by

Filosofi Azadari (Ratapan Duka Cita)

Tak diragukan lagi, bahwa peristiwa Asyura yang tragis dan menyayat hati tak bisa berlaku begitu saja. Dalam peristiwa itu, ketidakadilan dan kezaliman terjadi pada sosok-sosok paling terhormat sepanjang sejarah.
Jiwa dan nurani mana yang tidak bergetar mendengar peristiwa ini? Yang tidak menangis melihatnya? Adalah sesuatu yang alami bagi manusia untuk berperasaan sempa ketika menyaksikan langsung peristiwa setragis ini.
Kenapa kita menangis? Tentu semata karena kita adalah manusia. Andaikan kita adalah batu, kayu, atau hewan , mungkin kita tak akan menangis. Namun manusia ketika berhadapan langsung dengan peristiwa itu akan tersentuh secara alami. Apabila cinta kita terhadap seseorang semakin dalam, maka kasih-sayang kita terhadapnya akan meningkat.
Sehingga penderitaan ataupun kepedihannya,juga akan menjadi kepedihan kita juga. Husain adalah sosok paling mulia pada masanya, permata hati Nabi, pemimpin para Syuhada, dan pemimpin para pemuda surga. Apabila kita tidak menangis berduka untuknya, lalu kapankah kita harus menangis dan apakah sebenarnya tujuan dari menangis?
Terlebih, Imam Husain tidak memikul segala beban dan kesakitan itu untuk tujuan pribadinya, tetapi ia melakukannya demi keselamatan umat, dan ia syahid untuk kebangkitan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ilahi yang tinggi. Itu adalah nilai-nilai yang kita semua harapkan. Oleh karenanya, siapakah yang syahid untuk kita dan untuk kemanusiaan? Sungguh ini adalah pengabdian terbesar dalam sejarah dan komunitas manusia. Bagaimana mungkin kita mengabaikan sosok yang telah merasakan semua kesedihan demi kita semua?
Di samping itu, duka cita untuk Imam Husain adalah untuk mendemonstrasikan cinta kepada nilai-nilai tersebut, yang mana Imam telah memilih syahid untuk memperjuangkannya. Nilai-nilai seperti
keadilan, kebebasan, kehormatan, dan spiritualitas. Mengenang nama Husain bukan semata kebangkitan pribadi, tetapi juga justru merupakan kebangkitan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Mencintai Husain sebenarnya mencintai semua nilai tersebut.
Memperkuat ikatan batin dengan Husain sebenaranya merupakan penguatan dan komitmen atas nilai-nilai ini. Sejatinya, di Karbala mereka tidak memenggal kepala Husain, tetapi mereka memenggal kebebasan , keadilan , dan kehormatan mereka sebenarnya menginjak nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dan spiritual dengan kuda-kuda mereka.
Kebencian terhadap para penyerang itu adalah kebencian terhadap keagresifan dan ketidakadilan. Mengutuk memka berarti mengutuk ketidakadilan, agresi, dan penghinaan. Jika tidak demikian, kita tidak memiliki ikatan keluarga apa pun dengan Husain, anak dari Ali. Tidak juga kita memiliki konflik personal apa pun dengan Yazid, anak dari Mu’awiyah.
Secara sederhana, ini berarti hidup dan benci pada mereka yang mengikuti kecintaan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang agung, sedang pada saat yang sama membiarkan kebencian terhadap nilai–nilai dan prinsip-prinsip tersebut tumbuh. Setiap orang yang mencintai nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi ini sebenarnya mencintai Husain karena dia adalah pengibar nilai-nilai tersebut. Dan, setiap orang yang mencintai Husain akan menunjukkan perasaan dan kasih sayangnya kepadanya.
Selain itu, menunjukkan perasaan dan kasih sayang kepada Husain, menjaga namanya, dan memperingatinya, sebenamya membangkitkan nilai-nilai tersebut dan memperkuat komitmen kepada nilai-nilai tersebut. Dalam rangka membangkitkan nilai-nilai tersebut, Imam Husain sebenamya telah mengorbankan dirinya sendiri untuk nilai-nilai yang tidak temporal dan tidak terbatas ruang maupun wilayah geografis tertentu, dalam artian nilai-nilai tersebut abadi.
Imam Husain tak hanya terafiliasi kepada Syi’ah, tetapi ia terafiliasi kepada kemanusiaan. Bila komunitas-komunitas lainnya tidak bergabung dengan Syi’ah dalam memperingati Husain dan para simpatisannya ini semata karena mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya Husain. Dan, ini adalah kelalaian kita, yakni tidak mengenalkan Imam Husain kepada kemanusiaan, dan kita bertanggung jawab atas semua ini.
Apabila seorang yang bukan Syi’ah mengetahui profil Husain, niscaya ia akan menjadi seorang Husainis. Cepat atau lambat, kemanusiaan pada akhirnya, kan melihat sejarah “matahari bersinar” ini, lalu mereka akan mengikuti jalan ini. Hingga nama Husain dan Asyura akan bersinar dalam wajab sejumlah hingga akhir masa. Debu tak sudi menutupinya. Sebaliknya, hari demi hari keduanya akan semakin bersinar.
Nama Imam Husain dan ingatan akannya berhubungan erat dengan nilai-nilai transenden kemanusiaan. Dan, karena nilai-nilai tersebut tak akan pernah diingkari apalagi menghilang, sehingga cinta dan ingatan Husain juga tak akan diingkari. Husain hanya akan dilupakan ketika nilai-nilai itu terlupakan.
Namun, jika nilai-nilai itu terlupakan, maka ini berarti bahwa kemanusiaan sejatinya telah berakhir. Imam Husain adalah perwujudan fisik dari ajaran-ajaran Al-Qur’an dan layaknya al-Quran, ia abadi. Dan setiap hari, dimensi-dimensi baru akan terus tersingkap.
Ini adalah logika pengikut Ahlul Bait yang mencintai Husain. Setiap mhun, mereka memperingati pengorbanan Husain dengan lebih baik dan lebih impresif. Pertanyaannya, bagaimanakah logika orang-orang yang menentang Husain dan pengikut-pengikutnya?
Mereka sama saja dengan orang-orang yang menganggap bahwa cinta Ahlul Bait Rasulullah sebagai kekufuran, bid’ah, dan syirik, yang tentunya serupa dengan logika para musuh dan pembunuh Ahlul Bait Rasulullah, mereka yang telah membantai perempuan , laki-laki, anak-anak dan orang tua, serta meneror mereka dengan agresif.
Apakah cinta kepada Ahlul Bait merupakan tindakan syirik Apakah memperingati Imam Husain dan kebangkitan nilai-nilai Islam merupakan perbuatan ahsab? Syirik adalah mengasosiasikan Tuhan dengan sesuatu, dan ini berbeda dengan cinta terhadap orang-orang suci Tuhan, mengikuti Rasulullah dan Ahlul Bait yang suci. “Apabila kamu mencintai Tuhan, maka ikutilah aku, dan Tuhan akan mencintaimu.”
Imam Husain tak mempunyai kepercayaan lain selain Islam, yang mana jika mengikuti selain Islam berarti syirik. Pada kenyataannya, ia adalah murid madrasah (sekolah-penj). Rasulullah dan ia didik oleh Ahlul Bait penerima wahyu dan risalah. Dialah yang menyebarluaskan Al-Qur’an dan Sunnah, serta berkorban untuk Islam.
Dialah teladan sempurna dan perkembangan spiritual Islam. Para pahlawan bisa menjadikannya rujukan. Umat Islam mempelajari spiritualitas dan penghambaan darinya dan dari keberaniannya yang abadi di Karbala.
 
Sumber : Muhammad Fanaei Eshkevari, “Refleksi Filosofis tentang Kebangkitan Imam Husain”, di buku Hikmah Abadi Revolusi Imam Husain.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed