by

Berkabung Untuk Imam Husain as dari Sudut Pandang Akal

“Aku muncul bukan untuk menciptakan perpecahan dan ketidakadilan atau penindasan dan kerusakan di kalangan umat lslam, tetapi untuk memperbaiki dan mereformasi umat leluhurku Nabi saw.” – Imam Husain as

Salah satu keberatan yang diajukan oleh kaum skeptis tertentu, seperti mazhab Wahabi, adalah mengapa orang Syi’ah dan pecinta Ahlulbait as berkabung atau menangis atas kesukaran yang menimpa wali Allah dan mengapa mereka menangis untuk penderitaan mereka dan menyelenggarakan upacara berkabung bagi mereka.
Mereka bertanya: mengapa orang-orang Syi’ah memukul dada mereka dengan meratap? Mengapa mereka memikirkan peristiwa masa lalu? Apakah wali Allah membutuhkan rasa berkabung kita untuk mereka atau apakah kita yang membutuhkan berkabung untuk mereka?
Kaum Wahabi menganggap berkabung untuk wali Allah sebagai tindakan inovasi dan bid’ah dan mengatakan bahwa tidak ada bukti dalam Islam untuk membuktikan bahwa diizinkan untuk mengadakan upacara berkabung. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa upacara berkabung bukan merupakan bagian dari syariat dan harus ditinggalkan.
Kita sekarang akan memeriksa topik ini pada level yang berbeda.
Berkabung dan budaya Asyura
Dengan menggunakan penalaran rasional, kita akan mengetahui bahwa menyelenggarakan upacara berkabung untuk wali Allah, terutama penghulu dan pemimpin para syuhada, lmam Husain as, sesuai dengan logika karena menghormati wali Allah melalui berbagai upacara yang mengagungkan kepribadian mereka yang agung dan menghidupkan kembali pesan mereka. Tanpa ragu,
setiap bangsa atau masyarakat yang tidak menghormati kepribadian agung dari sejarahnya dikutuk menjadi gagal dan ditakdirkan pada kehancuran. Seringkali sedikit orang orang hebat yang membangun sejarah.
Baca : Kemaksuman Imam Husain as dan Ridhonya Nabi saw
Mutiara Pesan Imam Husain as
‘Sesungguhnya, aku tidak melihat kematian sebagai apa pun kecuali kebahagiaan dan hidup dengan para penindas bukanlah apa-apa selain rasa malu dan dukacita.[1]
‘Kematian dengan kehormatan tak lain hanyalah hidup yang kekal, sementara hidup dengan kehinaan tak lain hanyalah kematian.”
‘Waspadalah bahwa anak haram dari seorang manusia yang terlahir haram (lbnu Ziyad) telah memberiku dua pilihan: menarikpedangku dan berperang, atau mengenakan busana kehinaan dengan membaiat kepada Yazid. Namun, penerimaan kehinaan sangat jauh dari kami.”
‘Kita dari Allah dan kepada Dia kita kembali. Ketika umat Islan menderita oleh pemerintahan seperti pemerintahan Yazid kita harus mengucapkan selamat tinggal pada Islam.[2]
‘Aku muncul bukan untuk menciptakan perpecahan dan ketidakadilan atau penindasan dan kerusakan di kalangan umat lslam, tetapi untuk memperbaiki dan mereformasi umat leluhurku Nabi saw. Aku ingin menyeru apa yang baik dan melarang apa yang jahat. Aku ingin menghidupkan kembali cara kakekku, Nabi saw, dan ayahku Ali bln Abl Thalib.[3]
Hubungan penuh kasih sayang antara umat Islam dan wali Allah as
Salah satu cara yang paling efektif untuk membuktikan keimanan manusia adalah dengan memicu sentimen mereka. Mengaduk-aduk perasaan orang merupakan cara pentlng untuk menjelaskan atau menjustifikasi keyakinan politik dan sosial mereka. Tatkala melihat sesuatu, manusia lebih mudah terpengaruh dari sudut pandang emosional daripada dari sudut pandang logis atau lainnya. Dengan kata lain, tatkala tiba saatnya untuk membuktikan keimanan manusla, perspektif emosional atau pun psikologis Iebih efektifdibandingkan metode lainnya.
Sekarang, apabila kita memerhatikan masalah kesyahidan wali Allah as, terutama pemimpln para syuhada, Imam Husain as, kita sampai pada kesimpulan bahwa mengingatkan orang-orang tentang peristiwa Asyura yang menyedihkan dan menyegarkan ingatan mereka tentang apa yang terjadi dalam sejarah Islam akan mengakibatkan tersentuhnya perasaan mereka. Dengan cara lni, kita bisa mengambil orang-orang agung tersebut sebagai peran leladan dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita dapat lnengkomunikasikan pesan mereka kepada banyak orang.
Karena pesan dan perintah yang kita terima dari wali Allah pada kenyataannya adalah pesan dan perintah Allah. Karena alasan inilah maka setelah penstnwa Asyura, Imam Ali Zainal Abidin as biasa menangis dan berkabung atas para syuhada Karbala, terutama bagi ayahnya, Imam Husain as.
Masalah berduka cita atas wali Allah menjadi jelas, ketika kita ingat penghargaan yang diberikan oleh Nabi Saw kepada Imam Husain as. Nabi saw bersabda,
”Husain berasal dariku dan aku dari Husain, Allah mencintai orang yang mencintai Husain.”[4]
Demikian pula, Nabi saw bersabda,
“Hasan dan Husain adalah dua penghulu para pemuda surga.”[5]
__________________________________________

  1. Mukhtashar Tarikh al-Dimasyq, Jil. 14, hal. 218.
  2. Khawarizmi, Maqtal al-Imam Husain as, jil. 1, hal. 184.
  3. Bihar al-Anwar, jil.44, ha1.328.
  4. Ibnu Majah, Al Sunan, jil. 1, hal. 51; Fadhail Ashab Rasul Allah saw.
  5. Tirmizi, al-Shahih, jil.5. Hal, 617 ; Ahmad bin Hambal, al-Musnad, jil. 3, hal.369.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed