by

Membahas Masalah Imamah Mengundang Perpecahan Umat ?

Ayatullah Nasir Makarim Syirazi : Di antara kaum muslimin, tatkala mendengar kata Imamah, mereka langsung berkomentar bahwa, sekarang tak perlu lagi membicarakan perkara itu. Sekarang ini adalah era persatuan umat Islam. 

Setelah Rasulullah (SAW) wafat, umat Islam terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa Nabi tidak menentukan khalifah sesudahnya, tetapi kekhalifahan itu diserahkan kepada umat dan merekalah yang memilihnya. Kelompok ini disebut Ahlus Sunah.
Kedua, kelompok yang menyatakan bahwa, pengganti Rasulullah harus dipilih oleh Allah melalui Rasul-Nya. Dan Rasulullah telah melakukannya, yang lantas memilih ’Ali (AS) sebagai khalifahnya.
Seorang pengganti Rasulullah (SAW) haruslah ma’shum (terpelihara dari dosa dan kesalahan), berilmu luas dan dalam, mampu memimpin umat dalam masalah spiritual maupun material, dan memelihara kemurnian dan kelangsungan Islam. Mereka inilah yang disebut kelompok Syi’ah.
Maksud kami menguraikan masalah ini adalah agar kita dapat memahami masalah ini berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits, alasan-alasan yang logis dan kesejarahan. Namun sebelum memasuki inti permasalahan ini, kami akan memaparkan beberapa poin :
1. Apakah membahas masalah ini berarti mengundang perpecahan umat?
Di antara kaum muslimin, tatkala mendengar kata Imamah, mereka langsung berkomentar bahwa, sekarang tak perlu lagi membicarakan perkara itu. Sekarang ini adalah era persatuan umat Islam. Karena itu, membahas masalah Imamah akan mengundang perpecahan.
Yang patut kita hadapi secara serius adalah musuh-musuh Islam; dari kaum musyrikin, Zionis, dan peniajah Barat maupun Timur. Oleh karena itu, kita harus menghindari hal-hal demikian.
Pola pemikiran seperti ini nampaknya tidak bisa diterima, karena :
a. Yang menyebabkan perpecahan adalah, jika membicarakan masalah imamah didasarkan pada fanatisme yang tidak logis dan perasaan ta’assub serta kedengkian. Jika pembahasan itu didasarkan pada kaidah-kaidah yang jauh dari sifat ta’assub, kedengkian; dan dalam kondisi yang penuh rasa persaudaraan, maka hal itu akan dapat menciptakan sesuatu yang berguna dan utama, tidak akan menyebabkan perpecahan; bahkan akan memperkecil jurang pemisah dan dapat memperkokoh langkah-langkah untuk bekerjasama.
Saya sendiri sering berkunjung ke Baitullah di Mekkah, di sana saya banyak bertukar pikiran dengan ulama-ulama Ahlus Sunnah. Saya merasa sebagaimana yang mereka rasakan, bahwa pembahasan ini banyak mengandung keutamaan dan tidak mengandung dampak negatif terhadap hubungan persaudaraan sesama muslim, jika hal itu didasarkan pada saling pengertian, pendekatan, baik sangka, dan menghilangkan perasaan-perasaan dengki yang membara di dalam dada.
Yang jelas bahwa membahas masalah ini, akan mewarnai titik temu antara kita, yang memungkinkan untuk bekerjasama dalam menghadapi kekuatan-kekuatan di luar Islam.
Mazhab Ahlus Sunnah sendiri terbagi empat : Hanafi, Syafi’i, Hambali, dan Maliki. Pembagian seperti inipun tidak menyebabkan perpecahan. Seandainya mereka mengakui flqih Syi’ah adalah Mazab yang kelima, maka akan banyak unsur-unsur perpecahan yang sirna.
Sebagaimana dinyatakan oleh Syekh Al-Azhar, Mahmud Syaltut, bahwa mazhab Syi’ah adalah mazhab Islam yang syah. Hal ini memiliki pengaruh yang sangat besar di kalangan pemikir Islam; contohnya seperti, terjalin dan terciptanya saling pengertian dan kerjasama antara almarhum Syekh Mahmud Syaltut dan Almarhum Ayatullah Burujerdi, salah seorang marja’ besar Syi’ah.
b. Kami yakin bahwa Islam lebih banyak mengakar di dalam mazhab Syi’ah ketimbang mazhab-mazhab yang lain. Dan kami yakin pula bahwa mazhab Syi’ah mampu mendefinisikan Islam yang bersih dari penyimpangan, dan sanggup memecahkan permasalahan umat dalam suatu tatanan masyarakat.
Mengapa tidak kita mengajarkan mazhab dan logika ini kepada anak-anak kita?
Kami yakin sepenuhnya, bahwa Nabi (SAW) telah menentukan dan memilih penggantinya. Karena itu, apa yang menyebabkan anda tidak menerima perkara ini berdasarkan petunjuk dan logika yang benar? Namun dalam hal ini kita harus senantiasa menghindari hal-hal yang melukai mazhab lain.
c. Untuk memecah-belah umat Islam, musuh-musuh Islam senantiasa berusaha mencerca Ahlus Sunnah di depan Syi’ah, sebagaimana mereka mencerca Syi’ah di depan Ahlus Sunnah; dan mereka telah berhasil melakukan itu di beberapa negeri muslim dan mengkotak-kotakkannya.
Di samping memaparkan masalah Imamah dengan pola-pola yang telah dijelaskan, kami juga menguatkan dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits sebagai sanggahan terhadap tuduhan-tuduhan yang tidak benar tentang masalah ini.
Sekaitan dengan itu, saya akan memaparkan suatu pengalaman pada saat kunjungan ke Hijaz. Ketika itu saya bertemu dengan salah satu tokoh Islam Saudi. Di sela-sela perbincangan itu, ia mengatakan, pernah mendengar bahwa kaum Syi’ah punya Qur’an tersendiri, yang berbeda dengan yang dimiliki umat Islam umumnya. Mendengar hal tersebut saya katakan padanya :
Ya akhi . . . ! untuk membuktikan bahwa berita itu bohong, saya akan mengajak anda, atau teman anda pergi ke Iran.
Di sana dapat membuktikan sendiri agar anda tidak langsung membenarkan dan percaya dengan informasi sepihak. Di sana juga anda boleh mendatangi mesjid-mesjid, mushalla-mushalla, rumah-rumah kaum muslimin, dan membuktikan bahwa Al-Qur’an yang mereka baca sehari-hari sama dengan Al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam umumnya.
Tidak ada perbedaan Walau satu kalimat atau satu huruf; bahkan Al-Qur’an yang ada di Iran banyak berasaI dari percetakan Mesir, Hijaz dan negara-negara Islam lainnya.
Tidak perlu diragukan lagi bahwa, jika persaudaraan itu didasarkan pada kejujuran, niscara bisa melenyapkan hembusan ”angin beracun” yang kadang-kadang dilontarkan juga oleh ”mereka” yang dikenal sebagai ”tokoh” dalam Islam itu.
Oleh karena itu, kaiian tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan Imamah-dengan pola yang telah kami sebutkan tadi akan memperkokoh persaudaraan umat Islam, dan membantu menghubungkan titik temu, serta mempersempit jurang yang sangat jauh selama ini.
2. Apakah Imamah itu?
”Imam” sebagaimana kita ketahui dari kosakatanya adalah seseorang yang dipanuti di dalam Islam, yang mengarahkan kaum muslimin serta memimpin mereka. Menurut akidah Syi’ah, mutlak; dan ”Imam ma’shum” mutlak menjadi pengganti Rasulullah (SAW) dalam segala aspek kehidupan.
Kalau Nabi mutlak sebagai peletak dasar Islam, maka Imam sebagai pemeliharanya. Nabi menerima wahyu, Imam tidak menerimanya, tetapi ia memperoleh ajaran-ajaran Ilahi dari Rasulullah (SAW). Ia memiliki ilmu yang luar biasa.
Imam ma’shum menurut Syi’ah, tidak hanya sebagai pemegang otoritas politik Islam, tetapi ia juga sebagai pemimpin spiritual dan material, secara lahiriah dan batiniah,
serta pemimpin segala aspek masyarakat Islam. Oleh karena itu, ia harus mengemban tanggung jawab, memelihara akidah dan hukum Islam tanpa melakukan kesalahan dan penyimpangan, karena ia adalah hamba yang dipilih Allah SWT dari sekian hamba-hamba-Nya.
Sedangkan saudara kami Ahlus Sunnah hanya menafsirkan kata imamah sebagai kepala negara Islam, dengan kata lain, mereka menafsirkan imam sebagai penguasa pemerintah Islam, pemimpin umat Islam, dan khalifah Rasulullah (SAW).
Sesudah itu, pada topik selanjutnya, akan kami jabarkan bahwa, setiap zaman hams ada seorang Nabi atau Imam Ma’shum di muka bumi ini, untuk memelihara agama yang hak, dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang ingin menuju ke jalan Allah SWT.
Jika Imam ma’shum itu masih ghaib dari pandangan karena beberapa sebab, maka ia mengangkat Naibul Imam untuk menegakkan Syari’at Islam dan membentuk tatanan masyarakat islami.
 
(Oleh Ayatullah Nasir Makarim Syirazi di buku “Imamah”, pnrj. Musa Kazim, Yayasan As-Sajjad : 1990)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed