by

Imam Ma'shum Harus Melalui Pengangkatan Illahi

Persoalan kemashuman mengarahkan kita kepada persoalan pengangkatan Ilahi. Para ulama Syi’ah mengatakan bahwa Imamah merupakan rahmat Ilahi, seperti halnya ia harus ada.
Karena rahmat ini membawakan kema’shuman, seorang Imam harus ma’shum dan karena alasan inilah harus ada yang diangkat secara Ilahiah, sebab masalah ini berada di luar kekuasaan manusia untuk menentukan siapakah yang ma’shum.
Karena umat tidak dapat memilih seseorang sebagai Nabi, maka mereka juga tidak dapat memilih scorang Imam. Karena seorang Nabi ditunjuk oleh Allah, demikian juga seorang Imam ditunjuk oleh Allah. Satu-satunya perbedaan adalah seorang Nabi diakui dengan tanda-tanda yang beliau tunjukkan dan mu’jizat-mu’jizat yang ada pada beliau, dan sebaliknya seorang Imam diperkenalkan oleh Nabi. Inilah apa yang dimaksud dengan pengangkatan.
(Artikel terkait : Mengingkari Keberadaan Imam Maksum as, Merendahkan Islam )
Seorang Imam diangkat oleh Nabi dan bukan ditunjuk oleh pilihan umat. Maka para ulama Syi’ah selalu mengemukakan, dari persoalan kema’shuman kepada persoalan pengangkatan. Sekarang tahap yang keempat adalah Imamah Imam Ali.
Khaja Nasiruddin mengatakan bahwa kema’shuman dan pengangkatan merupakan dua karakteristik yang hanya dapat digunakan kapada Imam Ali. Tidak ada perbedaan pendapat tentang fakta bahwa Nabi tidak mengangkat orang mana pun.
Kami tidak bermaksud mengatakan bahwa Nabi mengangkat Imam Ali dan orang lain mengatakan bahwa Nabi mengangkat orang lain. Sebenarnya persoalannya adalah, apakah beliau mengangkat ataukah tidak. Jika beliau mengangkat, tidak ada yang dapat diangkat kecuali Imam Ali.
Maksud kami adalah bahwa Nabi Saww pasti mengangkat seseorang sebagai seorang Imam setelah beliau, dan jika demikian, maka beliau tidak dapat mengangkat orang lain. Kaum Sunni menyangkal adanya pengangkatan. Bahkan para khalifah tidak diangkat oleh Nabi. Oleh karena itu masalah ini tidak ada khabarnya.
Jika para khalifah dinyatakan tidak ma’shum, maka para pengikutnya juga menyatakan bahwa mereka tidak ma’sham. Secara jelas para khalifah mengakui bahwa mereka melakukan berbagai kesalahan. Sebagaimana telah kami tunjukkan, menurut pandangan kaum Sunni persoalan Imamah secara eksklusif serupa dengan persoalan administrasi pemerintahan.
Seperti halnya menurut mereka, persoalan kema ‘shuman tidaklah ada. Kaum Sunni percaya kendati para khalifah tidak ma ‘shum dan melakukan berbagai kesalahan, cukup layak jika mereka mengimami shalat. Kaum Sunni tidak menyatakan bahwa para khalifah memegang suatu kedudukan yang lebih tinggi dari ini.
Mereka meriwayatkan, sebagaimana ditegaskan oleh Mullah Ali Qushchi, Abu Bakar mengatakan bahwa kadang-kadang ia depengaruhi oleh syeitan. Ia meminta kepada umat agar dapat membimbingnya jika mereka dapati ia tersesat. Umar juga demikian; ia mengatakan dalam 70 kali kesempatan, mengakui bahwa:
“Jika ada Ali robohlah Umar”
Baik Syi’ah maupun Sunni dapat membantah bahwa seringkali Umar berkata demikian.
Jika persoalan Imamah dipandang dari maqam yang tinggi ini, yakni maqam rahmat Ilahi, kema’shuman dan pentahbisan Ilahi, tidak ada seorang pun kecuali Imam Ali yang dapat diklaim berada pada maqam ini.
Inilah bentuk persoalan skolastik, dan dalam hal ini kita memulai dari atas. Kami mengatakan bahwa karena Nubuwah (kenabian) itu sangat di perlukan dan rahmat Ilahi juga pada saat yang sama, maka demikian juga dengan Imamah. Biarlah kita lihat dalam praktek yang sesungguhnya juga demikian, dan apakah Nabi telah mengangkat Imam Ali atau tidak. Untuk tujuan ini, mari kita memeriksa bunyi teksnya.
Dalam hubungan ini ada satu lagi pokok yang berharga. Pertanyaannya adalah apakah setelah mengangkat semua metode skolastik, kita harus mulai dari atas, kenapa kita tidak memulainya dari bawah dan membahas posisinya sebagaimana adanya?
Para teolog skolastik memulainya dari atas dan kemudian bertahap-tahap turun ke posisi sebagaimana adanya. Tetapi dalam hal ini persoalan yang muncul apakah kita harus berbuat dengan pokok-pokok seperti ini, mengenai apakah Imamah itu rahmat Ilahi, dan jika demikian, seorang Imam tentu saja ma’shum dan diangkat.
Ini sebenarnya sama dengan menentukan suatu tugas bagi Allah. Oleh karena itu, lebih baik kita memeriksa apakah sesungguhnya ada. Jika terbukti bahwa Nabi telah melakukan suatu pengangkatan, itu saja sudah cukup bagi kita. Tidak perlu membuktikannya secara rasional bahwa Imamah adalah rahmat Ilahi dan bahwa seorang Imam haruslah ma ‘shum dan diangkat.
Mari kita lihat dalam hubungan ini, argumen apa yang dimiliki kaum Syi’ah. Dalam hubungan ini perlu diingat bahwa kaum Sunni tidak menerima bahwa teks-teks seperti ini ada atau menafsirkannya secara berbeda. Dalam banyak hal, mereka tidak mengingkari sepenuhnya riwayat-riwayat itu, tetapi menduga keras bahwa riwayat-riwayat itu terputus atau tidak ada sanad yang berkelanjutan atau tidak mutawatir.
sumber : Murtadha Muthahhari, “Imamah dan Khilafah”
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed