by

Orientasi Perjuangan Para Imam Ahlulbait as

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan bagian dari sebuah rantai gerak berkesinambungan, yang diikuti oleh Imam Hasan, Imam Husain dan delapan Imam lain sampai 260 H. – Sayyid Ali Khamenei –

Bagi mereka yang sadar dengan pengetahuan, kebijakansanaan dan orientasi pada tujuan sebuah gerakan, akan melihat taktik penarikan diri itu sebagai suatu Iangkah  maju. Menurut pendekatan ini, kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib as merupakan bagian dari sebuah rantai gerak berkesinambungan, yang diikuti oleh Imam Hasan, Imam Husain dan delapan Imam lain sampai 260 H.
Saat itu, saya menyadari titik penting itu dan berusaha mempelajari kehidupan para Imam mulia di atas Iandasan pendekatan demikian. Semakin saya menyelidiki masalah ini, titik penting tersebut semakin diakui dan menguat.
Orientasi Politik dalam Perjuangan Imam as 
Kita bisa saja mempelajari masalah ini dalam sebuah subjek tersendiri. Namun, fakta utama menunjukkan bahwa kehidupan para Imam suci Ahlulbait as selalu mengandung orientasi politik. Saya akan mencoba mencurahkan sebagian perjalanan kehidupan mereka yang penuh cahaya itu dalam uraian berikut ini-guna didiskusikan lebih lanjut.
Pertanyaan pertama yang bisa diajukan adalah: Apakah perjuangan politik dalam kehidupan para Imam suci (as)? Pertanyaan ini mengandung kekhususan, bahwa gerak, langkah dan perjuangan para Imam suci bukan hanya saintifik, intelektual atau teologis.
Perjuangan mereka tidak sama dengan perjuangan teologis yang kita amati dalam sejarah Islam selama periode tertentu. Berbeda dengan mazhab Mu’tazilah dan Asy’aryah, tujuan para Imam mengadakan ruang pendidikan, debat, kelas, periwayatan hadis, pengajaran ushuI dan flkih Islam dan seterusnya, tidak untuk menegaskan pendirian dari mazhab teologi mereka saja.
Perjuangan mereka bukan pula pergerakan bersenjata. Perjuangan mereka berbeda dengan apa yang dilakukan Zaid dan para pendukungnya, atau yang ditempuh Bani Hasan, dan bukan pula perjuangan seperti kelompok-kelompok dari keluarga dan keturunan Ja’far, atau yang lainnya. Para Imam suci tidak menggagas jenis-jenis perjuangan sepihak seperti itu.
Kondisi yang menimpa para Imam terbaca dalam suatu bentuk gerakan yang khas. Beberapa catatan yang sampai kepada kita menegaskan bahwa inti dari perjuangan para insan mulia itu bukanlah perjuangan bersenjata.
Sebagian dari pelaku sejarah pun mengakui, bahkan menyokong dan berkontribusi pada perjuangan yang ditempuh para Imam.
Sebuah hadis yang disandarkan kepada Imam Ja’far Shadiq berikut merupakan sebuah contoh yang mendukung pandangan ini: “Saya menginginkan kebangkitan para pejuang dari keturunan Muhammad (yang memberontak atas kezaliman); dalam hal ini, saya akan menyediakan keuangan yang diperlukan untuk menjalankan rumah-rumah mereka (yakni memberikan bantuan keuangan, melindungi gengsi dan mengakomodasi mereka, dan sebagainya).” (Bihar al-Anwar, jil. 46,hal. 172).
Tetapi, para Imam sendiri tidak melakukan pemberontakan dan tidak turut serta dalam perjuangan bersenjata.
Bersambung…
 
(Oleh Imam Ali Khamenei dan Sayyid Murtadha Askari dalam buku “Para Pengawal Agama, Sumbangsih Imam Ahlulbait Terhadap Pemerintahan Islam”)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed