by

Tiga Tahap Keterpeliharaan Ilmu Nabi Menurut Al-Qur'an

Al-Qur’an mendokumentasikan keterpeliharaan amalan ilmu Nabi saw dalam senarai ayat-ayatnya. Yaitu, Rasulullah saw mencerap ilmu melalui wahyu, kemudian menjaganya dengan benar dan menyampaikannya tanpa penambahan dan pengurangan. Al-Qur’an menguraikan tahapan-tahapan ini.
Ayat pertama, Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar telah diberi Al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha bijaksana, maha mengetahui, “(Qs. an-Naml: 6). “Dari Bisi Allah” (ladunillah), artinya dari sisi yang tidak mengenal lupa, lalai, dan alpa. Tidak ada tempat untuk setan. Sumber itu tidak terhijab, karena hijab kadang-kadang mengecoh manusia.
Dalam proses penerimaan wahyu (taraaqi, menaik) benar-benar diterima dari sumber yang bcnar. Demikian juga saat hams menyampaikanya (tanazzul, turun). Ruhul amin (Jibril as) turun kepada hatimu; Ruhul amin singgah pada hati sucinya. Malaikat itu amin (terpercaya).
Ia disemati sifat “amin”karena tidak lupa, lalai, atau alpa menyampaikan pesan kepada Rasul saw, “Di dalam kitaa-kitab yang dimuliakan (di sisi Allan). Yang ditinggalkan (dan) disucikan. Di tangan para utusan (malaikat) yang mulia lagi berbakti, yang tidak menyentuhnya kecuali yang telah disucikan. ” (Qs. Abasa: 13-16).
Dalam tahapan kedua, Allah Swt berujar kepada Rasul saw bahwa ketika engkau telah memahami wahyu dengan benar, maka peliharalah pemahaman yang benar tersebut, “Kami akan membacakan (al-Qaran) kepadamu (Mubammad) sehingga engkau tidak akan lupa, kecuali jika Allah menghendaki Sungguh dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi,”(QS al-A’la: 6-7).
Maksudnya, kecuali jika Allah menghendaki, bukan berarti Allah mungkin tidak menghendaldnya, lalu Muhammad pun bisa lupa. Frase itu untuk mencgaskan bahwa Muhammad pasti tidak akan lupa, yang bisa melupakannya hanya Allah saja, seperti dalam surah Hud ayat 107, “Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi kecuali jika Tuhanmu menghendaki . ”Artinya,Tuhan menghendaki mereka kekal di dalamnya.
Tahapan ketiga, yaitu pcnyampaian materi. Dalam mcnyampaikan pesan Rasululullah saw terjaga dari kesalahan dan kealpaan. Allah berkata, “Dia mangetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlibatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesunggubnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.” (Qs. al-Jin: 26-27)
Wahyu dari Allah Swt sampai pada Nabi saw dengan penjagaan para malaikat, merentang keterjagaan itu dari sumbernya, hingga sampai ke hati Rasul saw. Setiap langkah kata dan perilaku beliau benar-benar terpelihara dari kesalahan.
Tugas Rasul saw hanyalah menyampaikan saja. Adapun umatnya memiliki kebebasan mutlak untuk melaksanakan, mengabaikan, mengubah, atau menafsirkan pesan tersebut. Namun kesakralan wahyu tetap terpelihara sekalipun sebagian umat berusaha menyelewengkannya.
Oleh : Jawad Amuli dalam Buku Nabi saw dalam Al-Qur’an

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed