by

Imam Ali ar-Ridha : Hadits Silsilah adz-Dzahab, Tentang "La Ilaha Illallah"

“Kalimat La Ilaha Illallah (tiada tuhan selain Allah) adalah benteng-Ku, dan barang siapa yang mengucapkannya akan memasuki benteng-Ku, dan barang siapa yang memasuki benteng-Ku akan selamat dari azab-Ku.” (Imam Ali Ar-Ridha)

Hadits Silsilah adz-Dzahab
Suatu ketika Imam Kedelapan kita, Imam Ali ar-Ridha as melakukan perjalanan ke suatu kota yang bernama Naisyabur. Penduduk di kota ini meminta Imam Ali ar-Ridha as untuk mengajarkan kepada mereka beberapa hadits Nabi saw (Shallallahu ‘Alaihi Wa Alihi).
Imam Ridha menyampaikan kepada mereka hadits berikut ini:
“Dari ayahku Musa al-Kazhim as berkata kepadaku, dari ayahnya Ja’far ash-Shadiq as, dari ayahnya Muhammad al-Baqir as, dari ayahnya Ali Zainal Abidin as, dari ayahnya Sayyid Syuhada’ al-Husain as, dari ayahnya Ali bin Abi Thalib as, dari Rasulullah saw, dari Jibril as, dari Allah swt yang berfirman,
“Kalimat La Ilaha Illallah (tiada tuhan selain Allah) adalah benteng-Ku, dan barang siapa yang mengucapkannya akan memasuki benteng-Ku, dan barang siapa yang memasuki benteng-Ku akan selamat dari azab-Ku.”
Hadits ini dikenal sebagai hadits silsilah adz-dzahab (mata rantai emas). Disebut hadits yang bermata rantai emas boleh jadi karena setiap perawi dari silsilah rantai tersebut adalah orang-orang maksum.
Beberapa orang berkata (Syablakhi, Nur al-Abshar) bahwa seorang serdadu yang telah menuliskan hadits di atas dengan tinta emas dan menjaganya setiap saat, setelah wafatnya, ia mendatangi sahabatnya dalam mimpi dan menyampaikan kepadanya bahwa seluruh dosa-dosanya diampuni lantaran berkah dari hadits mulia ini.
Orang-orang Naisyabur dengan keras membaca kalimat tayyibah ini.
Akan tetapi sebelum meninggalkan tempat itu, Imam Ridha as menambahkan bahwa ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi untuk terjaga selamat dalam benteng ini.
Imam Ridha as berkata, “Syarat tersebut adalah bahwa engkau harus mematuhi dan mentaati seluruh perintah Nabi Muhammad saw dan ajaran-ajaran para Imam Maksum as.
Kalaimat La illaha illallah bisa menyelamatkan jika memenuhi syarat, yaitu dengan menerima wilayah para Imam suci Ahlulbait as.
Apa yang dimaksudkan dengan La illaha illallah?
Kalaimat La illaha illallah Dalam bahasa Arab artinya sesembahan, dalam kalimat ini artinya yang ditaati secara sempurna. Artinya illah adalah satu-satunya yang paling layak untuk ditaati.
La illaha illallah tidak ada siapa pun yang layak untuk ditaati kecuali Allah swt. Dari situ kita bisa memahami bahwa wilayah kepada Ahlulbait adalah satu-satunya syarat.
Artinya harus ada pribadi yang ada di dunia ini yang perintahnya harus kita taati karena berasal dari Allah. Jika tidak ada seorang manusia yang dimaksud ini, berarti Kalaimat La illaha illallah tidak ada maknanya. “Dialah Allah yang menurunkan kepadamu yaitu al-kitab (al-Qur’an) dan al-mizan
Mizan artinya sebuah penentu antara segala yang batil dan yang haq. Artinya segala ucapannya itu membedakan dan mengidentifikasi mana yang benar dan mana yang salah. Dan pribadi ini setelah Rasulullah, adalah Ali bin Abi Thalib as. Sebagaimana disebutkan dalam hadis “Ali bersama Kebenaran dan kebenaran bersama Ali” dan hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahlussunah.
Al-Hakim An-Naisyaburi, seorang ulama hadist yang terkenal dalam kitabnya al-Mustadrak as-Shahihain, pelengkap terhadap dua shahih (Bukhari dan Muslim), ia menuliskan hadis ini pada bab yang diberi judul “Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib”.  Ia juga meriwayatkan hadis ini – yaitu Ali bersama Qur’an dan Qur’an bersama Ali, dan tidak akan berpisah sampai hari kiamat”.
Hadis tersebut adalah untuk 12 Imam suci AhlulBait as. Dan hadis ini menguatkan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi dalam kitab-kitab hadis mereka yaitu hadis at-Tsaqalain yang sudah kita kenal lama. Bahwa Rasulullah bersabda :
“Aku tinggalkan dua untuk kalian dua pusaka yang kalian tidak akan tersesat ketika berpegang teguh pada keduanya dan keduanya tidak akan terpisah sampai menemuiku kelak di telaga haud, yaitu Al-Qur’an dan Ahlulbait”.
Dari situ kita bisa memahami bahwa Ahlulbait adalah al-Mizan, timbangan, seperti Allah swt sebutkan dalam ayat tersebut “Kami menurunkan untukmu Al-Qur’an dan Al-Mizan” dan Al-Mizan ini adalah para Imam Ahlulbait as. Salah satunya, dalam hal ini adalah Imam Ali Ar-Ridha as. Dimana para Imamlah yang bisa menjadi barometer, yang bisa menjadi panutan dalam memisahkan antara yang Haq dan yang batil.
Karena itulah Imam Ridha bersabda bahwa kalimat La illaha illallah itu adalah benteng-Ku (Allah swt) , yang memasuki akan aman dengan syaratnya berwilayah pada ahlulbait as.
 
(Ditranskip dan disarikan dari ceramah Ayatullah Muhsin Araki dalam Majlis Syahad atau Haul Imam Ali Ar-Ridha as di ICC Jakarta (30/11/16). Ayatullah Muhsin Araki adalah Sekjen Al-Majma’ Al-Alami Litaqrib Bainal Madzahib al-Islamiyah/ atau Forum International pendekatan antar mazhab Islam)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed