by

Jejak dan Pengaruh Syiah di Sulawesi : Tradisi 10 Muharram di Mandar

Pada 10 Muharram, sebagian masyarakat muslim di Sulawesi akan memasak bubur khusus yang dikenal sebagai ’bubur asyura’ untuk diberikan terutama kepada yang miskin dan membutuhkan. Di Sulawesi, bubur asyura ini biasanya dimasak dalam panci besar di rumah tokoh masyarakat yang paling berpengaruh, masjid, dan mushallah dengan upaya bersama warga masyarakat.
Bubur Sembilan, Bubur Asyura, Tujuh Warna
bubur-asyuro_syiah-menjawabAsyura adalah hari ke-10 di bulan Muharram dalam kalender Islam. Pada Asyura di tahun 680, Imam Husein, cucu Nabi Muhammad terbunuh selama pertempuran Karbala-Irak, yang menentang Yazid bin Mu’awiyah, sebagai khalifah Kaum Muslim pada waktu itu.
Kematian Husein, bagi kaum Syiah (Persia) adalah sebuah peristiwa yang tidak terbatas pada waktu atau tempat tertentu. Akan tetapi, terwujud pada setiap masyarakat yang menganggap dirinya tertindas, dianiaya atau dipermalukan.
Pada hari-hari awal Revolusi Islam Iran tahun 1979, kemudian berlanjut selama perang Iran-Irak slogan yang sering terbaca di jalan-jalan seantero Iran, ”Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala, dan setiap bulan adalah Muharram.”
Setiap tahun pada tanggal sepuluh bulan Muharram, sebagai hari raya Asyura, semua penduduk kota di Iran berkumpul di bawah tenda di tempat yang luas, dan selama tiga hari tiga malam memasak ribuan piring Asyura, untuk mengenang para syuhada Karbala.
Piring ini didistribusikan dengan gula-serbat, yang dibuat bentuk bundar di vas kristal, cangkir carnelian dan pirus, pada saat yang sama membaca ayat-ayat tertentu, seperti ”Tuhan mereka memberi minuman paling suci” (Alquran, 76:21).
Pada hari istimewa ini sebagian masyarakat muslim di Sulawesi akan memasak bubur khusus yang dikenal sebagai ’bubur asyura’ untuk diberikan terutama kepada yang miskin dan membutuhkan. Di Sulawesi, bubur asyura ini biasanya dimasak dalam panci besar di rumah tokoh masyarakat yang paling berpengaruh, masjid, dan mushallah dengan upaya bersama warga masyarakat.
Kemudian bubur tersebut dibagi pada setiap rumah tangga. Orang miskin, anak yatim dan gelandangan akan mendapat perhatian khusus mendapatkan pembagian bubur itu. Kebiasaan seperti ini sudah tidak popular lagi sekarang ini.
Hanya sebagaian kecil masyarakat yang ada di suku Bugis, Makasar, dan Mandar melakukannya. Beberapa kota yang masih kita temukan melakukanya di antaranya; Maros, Luwuk, Bone, Wajo, Takalar, dan juga beberapa daerah di Tanah Mandar.
Sebagian besar orang Mandar, menganggap bulan Muharram dan bulan Syafar sebagai bulan makarra’, bulan yang mengandung bahaya atau berkaitan dengan hal-hal mistis yang harus diwaspadai. Di bulan ini anak-anak dilarang memanjat pohon, bermain benda-benda tajam, dan harus lebih cepat pulang ke rumah di waktu petang.
Bahkan ada lagu anak-anak yang menyebutkan bahwa bulan Syafar adalah bulan di mana anak-anak tidak boleh memanjat, khususnya bagi anak-anak perempuan. Selain itu, hari tertentu dalam dua bulan itu dianggap sebagai waktu yang tidak baik untuk melakukan perkawinan, mendirikan rumah, sunatan, dan lain-lain.
Akan tetapi, pada umumnya masyarakat muslim yang memahami secara terbalik dengan latar sejarah bulan Muharram, sehingga penyambutan dan sikap yang ditunjukkan jika bukan sikap mengabaikan begitu saja atau sikap kegembiraan yang dipandang mendatangkan rezeki. Oleh karena itu, masyarakat muslim pada awal muharram yang mau menyambutnya akan beramai-ramai ke pasar untuk membeli alat-alat yang umumnya perabotan dapur, seperti; panci, wajan, sendok, dan lain-lain.
Oleh karena itu, wajar bila di Polewali-Mandar misalnya, keluarga muslim akan melakukan yang dikenal dengan marroma Muharram. Sebuah kenduri sederhana dengan suguhan sokkolo (nasi ketan), loka tira’ (pisang raja) dan segelas air putih. Sang suami membacakan doa selamat.
Di Lemosusu Tinambung, setiap malam 1 Muharram, masyarakatnya mempunyai tradisi yang lebih unik. Mereka membawa aneka makanan ke masjid Miftahul Ihsan, melakukan pembacaan barzanji selepas shalat Isya, lalu bersama-sama menikmati hidangan yang mereka bawa sendiri. Tradisi ini pada tahun 1988 masih bisa disaksikan.
Perayaan Muharram juga biasa dilakukan di Masjid Imam Lapeo- Campalagian Di Masjid Imam Lapeo biasanya malam 1 Muharram diisi dengan ceramah dan pengajian. Masyarakat Mandar, lebih umum melakukan ritual Muharram pada malam Asyura atau malam 10 Muharram. Malam ini dianggap lebih khusus dan lebih keramat.
Sebagian kecil masyarakat juga percaya bahwa sianh harinya bagus digunakan untuk berbelanja, khususnya benda-benda sifatnya perhiasan (emas) atau benda-benda tajam. Pada malam 10 Muhamm. sebagian besar masyarakat Mandar akan membuat ule-ule’ (bubur) yang terbuat dari minimal tujuh macam bahan makanan ditambah santan dan gula merah.
Akan lebih baik jika bahan makanan itu terdiri dari sepuluh macam atau lebih. Bahan makanan yang paling sering digunakan adalah beras ketan putih, ketan hitam, ketan merah, kacang hijau, kacang putih, wijen, pisang. ubi jalar, labu, dan jagung. Jika mau diperbanyak bahannya, bisa ditambahkan pula dengan bahan makanan dari biji-bijian lainnya.
Setelah masak, bubur itu dituangkan ke dalam tujuh gelas. Bersama dengan sajian lainnya, yang paling utama adalah nasi ketan, air putih dan pisang raja, bubur tujuh rupa atau sepuluh rupa itu dihidangkan di atas nampan besar. Disertai asap dari kemenyan yang dibakar, kepala keluarga atau sesepuh yang dipanggil akan membacakan doa selamat.
Setelah ritual ini selesai, barulah bubur di dalam tujuh gelas itu bisa dimakan. Pada siang hari tanggal 10 Muharram, sebagaimana masyarakat Muslim lain yang mempercayainya, masyarakat Mandar juga melakukan puasa Asyura. Dengan berkembangnya pemikiran keagamaan di masyarakat Mandar dan masuknya berbagai madzhab pemikiran Islam di daerah ini, muncul berbagai tanggapan terhadap tradisi Mandar di dalam menyambut 1 Muharram dan ritual 10 Muharram.
Seperti yang disebutkan di atas, masyarakat Lemosusu telah mengalami perubahan tradisi dengan menambahkan ritual shalat sunnat 1 Muharram. Persentuhan masyarakat di daerah ini dengan tarekat Khalwatiyah telah ngayakan tradisi mereka. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa tradisi masyarakat Mandar dalam menyambut tahun baru Islam dan merayakan hari Asyura juga mengalami perubahan.
Akan tetapi, tentu lain dengan tradisi masyarakat yang tidak memiliki ”pembenaran” di dalam ajaran Islam. Sejak dulu, Muhammadiyah yang berusaha menghancurkan bid’ah sampai ke akar-akarnya, sudah menentang tradisi bubur tujuh atau sepuluh rupa di malam 10 Muharram itu. Tapi tradisi ini masih hidup sampai saat ini walaupun sudah mulai dilupakan oleh generasi muda.
Salah satu keluarga di Lemosusu, ketika anak-anaknya merayakan 1 dan 10 Muharram di masjid, hanya orang tua dari keluarga itu yang mempertahankan tradisi bubur tujuh rupa.
 
(Ditulis oleh Supratman, dalam Jejak Pengaruh Syiah di Sulawesi : Studi Kasus Suku Bugis, Makasar dan Mandar di Buku “Sejarah & Budaya Syiah di Asia Tenggara)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed