by

Nabi Ibrahim as, Bapak Tauhid Umat Manusia

Bapak Tauhid Umat Manusia, Nabi Ibrahim, Ketika melawan pemujaan bintang, menyatakan dengan kata-kata sederhana sejumlah kebenaran filosofis dan ilmiah yang belum dipahami oleh manusia di zaman itu.

Faktor-faktor yang menimbulkan penyembahan manusia kepada ciptaan adalah ketidaktahuannya dan tuntutan alami yang mutlak dalam dirinya yang pada umumnya mempercayai adanya suatu penyebab bagi setiap fenomena. Di satu sisi, manusia, yang dikuasai oleh kodrat alami, merasa harus mencari perlindungan di suatu tempat, pada suatu pewenang kuat yang mampu menciptakan sistem yang unik ini.
Namun, di sisi lain, ketika ia bermaksud menempuh jalan ini tanpa tuntunan para nabi -pemandu Ilahi dan telah ditunjuk untuk menjamin kesempurnaan perjalanan rohani manusia- ia mencari perlindungan pada makhluk-makhluk tak-bernyawa, hewan, ataupun sesama manusia sebelum ia dapat mencapai tujuannya yang sesungguhnya, yakni Tuhan Yang Esa, dan mendapatkan jejak-jejak-Nya dengan mengamati tanda-tanda penciptaan dan mencari perlindungan pada-Nya.
Oleh karena itu, ia membayangkan bahwa inilah obyek yang dicari-carinya. Melihat ini, para ilmuwan mengakui, setelah mengkaji kitab-kitab Ilahi dan cara bagaimana dakwah disampaikan kepada manusia oleh para nabi serta argumentasi mereka, bahwa tujuan para nabi bukanlah untuk meyakinkan manusia tentang adanya pencipta alam semesta.
Sesungguhnya, peran mereka yang mendasar ialah membebaskan manusia dan cengkeraman syirik (politeisme) dan penyembahan berhala. Dengan kata lain, mereka datang untuk mengatakan kepada manusia, “Hai manusia! Allah yang kita semua percaya akan keberadaan-Nya adalah ini, bukan itu. Ia esa, bukan berbilang. Jangan memberikan status Allah kepada makhluk. Terimalah Allah sebagai Yang Esa. Jangan menerima mitra atau sekutu apa pun bagi-Nya.”
Kalimat “tiada Tuhan selain Allah,” membuktikan apa yang kami katakan di atas. Inilah titik mula dakwah Nabi Muhammad. Maksud kalimat ini ialah, tak ada sesuatu yang patut disembah selain Allah, dan ini berarti bahwa adanya Pencipta telah merupakan fakta yang diakui, sehingga manusia dapat diajak untuk menerima kemaha-esaan-Nya.
Kalimat ini menunjukkan bahwa di mata manusia zaman itu, bagian pertama -adanya Tuhan yang menguasai alam semesta- bukanlah hal yang perlu dipertengkarkan. Disamping itu, kajian terhadap kisah-kisah Qur’ani dan percakapan para nabi dengan umat zamannya memperjelas masalah ini.
[Catatan kaki: Tetapi, bagaimana konsepsi mereka tentang berhala? Apakah mereka memandangnya patut disembah dan hanya untuk menjadi perantara, ataukah mereka berpikir bahwa berhala-berhala itu pun mempunyai kekuasaan seperti Allah? Masalah ini berada di luar bahasan kita sekarang, walaupun pandangan pertama itu kuat dan terbukti.]
 
Tempat Kelahiran Nabi Ibrahim
Jawara Tauhid ini dilahirkan di lingkungan gelap penyembahan berhala dan penyembahan manusia. Manusia menundukkan kerendahan hati kepada berhala yang dibuat dengan tangannya sendiri, atau kepada bintang-bintang. Dalam situasi ini, hal yang mengangkat kedudukan Ibrahim dan menyukseskan usahanya adalah kesabaran dan ketabahannya.
Ibrahim menjalani tiga belas tahun kehidupannya dalam sebuah gua dengan lorong masuk yang sempit, sebelum ibunya membawanya keluar. Ketika muncul di tengah masyarakat, para pendukung Namrud merasa bahwa ia orang asing. Terhadap hal itu, ibunya berkata, “Ini anak saya. Ia lahir sebelum ramalan para astrolog.” (Tafsir al-Burhan, I, h. 535).
Ketika keluar dari gua, Ibrahim memperkuat keyakinan batinnya dalam tauhid dengan mengamati bumi dan langit, bintang-bintang yang bersinar, dan pohon-pohonan yang hijau. Ia menyaksikan masyarakat yang aneh. Dilihatnya sekelompok orang yang memperlakukan sinar bintang dengan sangat tolol. Ia juga melihat beberapa orang dengan tingkat kecerdasan yang bahkan lebih rendah. Mereka membuat berhala dengan tangan sendiri, kemudian menyembahnya.
Yang terburuk dari semuanya ialah bahwa seorang manusia, dengan mengambil keuntungan secara tak semestinya dari kejahilan dan kebodohan rakyat, mengaku sebagai tuhan mereka dan menyatakan diri sebagai pemberi hidup kepada semua makhluk dan penakdir semua peristiwa. Nabi Ibrahim merasa harus mempersiapkan diri untuk memerangi tiga kelompok yang berbeda ini.
Ibrahim Berjuang Melawan Penyembahan Berhala
Kegelapan penyembahan berhala telah meliputi seluruh Babilon, tempat lahir Nabi Ibrahim, Banyak tuhan dunia dan langit telah merenggut hak menalar dan berpikir dari berbagai lapisan masyarakat. Sebagiannya memandang tuhan-tuhan itu memiliki kekuasaan sendiri, sedang yang lainnya memperlakukan mereka sebagai perantara untuk memperoleh nikmat dari Tuhan Yang Mahakuasa.
Orang Arab sebelum datangnya Islam percaya bahwa setiap makhluk dan setiap gejala tentulah mempunyai penyebab tersendiri, dan bahwa Tuhan Yang Esa tidak mampu menciptakan semuanya. Pada masa itu, ilmu pengetahuan memang belum menemukan hubungan antara makhluk dan fenomena alami serta berbagai kejadian. Sebagai akibatnya, orang-orang itu mengkhayalkan bahwa semua mahluk dan berbagai fenomena alami berdiri sendiri-sendiri dan tidak ada kaitan satu sama lain.
Karena itu, mereka menganggap bahwa untuk setiap fenomena seperti hujan dan salju, gempa bumi dan kematian, paceklik dan kesukaran, perdamaian dan ketentraman, kekejaman dan pertumpahan darah, dan sebagainya, ada tuhannya masing-masing. Mereka tak menyadari bahwa seluruh alam semesta adalah suatu kesatuan, di mana bagiannya saling terkait dan masing-masingnya mempunyai efek timbal balik.
Pikiran bersahaja manusia masa itu belum mengetahui rahasia penyembahan kepada Allah Yang Esa dan tidak menyadari bahwa Allah yang menguasai alam semesta adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahatahu, Pencipta yang bebas dari segala kelemahan dan cacat. Kekuasaan, kesempurnaan, pengetahuan, dan kebijaksanaanNya tiada berbatas. Ia di atas segala sesuatu yang dianggapkan kepada-Nya.
Tak ada kesempurnaan yang tidak Ia miliki. Tak ada kemungkinan yang tak dapat diciptakan-Nya. Ia adalah Allah Yang Esa yang mampu menciptakan segala makhluk dan fenomena tanpa bantuan dan dukungan siapa pun. Ia dapat menciptakan makhluk lain dengan cara yang sama sebagaimana Ia menciptakan makhluk-makhluk yang ada sekarang.
Metode yang digunakan para nabi untuk memberi pelajaran dan tuntutan kepada manusia ialah metode logika dan penalaran, karena mereka berurusan dengan pikiran manusia. Mereka berhasrat mendirikan pemerintahan yang didasarkan pada keimanan, pengetahuan, dan keadilan, dan pemerintahan semacam itu tak dapat didirikan melalui kekerasan, peperangan, dan pertumpahan darah.
Oleh karena itu, kita harus membedakan pemerintahan para nabi dengan pemerintahan Fir’aun dan Namrud. Tujuan dari kelompok yang kedua ini ialah amannya kekuasaan dan pemerintahan mereka dengan segala cara yang mungkin, sekalipun negara akan runtuh setelah mereka mati.
Sebaliknya, orang-orang suci bermaksud mendirikan pemerintahan yang membawa maslahat pada individu maupun masyarakat, baik penguasa itu kuat atau lemah pada suatu waktu tertentu, sementara ia hidup maupun sesudah ia mati. Tujuan semacam itu tentu saja tak dapat dicapai dengan kekerasan dan tekanan.
Ibrahim pertama-tama berjuang melawan kepercayaan kaum kerabatnya yang menyembah berhala, di mana Azar merupakan pentolannya. Sebelum mencapai keberhasilan penuh dalam bidang ini, ia sudah harus berjuang pada bidang operasi lainnya. Taraf pemikiran kelompok yang kedua ini agak lebih tinggi dan lebih jelas dari yang pertama. Berlawanan dengan agama para famili Ibrahim, mereka ini telah membuang makhluk-makhluk duniawi yang hina dan tak berharga, lalu memuja bintang di langit.
Ketika melawan pemujaan bintang, Ibrahim menyatakan dengan kata-kata sederhana sejumlah kebenaran filosofis dan ilmiah yang belum dipahami oleh manusia di zaman itu, bahkan sekarang pun argumennya menimbulkan kekaguman para sarjana yang sangat mengenal seni logika dan perdebatan. Di atas semua ini, Al-Qur’an juga telah mengutip argumen-argumen Ibrahim, dan kami mendapat kehormatan untuk mengutipnya dengan penjelasan singkat.
Tak diragukan bahwa saat tinggal di gua, melalui anugerah Ilahi yang luar biasa, Ibrahim mendapatkan dari sumber yang gaib pengetahuan batin tentang tauhid, yang merupakan kekhususan para nabi. Namun, setelah memperhatikan dan mengkaji benda-benda langit, ia juga memberikan bentuk argumentasi pada pengetahuan itu.
Dengan demikian, di samping menunjukkan jalan yang benar kepada manusia dan memberikan kepada mereka sarana bimbingan, Ibrahim telah meninggalkan pengetahuan yang tak ternilai untuk digunakan oleh orang-orang yang mencan kebenaran dan realitas.
Penjelasan Logika Ibrahim
Ibrahim sangat menyadari bahwa Allah menguasai alam semesta, tetapi pertanyaannya adalah: Apakah sumber kekuatan itu terdiri dari benda-benda langit ini, atau suatu Wujud Yang Mahakuasa, yang lebih tinggi daripadanya? Setelah mengkaji kondisi-kondisi benda yang berubah-ubah ini, Ibrahim mendapatkan bahwa wujud-wujud yang cerah dan bersinar itu sendiri tunduk pada ketetapan -terbit, terbenam, dan lenyap- menurut sistem tertentu dan berotasi pada suatu jalan yang tak berubah-ubah.
Ini membuktikan bahwa mereka tunduk pada kehendak dari sesuatu yang lain; suatu kekuatan yang lebih besar dan lebih kuat mengontrol mereka dan membuat mereka berotasi pada orbit yang telah ditentukan.
Marilah kita bahas masalah ini lebih lanjut. Alam semesta sepenuhnya memiliki “peluang-peluang” dan “kebutuhan-kebutuhan.” Berbagai makhluk dan fenomena alami tak pernah lepas dari Yang Mahakuasa. Mereka membutuhkan Tuhan Yang Mahatahu dalam setiap detik, siang dan malam – Tuhan yang tidak pernah lalai akan kebutuhan mereka. Benda-benda langit itu hadir dan diperlukan pada suatu saat dan tak hadir serta tak berguna pada saat lainnya. Wujud seperti itu tidak mempunyai kemampuan yang diperlukan untuk menjadi tuhan dan wujud lainnya, untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan mereka.
Teori ini dapat diperluas dalam bentuk berbagai pernyataan teoritis dan filosofis. Misalnya, kita mungkin mengatakan: Benda-benda langit ini bergerak dan berputar pada sumbunya masing-masing. Apabila gerakannya itu tanpa pilihan dan atas paksaan semata-mata, tentulah ada tangan yang lebih kuat yang mengendalikannya. Apabila gerakannya sesuai dengan kehendaknya sendiri, haruslah dilihat apakah tujuan dari gerakan itu.
Apabila mereka bergerak untuk mencapai kesempurnaan, seperti benih yang bangkit dari bumi untuk tumbuh menjadi pohon dan berbuah, maka itu berarti mereka memerlukan suatu wujud yang independen, kuasa, dan bijaksana yang akan menyingkirkan kekurangan-kekurangan mereka dan menganugerahkan kepada mereka sifat kesempurnaan.
Apabila gerakan dan rotasi mereka menuju kepada kelemahan dan kekurangan, dan halnya seperti orang yang melewati usia puncaknya dan memasuki sisi usia yang salah, maka itu berarti gerakannya cenderung kepada kemunduran dan kehancuran, dan dengan demikian tidak sesuai dengan posisi sebagai tuhan yang akan menguasai dunia dan segala isinya.
 
Sumber : Buku “Ibrahim, Bapak Tauhid Umat Manusia” karya Ja’far Subhani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed