by

Imam Ali bin Abi Thalib as dan Ayat Najwa

Dalam Ayat Najwa (pembicaraan pribadi) diisyaratkan tentang kedermawanan Imam Ali as. Telah diperintahkan dalam ayat ini seseorang yang memiliki keinginan berbicara dengan Nabi saw dalam bentuk najwa (sangat pribadi dan rahasia).
Sebelum melakukan pembicaraan dengan Nabi saw, dia harus memberikan sedekah untuk memperoleh kesempatan tersebut.
Dalam sehari-semalam, terdapat sepuluh kali kesempatan. Untuk melakukan semua itu, dia memberikam sedekah sebanyak satu dinar emas dalam sepuluh kali kesempatan. Akan tetapi, tak seorang pun yang mampu melaksanakan ketentuan ini, yaitu bersedekah sebelum melakukan perbincangan khusus tersebut.
Selanjutnya, ketentuan ini dipertegas dengan ayat, “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul?”
Sepuluh Kalimat Najwa
“Bagaimana saya menyeru Allah?’ Nabi saw menjawab, “Dengan kebenaran (ikhlas) dan menepati janji penghambaan.”
“Apa yang saya inginkan dari Allah?’ Nabi saw menjawab, “Keselamatan di dunia dan di akhirat”
“Apa yang harus saya perbuat untuk keselamatanku?’ Nabi saw menjawab, “Makanlah yang halal dan berkata jujur.”
“Apa pengaturan itu?’ Nabi saw menjawab, “Hidup sederhana dan meninggalkan makar (tipu daya).”
“Apa yang menjadi tanggunganku?’ Nabi saw menjawab, “Menaati Allah dan Rasul-Nya.”
“Apakah ketenangan itu?’ Nabi saw menjawab, “Surga (ketenangan mutlak di surga).”
“Apakah kebahagiaan itu?’ Nabi saw menjawab, “Perjumpaan (sampai
ada kebenaran, di akhir malam hingga subuh).”
” Apakebenaran itu?’ Nabi saw menjawab, “Islam”
“Apa kebatilan itu ?’ Nabi saw menjawab, “kekufuran”
“Apakah pemenuhan janji itu?’ Nabi saw menjawab, “Kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah (mengucapkan kalimat tauhid dan berpegang teguh dengannya).”
Imam Ali as dengan segala keluasan, tangan dan kenngatnya membebaskan dan membeli sen’bu budak. Dicen’takan bahwa persawahan dan pohon kurmanya di Yanbu’ dan Madinah, sebagian darinya diwakafkan.
Dan hasil dari sebagian yang lain diinfakkan kepada orang-orang fakir dan masyarakat yang membutuhkan. Di antaranya galian mata air ‘Abu Naizar’ dan mewakafkannya kepada orang yang membutuhkan.
Telah dinukil riwayat bahwa Imam Ali as melintas di hadapan orang-orang betpakaian usang. Sebagian di antara mereka mengejek beliau as. Beliau as berkata kepada pembantunya, “Tahun ini, aku tidak mengizinkan kurma-kurma tersebut dijual untuk mendatangkan dirham dan dinar. Ketika keadaannya demikian, beliau as mengundang orang yang mengejek tersebut untuk makan kurma.”
(oleh Abbas Rais Kermani dalam buku “Kecuali Ali”)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed