by

Siapa Saja Para Tokoh Syiah dalam Sejarah Awal Islam ?

Sebuah hal yang wajar jika Tasyayyu’ atau para tokoh syiah untuk pertama kalinya dimulai di Hijaz di kalangan para sahabat Rasul saw. Dengan merujuk pada kitab-kitab sejarah dan biografi menjadi jelas bahwa di kalangan para sahabat Rasulullah dan keturunan Bani Hasyim (yaitu putra-putra Hasyim, ayah dari kakek Rasulullah) terdapat sosok-sosok Syi’ah yang terkenal, di antaranya adalah:
Abdullah bin Abas, Fadhl bin Abbas, Qatsm bin Abbas, Abdurrahman bin Abbas, Tamam bin Abbas, Aqil bin Abi Thalib, Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muthalib, Naufal bin Harits, Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, ‘Aun bin Ja’far, Muhammad bin Ja’far, Rabi’ah bin Harits bin Abdulmuthalib, Ath-Thufail bin Harits, Al-Mughairah bin Naufal, Abdullah bin Harits bin Naufal, Abdullah bin AbiSufyan bin Harits, Abbas bin Rabi’ah bin Harits, Abbas bin ‘Ainiyyah bin Abi Lahab, Abdulmuthalib bin Rabi’ah bin Harits, dan Ja’far bin Abi Sufyan bin Harits.
Sementara orang-orang Syi’ah di antara para sahabat Rasulullah saw dari selain keturunan Bani Hasyim, di antaranya adalah: Salman, Miqdad, Abu Dzar, Ammar bin Yasser, Hudzaifah bin Yaman, Huzaimah bin Tsabit, Abu Ayyub Anshari, Abu Hatsim bin Taihan, Ubai bin Ka’ab, Qais bin Sa’d bin ‘Ibadah, ‘Udai bin Hatim, ‘Ibadah bin Shamat, Bilal Habasyi, Abu Rafi’, Hasyim bin ‘Utbah, ‘Utsman bin Hanif, Sahl bin Hanif, Hakim bin Jabalah Abdi, Khalid bin ‘Ash, Ibnu Al-Hashib Al-Islami, Hind bin Ubai Halah al-Tamimi, Ju’dah bin Hubairah, Hajar bin ‘Adi Kandi, Amru bin Hamaq Khazai, Jabir bin Abdullah Anshari, Muhammad bin Abi Bakr (putra Khalifah pertama), Aban bin Sa’id bin ‘Ash dan Zaid bin Shauhan Zaidi.[30]
Setelah Hijaz, Tasyayyu’ berkembang pula di Syam (kirakira di Suriah dan Lebanon saat ini) terutama tersebar di gunung Amil. Dalilnya adalah: khalifah ketiga Utsman bin Afan, memutuskan pengasingan Abu Dzar, salah seorang dari sahabat Rasul saw ke Syam, tempat pemerintahan Mu’awiyah. Tentu saja Abu Dzar tidak berdiam diri begitu saja di Syam, ia bergerak ke seputar Damaskus dan tempat- tempat lain di kawasan Syam untuk mengungkapkan protesnya atas penyimpangan-penyimpangan yang semakin terjadi di dunia Islam, ia juga mengajak masyarakat untuk mencintai dan mendukung Ali As.
Sahabat yang berkedudukan tinggi dan mulia ini pergi ke gunung Amil di selatan Lebanon saat ini, di sana ia membangun dua buah masjid dan mulai menyebarkan luaskan Tasyayyu’. Di Suriah, terutama pada periode pemerintahan para Hamdani secara umum, dan pada periode pemerintahan Saif ad-Dulah secara khusus, Tasyayyu’ telah menjadi semakin kuat. Para penduduk Ba’labak (sebuah kota tradisional di Lebanon saat ini yang terletak di dekat perbatasan Suriah) telah tertarik dengan Syi’ah sejak dimulainya kehadiran Tasyayyu’ di negeri ini.
Saat ini, Ba’labak merupakan salah satu dari pusat penting komunitas Syi’ah di kawasan tersebut. Pada masa kekhalifahan Ali as dan setelah terjadinya perang Jamal, kota Kufah yang pada awalnya dibangun untuk tujuan- tujuan militer, berubah menjadi pusat pemerintahan Islam dan Tasyayyu’.[31] Sejak itu, Tasyayyu’ di Kufah mencapai kemajuan dan berkembang pesat dan dari sana menyebar ke penjuru dunia.
Di Yaman, Tasyayyu’ mengalami hambatan dalam prinsip penerimaan Islam oleh masyarakat. Berdasarkan sumbersumber sejarah, Rasul saw pada awalnya mengutus Khalid bin Walid untuk mengajak masyarakat Yaman ke arah Islam. Namun kendati ia telah tinggal di wilayah ini selama enam bulan, akan tetapi ia tidak memperoleh keberhasilan.
Setelah itu Rasul saw mengirimkan Ali as ke Yaman dan meminta kepadanya untuk memulangkan Khalid. Salah satu dari anggota rombongan yang diketuai oleh Ali as bernama Bura menjelaskan bahwa saat sampai di tempat terdekat dengan negeri Yaman, mereka menunaikan shalat subuh dengan imam jamaah Ali as, dengan perintah Ali as, semuanya berada dalam satu barisan.
Yang pertama kali dilakukan oleh Ali As saat mendatangi masyarakat asli di tempat tersebut adalah mengucapkan puji dan syukur keharibaan-Nya, setelah itu membacakan pesan dari Rasulullah kepada mereka. Seluruh masayarakat Hamdan pada hari pertama itu juga langsung memeluk agama Islam, setelah itu baru disusul secara berbondong-bondong oleh masyarakat lainnya.[32]
Sejak awal itu pulalah para Muslim Yaman telah memiliki kecintaan yang sangat tinggi kepada Ali as dan kecintaan setelahnya ditemukan melalui informasi mengenai keutamaan- keutamaannya dari lisan mulia Rasulullah saw dan menyaksikan kezaliman para musuhnya seperti Busr
bin Arta’ah.
Demikian juga di Mesir, Tasyayyu’ di negara ini memiliki nasib yang serupa, karena sejak awal masuknya Islam ke Mesir, masyarakat negeri ini telah mengenal Tasyayyu’ melalui lisan para sahabat besar seperti Miqdad, Abudzar, Abu Rafi’ dan Abu Ayyub Anshari yang berpartisipasi dalam masalah ini. Pada masa khalifah ketiga, Utsman bin Afan, sahabat besar Rasulullah dan Ammar Yaser yang termasuk ke dalam kelompok Syi’ah pertama, melawat ke Mesir.
Masyarakat Mesir mempunyai peran aktif dalam peristiwa yang terjadi setelah terbunuhnya khalifah ketiga Utsman bin Affan dan pemaksaan mereka kepada Imam Ali as untuk menerima kekhalifahan. Saat Ali as mengangkat Qais bin Sa’ad sebagai hakim Mesir, masyarakat negeri ini menyambutnya
dengan hangat dan memberikan baiat kepadanya. Setelah Qais, atas keputusan Ali as, Muhammad bin Abi Bakar memegang tanggung jawab pemerintahan Mesir, namun terbunuh di tangan Amru bin ‘Ash.
Nasib yang sama juga dialami oleh Malik Asytar yang menemui kesyahidan sebelum sampai di Mesir. Pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbas tidak ada satupun hakim Syi’ah yang memegang pemerintahan atas Mesir, akan tetapi rakyat Mesir senantiasa seiring dan sejalan dengan tujuan-tujuan Tasyayyu’.
Persoalan ini telah mempermudah pembentukan pemerintahan Fathimiyah di
Mesir dan bagian-bagian luas dari utara Afrika. Pemerintahan Fathimiyah berlanjut untuk beberapa lama hingga kemudian Shalahuddin Ayyubi menghancurkan pemerintahan Fathimiyah.[32]
Di Iran, Tasyayyu’ memiliki nasib yang berbeda dengan yang lain. Warga Iran telah menerima Islam sejak masa kekhalifahan kedua dan selanjutnya, yang sebelumnya, mayoritas dari mereka adalah para Ahlusunnah. Tentunya berdasarkan dalil-dalil khusus, kota-kota seperti Qom, Rey dan Kasyan sejak awal telah sepenuhnya atau secara nisbi memiliki kecenderungan pada Syi’ah.
Para penguasa Al-Buyah yang adalah Syi’ah dan telah memegang pemerintahan dari tahun 320 hingga 447 H mempunyai banyak pengaruh di sebagian negara bagian Iran, demikian juga di
pusat-pusat pemerintahan seperti di Baghdad, dan bahkan pada khalifah sendiri.
Persoalan ini telah membuka peluang bagi para Syi’ah untuk mengamalkan ritual-ritual mazhabnya secara terbuka dan menyebarkannya. Setelahnya, pada kurun ketujuh Hijriyah, saat Sultan Muhammad Khudabandeh menjadi Tasyayyu’, Syi’ah memiliki kondisi yang semakin baik.
Sebagian gerakan-gerakan Syi’ah seperti pemberontakan Sarbadoron juga memberikan peran bagi semakin meluasnya Syi’ah. Hingga akhirnya Syah Ismail mendirikan pemerintahan Shafawi pada tahun 905 dan Tasyayyu’ dinyatakan sebagai mazhab resmi Iran.
Sejak saat itu hingga kini, mayoritas besar dari masyarakat Iran adalah para Syi’ah.Pertumbuhan Tasyayyu’ di Azerbaijan yang juga memiliki mayoritas rakyat Syi’ah, memiliki kemiripan dengan Iran, karena pada prinsipnya, negara ini hingga kurun kesembilan belas, sebelum dijajah oleh Rusia, merupakan bagian dari Iran.
Islam memasuki Azerbaijan pada kurun awal Hijriah (tahun 642 M), dan sejak itu hingga sekarang, mayoritas rakyat Azerbaijan adalah Muslimin. Saat ini lebih dari 95 persen masyarakat Azebaijan adalah masyarakat Muslimin, sedangkan selebihnya adalah pengikut Kristen Ortodoks Rusia dan gereja kekhalifahan Armenia.
Tujuh puluh persen dari seluruh masyarakat Azerbaijan merupakan Syi’ah. Proses yang menyebabkan kecenderungan mayoritas rakyat Azerbaijan pada mazhab Tasyayyu’ bertolak pada kurun kesepuluh Hijriyah (kurun ketigabelas Masehi)dan kegiatan- kegiatan budaya politik yang dilakukan pada masa Shafawi.
Kendati pada zaman Uni Sovyet telah diterapkannya berbagai pembatasan, namun masyarakat Azerbaijan tetap mempertahankan kecenderungan mazhabnya dan sebagian dari mereka aktif dalam masalah-masalah kemazhaban. Di republik Azerbaijan terdapat banyak masjid seperti masjid Tozehpir, masjid Jumah dan Masjid Imam Husain As.
Demikian juga terdapat pula sekolah-sekolah agama di berbagai kawasan terutama di Bako dan Jalil Abad. Masyarakat Azerbaijan memiliki kecintaan menziarai makam- makam para waliullah dan orang-orang shaleh seperti saudara perempuan Imam Ridha as di Nadiran, makam Bibi Haibat di dekat Bako serta makam Nabi Jarjis di Balijan. Mereka juga memperingati harihari besar Islam. Setiap tahun pada bulan Muharram, terutama pada hari Asyura mereka akan menyelenggarakan berbagai acara duka di seluruh negeri.[33]
 
Referensi :
Muhammad Ali Shomali, “Cakrawala Syi’ah” Diterjemahkan dari “Osynoy-e Bo Syi’ah” , Jakarta : Penerbit Nur Al-Huda, 2012.
Footnote :
30. Sebagai misal, rujuklah pada: Bihautsi  al-Milal wa al-Nihal, jil. 6, hlm. 110 dan
109, karangan Ja’far Subhani. Sayyid Ali Madani (w.1120 HQ) dalam kitabnya
al-Darâjât al-Râfi’ah  Thâbaqât al-Syî’ah al-Imâm menyebutkan nama 69 orang
dari para sahabat Rasulullah yang Syi’ah.
31. Pada tahun 661 HQ, Muawiyah bin Abi Sufyan memindahan pusat negara Islam
ke Damaskus.
32. Rujuklah Ibnu Atsir, al-Kâmil  al-Târîkh, jil. 2, hlm. 300’ Muaqi Hindi (w. 975),
Kanz al-Ummâl, jil. 6, hlm. 158 dan 392.
33. Perlu diketahui bahwa Syi’ah Fathimiyah Mesir adalah mazhab Ismailiyah, bukan
Imamiyah, dan pada masa pemerintahan mereka, mayoritas rakyat Mesir adalah
Ahlusunnah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed