by

Mengapa Imam Husain as Membawa Keluarganya ke Karbala ?

Dalam peristiwa Karbala yang penuh simbol dan hikmah, salah satu pertanyaan penting untuk dibahas adalah mengapa Imam Husain as membawa keluarganya ke Karbala sementara dia tahu betul bahwa pertempuran brutal akan terjadi antara dia dan tentara Kufah dan bahwa pertempuran ini akan berakhir dengan kesyahidannya dan keluarganya dijadikan tawanan. Kenapa dia membawa Ahlulbaitnya as sepanjang perjalanan berbahaya ini?
Tanggapan Pertama
Ada berbagai tanggapan yang diberikan untuk pertanyaan di atas. Salah satu jawabannya adalah sudah menjadi kebiasaan umum di kalangan orang Arab masa itu untuk membawa keluarga dan istri-istri mereka ke medan perang. Keberatan Respon ini tidak menjawab pertanyaan kita karena membawa pertanyaan lain dalam pikiran: Mengapa orangorang Arab membawa keluarga mereka ke medan perang?
Bahkan jika memang benar bahwa kebiasaan ini memang ada di kalangan orang-orang Arab, apa manfaat dan keuntungan yang diperoleh dengan membawa rumah tangga seseorang ke medan perang? Bukankah biasa bagi Imam Husain as untuk mengikuti atau meniru kebiasaan dan praktik-praktik sosial dari orang-orang Arab?
Apakah Imam Husain as tidak mengikuti ketetapan Allah ketika ia membawa keluarga dan anak-anak yang baru lahir ke medan perang?
Tanggapan Kedua
Jawaban Iain yang dikemukakan sebagai respon yang mungkin benar adalah bahwa Imam Husain as tahu bahwa dia memikul sebuah misi llahi yang besar di pundaknya. Misinya adalah mewujudkan kepedulian sosiaI dan kesadaran dalam umat Islam. Untuk menunaikan tugas ini, misi Ini harus melalui tahapan-tahapan yang berbeda.
Salah satu dari tahapan tersebut terlewati dengan kesyahidan orang-orang tertentu.Tahapan lain akan tercapai setelah kesyahidan Imam Husain as dan para sahabatnya, dan disempurnakan dengan cara pidato dan tampilan terbuka di muka umum penindasan yang ditimpakan kepada Imam Husain as dan Ahlulbaitnya as oleh pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Hanya dengan mewujudkan tahap kedua Ini maka misi ilahi Imam Husain as menjadi lengkap.
Aspek kedua ini juga dipenuhi oleh keluarga Imam Husain as dan para tawanan Karbala. Yazid bin Muawiyah ingin mengamankan posisinya dan pemerintahannya dengan membunuh Imam Husain as dan kemudian mengklaim bahwa dia hanya terpaksa untuk melakukannya karena Imam Husain as telah menyimpang dari agama.
Melalui pidato-pidato yang diberikan oleh para tawanan Karbala inilah, yang dipimpin oleh Imam Ali Zainal Abidin as dan Zainab Kubra, maka penindasan dan kejahatan yang dilakukan oleh Yazid terungkap. Karena kejahatan ini disorot di muka umum oleh para tawanan maka Yazid tidak bisa mencapai tujuannya yang sinis dan tidak menyenangkan.
Imam Husain as tahu betul bahwa jika ia, semua anaknya dan sahabatnya terbunuh, dan sebagian anggota keluarganya tidak hadir untuk menyaksikan kesyahidannya, tidak ada yang akan mengungkapkan penindasan yang dilakukan terhadap dia ke publik.
Harus ada beberapa anggota keluarga yang harus tetap hidup dan dibawa sebagai tawanan sehingga mereka bisa mengungkapkan penindasan yang dilakukan terhadap dirinya, atau semua darah yang ditumpahkan hanya akan menjadi sia-sia.
Inilah sebabnya mengapa Imam Husain as membawa kaum wanita dari keluarganya dan mengapa tindakan ini dianggap perlu. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa pidato publik yang diberikan oleh kaum wanita dari anggota keluarga Imam Husain as mengguncang tatanan pemerintahan Yazid dan akhirnya membawa keruntuhannya.
Keberatan
Kemungkinan ini, meskipun rasional, tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan kita karena masih ada pertanyaan kedua yang muncuI dalam pikiran: Mengapa Imam Husain as membawa bayi yang baru Iahir sekalipun dari anggota keluarganya?
Tugas menyorot peristiwa Karbala bisa diserahkan kepada anggota keluarganya yang lebih tua, seperti yang dilakukan oleh Imam Ali Zainal Abidin as dan Zainab Kubra, dan perempuan-perempuan lain yang berada dalam kafilah Imam Husain as. Tidak ada perlunya untuk membawa anak-anak dan bayi yang baru Iahir untuk menunaikan tugas ini.
Oleh karena itu, argumen ini tidak menjeIaskan seluruh aIasan untuk membawa semua anggota keluarganya, meskipun dapat disebut sebagai salah satu falsafah di baIik membawa serta keluarganya.
Tanggapan Ketiga
Sebagian orang, ketika mencoba untuk menjawab pertanyaan ini, memfokuskan pada tragedi kemanusiaan dari peristiwa ini, dan menekankan bahwa Imam Husain as bermaksud untuk membuktikan dan mengekspos batin Yazid dan kejahatan yang dia lakukan terhadap Islam dan Ahlulbait Nabi as.
ItuIah sebabnya Imam Husain as membawa semua anggota keluarganya, termasuk perempuan dan anak-anak. Meskipun dia tahu apa yang akan dilakukan Yazid kepada anggota keluarganya, Imam Husain as membawa serta mereka untuk membuktikan hakikat dan identitas Yazid dan pemerintahannya. Dengan cara ini, dia bisa membuktikan Yazid yang tidak layak menjadi khalifah bagI umat Islam.
Tanggapan Keempat
Yang lainnya mengatakan: alasan untuk membawa seluruh anggota keluarganya ke Karbala adalah bahwa Imam Husain as ingin mendorong orang untuk datang membantunya, karena ketika Imam terlihat dengan semua anak-anak dan kaum perempuan, para sahabatnya dan pendukungnya akan terpengaruh untuk bergabung dengannya disebabkan kasih dan sayangnya dan hati musuh-musuhnya akan menjadi simpatik.
Namun, kemungkinan ini tampaknya tidak benar karena: Pertama, Imam Husain as bisa menggunakan cara lain untuk mempersuasi para sahabat dan musuhnya, seperti membuat pidato dan mengirim wakil-wakil ke berbagai kota dan negara.
Kedua, Imam Husain as tidak ingin menciptakan keadaan penuh kecemasan dan kegelisahan dalam umat. Dia tidak ingin mendapatkan bantuan rakyat apa pun dengan membangkitkan emosi dan simpati mereka. Sebaliknya, dia ingin orang-orang itu memilih jalan mereka dengan kemauan mereka sendiri.
Tanggapan Kelima
Jawaban lainnya, yang mungkin merupakan jawaban yang lebih baik untuk pertanyaan ini, adalah bahwa Imam Husain as membawa Ahlulbaitnya as, kaum perempuan dan bayi yang baru lahir karena dia khawatir tentang mereka. Jika Imam Husain as pergi sendirian dan meninggalkan Ahlulbaitnya as di Madinah saat dia bangkit melawan Yazid, ada ketakutan bahwa aparat khalifah akan menangkap dan memenjarakan mereka.
Imam melihatnya menjadi kepentingan semua orang untuk membawa serta Ahlulbaitnya as. Di satu sisi, dia bisa menjaga mereka di bawah perlindungannya sendiri dan. Di sisi lain, mereka bisa diberi tanggung Jawab melanjutkan misi tersebut dengan berkhotbah dan mengungkapkan penindasan yang diderita oleh Ahlulbait as yang suci dan bersih. Kemungkinan ini juga dapat dikonfirmasi sebagai berikut,
a). Apabila kita mempertimbangkan cara perilaku pemerintahan Yazid, besar kemungkinan bahwa Yazid akan menangkap dan membawa Ahlulbait as ke dalam tahanan.
b). Pada malam sebelum hari Asyura, Imam Husain as mengatakan kepada semua sahabatnya agar merasa bebas untuk meninggalkan dia sendirian di Karbala, tetapi dia tidak memberikan izin kepada Ahlulbait as untuk melakukan hal yang sama.
c). Gubernur Madinah pada waktu itu adalah Amr bin Sa’id Ashdaq. Ketika berita kematian Imam Husain as sampai kepadanya, dia bersukacita. Pada saat seluruh Madinah tertelan dalam kesedihan dan semua orang menangis dan merasa sedih, dia berkata, ”Tangisan dan ratapan ini seharusnya untuk Usman.” Dan juga dalam pidato Iainnya, dia mengkritik masyarakat karena berkabung atas Imam Husain as dan gembira mendengar nasib buruk mereka.
Sekarang, jika Ahlulbait as dan kaum wanita dari Imam Husain as tetap tinggal di Madinah, tidak ada yang bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seorang manusia keji semacam itu kepada mereka? Apakah dia tidak akan menangkap, menyiksa dan memenjarakan mereka? Sa’id adalah orang yang memberi perintah bahwa semua rumah-rumah Bani Hasyim harus dihancurkan. Dan dia sangat keras kepala dalam permusuhan dan kebenciannya terhadap Imam Ali as.
 
Sumber : buku “Asyura dan Kebangkitan Imam Husain as”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed