by

Seyyed Hossein Nasr : Biarkan Syiah Bicara dari Sudut Pandangnya Sendiri

Syi’ah bukanlah sebuah gerakan yang menghancurkan Kesatuan Islam, tetapi gerakan yang menambah kekayaan khazanah sejarah dan penyebaran risalah al-Quran. –  Seyyed Hossein Nasr 

Salah satu kelalaian yang sangat besar dalam kajian-kajian Barat tentang agama-agama Timur, dan tentang Islam khususnya, telah terjadi dalam hal Islam Syi’ah.
Hingga kini, Syi’ah menerima sedikit perhatian ketika telah dibahas, biasanya telah diturunkan ke status “sekte” religius-politis yang sekunder dan kurang penting, sebuah heterodoxy (penyimpangan dari ajaran yang diterima) atau bahkan heresy (kepercayaan keagamaan yang menyimpang).
Karenanya, makna pentingnya di masa lalu dan di masa kini telah dikecilkan jauh melebihi yang dapat dibenarkan oleh suatu kajian yang jujur dan objektif tentang persoalan tersebut. 
Namun, meskipun kesulitan ini, Syi’ah harus dikaji dan dipresentasikan dari sudut pandangnya sendiri dan dari dalam acuan umum Islam. Tugas ini diperlukan pertama-tama karena Islam Syi’ah eksis sebagai fasilitas sejarah yang penting dalam Islam dan karenanya harus dikaji sebagai sebuah fakta agama yang objektif.
Kedua, serangan-serangan yang dilakukan terhadap Islam dan persatuannya oleh para penulis Barat tertentu (yang menunjukkan firkah Sunni-Syi’ah dan sering gagal untuk mengingat firkah-firkah serupa dalam setiap agama dunia lainnya) mengharuskan kajian Islam Syi’ah yang terperinci dan juga autentik dalam konteks total Islam.
Seandainya tuntutan demikian tidak ada, bahkan tidak akan perlu untuk mengenalkan segala argumen polemik yang telah memisahkan Sunni dan Syi’ah kepada dunia di luar Islam. Ini terutama benar pada waktu ketika beberapa di antara ulama Sunni dan Syi’ah berusaha dengan setiap cara yang mungkin untuk saling menghindari konfrontasi demi menjaga persatuan Islam dalam dunia tersekulerkan yang mengancam Islam dari luar dan dalam.
Islam Syi’ah seharusnya dikaji dalam perspektif ini: sebagai sebuah penguatan dimensi tertentu Islam yang dijadikan sentral dan sesungguhnya diterima oleh kaum Syi’ah sebagai Islam itu sendiri.
Syi’ah bukanlah sebuah gerakan yang menghancurkan Kesatuan Islam, tetapi gerakan yang menambah kekayaan khazanah sejarah dan penyebaran risalah al-Quran. Dan, kendati eksklusif, Syi’ah mengandung dalam bentuk-bentuknya Kesatuan yang mengikat seluruh aspek Islam.
Seperti Sunni, tasawuf dan segala sesuatu lain yang pada dasarnya Islam, Syi’ah sudah terkandung sebagai benih dalam al-Quran dan dalam manifestasi-manifestasi paling dini dari wahyu, dan termasuk totalitas dari ortodoksi Islam.
Untuk memahami Islam secara sempurna, harus selalu diingat bahwa Islam, seperti agama-agama lain, mengandung dalam dirinya sejak awal kemungkinan adanya berbagai jenis interpretasi:
(1) bahwa sekalipun Syi’ah dan Sunnah saling bertolak belakang dalam aspek-aspek penting tertentu dari sejarah suci (sejarah pertumbuhan agama), keduanya bersatu dalam menerima al-Quran sebagai Firman Allah dan dalam prinsip-prinsip dasar keimanan yang asasi;
(2) bahwa Syi’ah mendasarkan dirinya pada dimensi tertentu dari Islam dan pada aspek dari sifat Nabi sebagaimana dilanjutkan nanti dalam garis para Imam dan Ahlulbait Nabi, tanpa memasukkan, dan akhimya berlawanan dengan, aspek lain yang terkandung dalam Sunni;
(3) dan pada akhirnya, bahwa polemik-polemik Syi’ah-Sunni dapat dikesampingkan dan posisi masing-masing dari mazhab-mazhab ini dapat dijelaskan hanya pada level esoterisme, yang melampaui perbedaan-perbedaan mereka dan bahkan menyatukan mereka secara batin.
Sumber :
(1) S.H. Nashr, Ideals and Realities of Islam, Leiden, 1966 Bab IV, “Sunnism and Shi’ism.
(2) Thabathaba’i, Husain, Muhammad. Mazhab Kelima : Sejarah, Ajaran dan Perkembangannya. 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed