada pada saat itu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed