by

Tanya-Jawab : Seputar Pembaiatan Imam Ali Sebagai Khalifah ke-4

“Jika aku memimpin kalian, aku akan mengikuti cara yang aku ketahui dan tidak akan bertindak sebagaimana yang kalian kehendaki.” (Imam Ali bin Abi Thalib as)

Pertanyaan :
Kami sangat sepakat dengan anda bahwa Imamah adalah kepemimpinan tertinggi yang meliputi berbagai urusan duniawi dan urusan ukhrawi. Dalil-dalil yang anda ajukan menunjukkan bahwa imamah adalah hak eksklusif Imam Ali as untuk menduduki kepemimpinan ini.
oleh karenanya, mengapa beliau mundur ketika umat menawarkan diri untuk mengambi  bai’at kepada beliau setelah terbunuhnya Ustman ?
Jawaban:
Pertanyaan ini telah dibahas dalam sebuah kitab, Khilafah dan Wilayah, yang telah diterbitkan baru-baru ini. Jawaban untuk pertanyaan anda adalah jelas dari apa yang telah diberikan oleh Imam Ali, Amirul Mukminin As.
Ketika umat datang Kepada beliau untuk mengikrarkan sumpah setia mereka kepada beliau, maka beliau berkata; Biarkanlah aku sendirian dan carilah orang lain, karena kita sedang menghadapi situasi yang banyak sisinya. Ungkapan yang menakjubkan! Yang beliau maksudkan adalah bahwa situasinya begitu rumit, dan diperlukan untuk mempelajarinya dari berbagai sisi.
Selanjutnya beliau berkata; “Suasana mendung dan rute telah lembab melebihi pengenalan.” Terakhir beliau berkata: “Jika aku memimpin kalian, aku akan mengikuti cara yang aku ketahui dan tidak akan bertindak sebagaimana yang kalian kehendaki.”
Kata-kata Imam Ali menunjukkan bahwa beliau sangat menyadari bahwa sejak masa Nabi Saww situasi telah memburuk sedemikian rupa dan kemudian mengalami suatu perubahan yang besar. Imam Ali As mengambil posisi beliau cukup jelas. Beliau menginginkan umat memberi beliau suatu usaha bahwa mereka akan mengikuti beliau sesuai dengan sumpah setia (bai’at) mereka.
Beliau tidak mengatakan bahwa Khilafah beliau akan ditolak jika mereka tidak mengikrarkan sumpah setia kepada beliau. Yang beliau kehendaki adalah suatu janji yang tulus bahwa mereka akan memberi beliau suatu dukungan pantang mundur dan mentaati perintah-perintah beliau.
Semua sejarawan Syi’ah maupun Sunni sepakat bahwa Umar menunjuk enam anggota dewan bagi penyeleksian penggantinya. Imam Ali As sendiri merupakan salah seorang
anggotanya. Tiga orang dari dewan ini menarik diri demi kepentingan tiga yang lainnya. Zubair menarik diri demi kepentingan Imam Ali As; Thalhah menarik diri demi kepentingan Utsman dan Sa’ad bin Abi Waqqas demi kepentingan Abdurrahman bin ‘Auf.
Di antara tiga orang yang tersisa, Abdurrahman bin ‘Auf berkata bahwa ia tidak ingin dicalonkan. Sekarang tinggal dua orang yang tersisa. Bersamaan dengan itu Al-Qur’an mempunyai gaya tersendiri. Al-Qur’an selalu berkecimpung dengan masalah-masalah dalam bentuk prinsipil, dan tidak individual.
Dengan sendirinya ini merupakan suatu keutamaan Al-Qur’an. Ketika ayat, ”pada han’ ini telah Kulengkapi bagimu agamamu” diturunkan, orang-orang kafir kecewa karena mereka selalu mengatakan bahwa selama orang itu (Nabi) masih hidup, tak ada yang dapat dilakukan; tetapi segera setelah dia wafat, segalanya akan menjadi beres.
Tetapi harapan terakhir mereka pun gagal ketika mereka melihat bahwa Nabi Saww telah mengambil langkah untuk memastikan keberadaan umatnya takkan terputus dan telah menunjuk seorang pengganti baginya.
Masalah lain yang juga telah disebutkan oleh para penulis Sunni adalah bahwa selama hari-hari terakhir kehidupan Nabi, beliau khawatir akan masa depan pengikut beliau dan rasa takut itu diungkapkan dalam Al-Qur’an dengan kata, ”Dan takutlah kepada-Ku”.
Menurut riwayat yang juga dari kaum Sunni bahwa seorang budak Aisyah yang bernama Abu Muzaihabah berkata: “Selama hari-hari terakhir kehidupan beliau suatu kali aku melihat beliau keluar dari ruangan dan di tengah malam itu beliau pcrgi ke kuburan Baqi. Pada diriku aku berkata bahwa tidak akan aku biarkan beliau sendirian.
Maka aku ikuti beliau. Dari jarak yang cukup jauh aku melihat beliau sedang berdo’a kepada Allah agar mengampuni-orang-orang yang dikuburkan di Baqi. Aku dengar beliau berkata: ”Beruntunglah kalian telah pergi dan meraih keselamatan. Saat-saat yang buruk telah dekat seperti potongan-potongan malam yang gelap.”
Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi Saww menggambarkan peristiwa-peristiwa yang paling buruk akan datang, tidak syak lagi bahwa perselisihan mengenai khilafah merupakan salah satu darinya.
Dalam menjawab pertanyaan, kenapa Al-Qur’an tidak menyebutkan nama Imam Ali As ini ada dua penjelasan: Pertama, Al-Qur’an mempunyai gaya tersendiri untuk menggambarkan berbagai macam masalah dalam bentuk prinsip, dan kedua, Nabi Saww dan Allah SWT tidak menyebutkan beliau secara jelas karena mereka tahu bahwa bagaimanapun juga persoalan khilafah akan disimpangkan dan disalah tafsirkan demi kepentingan diri sendiri.
Sebagaimana perkataan-perkataan Nabi disalah tafsirkan, maka ayat Al-Qur’an pun yang secara jelas menyebut Imam Ali juga disalah tafsirkan. Nabi Saww berkata: Ali ini adalah maula’ dia yang maula’nya aku. Adakah lagi yang lebih jelas dari ini? Bagaimanapun juga, banyak perbedaan antara pelanggaran atas perkataan Nabi dan pelanggaran atas suatu ayat yang menyebut Imam Ali pada hari yang sangat dekat dengan hari wafatnya Nabi Saww.
Itulah kenapa saya kutip peristiwa berikut ini dalam pengantar yang saya tulis untuk buku khilafah dan wilayah.
Dengan maksud mencela umat Islam atas peristiwa-peristiwa terburuk di periode awal Islam, seorang Yahudi berkata kepada Imam Ali pada masa kekhalifahannya: Segera
setelah kamu mcngubur Nabimu, mulailah kamu berselisih tentang beliau.
Imam Ali pun memberikan jawaban yang menarik. Beliau berkata: “Kami tidak berselisih tentang beliau. Yang kami perselisihkan hanyalah perintah-perintah yang kami terima dari beliau. Tetapi kakimu tetap basah dengan air laut ketika kamu berkata kepada Nabimu: ”Tunjuklah bagi kami. Tuhan yang serupa dengan Tuhan-tuhan para penantang kami.” Oleh karena itu Nabimu berkata: ”Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang jahil.”
Maka begitu banyak perbedaan yang ada antara apa yang terjadi atas kaum muslimin dan apa yang texjadi atas kaum Yahudi. Dengan kata lain, kaum muslimin tidak berselisih tentang Nabinya sendiri.
Mereka hanya berselisih tentang arti dan makna perintah-perintah Nabi Saww. Oleh karena itu, dapat dijelaskan kepada mereka dengan mengatakan bahwa mereka menyalahpahami apa yang telah Nabi katakan.
Namun ada persoalan tentang perbedaan antara menyalahpahami atau menyalahtafsirkan suatu perkataan Nabi dengan atau tidak tahu antara mengubah ayat Al-Qur’an yang jelas.
 
sumber : Buku “Imamah dan Khilafah” Murtadha Muthahhari

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed