by

Kisah Sahabat Jabir Al-Anshari dan Imam Baqir di Arbain Pertama

Jabir bin Abdullah Al-Anshari adalah sahabat Rasulullah saww dan orang pertama yang berziarah ke makam Imam Husain as di Karbala pada waktu 40 harinya (Arbain) syahadah Imam Husain as.
Tidak ada ziarah yang bisa menyamai dalam jumlah manusia selain ziarah Arbain Imam Husain as.
Tercatat setiap tahunnya ziarah Arbain Imam Husain as mengalami peningkatan terus menerus jumlah peziarahnya, dan saat ini diperkirakan ada 40 juta peziarah menuju ke Karbala.
Sedangkan Arbain pertama Imam Husein as di Karbala dihadiri Jabir bin Abdullah Anshari. Jabir bin Abdullah Anshari adalah salah satu sahabat setia Rasulullah saww yang berumur panjang.
Suatu hari Rasulullah saww bersabda kepada Jabir, “Wahai Jabir! Engkau akan berumur panjang sampai bisa menemui anakku Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Di dalam Taurat dikenal dengan nama Baqir. Sampaikan salamku padanya bila kau menemuinya!”
Beberapa tahun berikutnya, Jabir menemui Imam Ali Zainal Abidin as dan mendapati seorang anak duduk di samping beliau. Jabir memanggil untuk mendekatinya kemudian berkata, “Demi Tuhannya Ka”bah, engkau mirip sekali dengan Rasulullah saww!
Kemudian Jabir menghadap Imam Zainul Abidin as seraya bertanya, “Siapakah ini?
Imam Zainul Abidin as menjawab, “Ini adalah putraku dan imam setelahku, namanya Muhammad Baqir.”
Jabir bangun dan sungkem di hadapan Imam Baqir as dan menciumnya seraya berkata, “Jiwaku untukmu wahai putra Rasulullah! Aku sampaikan salam ayahmu. Sesungguhnya Rasulullah saww menyampaikan salam untukmu.”
Kedua mata Imam Baqir as penuh dengan genangan air mata seraya berkata, “Wahai Jabir! Salam senantiasa untuk ayahku Rasulullah saww selama langit dan bumi masih tegak. Dan salam untukmu wahai Jabir yang telah menyampaikan salam kepadaku.” (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 46, 223-224, hadis 1)
Pada Arbain tahun 61H, Jabir bin Abdullah Anshari datang menziarahi makam Imam Husain as di Karbala bersama Athiyah bin Saad bin Junadah Aufi. Athiyah adalah salah satu ilmuwan, mufassir dan ahli hadis yang lahir pada zaman pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalis as. Ketika Athiyah lahir ayahnya pergi menemui Imam Ali as seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Allah telah menganugerahkan anak kepada saya, tolong beri nama untuknya!”
Imam Ali as berkata, Anak ini adalah Athiyatullah (pemberian Allah).”
Imam Ali as menamakannya dengan kata-kata yang diucapkannya yaitu Athiyah. (Dr. Mohammad Ibrahim Ayati, Barresi-ye Tarikh-e Asyura)
Terkait ziarah Arbain yang dilakukan Jabir di makam Imam Husain as di Karbala, Athiyah meriwayatkan:
“Aku bersama Jabir bin Abdullah Anshari menziarahi makam Imam Husain as. Ketika kami sampai di Karbala, Jabir mendekati sungat Furat dan mandi. Kemudian memakai pakaian (semacam pakaian ihram) satu helai dibalutkan di pinggang dan satu helai lainnya dipakai di pundak dan badannya. Setelah itu mengeluarkan wewangian berupa tepung (akar pohon berbau wangi) dari kantongnya, kemudian memakainya.
Ia bergerak menuju makam Imam Husain as dalam kondisi mengucapkan zikir seraya berkata, “Bawa aku ke makam Husain sehingga aku bisa memegangnya!”* (kata-kata ini diucapkan oleh Jabir karena matanya sudah buta).
Aku gandeng tangannya dan kuantar dia sampai ke makam Imam Husain as. Karena saking sedihnya ia pingsan dan jatuh di atas makam. Aku percikkan air ke wajahnya. Ketika siuman ia berkata, “Apakah kekasih tidak menjawab kekasihnya?”
Kemudian Jabir berkata :
“Bagaimana engkau bisa menjawab, sementara urat badan dan lehermu terputus dan lehermu bergelimang darah. Kepalamu terpisah dari badanmu. Aku bersaksi, engkau adalah putra sebaik-baik nabi. Engkau adalah pemimpin orang-orang mukmin. Engkau adalah teladan takwa. Engkau adalah anak para pemberi petunjuk dan pemimpin.
Engkau adalah orang kelima ahli kisa’. Engkau adalah putra Ali bin Abi Thalib. Engkau adalah putra penghulu para wanita. Bagaimana engkau tidak menjadi demikian? Sementara engkau disuap dengan tangan pemimpin para nabi. Engkau diasuh dalam pangkuan orang yg bertakwa. Engkau disusui dengan keimanan dan disapih dengan keislaman. Engkau hidup dan mati dalam keadaan suci.
Hati orang-orang mukmin terbakar karena berpisah darimu. Mereka yakin engkau hidup. Salam dan kebahagiaan dari Allah untukmu. Aku bersaksi, kisahmu seperti kisah syahidnya Nabi Yahya bin Zakaria, dimana thagut di zamannya telah memenggal kepalanya.”
Selanjutnya Aufi meriwayatkan:
Kemudian Jabir memperhatikan makam para syuhada Karbala di sekitar makam Imam Husain as dan menziarahinya seraya berkata, “Salam untuk kalian ruh2 yg berada di sekitar makam Imam Husain as. Kalian telah menidurkan onta2 kalian demi dia. Aku bersaksi, kalian telah menunaikan shalat, membayar zakat dan melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar.
Kalian berperang melawan orang2 yg sesat. Kalian telah menyembah Allah hingga datang kematian kalian. Demi Allah yang telah mengutus Muhammad saww dengan benar. Kami bersama kalian dalam segala hal yang kalian alami.”
Kemudian Athiyah Aufi bertanya kepada Jabir, “Bagaimana kita bisa bersama mereka para syuhada Karbala? Sementara kita tidak bersama mereka dan tidak mengayunkan pedang sebagaimana mereka. Bahkan para syuhada ini telah berkorban, dimana kepala2 mereka terpenggal, anak2 mereka menjadi yatim dan istri2 mereka menjadi janda?”
Jabir menjawab, “Wahai Athiyah, aku mendengar sendiri dari Rasulullah saww bersabda, “Barang siapa yang mencintai sebuah kaum, maka ia akan dibangkitkan bersama kaum tersebut. Barang siapa yang menyukai perbuatan sebuah kaum, maka ia terhitung sebagai mitra mereka dalam perbuatan tersebut.
Demi Allah yang telah mengutus Muhammad saww dengan benar, niatku dan niat para sahabatku sama seperti niatnya Imam Husain as dan niat para sahabatnya. Atas niat itulah mereka mencapai kesyahidan.”
(Nafs al-Mahmum, hal. 322 dinukil oleh Mustafa Ghulam Huseini, Akharin Sahabi Wa Nakhostin Zaere Huseini, hal. 2)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed