by

Bukti-Bukti Kebenaran Pasca Syahadah Imam Husain as

Orang zalim sekuat apapun dia, sebanyak apapun pendukungnya dan selama apapun masa kekuasaannya, dia tetaplah lemah. Sebab Allah SWT, pemilik kekuatan mutlak, yang berhadapan langsung dengannya. Dialah yang selalu mengawasi gerak-gerik orang-orang zalim dan durjana, lalu mengazab mereka dan menurunkan atas mereka segala macam bencana baik di dunia maupun di akhirat.
Demikianlah hukum dan ketentuan yang Allah perlihatkan kepada mereka yang menzalimi Al-Husain as., membantai dan menginjak-injak kehormatannya. Allah telah menghukum mereka di dunia dengan siksaan dan derita. Dan kelak di hari kiamat azab yang akan mereka rasakan jauh lebih pedih.
Allah SWT selalu menolong mereka yang dizalimi karena memperjuangkan kebenaran dan demi tegaknya kalimatullah. Karenanya Allah menampakkan kezaliman yang mereka alami di dunia sedang mereka berada di jalan yang benar dan musuh-musuh mereka berada di kedalaman neraka, mereka kekal di dalamnya. Sungguh tempat adalah seburuk-buruk tempat kembali.
Keajaiban dan Bukti Kebenaran Syahadah Kesatria Langit
Setelah kematian Al-Husain as., Allah SWT menunjukkan banyak bukti kebenaran yang disaksikan dan diyakini oleh semua orang. Hal itu menunjukkan bahwa Al-Husain as. terbunuh di jalan kebenaran. Kedudukan beliau di sisi Allah adalah kedudukan yang tinggi. Beliau dan para sahabatnya mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya. Karena itu, peristiwa yang mereka alami, nama dan jalan yang mereka tempuh tetap hidup sepanjang masa.
Orang-orang yang berjiwa merdeka di dunia akan terus mengikuti apa yang mereka perjuangkan, sepanjang zaman, dan akan tetap abadi sampai Allah mengizinkan Al-Qaim Al-Mahdi as. untuk muncul dan menuntut balas kematian beliau.
Disini kami sebutkan beberapa bukti kebenaran yang terlihat setelah syahadah Al-Husain as. yang kami nukil dari buku-buku rujukan stantard kaum muslimin:
Kepala suci Al-Husain as. yang berada di ujung tombak berbicara dengan membawakan ayat-ayat suci Al-Quran dan lainnya. Al-Husain as. melemparkan darah ke atas dan tak setetespun yang jatuh ke tanah.
Pada hari Al-Husain as. terbunuh, langit meneteskan hujan darah sehingga semua orang pada keesokan harinya mendapati apa yang mereka miliki telah dipenuhi oleh darah. Darah itu membekas pada baju-baju mereka beberapa waktu lamanya, hingga akhirnya terkoyak-koyak. Warna merah darah terlihat di langit pada hari itu. Peristiwa tersebut hanya pernah terjadi saat itu saja.
Pada hari Al-Husain as. terbunuh, tak ada satu batupun di dunia yang diangkat kecuali di bawahnya terdapat darah segar mengalir
Ketika kepala Al-Husain as. dibawa ke istana Ubaidillah bin Ziyad, orang ramai melihat dinding-dinding mengalirkan darah segar.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, selama beberapa hari, lagit memerah bagai segumpal darah.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, selama tujuh hari, orang-orang ketika melakukan salat Ashar, mereka melihat matahari berwarna merah darah dari celah-celah tembok. Merekapun menyaksikan bintang-bintang saling bertabrakan satu dengan yang lain.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, selama dua atau tiga bulan orang-orang banyak menyaksikan tembok-tembok yang bagai dicat darah, mulai dari waktu salat subuh hingga terbenamnya matahari
Ketika Al-Husain as. terbunuh, di sudut-sudut langit terlihat warna warna kemerahan. Warna merah itu menandakan bahwa langit tengah menangis. Sewaktu pasukan musuh membagi-bagikan sejenis tumbuhan berwarna kuning milik Al-Husain as., tumbuhan itu berubah menjadi abu. Dan sewaktu mereka menyembelih seekor unta yang dirampas dari kamp Al-Husain as., mereka menemukan sejenis kayu di dagingnya.
Ufuk langit berwarna kemerahan setelah kematian Al-Husain as. yang menampakkan warna darah. Hal itu berlangsung selama enam bulan.
Langit tak pernah berwarna merah darah, sampai terjadinya pembantaian atas diri Al-Husain as. Di negeri Rumawi, selama empat bulan, tak ada seorang wanitapun yang mengalami menstruasi kecuali berwarna putih. Kaisar Rumawi segera berkirim surat kepada penguasa Arab dan mengatakan, “Kalian pasti telah membunuh seorang Nabi atau putra Nabi.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, selama tiga hari dunia menjadi gelap gulita, lalu terang kembali dan terlihat warna kemerahan di langit. Tidak ada seorangpun yang menyentuh za’faron Al-Husain as., kecuali terbakar.
Langit tidak pernah menangisi siapapun juga kecuali dua orang: Yahya bin Zakaria dan Al-Husain bin Ali as. Tangisan langit adalah ketika ia memerah hingga mirip bunga mawar yang dibubuhi minyak sampai mengkilat.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, terjadilah gerhana matahari total yang menyebabkab bintang-bintang terlihat di siang hari dan orang-orang menyangkanya matahari.
Sesaat setelah Al-Husain as. terbunuh, warna langit menghitam pekat sekali. Lalu bintang-bintang bermunculan di siang hari, sampai-sampai bintang kembar terlihat di waktu sore. Segumpal tanah berwarna merah jatuh dari atas. Langit terlihat berwarna merah bagai darah selama tujuh hari tujuh malam.
Pada hari Al-Husain as. terbunuh, tak ada satupun batu di Syam dan Baitul Maqdis yang diangkat kecuali di bawahnya terdapat darah yang masih segar.
Pada hari ‘Asyura’ burung-burung menahan diri dari memakan makanan.
Dari bejana tempat kepala Al-Husain as. diletakkan,terpancar sinar yang terang menembus langit dan burung-burung mengepakkan sayap mereka mengelilingi kepala suci tersebut.
Pada saat Al-Husain as. terbunuh, seekor burung gagak datang dan bergumul di tumpahan darah beliau lalu terbang kembali menuju kota Madinah dan hinggap di dinding rumah Fatimah binti Al-Husain as.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, banyak orang yang mendengar suara rintihan dan ratapan bangsa Jin untuk Al-Husain as. Mereka berkata
Wahai mata, lakukanlah dengan baik tugasmu
Siapa lagi yang kan menangisi syuhada setelahku
Tangisilah mereka yang berjalan digiring kematian
Menuju negeri kekuasaan anak bekas budak belian
Wahai kalian yang telah membantai Al-Husain
Bersiaplah menerima azab dan balasan
Seluruh penghuni langit mengutuk kalian
Juga para nabi, utusan Allah dan bani insan
Kalian dikutuk lewat lisan putra Daud, Sulaiman
Juga Musa dan Isa, pembawa injil Tuhan
Wanita mulia bangsa Jin menangis sedih
Pukuli pipi yang bak keping emas nan bersih
Berpakaian kumal warna hitam, matapun letih
Aku bersedih meratapi Al-Husain
Sungguh Al-Husain seorang pahlawan
Demi Allah, aku datang kepada kalian setelah melihat dia
Di tepi Furat, pipinya berdebu dan luka leher menganga
Di sekitarnya, jasad-jasad muda dengan leher terluka
Mereka bak pelita, mengusir gulita dengan cahaya
Al-Husain bagaikan pelita penerang segala
Allahlah saksinya bahwa aku tak berdusta
Al-Husain tewas di negeri orang, sebatang kara
Dengan rasa dahaga yang mencekik jiwanya
Nabi sering mengusap dahinya
Dari pipinya memancar cahaya
Orang tuanya pembesar Quraisy
Kakeknya, sebaik-baik orang tua
Mereka membantaimu, wahai putra Rasul
Tempat mereka adalah neraka selamanya
Karena menyembelih unta, kaum Tsamud binasa
Petaka tanpa bahagia adalah akhir nasib mereka
Kehormatan cucu Rasulullah tentu lebih utama
dan lebih agung dari hanya seekor induk unta
Sangatlah mengherankan mereka tidak berubah rupa
Mungkin Allah menangguhkan azab para durjan
Pada saat Al-Husain as. terbunuh, ditemukan sebuah batu yang bertuliskan:
Kelak Fatimah kan datang dengan membawa
baju berlumurkan darah Al-Husain, putranya
Celakalah mereka, musuh pemberi syafa’at
Di saat telah ditiupnya sangkakala kiamat
Di dinding sebuah gereja tertulis:
Apakah umat yang membantai Al-Husain
Mengharapkan syafaat kakeknya di hari kiamat
Ketika pendeta yang berada
disana ditanya tentang tulisan tersebut dan siapakah yang menulisnya, ia menjawab, “Bait syiar ini telah tertulis di sini sejak lima ratus tahun sebelum nabi kalian diutus.”
Seorang penduduk Najran saat menggali tanah menemukan sebuah kepingan emas yang bertuliskan:
Apakah umat yang telah membantai Al-Husain
Mengharapkan syafaat kakeknya di hari kiamat
Sebuah tembok merekah lalu muncullah sebuah telapak tangan yang bertuliskan:
Apakah umat yang telah membantai Al-Husain
Mengharapkan syafaat kakeknya di hari kiamat.
Setelah Al-Husain as. terbunuh, para durjana itu memenggal kepala beliau. Selagi mereka asyik duduk-duduk di tempat peristirahan pertama mereka untuk meminum arak, tiba-tiba sebuah tangan keluar dari balik sebuah tembok yang membawa sebuah pena dari besi lalu dengan bertintakan darah, ia menulis:
Apakah umat yang telah membantai Al-Husain
Mengharapkan syafaat kakeknya di hari kiamat
Di atas sebuah batu terdapat tulisan yang berumur lebih dari seribu tahun sebelum masa kenabian. (Di beberapa gereja Rumawi ada sebuah tulisan yang berumur tiga ratus sampai enam ratus tahun sebelum masa kenabian). Tulisan itu adalah sebagai berikut:
Apakah umat yang telah membantai Al-Husain
Mengharapkan syafaat kakeknya di hari kiamat
Dalam mimpi seorang yang ikut menyaksikan pembantaian atas diri Al-Husain as., Nabi saw. datang kepadanya dan mengoleskan darah suci cucu beliau itu ke mata orang tersebut. Keesokan harinya ia menjadi buta, karenanya.
Abu Raja’ berkata, “Janganlah kalian mencaci Ali atau siapapun juga dari keluarga Nabi saw.! Sebab seorang dari bani Al-Hajim (Seorang tetangga dari Balhajim) memasuki kota Kufah sambil berseru,
“Tidakkah kalian mengenal si fasik anak si fasik? Allah kini telah membinasakannya.” Yang dia maksudkan adalah Al-Husain bin Ali as. Seketika itu juga Allah melemparnya dengan dua buah batu dari langit yang jatuh tepat mengenai kedua matanya. Akibatnya, dia menjadi buta untuk selamanya.”
Semua orang yang ikut serta dalam pasukan yang membantai Al-Husain as. mengalami penderitaan di dunia. Ada yang terbunuh, ada yang menjadi buta, ada yang wajahnya berubah menjadi berwarna hitam pekat, dan ada juga yang kehilangan kekuasaan dalam tempo yang relatif singkat.
Seorang yang menghalangi Al-Husain as. untuk sampai ke air mendapatkan siksaan dari Allah berupa rasa haus yang mencekik. Itu terjadi setelah Al-Husain as. mendoakannya dengan berkata, “Ya Allah, siksalah ia dengan rasa dahaga yang mencekik! Ya Allah siksalah ia dengan rasa haus yang mencekik!” Berkat doa itu, orang tersebut berteriak-teriak karena rasa panas yang ia rasakan dari dalam perut. Sedangkan punggungnya terasa amat dingin, hingga kemudian perutnya terkoyak seperti perut unta yang dibelah.
Ketika seseorang berkata kepada Al-Husain as., “Bersiap-siaplah untuk masuk neraka!”, Al-Husain as. mendoakannya dan berkata, “Ya Allah, kirimlah ia segera ke neraka!” Tiba-tiba kuda yang ditungganginya bergerak tak terkendali sehingga ia terjatuh di sungai dengan kaki yang masih tergantung di pelana kuda dan kepala yang membentur tanah. Kuda tersebut berlari ke sana kemari. Kepala orang itu membentur setiap batu dan pohon yang dilaluinya hingga ajal datang merenggut nyawanya.
Pada saat mereka menghalangi Al-Husain as. untuk sampai ke sungai dan meminum air darinya, seseorang berseru kepada beliau, “Lihatlah sungai yang terbentang luas ini! Seperti bentangan langit bukan ? Tapi sayang, kau tidak akan mendapatkan setetespun darinya, sampai kau mati perlahan-lahan karena kehausan.”
Al-Husain as. mengadu kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, binasakanlah ia dengan rasa haus yang mencekik !”
Berkat doa tersebut, ia mendapatkan kutukan dari Allah, hingga tidak pernah merasa puas meskipun banyak air yang telah memasuki kerongkongannya. Akhirnya ia mati karena rasa dahaganya itu.
Beberapa orang yang menghalangi Al-Husain as. untuk sampai ke air, semuanya mati kehausan berkat doa beliau as.
Seseorang menjadi buta. Kaki dan tangannya terlepas dari tubuhnya, karena berniat merampas pakaian yang dikenakan Al-Husain as. Hal itu terjadi setelah ia ia bermimpi melihat Fatimah as. mengutuknya.
Seorang lagi, yang merampas sorban Al-Husain as., tangannya terpotong sampai ke siku. Dan ia hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan. Keadaannya sangat mengenaskan sampai ajal datng menjemputnya.
Orang yang mengatakan, “Sayalah yang telah berhasil membunuh Al-Husain as.,” lidahnya terkatup menjadi bisu dan tak lama setelah itu ia menjadi gila.
Orang yang merampas celana Al-Husain as. menjadi lumpuh beberapa waktu lamanya. Sedangkan yang merampas sorban beliau tertimpa penyakit kusta dan yang mengambil baju perang beliau menjadi gila. Lalu pada saat itu juga, terlihat debu tebal yang berwarna gelap disertai oleh tiupan angin merah sehingga tak ada sesuatupun yang tampak. Orang-orang menyangka bahwa azab Allah akan segera menimpa mereka.
Ketika kepala suci Al-Husain as. dihadapkan ke Yazid bin Mu’awiyah, tiba-tiba dari balik dinding istana keluar sebuah tangan yng lantas menulis di dahi beliau:
Apakah umat yang telah membantai Al-Husain
Mengharapkan syafaat kakeknya di hari kiama
Setelah Ubaidillah bin Ziyad dan kawan-kawannya berhasil dibunuh dan kepalanya dibawa ke hadapan Mukhtar, datanglah seekor ular yang menyusup di antara kepala-kepala tersebut lalu masuk ke mulut Ibnu Ziyad dan keluar lewat lehernya. Kemudian masuk lagi dari leher dan keluar lewat mulutnya. Demikianlah ia keluar masuk kepala yang satu ini, padahal masih banyak kepala-kepala yang lain di situ. Mereka yang menyaksikan adegan tersebut berkata, “Sungguh Ibnu Ziyad dan kawan-kawannya telah merugi di dunia dan akherat.” Mereka lantas menangisi Al-Husain as., anak-anak dan para sahabatnya yang setia.
Wajah Harmalah, salah seorang yang terlibat langsung dalam membunuh Al-Husain as., berubah menjadi sangat buruk dan berwarna hitam lebam.Beberapa setelah itu, pada malam hari, pasukan Mukhtar menangkap dan melemparkannya ke dalam api yang berkobar-kobar.
Ketika seseorang berkata, “Tak ada seorangpun yang ikut terlibat dalam pembantaian atas diri Al-Husain as., kecuali mendapatkan bencana sebelum kematiannya,” seorang lelaki tua mengatakan kepadanya, “Aku termasuk salah seorang anggota pasukan Ibnu Ziyad pada hari itu. Tapi lihatlah, sampai detik ini, tak ada satu petakapun yang kualami dalam hidupku.”
Tiba-tiba lampu penerang rumah padam. Iapun lantas bangkit untuk memperbaikinya. Tak disangka, api meletup dan membakar tubuhnya. Cepat-cepat ia berlati menuju ke sungai dan melemparkan dirinya ke dalam air. Tapi, api tak kunjung padam hingga badannya terpanggang dan berubah menjadi arang.
Pada saat Al-Husain as. terbunuh, pohon yang tumbuh berkat mu’jizat Nabi saw. mendadak layu dan mengering, setelah sebelumnya dari batang pohon tersebut keluar darah segar. Daun-daunnya rontok dan meneteskan darah seperti cairan yang menetes dari daging yang segar.
dari kemah Al-Husain as. berubah menjadi abu.
Di sebuah perkampungan, mereka membagi-bagikan daging unta yang mereka rampas dari perkemahan Al-Husain as., tiba-tiba kuali mereka hangus terbakar.
Barang peninggalan Al-Husain yang mereka ranmpas dan letakkan di sebuah nampan berubah menjadi api.
Daging unta rampasan mereka berubah rasanya menjadi pahit seperti jadam.
Ketika kepala suci Al-Husain as. dibawa sebagai persembahan untuk Ubaidillah bin Ziyad, ia bertanya, “Siapa di antara kalian yang telah berhasil membunuhnya?”
Seseorang menjawab, “Sayalah yang telah berhasil membunuhnya.”
Setelah berkata demikian, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi hitam.
Sinar yang terang memancar dari kepala Al-Husain as. yang diletakkan di sebuah bejana hingga menembus angkasa. Itu terjadi pada malam hari. Hal tersebut menyebabkan seorang pendeta masuk agam Islam.
Pagi hari setelah Al-Husain as. terbunuh, orang-orang mendapatkan kuali tempat mereka memasak berubah menjadi darah. Semua bejana yang berisi air berubah menjadi darah.
Semua wanita yang memakai minyak wangi yang diambil dari kamp Al-Husain as. terkena penyakit belang kulit.
Inilah yang berhasil kami kumpulkan dari kitab-kitab rujukan Ahlussunnah. Adapun kitab-kitab rujukan Syiah menyebutkan lebih banyak lagi kejadian-kejadian aneh yang mengandung unsur mu’jizat yang terjadi seiring atau setelah peristiwa syahadah Imam Al-Husain as. Di sini kami hanya akan menyebutkan beberapa hal saja yang kami anggap perlu:
Setelah Al-Husain as. terbunuh, burung hantu tak mau lagi tinggal di tempat keramaian dan hanya menempati rumah-rumah kuno dan kosong. Sepanjang hari mereka berpuasa dan bersedih hingga malam tiba. Pada malam hari, mereka selalu meratapi Al-Husain as. Padahal sebelum peristiwa Karbala dan pembantaian yang meinimpa diri Al-Husain as. mereka selalu tinggal di istana-istana dan gereja-gereja. Jika ada orang yang sedang menyantap hidangan makan, mereka datang dan berdiri di depan orang tersebut. Setelah dilempari makanan dan diberi minum, mereka akan terbang kembali ke tempatnya.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, burung-burung merpati mengutuk para pembunuh beliau.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, langit menurunkan hujan darah dan abu.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, tak ada batu, tanah liat ataupun batu besar yang diangkat kecuali di bawahnya terdapat darah yang mendidih. Dinding-dinding rumah memerah bagai disiram darah. Hujanpun turun dalam bentuk darah selama tiga hari.
Setelah Al-Husain as. terbunuh, sebanyak empat ribu malaikat turun ke bumi dan duduk di sisi pusara suci beliau dengan raut wajah yang tak teratur dan penuh debu dan pasir. Mereka menangis dan meratap sampai hari kiamat – kemunculan Imam Mahdi as. – Kelompok malaikat ini diketuai oleh malaikat yang bernama Mansur.
Sesaat setelah Al-Husain as. terbunuh, muncul warna kemerahan di langit sebelah barat dan timur. Kedua warna kemerahan itu sakan-akan bertemu di tengah-tengah langit.
Setelah Al-Husain as. terbunuh, selama empat puluh hari lamanya, orang-orang banyak menyaksikan warna kemerahan seperti darah saat matahari terbit dan terbenam. Hal itu berarti bahwa mataharipun menangisi kematian Al-Husain as.
Setelah Al-Husain terbunuh, langit menurunkan hujan darah. Tong-tong tempat menyimpan air dipenuhi oleh darah. Unta yang pergi ke lembah untuk mencari air minum hanya menemukan darah bukan air.
Langit tidak pernah menangisi kematian manusia kecuali kematian Yahya bin Zakaria dan Al-Husain bin Ali as. Tanda bahwa langit menangis adalah jika kita menghadapkan kain ke atas, akan tampak di kain tersebut warna darah yang mirip dengan tetesan darah serangga.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, tujuh petala langit dan bumi beserta penghuninya dan mereka yang tinggal di antara langit dan bumi, juga mereka yang ada di surga atau neraka, dan yang terlihat maupun yang tidak kasat mata, semuanya menangisi Al-Husain as.
Pada saat Al-Husain as. terbunuh, semua mahluk dari mulai dari binatang buas di sahara, ikan-ikan di dasar laut, burung-burung yang terbang bebas di angkasa, matahari, bulan, bintang-bintang, langit, bumi, seluruh kaum Mukminin dari bangsa Jin dan manusia, sampai para malaikat di langit dan bumi, Ridhwan, penjaga surga, Malik penjaga neraka, dan malaikat-malaikat pembawa ‘arsy, semuanya ikut menangisi beliau.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, binatang-binatang buas dengan setia menjaga kubur beliau sambil menangis dan meratapinya, siang dan malam.
Ketika Al-Husain as. terbunuh, selama empat puluh hari, langit menangis dengan meneteskan darah. Bumi menangis dengan menunjukkan kegelapan yang menyelimutinya. Matahari menangis dengan warna kemerahan. Gunung-gunung retak dan lautan bergolak. Para malaikat duduk bersimpuh di pusara beliau dan larut dalam tangisan. Dengan tangisan mereka, seluruh malaikat yang ada di langit dan seluruh jagat ikut menangis.
 
Sumber : “Keajaiban Kesatria Langit, Karamah sayyidina Husain” karya Abdurrahman alGiffari.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed