by

Mengkaji Peristiwa Ghadir Khum : Kritik Untuk Kalangan Orientalis

Mengapa para ilmuwan Barat, kalangan Orientalis dan yang lainnya mengabaikan peristiwa Ghadir Khum? Karena mereka kebanyakan menggantungkan diri pada karya anti-Syi’ah.
Peristiwa Ghadir Khum merupakan contoh yang sangat baik untuk melacak bias Sunni yang ditemukan dalam mental para orientalis. Orang-orang yang benar-benar mengetahui tulisan Sunni yang mengandung polemik, mengetahui bahwa kapanpun Syi’ah menyampaikan sebuah hadis atau fakta sejarah yang mendukung pandangan mereka, maka seorang ahli debat Sunni akan merespons dengan sikap-sikap sebagai berikut:

Pertama, dia akan menolak dengan serta merta adanya hadis semacam itu atau peristiwa semacam itu. Kedua, ketika berkonfrontasi dengan argumen yang kuat dan sumbernya sendiri maka dia akan menunjukkan keraguan pada keandalan penyampai hadis atau sebuah peristiwa.
Ketiga, ketika ditunjukkan kepadanya bahwa semua penyampai atau perawi dapat dipercaya menurut standar Sunni, dia akan memberikan interpretasi atas hadis atau peristiwa tersebut yang akan sangat berbeda dari Syi’ah.
Tiga level [sikap] ini membentuk respon klasik para pendebat berkaitan dengan argumen Syi’ah. Sebuah kutipan dari terjemahan Franz Rosenthal atas al-Muqaddimahnya Ibnu Khaldun menjadi bukti atas catatan saya (Ibnu Khaldun mengutip bagian berikut dari Al-Milal wa al-Nihal, karya suatu karya heresiografi dari Syahristani).
Menurut Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah, Syi’ah percaya bahwa:
“Ali adalah orang yang diangkat Muhammad. (Syi’ah) menyebarkan teks-teks (hadis) dalam mendukung (keyakinan ini)…. Otoritas sunnah dan penyebar/perawi hukum agama tidak mengenal teks-teks ini (1) Kebanyakan dari mereka bersifat dugaan, atau (2) Beberapa dari perawi mereka adalah orang-orang yang dicurigai, atau (3) Interpretasi mereka (yang benar) berbeda dengan interpretasi jahat yang diberikan (syiah) kepada mereka.”
Menariknya, peristiwa Ghadir Khum telah mengalami takdir yang sama di tangan para orientalis. Dengan waktu dan sumber-sumber yang terbatas saat ini, saya begitu terheran-heran melihat bahwa kebanyakan karya Islam telah mengabaikan peristiwa Ghadir Khum yang ditunjukkan oleh ketidakadaannya, sehingga para orientalis percaya bahwa peristiwa ini rekaan/takhayul Syi’ah.
Muhammad and the Rise of Islam karya Margoliouth (1905), History of the Islamic People karya Brockelmann, (1931), The Legacy of Islam karya Arnold dan Guillaume (1931), Islam karya Guillaume (1954); Classical Islam karya von Grunebaum (1963), Caliphate karya Arnold (1965), dan The Cambridge History of Islam (1970) benar-benar telah mengabaikan peristiwa Ghadir Khum.
Mengapa para ilmuwan ini dan yang lainnya mengabaikan peristiwa Ghadir Khum? Karena para ilmuwan Barat kebanyakan menggantungkan diri pada karya anti-Syi’ah, maka secara alamiah mereka mengabaikan peristiwa Ghadir khum L.Veccia Vaglierr, salah seorang kontributor edisi kedua Encyclopedia Islam (195 3) menulis:
“‘Kebanyakan sumber yang membentuk basis pengetahuan kita, [orientalis] , tentang kehidupan Nabi (Ibnu Hisyam, Thabari, Ibnu Sa’ad, dan lain-lain) bungkam akan peristiwa berhentinya Muhammad di Ghadir Khum, atau apabila mereka menyebutkan, mereka tidak berkomentar apapun terhadap ucapan beliau (para penulis nyata-nyata takut memancing permusuhan orang-orang Sunni yang berkuasa, dengan cara menyajikan materi bagi polemik Syi’ah yang menggunakan kata-kata ini untuk mendukung tesis mereka tentang hak Ali atas kekhalifahan).
Konsekuensinya, para penulis biografi Barat tentang Muhammad, yang karyanya berdasarkan sumber-sumber ini sama-sama tidak memberikan keterangan atas apa-apa yang terjadi di Ghadir.
Sekarang saatnya para ilmuwan Barat mengenal literatur Syi’ah klasik dan kontemporer, tanpa harus menunggu Concordance-nya Wensinck. Para ulama Syi’ah telah menulis banyak kitab yang berkaitan dengan permasalahan Ghadir Khum. Di sini saya akan menyebutkan dua saja, yang pertama Abaqat al-Anwar yang ditulis dalam bahasa Farsi karya Allamah Mir Hamid Husain al-Musawi (W.1304 H) dari India. Allamah Mir Hamid Husain al-Musawi telah menekuni dua jilid besar (terdjri dari 1080 halaman) berisi imad, tawatur dan arti hadis Ghadir.
Kedua, Al-Ghadir dalam dua jilid yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Allamah Abdul Husain Amini. Di dalamnya beliau membenarkan referensi penuh nama-nama 110 sahabat Nabi dan juga 84 tabiin (murid-murid para sahabat) yang telah meriwayatkan hadis Ghadir. Beliau juga secara kronologis memberitahukan nama-nama ahli sejarah, ahli sunnah, ahli tafsir dan penyair yang telah menyebutkan hadis Ghadir dari abad pertama sampai keempat belas.
 
(Ditulis oleh Sayid Muhammad Rizvi dalam buku “Khilafah dan Imamah, Penjelasan Lengkap atas Ide Kepemimpinan Islam”)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed