by

Kebangkitan Al-Husain dalam Kesaksian dan Pandangan Para Pendukung

Sebagian besar umat muslim, termasuk muslim Sunni, mengingat epik bersejarah Imam Husain as dengan kehormatan dan kemuliaan sepenuhnya. Selain itu, pasca peristiwa Karbala, mereka yang menentang Ahlulbait as atau telah mengambil posisi netral dan tidak memihak segera meninggalkan posisi ini dan mengumumkan dukungan mereka untuk Ahlulbait as dengan berbagai cara. (Baca : Berkabung Untuk Imam Husain as dari Sudut Pandang Akal)
1. Ubaidillah bin Hurr Ju’fah adalah salah seorang yang awalnya menolak untuk membantu Imam Husain as. Setelah kesyahidan Imam Husain as, dia menjadi oposisi terhadap pemerintahan Bani Umayah. Dia menyusun Iagu-Iagu ratapan bagi para syuhada Karbala dan mulai memanggil orang-orang untuk memberontak dan bangkit melawan kekuasaan Yazid. [1]
2. Zaid bin Arqam adalah seorang lelaki yang mencoba menghalangi Imam Husain as dari melanjutkan rangkaian tindakannya dengan cara menarik Imam as pada tatanan peribadatan ritual dan tasawuf. Pada akhirnya, dia terpengaruh disebabkan hak moral dan legitimasi Imam Husain as.
Ketika dia melihat para tawanan Karbala dibawa ke Syam dan penggalan kepala-kepala dari jasad para syuhada ditancapkan di atas tombak-tombak, tatkala dia mengamati sikap Ibnu Ziyad terhadap para korban, tatkala dia melihat betapa umat Muslim telah tenggelam begitu rendah dan bagaimana mereka telah menjadi hina, dia sangat tersentuh oleh peristiwa menyedihkan tersebut.
Dia menangis karena tidak bisa menolong Imam Husain. Dia mengatakan “Hai orang-orang! Mulai sekarang. kalian akan lebih buruk daripada budak. Kalian telah membunuh putra Fathimah as dan telah menjadikan diri kalian sendiri tunduk pada putra Marjanah. Aku bersumpah demi Allah! Dia akan membunuh yang terbaik dari kalian dan memperbudak yang terburuk di antara kalian. Celakalah dia yang puas dengan kehinaan dan aib!” [2]
(Baca : Misi Nabi saw Bergantung pada Kebangkitan Imam Husain as)
3. Abul Ala’ Mu’arri mengatakan,”Pembunuhan Husain as dan perampasan kekhalifahan oleh Yazid adalah perbuatan jahat pada zaman kita dan rakyat kita.”[3]
4. Syekh Muhammad Abduh adalah orang yang berpendapat bahwa menentang pemerintahan yang zalim diwajibkan atas seluruh umat muslim. Dia menganggap pemberontakan Imam Husain as terhadap Yazid sebagai perlawanan terhadap perampas dan penindas yang zalim.[4]
5. Abdullah Alaiki menuliskan, ”Husain as tidak melawan khalifah. Sebaliknya, dia memberontak terhadap seorang pelanggar batas yang telah menempatkan dirinya atas rakyat atau telah diberi kekuasaan atas rakyat oleh ayahnya. Sangat mungkin bahwa jika gerakan ini dilakukan oleh seseorang selain Husain bin Ali, dan terhadap orang lain selain Yazid, maka aparatus propaganda kotor para penguasa saat itu akan mudah mendistorsi tujuan luhur dari pemberontakan tersebut.
Namun Husain adalah seorang manusia yang unik dan berbeda. Dia memiliki latar belakang yang sangat brilian dan terkenal di kalangan umat Islam. Ada banyak kesaksian yang diberikan untuk mendukungnya oleh Nabi saw.
Ada hadis-hadis tercatat yang meramalkan pemberontakan ini. Sekarang kita memiliki sebuah skenario di mana Husain berada pada satu sisi peristiwa. dan Yazid jahat beserta keluarga rusak Bani Umayah berada pada sisi yang berlawanan.
Kontras tajam ini membuat gerakan Husain bersinar seperti bintang terang di malam yang gelap sedemikian rupa sehingga sekalipun poslsi para penentang kebangkitan Husain disebutkan dalam kitab-kitab Sunni, maksudnya adalah untuk meniadakan dan mengutuk mereka.”[5]
6. Abbas Mahmud Aqqad berpendapat bahwa menganalisis dan mengevaluasi kebangkitan Imam Husain dengan menggunakan standar manusia yang sempit adalah kezaliman. Dia menuliskan, ”Eksodus Husain dari Mekkah menuju lrak bukanlah sebuah gerakan yang dapat dinilai menurut standar biasa karena kebangkitan ini merupakan salah satu gerakan bersejarah langka yang melibatkan ajakan masyarakat terhadap agama dan kesadaran politik.
Satu-satunya masyarakat yang mampu membuat gerakan unik semacam ini adalah mereka yang telah diciptakan hanya untuk misi tersebut. Memosisikan diri dalam bahaya dengan cara seperti yang dilakukan oleh Husain tidak akan muncul dalam benak orang-orang biasa.
Sebaliknya, ini merupakan sebuah gerakan yang tak tertandingi dalam sejarah umat manusia yang memanggil individu-individu unik dan luar biasa.”[6]
Dia mengkritik kaum orientalis karena gagal memahami kondisi yang mengitari kebangkitan Imam Husain as. Sembari memprotes kelemahan persepsi mereka, dia menyatakan, ”Alangkah baiknya andai kaum orientalis memahami masalah keyakinan reIigius dalam diri Husain.
Mereka perlu diingatkan bahwa bagi Husain, Islam bukanlah masalah duniawi yang bisa dikompromikan. Husain adalah orang dengan keyakinan kuat dalam hukum Islam. Dia adalah seorang manusia yang percaya bahwa penangguhan batas yang ditetapkan oleh Allah (penghentian dalam praktik hukum Islam) adalah musibah terbesar dari segalah musibah yang cepat atau lambat akan menimpa tidak hanya dia dan keluarganya, tetapi juga bangsa Arab dan umat Islam secara keseluruhan.”[7]
(Baca : Kemaksuman Imam Husain as dan Ridhonya Nabi saw)
__________________________

  1. Al-Ithaf bi Hubb al-Asyraf, hal.68.
  2. Tarikh Thabari, jil.5, ha1469-470.
  3. lbid., jil.6. hal.262.
  4. Mu’arri, Luzum ma la Yulzam, hal.310-311.
  5. The Quranic Commentary of al-Manar, jil.1, ha1.367.
  6. Al-lmam Husain, hal.33-34.
  7. Aqqad, al-Abaniyyah nl-Islamiyyah, jil.2, hal.222.
  8. Ibid, jil.2, hal.228.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed