by

Korelasi Mutlak Antara Wahyu Suci dan Kerasulan Muhammad

“..Rasul inilah yang bisa menangkap wahyu Tuhan dan dianggap suci agar wahyu yang difirmankan kepadanya tidak terdistorsi dan tetap mutlak dan suci”

Seorang Rasul secara ontologis, merupakan afinitas eksistensial Tuhan. Seorang Rasul inilah yang bisa menangkap wahyu Tuhan dan dianggap suci agar wahyu yang difirmankan kepadanya tidak terdistorsi dan tetap mutlak dan suci. Sedangkan manusia di bawah Rasul, yang tidak punya kesucian, secerdas dan sepandai apa pun dia tidak bisa menangkap wahyu yang mutlak dan suci itu.
Bagaimana sesuatu yang bersifat relatif bisa terhubung kepada Yang Mutlak? Karena Yang Mutlak dan yang relatif tidak bisa berhubungan, maka agama menjelaskannya dengan cara yang lebih mudah, yaitu melalui perantara seorang Rasul yang dianggap memiliki dimensi kemutlakan karena bisa berhubungan dengan Tuhan, sekaligus memiliki dimensi kerelatifan karena bisa berhubungan dengan manusia.
Islam adalah agama wahyu yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Setiap Muslim pasti meyakini hal itu dan memastikan bahwa ajaran beliau adalah kebenaran wahyu yang suci. Kebenaran dan kesucian serta kemutlakan wahyu Allah diterima oleh orang yang suci. Kesucian beliau menjamin terjaganya wahyu suci dari Yang Mahasuci. Karena kesucian itulah, posisi beliau sangat istimewa dan tidak mungkin disejajarkan dengan siapa pun selamanya. Dan karena beliau suci, maka wahyu yang suci itu tetap akan suci dan benar secara mutlak, semutlak dan sesuci yang ada pada sisi Allah Swt.
Karena itu pula, umatnya yang terdiri dari orang-orang yang tidak suci dan tidak bisa menangkap wahyu mutlak, pemahaman dan penafsiran terhadap wahyu yang tersampaikan melalui Alquran dan Sunnah beliau tidak akan pernah sama seperti wahyu yang diterima Nabi Saw. Sampai di sini, seluruh umat Islam, baik Sunni maupun Syiah, sepakat akan adanya penghubung antara umat dengan Rasul mereka.
Adakah koneksi antara Yang Mutlak dan yang relatif? Di sinilah kita perlu menampilkan sejumlah asumsi sebagai berikut:
Asumsi Pertama: Ajarannya biasa, Rasulnya biasa.
Rasul adalah manusia biasa seperti umumnya manusia yang bisa melakukan kesalahan dan tidak mengetahui banyak hal. Ia adalah produk lingkungannya dengan segala pengaruh dan faktor yang me-lingkupinya. Berdasarkan asumsi ini, karena agama yang dianutnya tidak bisa dipastikan benar, maka ia layak ditanggalkan. Ini juga bisa dimaklumi bila melihat konteks dasar penerimaannya.
Asumsi ini tidak perlu dibahas lebih lanjut, karena secara tidak langsung telah menyatakan diri sebagai penolak agama dan sistem mediasi atau kerasulan.
Kesimpulan Pertama dari asumsi ini, penyampai wahyu Tuhan dan pengawal agama adalah manusia biasa. Karena biasa (salah dan lupa), maka ajarannya biasa (salah dan lupa). Karena ajarannya biasa, maka ajaran Tuhan yang benar tidak bisa disampaikan. Karena tidak bisa disampaikan kepada manusia, maka tidak ada agama yang bisa diterima.
Kesimpulan Kedua dari asumsi ini, Rasul adalah manusia biasa. Karena wahyu dipahami sebagai informasi yang tunduk pada ruang dan waktu serta variabel-variabel lokal dan temporal, dan karena penerima wahyu diperlakukan sebagaimana lazimnya manusia yang tidak luput dari kesalahan, asumsi ini menentang sakralitas dan me-ngampanyekan desakralisasi agama. Tidak hanya itu, asumsi ini berusaha memperkenalkan wacana dekonstruksi teks agama yang dipandang tidak relevan atau kehilangan kontekstualitasnya karena teks agama (narasi suci) saat diwahyukan dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim, etnis, karakteristik dan sebagainya.
Karena agama yang dianutnya “biasa”, ia pun merasa perlu menyempurnakan, bongkar pasang dan merevisinya. Ini sangat bisa dimaklumi bila dilihat dari konteks dasar penerimaannya. Asumsi yang sejak semula menganggap pewarta wahyu sebagai manusia biasa yang berbuat salah dan lupa pun, menerima Islam sebagai “agama biasa”.
Pembawa agama dan penyampai wahyu Tuhan itu manusia bia-sa, yang berbuat salah dan kadang lupa. Karena itu, sebagian ajarannya tidak bisa mutlak diterima dan diterapkan, bahkan perlu dikorek-si dan diganti dengan pandangan-pandangan lain yang dinilai lebih logis dan relevan menurutnya.
Asumsi Kedua: Ajarannya luar biasa, Rasulnya biasa.
Penyampai wahyu Tuhan adalah manusia biasa, yang berbuat salah dan kadang lupa, namun dengan tetap menganggap ajarannya benar dan luar biasa.
Meski menganggap Rasul sebagai manusia “biasa”, asumsi ini meyakini ajaran yang dibawanya sebagai luar biasa (mutlak benar). Tanpa menyadari adanya paradoks dan kontradiksi, penganut asumsi ini malah menganggap apa yang diyakininya adalah representasi seratus persen ajaran Rasul. Penganut asumsi ini bahkan menganggap generasi masyarakat yang hidup di zaman Rasul sebagai generasi terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Melalui merekalah, ajaran Rasul dipercaya aman dari segala manipulasi.
Betapapun kenyataan menegaskan tidak semua hukum terjelaskan dalam teks Alquran dan riwayat-riwayat Rasul, karena sejak ber-akhirnya masa pewahyuan dan pengawalan agama dengan wafatnya Rasul, penganut asumsi yang getol memasang atribut “salafi” ini tetap bersikukuh menganggap semua persoalan manusia baik individual maupun sosial telah dijelaskan hukumnya dalam teks Alquran dan Sunnah.
Kontradikisi demikian memang tidak menjadi beban psikologis dan tidak membuat penganut asumsi ini risih secara intelektual. Mengapa? Sejak semula, tampaknya penganut asumsi ini, terutama para pemukanya, menyadari akan adanya “celah” invaliditas asumsi ini. Karenanya, kelompok ini mengantisipasinya dengan menutup rapat celah kritisisme dengan mengharamkan logika dan meniru penegasan para pemuka Kristen yang menganggap iman sebagai kontra akal dan logika.
Akibat dari pilihan asumsi ini, pandangan, sikap dan cara menghadapi tema-tema mutakhir, teristimewa fenomena modernitas, sikap mereka benar-benar menggelikan sekaligus menyeramkan. Karena kecanduan “visualisasi”, mereka menyatakan perang terhadap segala sesuatu yang bersifat esoterik, mistik, abstrak dan, tentu saja semua yang beraroma tasawuf. Siapa pun yang menyimpan apresiasi terhadap tasawuf, apalagi menjadi member ordo atau tarekat akan dibungkus oleh kelompok “kacamata kuda” ini dalam karung “sesat” dan “bidah”.
Karena hampir selain mereka, dianggap terinfeksi virus bidah, sesat dan syirik, harga darah kelompok lain di mata kelompok ini tidak terlalu mahal. Kelompok ini dengan bekal agama “biasa” melakukan segala aksi pemusnahan, pembunuhan dan paling ramah, penyesatan, hanya dengan satu alasan amar makruf dan nahi munkar, yang lagi-lagi ditafsirkan secara “biasa”. Karenanya, pengafiran sesama muslim pun menjadi kebiasaan. Ini semua karena “biasa”.
Asumsi Ketiga: Ajarannya biasa, Rasulnya luar biasa.
Asumsi ini tidak berkaitan sama sekali dengan sistem mediasi Tuhan, namun karena menjadikan keyakinan kepada person Rasul sebagai salah satu fundamen iman, yang disebut rukun iman, maka mereka tetap meyakini keluarbiasaan Rasul sebagai person.
Penganut asumsi ini tidak menolak teks-teks riwayat yang bertentangan dengan prinsip mediasi atau Nubuwwah. Akibatnya, penghormatan dan pemujaan serta kecintaan penganut asumsi ini kepada Rasul bersifat personal, bukan sistemik.  Namun demikian, diban-ding dengan penganut asumsi pertama dan kedua, penganut asumsi ini bisa dianggap yang terbaik. Penganut asumsi ini bahkan melestarikan penghormatan kepada figur Rasul dalam tradisi-tradisi yang sangat menyejukkan.
Asumsi Keempat: Ajarannya luar biasa, Rasulnya luar biasa.
Pembawa dan penyampai wahyu bukanlah manusia biasa, tetapi manusia luar biasa karena manusia yang menerima wahyu berbeda dengan manusia yang tidak menerima wahyu. Apabila penerima wahyu adalah manusia luar biasa, maka: 1) Ajaran Tuhan yang diterimanya luar biasa; 2) Ajaran yang disampaikannya mesti diterima dan diterapkan karena disampaikan oleh manusia yang tidak salah dan tidak lupa (luar biasa).
Meskipun manusia biasa tidak akan mampu mencapai tingkat keluarbiasaan, namun kita dituntut untuk meneladani Rasul dan semaksimal mungkin menghindari diri dari perbuatan-perbuatan nista. Dari sinilah muncul instilah Insan Kamil dalam dunia tasawuf untuk menunjukkan capaian tertinggi spiritual manusia.
(Sumber : Buku syiah menurut syiah)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed