by

Imam Ali tentang Karakter Pemimpin Reformis

“Bagiku yang kuat itu lemah, sampai aku memaksanya untuk mengembalikan hak-hak orang lain.” – Imam Ali bin Abi Thalib as.

Maksudnya quote di atas adalah bahwa beliau bukanlah salah seorang dari orang-orang yang bersikap kompromi kepada prinsip-prinsip.
Untuk sifat-sifat yang penting bagi seorang pemimpin, mari merujuk kepada catatan tentang sifat sifat seorang reformer terutama kepada perkataan Imam Ali As:
“Tiada seorang pun yang dapat menegakkan perintah Allah kecuali orang yang tidak kompromi kepada prinsip-prinsip, ia tidak sebagai contoh kebejatan moral dan juga tidak rakus. ”
Kompromi kepada prinsip-prinsip mungkin saja atas nama kebijaksanaan, yang juga termasuk penghormatan yang tidak semestinya kepada seseorang. Boleh jadi kompromi akan menciptakan diskriminasi, baik dalam menunjukkan kebajkannya atau dalam menerima campur tangan orang lain.
Ada fakta bahwa Nabi Saww memberikan hukuman yang sah bahkan kepada orang-orang terkemuka di antara suku Quraisy.
Beliau menjauhkan diri dari menunjukkan penghormatan yang tidak semestinya kepada siapa pun juga. Ada tiga alasa’n penting mengenai kompromi kepada prinsip-prinsip: Pertama adalah takut; yang lainnya adalah ketamakan.
Oleh karena itu, seorang reformer harus berani, dan besar kemungkinan tidal: terpengaruh oleh segala jenis suap termasuk uang, pujian atau jilatan, wanita, dan lain-lain. Penyebab ketiga dari sikap kompromi terhadap prinsip-prinsip adalah nepotism dan penunjukan penghonnatan yang tidak semestinya kepada teman-teman. Persahabatan seorang reformer haruslah demi Allah semata.
Perlu diperhatikan bahwa kebaikan hati yang tidak semestinya telah digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai idzan yang asalnya berarti meminyaki dan berminyak, dan karenanya meliputi penjilatan dan ketidakjujuran, dan juga digunakan dalam pengertian kompromi.
Siapa yang mengharapkan kamu untuk berkompromi. maka mereka dapat berkompromijuga. Kompromi kepada prinsip-prinsip mungkin secara sadar tetapi tak terucapkan atau mungkin juga tanpa disadari.
Bentuk lain dari kompromi kepada prinsip-prinsip adalah pemanfaatan atas hal-hal yang lemah dalam masyarakat scbagai ganti dari memeranginya dan mempengaruhinya dengan keeenderungan yang sedang berlaku di masyarakat.
Contoh-contoh dari sikap ini adalah penerimaan ciuman tangan dan penunjukan sikap yang terlalu peka terhadap persoalan-persoalan tentang perselisihan antara kaum Syi’ah dan Sunni. Cerita almarhum Mina Muhammad Arbab dapat disebutkan sebagai sebuah contoh. Ayat Al-Qur’an berikut ini juga merujuk kepada masalah ini :
“Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (Al-A’raf : 79).
Sofyan Tsauri berkata:
“Jika kamu mendapati seorang ulama yang mempunyai banyak sahabat, kamu dapat memastikan bahwa dia tidak memili-milih. Jika dia hanya mengatakan kebenaran saja, orang tidak akan menyukainya.”
Abu Dzar berkata:
“Memerintahkan yang hak dan melarang yang batil telah membuatku tidak mempunyai teman. “
Imam Ali As berkata:
” Janganlah coba-coba menggunakan cara yang dibuat-buat untuk akrab denganku dan jangan tujukan padaku kata-kata yang ditujukan kepada para tiran.”
Perkataan Imam Ali ini menunjukkan bahwa penjilatan dan ucapan yang berlebihan juga termasuk kompromi pada prinsip-prinsip. Orang-orang yang menyukai hal-hal yang murahan semacam ini tidaklah berhasil dalam memperbaiki masyarakat.
Selanjutnya Imam Ali as berkata :
“Bagiku yang kuat itu lemah, sampai aku memaksanya untuk mengembalikan hak-hak orang lain.”
Maksudnya adalah bahwa beliau bukanlah salah seorang dari orang-orang yang bersikap kompromi kepada prinsip-prinsip.
Kami sering menemukan kata kompromi berhubungan dengan urusan dan saIan-saran Muawiyah kepada Imam Ali As. Imam Ali As berkata bahwa janganlah seorang pemimpin menjadi contoh kebejatan kepada umatnya.
“Janganlah dia menjadi orang yang tak beriman yang memerintahkan orang lain untuk bertaqwa atau menjadi dokter sakit yang mengobati orang lain.”
“Barangsiapa yang mengangkat dirinya sebagai pemimpin umat, harus memulai untuk memperbaiki dirinya… “
“Seorang pemimpin tidak boleh rakus, karena kerakusan berarti perbudak yang abadi, yang mana bertentangan dengan kebebasan Spiritual dan moral.”
Mengenai Isa as. Imam Ali berkata :
“Barangsiapa yang tidak mempunyai isteri untuk merayunya, anak untuk bersedih kepadanya, tidak ada hana umuk mengalihkan perhatiannya dan tidak ada keinginan yang kuat untuk mempermalukannya. “
Ringkasnya, seorang yang secara moral materialis, tidak dapat menjadi reformer yang sesungguhnya dan scorang filosof yang materialis, secara moral tidak dapat menjadi 100% non-materialistis.
Sifat-sifat lainnya bagi seorang reformer: Tenang tetapi peka atau sensitif. Ada sebuah contoh tentang ketenangan Imam Ali As. Seorang wanita dari Basrah dan seorang Kharijih suatu kali memaki beliau, tetapi beliau tidak mempedulikan kekotoran ucapan mereka. Seorang reformer harus berhati baja, ia tidak mudah tersinggung, namun sensitif.
Sebuah contoh mengenai kepekaan tanpa mudah tersinggung adalah cerita mengenai Sufiyan Ghamidi yang tiba di Anbar. “Jika ada Muslim yang mati untuk selanjutnya lantaran kedukaan..”
“Haruskah aku melewati malam, padahal aku makan terlalu banyak dan perut-perut yang lapar disekelilingku?”
Sifat-sifat negatif seorang reformer adalah kurang percaya diri, bimbang terhadap berbagai keputusan, takut akan berbagai konsekwensi yang mungkin terjadi, bingung ketika berhadapan dengan perkembangan yang tidak diharapkan tidak senang terhadap kritik dan berbagai pandangan yang bertentangan dengan pandangannya sendiri, tidak sabar mencapai hasil, kebencian yang tak mendasar atas kepemimpinan, menuntut kepatuhan membuta terhadap satiap orang, bangga diri, tidak bersifat sosial, menjauhkan diri dari studi dan memperoleh Informasi mendapat tekanan batin atas keberhasilan orang lain dan berselisih dengan manusia dan berbagai kebutuhan emosional umat.
Orang yang kekurangan berbagai Sifat positif tersebut di atas tidak dapat mengorganisir dan memobilisasi orang-orang yang terhampar. Berbagai kekuatan manusia yang mengagumkan adalah untuk tujuan-tujuan yang bersifat membangun. Orang yang bercita-cita tinggi untuk menjadi seorang pemimpin harus menilai atau mengevaluasi berbagai sifat positif dan negatifnya sendiri.
 
Sumber : Imam dan Khilafah karya Murtadha Muthahhari

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed