by

Falsafah Hijrah Nabi Muhammad saww

Tepat pada 5 Rabiul awwal, Rasulullah saww keluar dari Gua menuju kota Madinah, setelah selama tiga hari berlindung dari kejaran Kafir Qurais.
Hijrah Nabi dari Mekah menuju Madinah adalah bukti bahwa Masyarakat Mekah menolak dipimpin oleh pemimpin Ilahi sehingga Hukum Allah swt tidak bisa ditegakan, sebaliknya Masyarakat Madinah merindukan dipimpin oleh pemimpin Ilahi sehingga secara otomatis Hukum Ilahi berjalan dengan sendirinya.
Untuk Terealisasinya Hukum-hukum Ilahi, maka kita harus memenuhi tiga Aspek penting yaitu:
1. Aspek pertama adanya seorang pemimpin Ilahi
2. Aspek kedua adanya Undang-undang sempurna
3. Aspek ketiga adalah keinginan Masyarakat dipimpin oleh Pemimpin Ilahi dan Syariat Ilahiah.
Untuk menjadikan alam semesta ini bersifat “Ilahiah, “ Maka ketiga aspek itu harus terealisasi. Untuk itu Allah swt dengan kelembutannya mengutus Para Nabi dan Imam untuk menyempurnakan Argumentasinya kepada Manusia, bahwa dari sisi Allah swt Aspek pertama dan kedua telah diutus dan diturunkan.
Falsafah Hijrah Rasul saww dari Mekah, dikarenakan masyarakat tidak mau dipimpin oleh Rasulullah saww dan Syariat Ilahiah, ketika Masyarakat tidak mau, maka secara otomatis Hukum-hukum Ilahi tidak terealisasi dan peran Rasulullah saww sebagai pengeksekusi Hukum tidak terlaksana.
Namun sebaliknya ketika Masyarakat Madinah berbondong-bondong  mau dipimpin oleh pemimpin Ilahi dan siap mentaati hukum-hukum langit, maka secara otomatis Hukum Ilahi berjalan dan teralisasi.
Jadi, Falsafah mengapa Rasulullah saww melakukan hijrah menuju Madinah, dikarenakan Aspek ketiga telah terlaksana yaitu kemauan dan keinginan Masyarakat dipimpin dan diatur oleh pemimpin Ilahi dan hukum ilahi. Walaupun Hijrah itu harus meninggalkan sang Wasyi ditempat tidur sang Nabi dengan taruhan Nyawa.
Karena tujuan Nabi diutus dan Kitab-kitab langit diturunkan adalah agar masyarakat menegakan keadilan dan mau dipimpin oleh pemimpin Adil.
Allah swt berfirman dalam Surat Al-Hadid ayat 25,
لَقَد أَرسَلنا رُسُلَنا بِالبَيِّناتِ وَأَنزَلنا مَعَهُمُ الكِتابَ وَالميزانَ لِيَقومَ النّاسُ بِالقِسطِ
Sungguh Kami telah mengutus Rasul-rasul kami dengan nyata, dan kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca, agar manusia menegakan Keadilan.
Ketika Rasulullah saww melihat aspek ketiga terealisasi dalam diri masyarakat Madinah, maka tanpa menunggu lama Rasulullah saww langsung Hijrah menuju kota Madinah.
Hubungan Hijrah Nabi dengan Ghaibnya Imam Zaman as
Sebab Ghaibnya Imam Mahdi as adalah kelemahan dan kelalaian kita semua, tidak menyiapkan Masyarakat “Madani” yang mengundang Rasulullah saww dikarenakan kesiapan mereka dipimpin oleh pemimpin ilahi.
Ketika Masyarakat kita seperti orang-orang Madinah, maka kemunculan Al-Mahdi as akan semakin dekat. Namun ketika masyarakat kita seperti orang-orang Mekah yang tidak mau dipimpin oleh pemimpin Ilahi, maka jangan pernah berharap Imam Mahdi as akan muncul ditengah-tengah kita.
Revolusi Islam Iran adalah salah satu contoh mempersiapkan kedatangan Imam Mahdi as, begitupula terbentuknya Hizbullah di Libanon adalah sebagai panitia-panitia kecil penyambut Imam Mahdi as.
Semuanya memiliki tujuan dan capaian yang sama, yaitu mempersiapkan masyarakat yang berkeinginan dipimpin oleh pemimpin Ilahi. Jadi, ketika kita dalam mencari Ilmu, Nafkah, Istri, pekerjaan dan lain sebagainya untuk mempersiapkan kedatangan Imam Mahdi as dengan menyadarkan masyarakat untuk mau dipimpin oleh pemimpin Ilahi, maka kita telah melakukan sebaik-baiknya Ibadah.
Hijrahkan diri kita dari Sifat Makiyah menuju Sifat madaniyah yaitu selalu berusaha selama masih bernafas, untuk selalu mempersiapkan kedatangan Al-Mahdi as ditengah-tengah kita dengan merealisasikan aspek yang ketiga, yaitu Keinginan dan kerinduan masyarakat dipimpin oleh pemimpin Ilahi.
Semoga kita semua mampu menggiring masyarakat menuju kerinduan dan kecintaan dipimpin oleh pemimpin Ilah
(oleh : Abu Syirin Al-hasan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed