by

Rasulullah Muhammad SAW, Suri Tauladan Paling Sempurna

Syiah, sebagaimana seluruh Muslim lainnya, percaya terhadap risalah abadi Rasul saw dan memiliki kecintaan yang mendalam pada beliau. Dalam pandangan Syi’ah, Rasulullah Muhammad saw merupakan suri teladan paling sempurna untuk melakukan pengenalan secara mendalam kepada Allah, penghambaan sempurna pada-Nya, ketaatan yang ikhlas terhadap kehendak Ilahi, kemuliaan, kasih sayang, dan rahmat-Nya terhadap seluruh penghuni dunia.
Ditetapkannya Rasul saw oleh Allah Swt untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya yang terakhir dan tersempurna untuk manusia, bukan merupakan sebuah kebetulan. Kelayakan untuk memperoleh wahyu dan menjadi “lawan bicara” Allah, membutuhkan begitu banyakkelayakan dan kapabilitas, dan secara wajar untuk memperoleh wahyu yang paling sempurna membutuhkan kelayakan yang lebih banyak lagi.
Perilaku dan sifat pribadi Rasulullah saw mempunyai peran yang sangat besar dalam kemajuan Islam. Rasul saw sejak kecil telah terkenal dengan sifat amanah, dipercaya, dan takwa. Dalam seluruh masa risalah, Rasulullah hidup berdasarkan rukun-rukun dan nilai-nilai Islam. Pada masa-masa sulit maupun mudah, dalam kondisi aman ataupun ketakutan, damai maupun perang, menang maupun kalah, Rasulullah senantiasa menampakkan kesabaran, kerendahan hati, keadilan, ketenangan, dan keyakinan.
Rasulullah sedemikian rendah hati dan tawadhu sehingga sama sekali tidak pernah sombong dan mengagumi diri sendiri, beliau sama sekali tidak pernah memandang dirinya lebih baik dari yang lainnya, dan sama sekali tidak bersedia hidup dengan kemewahan, formalitas, dan kekayaan.
Baik pada saat sendirian – yang pada manusia biasa menjadi tempat yang wajar untuk memperlihatkan kelemahan lahiriah maupun pada saat memegang kekuasaan di Arab dengan sekian banyak kaum Muslim yang setia mengikutinya dengan sepenuh hati, yang bahkan bertabarruk pada bekas tetesan- tetesan air wudhunya, beliau tidak pernah mengubah cara dan bentuk kehidupannya. Kehidupan beliau sangat sederhana, beliau tinggal berdampingan dengan masyarakat terutama masyarakat yang rendah dan miskin.
Beliau sama sekali tidak mempunyai rumah dinas, istana, atau perangkat pemerintahan, juga tak satupun kelompok militer yang menjaga dan mengawalnya. Saat beliau duduk berbincang dengan para sahabatnya, bagi orang yang baru mendatanginya tidak akan mampu menebak mana Rasulullah di antara mereka, dikarenakan beliau tidak pernah memperlihatkan kedudukannya dengan aspek-aspek lahiriah seperti busana. Hanya perkataan, maknawiah, dan spirituallah yang telah membuat Rasulullah jauh lebih istimewa dari yang lainnya.
Rasulullah sedemikian adil dalam bertindak sehingga tak pernah melakukan aniaya dalam hak seseorang bahkan hak para musuhnya. Dalam kehidupannya beliau menempatkan al-Quran ini sebagai pokok dan semboyan, sebagaimana salah satu firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Maidah [5]: 8).
Sebelum peperangan, beliau senantiasa memerintahkan kepada para pasukannya untuk tidak mengusik para perempuan, anak-anak, manula, dan mereka yang menyerahkan diri, jangan merusak tanah-tanah pertanian dan perkebunan, jangan mengejar mereka yang melarikan diri dari medan
perang dan berbelas kasihlah kepada para tawanan.
Tak berapa lama sebelum beliau wafat, kepada masyarakat yang hadir di masjid Rasulullah mengatakan, bahwa jika beliau pernah berhutang, atau siapapun pernah merasa diambil haknya oleh Rasulullah, pernah mendapatkan aniaya atau pelanggaran-pelanggaran dari beliau, dipersilahkan maju ke depan untuk menuntut haknya, dan beliau akan segera mengembalikan atau mengganti hak-hak tersebut.
Perkataan Rasulullah ini membuat dada-dada para Muslimin menjadi sesak, airmata mereka bercucuran, terkenang segala pengorbanan Rasulullah dan jerih payah yang beliau tanggung untuk memberi hidayah kepada umat. Mereka mengetahui bahwa Rasulullah tidak pernah mendahulukan hajat-hajatnya atas selainnya, dan sama sekali tidak pernah mengutamakan kemudahan dan ketenangan dirinya atas kemudahan dan ketenangan selainnya.
Oleh karena itu, kaum Muslimin yang hadir di masjid mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih mereka. Akan tetapi di tengah-tengah ini, berdiri seorang lelaki yang menyatakan bahwa Rasulullah telah berhutang sebuah hak darinya. Menurutnya, dalam salah satu perang, saat Rasulullah tengah merapikan pasukan Muslimin, tongkat kayu yang ada di tangan beliau telah memukul perutnya. Rasulullah segera memanggil salah satu dari kerabatnya untuk pergi ke rumah beliau dan mengambil tongkat kayu yang dimaksud dari rumah beliau.
Kemudian beliau menyerahkan tongkat tersebut kepada lelaki itu  supaya melakukan qisas. Lelaki tersebut berkata bahwa tongkat tersebut telah memukul kulit perutnya, oleh karena itu ia pun harus memukul kulit perut beliau. Rasulullah lantas mengangkat gamisnya supaya lelaki tersebut bisa melakukan qisas sebagaimana seharusnya. Kaum muslimin terperanjat, tercengang, emosi, dan
khawatir melihat hal yang menegangkan ini. Namun tiba-tiba lelaki tersebut membungkuk dan mencium perut Rasulullah.
Ternyata seluruh perkataannya hanyalah supaya dia bisa mencium badan beliau. Rasulullah sedemikian yakin dengan risalahnya sehingga tidak ada keraguan mengenainya, meski setitik. Kendati para Musyrikin manifestasikan emosi dan permusuhannya dalam penyiksaan, teror, pembunuhan, penyitaan harta kaum Muslimdan menyebarkan isu dan kebohongan bahwa Rasulullah adalah gila atau seorang penyihir, namun Rasulullah tidak bergemingdan tak pernah meninggalkan kewajibannya.
Imam Ali as, ksatria Islam dan pembuka Khaibar, dalam kitabnya Nahj al-Balaghah, mengatakan, “Setiap kali kami terjebak dalam kondisi yang sangat menekan, maka kami (kaum Muslim) mencari perlindungan di sisi Rasulullah“ Rasulullah sedemikian mulia dan dicintai sehingga di manapun beliau hadir, berkah Allah pun akan berada di sana.
Menurut berbagai hadis, seluruh nabi mengetahui kedudukan tinggi Rasulullah di sisi-Nya dan kadangkala mereka memohon kepada-Nya untuk mengabulkan hajat-hajatnya atas hak Rasulullah. Dalam kaitannya dengan masalah ini terdapat berbagai hadis baik dalam literatur-literatur Syi’ah maupun Sunni.
Hakim Neisyaburi dan yang lainnya menukilkan dari Umar bin Khathab bahwa Nabi Adam as memohon kepada Allah Swt, “Ilahi! Ampunilah aku dengan hak dan kebenaran Muhammad!” Allah berfirman, “Wahai Adam! Bagaimana engkau bisa mengenal Muhammad sementara Aku belum menciptakannya?” Adam As bersabda, “Wahai Tuhanku! Aku mengenalnya karena saat Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu dan meniupkan ruh-Mu ke dalam diriku, dan aku mengangkat kepalaku untuk memandang ke atas, aku melihat di tiang-tiang arsy-Mu tertulis, “lâ ilâha illallâh, muhammad rasulullâh”, dari situ aku memahami orang yang namanya Engkau letakkan di samping nama-Mu pastilah orang yang paling Engkau cintai.”
Kemudian Allah berfirman, “Benar apa yang engkau katakan. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling mulia di sisi-Ku. Panggillah Aku dengan haknya maka Aku pasti akan mengampunimu. Jika bukan karena Muhammad, maka Aku
tidak akan menciptakanmu.”
 
Sumber : Buku “Cakrawala Syiah” karya Mohammad Ali Shomali
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed