by

Penerus Nabi : Falsafah Adanya Imam Suci Ahlulbait as

Pembahasan tentang pentingnya diutus seorang Nabi,-demikian juga keharusan adanya Imam sesudah Nabi (SAW); termasuk dua perkara yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Namun untuk masalah imamah, diperlukan kajian yang lebih mendalam.
1. Evolusi Spiritual Menuju Keberadaan Kepemimpinan Ilahiyah.
Sebelum melangkah kepada pengkajian yang lebih mendalam, lebih dahulu kami bahas tentang tujuan diciptakan manusia, karena manusia merupakan dasar penciptaan alam semesta.
Di dalam perjalanan panjangnya, manusia akan menemui liku-liku dan benturan dalam menuju kepada Allah SWT .. ‘Zat yang Maha Sempurna-ke arah kesempurnaan spiritual dalam segala aspek.
Yang jelas, manusia itu akan tidak berhasil menempuh jalan ini tanpa petunjuk Imam Ma’shum, dan tidak akan dapat menelusuri jalan itu tanpa seorang guru yang berorientasi pada ajaran Ilahi, karena jalan kehidupan ini dikelilingi oleh kezalim‘an, dan bahaya-bahaya kesesatan.
Memang, Allah telah memberikan kepada manusia, akal dan hikmah, dan menganugerahi potensi yang dapat dikembangkan, serta mengutus Rasul baginya, dengan membawa kitab samawi. Namun, dengan segala sarana alam ini dan Syari’at Islam yang telah ada, kadang-kadang dalam masalah tertentu manusia melakukan penyimpangan dan kesalahan. Oleh karena itu, dengan adanya ajaran dari Imam yang ma’shum, yang dipegang teguh oleh umat, akan memperkecil penyimpangan dan kezaliman yang ada. Dengan demikian : ,
”Eksistensi seorang imam adalah untuk menyempurnakan tujuan penciptaan manusia”.
Perkara ini telah disebutkan dalam buku akidah.
Agar manusia mencapai tujuan penciptaannya itu, maka Allah mengutus para Nabi dan Imam yang ma’shum. lika tidak, maka niscaya hancurlah tujuan penciptaannya itu. (Cobalah anda renungkan lebih mendalam tentang hal inil).
2. Terpeliharanya Syari’at Islam.
Ajaran Ilahiyah yang telah terpatrikan dalam kalbu para Nabi, bagaikan tetesan air hujan yang menyirami bumi yang gersang. Ia memberi nilai kehidupan dan bimbingan rohani. Namun ketika aiaran itu masuk ke dalam “lautan” yang keruh serta ”otak” yang lemah dan kotor, maka meniadi keruh pula penerapannya, karena banyaknya penyimpangan-penyimpangan dari aslinya.
Pada saat yang demikian itu terjadi, maka tidak ada lagi kemurnian, kelembutan dan keutamaannya, serta hilanglah daya tarik dan pengaruh-pengaruh ajarannya dan tidak mampu lagi memberikan kepuasan kcpada orang yang haus, serta tidak sanggup memancarkan cahaya keutamaannya.
Di sinilah betapa panting, hadirnya seorang Imam yang ma’shum, yang akan mampu memelihara kemurnian agama dan tatanan eksistensinya. Mampu mangemban tanggung jawab agama tanpa penyimpangan, karena memiliki pemikiran yang bersih dan pandangan yang luas. Andai kata agama ini tanpa Imam yang ma’shum, niscaya ia akan hilang kemurniannya.
Imam Ali (AS) berkata dalam salah satu khutbahnya:
”Ya Allah, Dzat Penguji, jangan sunyikan bumi ini dari orang yang berjuang untukmu. Ya Allah, dengan suatu hujjah, baik secara diam-diam atau terang-terangan, agar hujjah-hujiahMu dan ayat-ayatMu yang ielas itu tidak menjadi batil”.
Sesungguhnya, hati Imam bagaikan suatu gudang yang kokoh, tempat memelihara benda-benda dan hal-hal yang panting, agar terhindar dari tangan-tangan pencuri dan penjahat. Inilah salah satu bentuk faIsafah adanya imam.
3. Kepemimpinan umat dalam segi sosial politik.
Sebagaimana kita maklumi, bahwa masyarakat manusia yang tidak memiliki aturan sosial dan seorang pemimpin yang tangguh, maka ia tidak akan mampu memelihara kelangsungan hidupnya. Karenanya, kita jumpai pada setiap  bangsa -sejak dahulu hingga sekarang mereka pasti memilih pemimpin untuk kepentingan mereka. Pemimpin itu terkadang baik, namun banyak juga sebaliknya.
Selama orang-orang yang rakus akan kekuasaan dan kekayaan untuk kepentingan diri dan keluarganya mampu menguasai manusia melalui kekuatan dan penipuan -agar manusia tidak mematuhi pemimpin yang bersihdan sucilagi maka ketika itu manusia akan dihadapkan kepada bermacam-macam krisis kehidupan.
Sebaliknya, untuk dapat mencapai tujuan spiritual, manusia hams secara bersamasama bergabung dalam suatu masyarakat yang berada di jalan yang mulia Karena dengan Kemampuan pemikiran, fisik, materi dan spiritual seorang diri, tidak akan mampu menghadapi masyarakat yang sombong itu.
Masyarakat idaman, adalah masyarakat yang dipimpin oleh aturan islami yang menjadi kebutuhan manusia yang fitri dan selalu siaga terhadap usaha-usaha penyimpangan, memelihara hak-hak setiap individu, menentukan langkahlangkah dan sistem untuk mencapai tujuan yang mulia, serta menyiapkan dan melengkapi pertahanan yang dinamis di dalam masyarakat, untuk menjamin kemerdekaan di dalam kehidupan itu.
Ketika manusia yang sudah biasa melakukan dosa dan kesalahan, ia tidak akan mampu mengemban risalah yang mulia itu. Sebagai bukti, kita dapat melihat peristiwa demi peristiwa di depan mata kita, yaitu penyimpangan kepemimpinan dari nilai-nilai Ilahiyah yang telah dilakukan para politikus ”Islam masa lampau”; maka Allah SWT memilih seorang Imam yang ma’shum yang tampil dengan kemuliaannya, untuk merealisasikan Risalah Ilahi, agar dapat membangkitkan umat yang terpendam dan membenahi pemikiran-pemikiran ”ulama” yang berpijak pada dasar-dasar yang penuh dengan penyimpangan pada masa lalu itu.
Inilah sisi lain dari falsafah adanya Imam yang ma’shum dan merupakan bagian lain dari kepemimpinan yang ”mulia”.
4. Pentingnya Penyempurnaan Hujjah.
Seorang Imam tidak hanya menyinari hatiyang mengharapkan hidayah dan ingin menuju kc jalan yang scmpurna, tapi ia juga meluruskan dan menyempurnakan hujah-hujah orang yang sengaja ingin mengadakan penyimpangan dari jalan yang benar, agar usaha-usaha yang negatif yang sering terjadi itu tidak berpengaruh kepada orang lain, dan senantiasa melindungi orang-orang yang ingin kembali ke jalan yang benar.
Dengan kata lain, seorang Imam yang ma’shum akan memotong jalan setiap alasan dan hujjah orang-orang yang akanmenyimpangkan ajaran yang benar, dengan daliI-dalil yang kuat dan kokoh; ia juga menyajikan pemahaman yang benar terhadap orang-orang yang belum mengerti, menenteramkan serta mengokohkan hati orang yang sudah mengerti dan memahami.
5. Imam sebagai anugerah Ilahi.
Sebahagian ulama mengumpamakan adanya Nabi atau Imam-di dalam masyarakat manusia atau pada setiap alam nyata -ibarat jantung dalam tubuh manusia. Ketika jantung berdenyut, ia mengalirkan darah ke seluruh organ tubuh manusia dan memberikan makanan kepada semua sel yang ada di dalam tubuh itu.
Adanya seorang Imam yang ma’shum, manusia yang sempurna, merupakan pelopor kafllah manusia, dan penyebab turunnya anugerah Ilahi yang dapat dinikmati setiap orang yang telah berhubungan dengannya.
Maka patutlah jika kita katakan, bahwa Imam bagaikan peranan jantung dalam kehidupan manusia, yang berperan sebagai wasilah turunnya anugerah ilahi dalam seluruh masyarakat manusia (coba anda renungkan hal ini).
Sebagaimana kita maklumi, bahwa Nabi dan Imam tidak memiliki apapun yang dapat diberikan kepada umat manusia, karena setiap yang mereka miliki berasal dari  Allah SWT. Namun bagaikan jantung yang menjadi perantara sampainya anugerah Allah keseluruh organ tubuh manusia, maka Nabi atau Imampun ibarat wasilah-wasilah sampainya anugerah Allah SWT kepada seluruh manusia.
(oleh : Ayatullah Nasir Makarim Syirazi dlm buku “Imamah”)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed