by

Syi'ahisme, Representasi Kehadiran Islam yang Perlu Dijaga

Dalam artikel sebelumnya, kami sudah menjelaskan bahwa Syi’ahisme, bukan manifestasi aksidental dalam masyarakat Islam. Melainkan bagian utama dari masyarakat Islam. Dalam bahasa yang lebih mudah, Syiaisme merupakan pola keberagamaan  masyarakat Islam (walaupun minoritas) yang mesti diraih.
Bagaimana Syi’ahisme Muncul ?
Pertanyaannya adalah bagaimana Syiaisme itu muncul? dari pertanyaan ini kita dapat mengangap Syi’ahisme sebagai konsekuensi Islam alamiah  dan sebagai representasi kehadiran Islam yang mesti diraih bila ingin melindungi pertumbuhannya yang sehat.
Sebenarnya kita dapat mengambil kesimpulan logis atas keberadaan Islam ini dari keyakinan yang diperintahkan Nabi saw menurut sifat pembentukan dan kondisi yang mengelilinginya. Nabi memegang kepemimpinan dalam hal krimanan yang revolusioner serta mengadakan transformasi radikal dalam hal kebiasaan, struktur, dan konsep kemasyarakatan.
Tugas transformasi semacam itu tidaklah sederhana, tetapi cukup panjang dan berliku karena begitu banyaknya pembagian spiritual antara jahiliah dan Islam. Keimanan yang dipraktikkan Nabi dimulai dengan orang-orang jahiliah dan mengangkatnya ke instiThusi baru, hingga mengubahnya menjadi seorang muslim yang dapat membawa cahaya baru serta mencabut batang dan akar jahiliah dan hati dan pikirannya.
Sang Pemimpin Besar saw membuat kemajuan yang mencengangkan dalam menunaikan tugas transformasi tersebut dalam waktu sangat singkat. Namun, tugas tersebut harus tetap dilanjutkan bahkan setelah Nabi wafat kelak Dia mengetahui bahwa kematiannya telah dekat. Sebelum hal itu benar-benar terjadi, dia membeberkan hal ini secara terbuka pada saat Haji Perpisahan (Hujjatul wada’). Jadi, tanda-tanda wafatnya sudah diketahui.
Hal ini berarti bahwa beliau memiliki waktu yang cukup untuk merenungkan masa depan keimanan tersebut setelah kematiannya, sekalipun kita tidak memedulikan faktor kontak dengan alam gaib dan perlindungan Ilahiah terhadap Islam yang berasal dari wahyu. Berdasarkan hal ini, kita dapat melihat bahwa Nabi saw memiliki tiga jalan yang meyakinkan di hadapannya untuk memastikan konsekuensi masa depan keimanan yang sebenarnya.
Jalan Pertama
Jalan pertama bersikap pasif terhadap masa depan dan puas dengan bagian yang telah diperankannya dalam memimpin dan mengarahkan dakwah selama masa hidupnya, meninggalkan masa depannya pada keadaan Sekitar dan kesempatan.
Tentu tidak layak menyifatkan Nabi pada tindakan pasif tersebut karena kepasifan tumbuh dari dua kemungkinan yang berbeda. Tidak ada satu pun yang dapat dilontarkan kepada Nabi. Kemungkinan pertama adalah kepercayaan bahwa kepasifan dan kelalaian semacam itu tidak akan berdampak pada masa depan dakwah dan umat yang akan mengikuti dakwah nabi dapat bertindak secara independen. Sehingga dapat melindungi dakwah dan melawan penyimpangan.
Sebenarnya tindakan Nabi yang secara umum dinilai autentik ini mengilustrasikan dengan j elas bahwa beliau amat peduli pada bahaya yang harus dihadapi di masa yang akan datang. Beliau juga mengetahui perlunya perencanaan untuk melindungi umat dari penyimpangan dan menyelamatkannya dari ketidakpedulian dan disintegrasi. Oleh karena itu, amat mustahil memaksakan ide pasivitas atas Nabi saw.
Jalan Kedua
Pada jalan kedua, Nabi saw mengambil kebijakan positif berkenaan dengan masa depan Islam sepeninggalnya dan merencanakan (kemajuan-penerj.) dengan cara menganjurkan penunjukan Syuro (musyawarah) yang bertanggung jawab atas urusan Islam dan pemimpin umat. Musyawarah ini akan disusun dari generasi mukminin pertama, yaitu Muhajirin dan Anshar. Mereka akan mewakili umat sambil merumuskan bentuk pemerintahan masa depan dan kepemimpinan Islam.
Namun, nyata sekali bahwa keadaan dan peristiwa aktual yang terjadi berkenaan dengan Nabi saw, dakwah dan orang-orang beriman menyangkal hipotesis ini. Anggapan bahwa Nabi mengikuti metode ini dan mengimplementasikan kepemimpinan Islam metode syura yang terdiri dari generasi awal Muhajirin dan Anshar tidak terbukti.
Jadi, fakta mengenai pengalaman setelah wafat Nabi dan hasil kepemimpinan selama seperempat abad ini mendukung kesimpulan sebelumnya. Kesimpulan tersebut menekankan bahwa dukungan terhadap bimbingan dan kepemimpinan intelekmal-politik kaum Muhajirin dan Anshar segera setelah wafatnya N abi saw mempakan langkah prematur yang diambil sebelum waktu alamiahnya. Namun, tidak logis kalau Nabi saw mcngambil langkah seperti ini
Jalan Ketiga
Jalan ketiga merupakan satu-satunya kemungkinan terakhir yang konsisten dengan kenyataan dan logika berdasarkan peristiwa yang meliputi dakwah dan orang-orang beriman. Cara berpikir Nabi, yaitu bahwa Nabi saw mengambil pendirian positif atas masa depan Islam sctelah wafatnya dan atas perintah Allah Swt, yang memilih seseorang yang terlibat penuh dalam pembenmkan dakwah, membuatnya menjadi calon yang jelas. Secara khusus Allah menyiapkannya dalam hal keagamaan dan seni kepemimpinan.
Dengan demikian, dia dapat menjadi teladan bagi otoritas intelektual dan kepemimpinan politik bagi orang-orang berpengalaman. Dia juga dapat mcnjaga kepemimpinan umat dan struktur ideologis setelah wafat Nabi saw dengan dukungan fondasi kepopuleran, kesabaran kaum Muhajirin dan Anshar, serta memperkuatnya pada tingkat fondasi tersebut dapat menangani masalah kepemimpinan.
Hal ini merupakan satu-satunya cara Nabi saw memastikan keamanan dakwah pada masa yang akan datang dan melindungi pengalaman tersebut dari penyimpangan dalam perkembangannya.
Oleh karena itu Syi’ishisme tidak muncul sebagai fenomena biasa di panggung sejarah. Syi’ahisme merupakan akibat dari kebutuhan penting dan peristiwa syiar asli yang membuat Islam membutuhkan Syiah. Dengan kata lain, pemimpin pertama harus menginstruksikan kepada pemimpin kedua atas kepemimpinannya, dan begitu seterusnya.
 
(Oleh Muhammad Baqir Al-Shadr dkk dalam buku “Khilafah dan Imamah)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed