by

Prof. Rahimpour Hassan : Syiah di Indonesia Kecil dan Sadar Konstitusi

“..Syiah di Indonesia sangat kecil dan mereka sadar dengan konstitusi negaranya. Di Iran muslim Syiahnya mayoritas tapi tidak mengangkat senjata melawan pemerintah..”

(Prof Rahimpour Hassan)

Prof Rahimpour Hassan adalah Direktur Lembaga Riset Peradaban Islam Tehran. Dalam diskusi bersama ketua MPR bertema “Membincangkan Manusia sebagai Strategi Deradikalisasi Pemahaman Agama” ia menyampaikan ada banyak persamaan antara Sunni dengan Syiah, di samping perbedan kedua mazhab tersebut.
Diskusi ini dalam rangka Konferensi ketiga oleh lembaga IC-THUSI, bertujuan menjembatani arah dan visi dari perkembangan setiap disiplin ilmu untuk kesejahteraan umat manusia. Diselenggarakan di di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu 16 November 2016.
Sayangnya perbedaan kedua mazhab dalam Islam ini dikelola oleh rezim hegemoni sebagai alat untuk memecah belah muslimin demi keuntungan mereka. Menurutnya, musuhlah yang menebar benih permusuhan kedua mazhab ini dengan menciptakan dan merekayasa para ulama Sunni dan Syiah yang memperkeruh suasana demi melanggengkan kekuasaan sebagai rezim.
“Persatuan akan melahirkan kekuatan, kemandiriaan, kesejahteraan seluruh rakyat dan tidak akan ada lagi kemiskinan,” ujar Rahimpour.
Terkait hubungan kedua mazhab dalam menyikapi perkembangan dunia Islam Prof Rahimpour Hassan menyampaikan pandangannya.
Fakta-fakta di balik Konflik Sunni-Syiah
Ada yang menuduh muslim Syiah di Indonesia berbahaya bagi NKRI karena meyakini imamah, marjaiyyah dan wilayah faqih dan mereka menjadikan konflik Yaman sebagai buktinya, merespon tuduhan tersebut, Prof Rahimpour Hassan menjekaskan sebagai berikut.
Terkait muslim Syiah di Yaman,kita perlu menganalisa masalah dengan benar, apakah mereka dari awal mengankat senjata ataukah mereka hanya turun ke jalan dengan damai menuntut hak-hak mereka seperti yang terjadi di bebrapa negara Arab lainnya?
Di tahun pertama dan kedua mereka tidak mengangkat senjata. Yang melakukan hal itu bukan hanya Syiah, tapi Sunni Syafii juga melakukan hal itu. Mengapa tidak dikatakan, bahwa Sunni Syafii  juga ancaman bagi pemerintah?
Yang kedua yang mereka protes dan gulingkan bukan pemerintahan yang sah namun yang illegal.
Yang ketiga, Syiah di Indonesia sangat kecil dan mereka sadar dengan konstitusi negaranya. Di Iran saja muslim Syiahnya mayoritas tapi tidak mengangkat senjata melawan pemerintah. Terkait revolusi Iran tahun 1979, yang mereka lakukan hanya turun ke jalan dengan damai.  bahkan mereka meneriakkan slogan ‘kami mempersembahkan bunga mawar bagi kalian, walaupun kalian (militer) menembak kami’.
Yang keempat contoh di Bahrain. Mereka muslim Syiah mayoritas di sana. Pemerintah Bahrain adalah Sunni. Saat rakyat yang mayoritas Syiah itu melakukan tuntutan, mereka lakukan dengan jalan damai.
Yang kelima di Irak Syiah dapat memegang kekuasaan dengan demokrasi
Yang ke enam di Lebanon sangat nyata bahwa pimpinn gerakan Hizbullah, Sayyid Hasan Nasrallah merupakan orang nomor satu paling disukai warga Lebanon namun tanpa ada satupun peluru ditujukan kepada siapapun di dalam negeri itu. Dalam logika demokrasi harusnya presidennya adalah Syiah, namun tidak demikian. Malah presdiennya Kristen, Perdana Menterinnya Sunni.
Yang ketujuh, Imam Khomeini setelah menang masih menyuruh referendum, tidak ada di tempat lain yang demikian. Setelah itu dibentuk team penyusun UU yang di tempat lain juga biasanya setelah beberapa tahun. Setelah disusun juga dilakukan referendum untuk menyetujui UU tersebut. Ini artinya dalam tradisi Syiah dan menurut Imam Khomeini yang menjadi penentu adalah suara dan aspirasi rakyat.
Terkait mengikuti ulama dan marja tidak hanya khusus Syiah, di Sunni juga demikian. Syaikh Al Azhar kerap dijadikan rujukan oleh umat Islam Sunni, bukan hanya di Mesir saja, juga muslim Sunni di negara-negara lain. Apalagi fatwa-fatwa mereka tidak bertentangan dengan UU setiap negara itu, bahkan memberi manfaat dan menguatkan, seperti aturan bayar pajak dan persatuan.
Upaya yang Harus Dilakukan Untuk Melawan Gerakan Takfiri
Langkah-langkah apa yang bisa dilakukan untuk menggagalkan gerakan kelompok yang membuat stigma negatif Syiah di Indonesia?
Mereka telah melakukan pendangkalan akidah Sunni sebalum Syiah dan menggambarkan akidah Sunni sebagai syirik, bid’ah dan sesat.  Tentu hub Iran dan Saudi bukan dalam masalah ini. Namun berkaitan dengan kepentingan barat.
Karena itu kita perlu menjelaskan, bahwa apa yang mereka sampaikan tidak lah benar. Harus dijelaskan pula ke muslimin bahwa mereka  berhasil mengalihkan isu permusuhan Syiah dengan Barat menjadi isu permusuhan Syiah dengan Sunni. Kalian punya tugas untuk menjelaskan hal itu.
Perlu dijelaskan juga apa yang mereka (wahabi) lakukan kepada Sunni. Sampaikan pandangan mereka kepada ulama-ulama Sunni seperti Abu Hanifah, Ath Thabari. Wahabi menganggap kedua ulama besar itu sebagai  kafir dan harus bertaubat.
Ulama yang mereka ikuti yaitu Ibnu Taimiyah tidak hanya tidak menghormati Nabi,  tapi juga melecehkan sahabat Nabi seperi Abubakar dan Umar. Pandangan Ibnu Taimiyah yang anti-ulama serta melecehkan Nabi dan sahabatnya perlu disebarkan.
Perlu menjelaskan pandangan keagamaan mereka tentang apa yang tidak mereka bedakan antara penghormatan dan penyembahan karena masalah ini sering dijadikan stigma oleh mereka sebagai alasan untuk menciptakan disharmoni antara umat Islam.
Di antara yang sangat berbahaya apa yang mereka lakukan dengan menghapuskan bebrapa hadits yang tidak sesuai dengan pandangan mereka dari kitab-kitab refrensi. Ini harus dijelaskan.
Anda melihat memburuknya hubungan Iran dengan Saudi menyebabkan mereka (wahabi) memiliki amunisi untuk semakin leluasa menyebarkan propanda negatif mengenai  Iran dan Syiah di musim haji?
Ada dua bentuk kerja sama. Pertama kerjasama dengan melakukan hal-hal yang sama. Kedua kerjasama dengan melakukan hal-hal yang berbeda yakni secara lahiriah dua hal yang berbeda dan dua arah berbeda. Seperti gunting tapi punya tujuan yang sama yakni menggunting kertas.
Ini dilakukan oleh Syiah ekstrim dan Wahabi. Hasil dan tujuannya sama adalah merusak persatuan Sunni dan Syiah.
Kondisi ekonomi Saudi saat ini terpuruk dan ribuan pekerja diPHK, namun pada saat yang sama mereka membantu banyak gerakan wahabi di berbagai belahan dunia, hingga kampaye dua kandidat AS. Padahal mereka penyebab terbunuhnya ribuan jiwa di Yaman, Suriah dan Irak.
Semua uang yang mereka gunakan untuk kejahatan itu dari hasil minyak. Saudi memang mengandalkan penghasilan dari minyak semata, karena mereka tidak punya penghasilan lain selain ziarah.
 
sumber : satuislam.org

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed