by

Mengingkari Keberadaan Imam Maksum as, Merendahkan Islam

Para ulama Syiah mengatakan bahwa orang-orang yang mengingkari keberadaan para Imam dan segala karakter mereka, sebenamya merendahkan Islam.

Imam adalah Pakar dalam Masalah-masalah Religius
Para ulama Syiah mengatakan bahwa orang-orang yang mengingkari keberadaan para Imam dan segala karakter mereka, sebenamya merendahkan Islam.
Ketika diutus ke suatu tempat, seorang pakar selalu menyertakan perlengkapan tekniknya. Bila sebuah negara seperti Amerika atau Uni Soviet mengirim suatu perlengkapan teknik, seperti pesawat phantom atau pesawat tempur ke suatu negeri yang orang-orangnya tidak memiliki pengetahuan tentang peralatan itu, maka selalu disertai dengan para ahlinya.
Tentu saja dalam hal perlengkapan angkatan bersenjata yang sederhana seperti tekstil, para pakar tidaklah diperlukan. Sekarang bagaimana pendapat anda tentang Islam yang datang dari Allah? Apakah anda menganggapnya sebagai sesuatu yang sederhana sehingga tidak diperlukan para pakarnya?
Ataukah menganggapnya sebagai sesuatu yang rumit sehingga ketika disodorkan selalu disertai dengan para pakarnya yang mendidik atau melatih masyarakat dan saat penerimaan sampai mereka memiliki pengetahuan atasnya.
Imam berarti seorang pakar dalam berbagai urusan relijius pakar yang sesungguhnya, yang tidak membuat suatu kesalahan dan tidak jatuh ke dalam segala kekeliruan. Nabi Saww membawa Islam untuk umat manusia. Setidak-tidaknya perlu untuk beberapa waktu pakar illahi dihadirkan di tengah umat untuk mengetahuinya.
Nabi pun menunjuk seseorang yang mampu untuk melaksanakan tanggung jawab ini. Para ulama Syi’ah menamakan pengangkatan ini sebagai rahmat Ilahi, karena ia bermanfaat bagi umat manusia. Karena manusia pasti menuju Allah, maka Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada manusia.
Karena kenabian merupakan rahmat Ilahi demikian juga dengan Imamah. Ini dapat disebut sebagai bukti rasional Imamah, prinsip yang utama dalam aqidah Syi’ah.
Kama’shuman
Sampai di sini muncullah persoalan kema’shuman. Syiah percaya bahwa seorang imam adalah pemeliharan dan pelindung hukum Islam. Hanya melaluinya lah umat dapat mengenal Islam. Kaum Syiah percaya bahwa Imam itu ma’shum (suci) sebagaimana nabi saw yang kema’shumannya melebihi segala keraguan.
Jika kita mengetahui bahwa Nabi telah membuat suatu pernyataan tertentu, maka kita tidak pernah dapat meragukan kejujurannya. Tidak dapat dibayangkan bahwa orang yang diutus oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi umat manusia yang sedang membutuhkan petunjuk, pernah membuat suatu kesalahan atau berbuat dosa.
Seorang Nabi tidak dapat tidak mematuhi Allah, baik secara disengaja atau tidak. Misalnya, jika Allah SWT menghcndaki seorang Nabi untuk menyampaikan risalah tertentu kepada umat, Nabi tidaklah dapat membahnya dengan dalih bahwa risalah itu tidak cocok dengan kepem tingan pribadinya. Jika demikian halnya akan bertentangan dengan fitrah kenabian.
Jika diakui bahwa Imamah adalah suatu tambahan kepada kenabian guna penguraian agama, maka menjadi pasti bahwa keberadaan seorang Imam itu merupakan suatu keharusan, dan Imam itu ma’shum dengan alasan yang sama seperti Nabi.
Jika seseorang mengatakan bahwa kema’shuman seorang Imam tidaklah begitu penting, karena jika ia membuat suatu kesalahan mungkin beberapa orang lainnya dapat memberitahukan kesalahannya, kami akan mengatakan bahwa dalam hal itu orang yang lain itu akan memerlukan lagi orang yang lainnya untuk mengawasinya, dan demikian seterusnya.
Pada akhirnya kita tentu saja akan membutuhkan sang pelindung hukum Islam yang ma’shum. Lantas, apakah Imam itu dapat berbuat suatu kesalahan, akan menjadi tugas yang lainnya untuk membimbingnya dengan benar, sementara tugas umat adalah mengikutinya, bukan membimbingnya. Dua hal ini tidaklah konsekwen satu sama lain.
 
sumber : Murtadha Muthahhari, “Imamah dan Khilafah”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed