by

Sebab-Sebab Permusuhan Terhadap Imam Ali as

Barangsiapa yang Aku baginya adalah pemimpin, maka inilah Ali pemimpinnya.
Mawla dan wali sangatlah layak dengan makna yang pertama. Terdapat di berbagai ayat tertulis kata ‘maula’ . diantaranya, “tempat kamu adalah neraka. Dialah tempat berlindungmu. dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (al-Hadid ; 15).
Yakni Tempat kalian adalah neraka. Mereka adalah orang-orang yang lebih layak melindungi kalian dari neraka.
‘Wilayah’ dengan makna kecintaan dan pertolongan
‘Wilayah’ dengan makna kepemimpinan
Dalil lain tentang wilayah dan lmamah Ahlulbait as adalah hadis yang termasyhur di bawah ini,
“Islam dibangun dalam lima hal, yaitu shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah. Dari semua ini, tidaklah menjadi suatu permasalahan perhatian, seperti halnya wilayah.”
Wilayah dalam riwayat ini bermakna bukanlah pertolongan dan kecintaan. Akan tetapi, makna dari imamah di sini adalah keseluruhan nikmat dan dan kesempurnaan Wilayah dalam keluarga Nabi saw terbagi dua:
Wilayah Takwini; ‘wila’ dengan makna menguasai, menguasai semua alam penciptaan. Seluruh para nabi, washi, bahkan kebanyakan para wali memiliki jenis wilayah ini, yang mampu dengan mempergunakan mukjizat dan karamat untuk menguasai alam penciptaan. Penguasaan aliran penciptaan bagi para nabi dan washi ini adalah terbatas. Akan tetapi, bagi empat belas maksum tidaklah terbatas.
Wilayah Tasyri‘i. Dengan makna yang utama adalah penguasaan jiwa, yang sebelumnya telah disebutkan bahwa yang memiliki perkara, seperti para marja’ (pemberi fatwa), marja’ politik (pemerintahan) dan pemimpin (petunjuk) hati (kerinduan manusia dalam alam malakut).
Politik Ahlulbait
Semua rumah kenabian dan ke-khalifahan adalah amanat Ilahi dalam perkara antara lain :
Tauhid: Yakni penetapan ketauhidan Allah. Menyembah-Nya sebagai Tuhan yang Esa, menjauhkan kesyirikan dan jenis-jenisnya (syirik terang-terangan dan sembunyi-sembunyi dari masyarakat, juga meninggalkan segala bentuk khurafat serta mendirikan shalat.
Keadilan: menegakkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat, “Supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong lagama) Nya clan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat Maha perkasa.
Penyucian: pembersihan jiwa dan mewujudkan akhlak masyarakat yanh baik, “Menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka aI-Kitab (al-Qur’an) dan Hikmah (sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
Kebebasan: bebasnya manusia dari belenggu penindas dan penguasa menciptakan jenis kebebasan seperti kebebasan bekerja, kebebasan berakidah) kebebasan hidup dan kebebasan berumah tangga dan lain sebagainya.
Persamaan: menciptakan persamaan dan persaudaraan, menjauhkan perbedaan, seperti perbedaan ras (warna kulit, kesukuan, dan lain-lain).
Pembagian Baitul mal: Baitul mal berhubungan dengan seluruh kaum Muslim. Dengan persamaan membagikan harta tersebut kepada kaum muslim, Kejelasan, menerangkan kebenaran di tengah masyarakat secara jujur, jauh dari segala bentuk makar dan penipuan.
Menciptakan ketertiban tugas: Tidak seorang pun yang menjalankan tugas secara terbebani dan merasa disuap dan pada akhirnya menjadikan front yang kuat
(artikel terkait : Imam Ali bin Abi Thalib as dan Ayat Najwa )
Sebab-sebab Permusuhan terhadap Imam Ali as
Sebab utama yang permusuhan dan kebencian mereka terhadap Ali as adalah:
Kontradiksi jiwa. Ali adalah anak dari Abu Thalib, seorang pembesar Arab yang disegani. lbunya adalah Fathimah binti Asad yang melalui kehendak Allah melahirkan putranya di dalam Ka‘bah dan dalam asuhan dan bimbingan kedua orang tuanya beserta Rasulullah, dia (Ali as) tumbuh dan berkembang.
Inilah seorang pribadi dengan pribadi-pribadi yang tumbuh di lingkungan yang fasik, kejam, penyembah berhala, tercemar dosa dan maksiat, memiliki kontradiksi secara kejiwaan. Yang pada akhirnya, tidak memiliki daya tarik satu sama lain.
Dengki, dikarenakan mereka menyaksikan masa kecil Ali as. Dia (Alias) seperti salah satu dari mereka yang tidak memiliki keistimewaan khusus. Namun setelah itu, mereka menyaksikan bahwa hanya karena sebagai pahlawan dan pembuka segala kemenangan dalam peperangan, mereka marasa iri atau dengki kepadanya.
Ketika itu pun, Nabi saw memberikan penghormatan yang lebih kepadanya, maka kedengkian mereka bertambah memuncak.
Takabur (sombong), dikarenakan adanya rasa kesombongan pada diri mereka, mereka sedikit dari mereka yang mengikuti perintah beliau as. begitu halnya dengan paman Nabi saw, Abu Lahab mengatakan, “Bagaimana mungkin saya akan percaya dan harus mendengar perintah dari anak dari saudaraku.”
Dendam, dikarenakan Ali as telah membunuh kaum kerabat dan orang-orang yang bersama mereka, maka rasa dendam tertanam dalam jiwa-jiwa mereka.
Tamak. Mereka mengetahui bahwa Ali adalah seorang yang bersama kebenaran, maka tidak diberikan hak itu kepada keselainnya. Namun pada akhirnya, hak itu telah direbut oleh beberapa peribadi lain yang tamak dan rakus atas dunia, yang jauh dan sangat tidak bersesuaian dengan pribadinya (Ali as).
Kebodohan, jahil atau bodoh menyebabkan sejumlah dari mereka tanpa berfikir, mengikuti kerabat dan pembesar mereka. Pada akhimya, menganggap Ali as sebagai musuh.
Propaganda licik, dikarenakan antar kota memiliki jarak. Perantara kendaraan ketika itu tidaklah cepat, juga tidak ada perantara komunikasi cepat seperti radio, surat kabar. Maka para musuh Ali as dengan leluasa mampu untuk mengubah hakikat kebenaran. Mempertontonkan hak kepada kebatilan dan kebatilan kepada hak.
Dalam hal ini, propaganda licik Muawiyah dan Amr bin Ash berpengaruh pada umat atas tipu muslihat perang mereka melawan Ali as, hingga menyebabkan kesyahidan behau as.
 
(oleh Abbas Rais Kermani)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed