by

Konsep Imamah dalam Teori Politik Syiah

Dalam Syiah Imamiyah, pemerintah adalah milik Imam saja, sebab dia berhak atas kepemimpinan politis dan otoritas keagamaan.[1] Mereka, seperti sudah disinggung, meyakini bahwa yang berhak atas otoritas spiritual dan politis dalam komunitas Islam pasca-Nabi Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib (kemenakan/menantu N abi) beserta sebelas keturunannya.[2] Karenanya, mazhab ini juga dikenal sebagai Syiah Imam Dua Belas atau Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah.
Kaum Syiah percaya pada garis silsilah keluarga (family lineage), khususnya keluarga Nabi (ahlul bait), bahwa kaum Zaidiyah tak menganggap keimaman hanya menjadi hak Ahlul Bait dan tak membatasi jumlah Imam sampai 12.
Mereka juga tidak mengikuti fiqih Ahlul Bait seperti dilakukan kaum yang berasal dari suku Quraisy, dan lebih khusus lagi dari Bani Hashim. Tetapi dalam Syiah, faktor suku kurang panting dibanding faktor keluarga. Para Imam, misalnya, mempunyai kaitan dengan keluarga Nabi, terutama yang diturunkan dari garis Fatimah, putri Nabi yang juga istri Imam Ali. [4]
Imam terakhir, al-Mahdi, mengalami apa yang oleh umat Syiah Imamiyah disebut sebagai ”gaib sempurna” pada tahun 941 Masehi dan diyakini akan datang kembali pada saatnya nanti.[5] Oleh sebab itu, menurut keyakinan Syiah, Imam al-Mahdi masih hidup dan masih menjadi pemegang kekuasaan yang sah. Ia akan muncul kembali pada waktu yang akan ditentukan oleh Tuhan.
Karena Imam Mahdi masih hidup, maka lembaga Imamah juga masih tetap hidup. Jadi, perlunya keberadaan seorang pemimpin umat (Imam) bagi kalangan Syiah lebih penting daripada bagi kalangan Sunni.‘[6] Bahkan pada mazhab Syiah prinsip Imamah yaitu percaya pada kedua belas Imam-termasuk dalam rukun iman (arkan al-iman).[7]
Masalah Imamah itulah yang menjadi salah satu sumber ”skisma” (”perpecahan”) dalam Islam, antara Sunni dan
miyah. Sedangkan perbedaan antara Imamiyah dan Syiah Ismailiyah adalah bagi kaum Ismailiyah akhir keimaman berkisar di sekitar angka 7 dan kenabian tidak berhenti pada Muhammad SAW. Bagi Ismailiyah, perubahan dan peralihan dalam ketentuan Syariat diperkenankan, bahkan sampai penolakan terhadap kewajiban mengikuti Syariat, terutama di kalangan Bathiniyah Syiah. [8]
Salah seorang ulama Syiah, A. Syarafuddin al-Musawi, mengakui bahwa tiada suatu penyebab ”perpecahan” di antara umat Islam yang lebih hebat daripada perbedaan pendapat yang berhubungan dengan soal imamah. ‘Iiada ”bentrokan” dalam Islam demi suatu prinsip agama, yang lebih parah daripada yang telah terjadi sekitar persoalan ini.
Soal imamah, menurut al-Musawi, adalah penyebab utama yang secara langsung telah menimbulkan “perpecahan” selama ini. Generasi demi generasi yang mempertengkarkan soal imamah telah menjadi demikian gandrung dan terbiasa dengan sikap fanatik dalam kelompoknya masing-masing, tanpa mau mengkaji dengan kepala yang dingin? [9]
Orang-orang Syiah, seperti ditulis Thabathaba’i,[10] memang muncul karena kritik dan ”protes” terhadap dua masalah dasar dalam agama Islam, kendati tidak berkeberatan terhadap cara-cara keagamaan yang melalui perintahperintah Nabi merata di kalangan kaum Muslimin sekarang.
Dengan kata lain, di luar kedua masalah itu, tidak ada perbedaan secara prinsipil antara Sunni dan Syiah. Kedua masalah itu adalah berkenaan dengan pemerintahan Islam dan kewenangan dalam pengetahuan-pengetahuan keagamaan, yang menurut umat Syiah menjadi hak istimewa Ahlul Bait.
Footnote :
1. Abdulaziz A. Sachedina, Kepemimpinan dalam Islam: Perspektif Syi’ah (Bandung: Mizan, 1991), hlm. 153.
2. Yaitu: Hasan bin Ali (al-Mujtaba), Husain bin Ali (Sayyed al Shuhada), Ali bin Husain (Zain al-Abidin), Muhammad bin Ali (al-Baqir), Ja’far bin Muhammad (al-Sadiq), Musa bin Ia’far (al-Kazim), Ali bin Musa (al-Ridha), Muhammad bin Ali (al-Taqi), Muhammad bin Ali (aI-Naqi), Hasan bin Muhammad (al-Askari), dan Muhammad bin Hasan (al-Qalm) yang juga dikenal sebagai Imam al-Mahdi al-Muntazhar atau ”Imam Zaman”. Lihat, Mozaffari, Authority, hlm. 36; Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatzf. (Bandung: Mizan, 1986), hlm. 255.
3. Perbedaan antara Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah adalah
4. Mozaffari, Authority, hlm. 36.
5. Keyakinan akan kembalinya al-Mahdi sebenarnya juga ada pada sebagian kalangan Sunni.
6. Mozaffari, Authority, hlm. 35.
7. ’ Mengenai hal ini, Muhammad Rida al-Muzaffar mengatakan, “We believe that the Imamate is one of the fundamentals of Islam (usul ad-din), and that man’s faith can never be complete without belief in it”. Lihat, al‘ Muzaffar, The Faith of Shi’a Islam (Qum: Ansariyan, 1989), hlm. 31.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed