by

Jalaluddin Rakhmat : Sifat Basyariyyah Rasulullah saw

Sekarang saya memegang buku berjudul Pada Saat Itu Menangislah Nabi saw . Buku ini ditulis oleh Abu Abdurrahman. Ia pernah menulis buku sebelumnya yang berjudul Pada Saat Itu Tersenyumlah Nabi . Anak-anak SMA Plus Muthahhari pernah mencoba menerjemahkan buku itu. Sedangkan buku yang sekarang ini bercerita tentang peristiwa-peristiwa yang menyebabkan Nabi menangis. Apa saja yang menyebabkan beliau menangis?
Pada keadaan apa Rasulullah menangis? Pada peristiwa apa? Buku sebelumnya juga memuat hadits-hadits yang mengumpulkan peristiwa-peristiwa ketika Rasulullah tersenyum. Apa yang menyebabkan beliau tersenyum? Pada keadaan apa tersenyum? Dan untuk apa tersenyum?
Tersenyum, menangis, makan, minum adalah perbuatan-perbuatan yang di dalam fiqih disebut dengan perbuatan basyariyah, artinya perbuatan Rasulullah sebagai manusia biasa. Dan yang begitu itu—katanya—tidak wajib dicontoh. Misalnya, kalau Rasulullah batuk, kita tidak usah mencontoh batuk beliau.
Sekiranya Rasulullah batuk tiga kali setelah takbiratul ihram karena beliau flu, kita tidak boleh batuk tiga kali setelah takbiratul ihram, apakah kita sedang flu atau tidak. Jadi ini sifat-sifat basyariyyah Rasulullah. Rasulullah makan. Ketika kita makan kita tidak menjalankan sunnah Nabi karena Nabi manusia biasa dan kita manusia biasa, dalam pengertian fisik.
Jadi makan dan minum kita itu tidak mencontoh Nabi saw. Ini adalah hal-hal yang bersifat basyariyyah . Tetapi, sifat-sifat basyariyyah ini berubah menjadi sunnah yang harus ditiru kalau kita membicarakan ‘bagaimana’-nya. Misalnya makan dan minum itu perbuatan biasa saja. Tetapi ia menjadi sunnah bila Nabi menjelaskan cara dan bagaimana beliau makan.
Suatu saat orang menemukan Nabi tengah duduk di lantai dan beliau bersabda, “Aku makan seperti makannya budak belian, dan aku duduk seperti duduknya budak belian”. Nabi ingin menjelaskan salah satu sunnah Nabi untuk makan dengan posisi seperti masyarakat yang dianggap paling rendah. Seakan-akan Nabi ingin mengajarkan kepada kita untuk makan yang sederhana seperti orang-orang kecil dan duduk seperti duduknya orang-orang kecil. Cara makan berubah menjadi sunnah.
Menangis, tersenyum atau tertawa Nabi itu perbuatan manusia biasa. Tetapi itu bisa berubah menjadi lebih dari perbuatan biasa kalau di dalam tangisan dan tawa Nabi itu ada pelajaran yang berharga bagi kita. Bukan menangisnya tetapi cara menangisnya. Termasuk juga ketika Rasulullah marah. Amarah Nabi menjadi sunnah yang harus ditiru dengan mempertimbangkan alasan yang mengakibatkan amarah Nabi.
Suatu saat ada seorang sahabat Nabi, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash. Dia adalah salah satu sahabat Nabi yang waktu itu mampu menulis dan membaca. Jadi ketika Nabi berbicara, dia membuat catatan-catatan. Yang lain hanya mengandalkan ingatannya saja. Tapi Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash menuliskannya.
Abu Hurairah—yang paling banyak meriwayatkan hadits dalam kitab Ahlus Sunnah—pernah berkata ketika banyak orang mengkritik dia, “Aku memang banyak meriwayatkan hadits karena aku tidak punya kerjaan. Muhajirin dan Anshar sibuk di pasar mereka. Aku tidak memikirkan dunia. Aku hanya kalah oleh Abdulah bin ‘Amr bin ‘Al-Ash karena dia mencatatnya sementara aku mengingatnya.”
Waktu Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash menulis hadits Nabi, dia ditegur oleh penguasa-penguasa Quraisy yang sudah masuk Islam juga. “Mengapa kamu menuliskan hadits-hadits Nabi? Karena beliau itu kadang-kadang marah, kadang-kadang ridha Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash berhenti menulis. Itu larangan menuliskan hadits yang pertama kalinya dilakukan oleh sahabat Nabi.
Kelak saat Nabi meninggal dunia, bahkan sebelum Nabi meninggal dunia, ada sahabat yang melarang orang menuliskan hadits. Yang pertama kali dilarang adalah Nabi Saw sendiri. Bayangkan Nabi Saw sendiri dilarang oleh sahabatnya untuk menuliskan hadits. Kita harus tambahkan hal ini dalam Delapan Keajaiban Dunia Di Masa Lalu . Di samping taman gantung Babilonia, keajaiban dunia yang lain adalah larangan sahabat untuk menuliskan hadits Nabinya.
Karena ketakutan, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash berhenti menuliskan hadits. Dia datang menemui Rasulullah Saw. Dia menceritakan mengapa dia tidak menuliskan hadits lagi. Kata Nabi, “Tulislah haditsku ini karena tidak pernah keluar dari mulut ini baik dalam keadaan marah atau rido kecuali kebenaran.” Jadi memang Rasulullah juga pernah marah.
Dalam buku Letting Go of Anger: The Ten Most Common Anger Styles. Buku ini tentang tipe-tipe amarah manusia, . Di antaranya ada tipe orang-orang yang tidak mau marah, menghindari marah, tidak pernah marah sama sekali dan lain sebagainya. Sifat-sifat itu ternyata merupakan sejenis gejala orang yang mengalami gangguan kejiwaan.
Jadi orang yang tidak pernah marah sama sekali dan menghindari marah sebetulnya adalah orang-orang yang ketakutan kalau marah dia akan mendapatkan resiko yang tidak enak. Bila marah selalu ditahan, lama-lama ia menggelegar jadi penyakit. Insya Allah, ia bisa meninggal dengan cepat.
Selain itu ada juga tipe orang yang menjadikan amarahnya sebagai kebiasaan. Jadi setiap pulang ke rumah dia marah. Hal-hal yang kecil saja mudah menyulut amarahnya. Itu juga merupakan gangguan kejiwaan. Orang seperti ini biasanya marah untuk menunjukkan kekuasaan dia. Kemarahan itulah yang dilarang oleh Rasulullah Saw.
 
sumber : misykat.net/

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed