by

Kemaksuman Imam Husain as dan Ridhonya Nabi saw

Imam Husain as adalah saIah satu orang yang termasuk dalam ’Ayat Pensucian’ [Ayat aI-Tathir] al-Quran. OIeh karena itu, dia bebas dari segala macam dosa, kesalahan atau kelupaan. lmam Husain as tidak dapat melakukan kesalahan apa pun karena dia telah disucikan dari dosa oleh Allah Swt.
Dengan sanad riwayatnya sendiri, Muslim mengutip Aisyah yang meriwayatkan, “Suatu pagi Nabi saw meninggalkan rumahku dengan membawa sehelai kain yang terbuat dari wol mentah di pundaknya. Hasan bin Ali, Husain, Fathimah dan Ali, semuanya mengikuti Nabi saw sesuai urutan yang dikatakan. Lalu, ia membacakan ayat ini,
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya. (QS. al-Ahzab -331 :33).[1]
Jikalau, seperti yang diriwayatkan dalam hadis ini dari sumber Sunni, lmam Husain as bersih dari dosa, atau maksum, konsekuensinya pemberontakannya adalah benar dan dibenarkan. Hal ini juga menyiratkan bahwa pemerintahan Yazid tidak kredibel.
Nabi saw Rida kepada Husain as
Dengan sanad riwayatnya sendiri, Thabrani meriwayatkan dari Rib’il bin Harash bahwa Imam Ali as berkata, ”Aku mengunjungi Nabi saw suatu hari ketika dia membentangkan sehelai kain di atas tanah. Nabi, Fathimah, Hasan, Husain dan aku duduk bersama di atas sehelai kain tersebut. Kemudian, Nabi saw mengambil ujung-ujung kain itu dan membentangkannya di atas kami semua. Setelah itu, beliau berkata,
’Ya Allah! Ridailah dengan orang-orang ini seperti halnya aku rida dengan mereka! “[2]
Haitsami telah meriwayatkan hadis ini dalam kitabnya Majma’ al-Zawaid. Dia mengatakan, ”Thabrani telah meriwayatkan ini hadis dalam kitab al-Awsath. Semua orang yang disebutkan dalam sanad riwayat ini terkenal meriwayatkan hadis-hadis sahih, sedangkan Ubaid bin Thufail, salah seorang perawi yang disebutkan dalam sanaq riwayat ini, dapat diandalkan dan da pat dipercaya (Tsiqah).”[3]
Kita dapat memahami dari hadis ini bahwa Nabi saw rida dengan Imam Husain as dan, sebagai akibat dari keridaan ini, berdoa demi keridaan ini. Kita juga tahu bahwa Allah, Yang Mahatinggi, pasti menerima doa Nabi saw, oleh karena itu, selanjutnya Allah pasti ridha dengan Imam Husain as.
Kita dapat menyimpulkan bahwa pemberontakan dan revolusi Imam Husain as melawan Yazid juga menjadi sumber keridaan bagi Allah. Hal ini menambah keraguan pada legitimasi Yazid atas kekhalifahan.
Husain as, Penghulu Pemuda Surga
Abu Sa’id meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, ”Hasan dan Husain adalah dua pemimpin pemuda surga.”[4]
Tirmizi percaya bahwa hadis ini sahih dan akurat, dan Albani setuju dengannya.[5]
Jika Imam Husain as, sesuai dengan sabda Nabi saw, adalah pemimpin pemuda surga, maka berarti bahwa segala tindakan dan hasil upayanya di dunia ini, termasuk bangkit melawan Yazid bin Muawiyah, diridai oleh Allah.
______________________________

  1. Muslim, al-Shahih, jil. 7, hal.130.
  2. Majma’ al-Zawaid, jil.9, hal.169.
  3. Ibid.
  4. Ahmad bin Hambal, al-Musnad, ji1.3, hal.3, 62, 64, 82; Tirmizi, al-Sunan jil.5, hal.321; Hakim Naisaburi, al-Mustadrak ’ala al-Shahihain, jil.3, hal.154, 166-167.
  5. Tirmizi, al-Sunan, jil.5, hal.321; Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, jil.2
    hal. 423, no. 796.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed