by

Bebasnya Aleppo,Buktikan Tidak Ada Konflik Sektarian Sunni-Syiah

Kebenaran pasti akan terungkap dan sejarah akan menunjukkannya. Isu permusuhan Sunni-Syiah dan pembantaian syiah atas sunni di Suriah semakin terbukti bahwa itu adalah fitnah belaka untuk memecah belah umat.
Seiring dengan kembalinya kontrol Aleppo ke tangan pemerintah Suriah, setelah lima tahun dikuasai oleh kelompok-kelompok teroris, mesin-mesin propaganda Imperium bereaksi dengan kalap. Secara serempak mereka memproduksi dan menyebarkan berita yang menggambarkan bahwa tentara Suriah melakukan pembantaian massal di kota itu.
Para pejabat Barat dan PBB mengeluarkan pernyataan mendiskreditkan pemerintah Suriah. Beberapa aktivis media sosial yang selama ini memang sudah punya rekam jejak menjadi provokator konflik Suriah, menjadi pelaku utamanya, dan kemudian disiarkan ulang oleh media-media mainstream.
Sekali ini bukan konflik sektarian Sunni-Syiah.  Kisah mengenai tentara Suriah dan kekajaman Presiden Bashar al-Assad yang membantai rakyatnya sendiri dan kisah perang sektarian Sunni-Syiah dibantah oleh Dubes Indonesia untuk Suriah sendiri.
Di tengah-tengah sulitnya mendapatkan informasi yang berimbang, media nasional merdeka.com menyajikan pemberitaan bertentangan dengan arus utama. Merdeka.com Senin, 19 Desember 2016, melaporkan apa yang terjadi di Suriah bukanlah perang sektarian sebagaimana yang selama ini dipropagandakan. Inilah yang dituliskan merdeka.com:
Sorotan dunia internasional kini tengah mengarah ke Kota Aleppo, Suriah. Pekan lalu media-media internasional memberitakan kegembiraan warga sipil di Aleppo setelah kota tempat mereka tinggal dibebaskan dari kepungan para pemberontak.
Militer Suriah dibantu Rusia membombardir kawasan Aleppo timur yang selama ini menjadi daerah kekuasaan pemberontak. Hasilnya, wilayah itu kini berhasil dikuasai tentara dan para pemberontak menyerah.
Bersamaan dengan itu media-media arus utama Barat memberitakan kekejaman tentara Suriah terhadap warga sipil di Aleppo.
Seperti diungkap dari situs Global Research, akhir tahun lalu, Amerika Serikat menginginkan pergantian rezim di Suriah sebagai agenda besar mereka di Timur Tengah. Sejak 2014 AS menyatakan terlibat dalam perang melawan teroris di Irak dan Suriah. Beberapa tahun sebelumnya AS sudah mendukung kelompok oposisi bersenjata yang ingin menggulingkan rezim Basyar al-Assad. Negara Adikuasa itu beralasan mereka ingin melindungi rakyat sipil dari kekejaman rezim pemerintah Suriah.
AS merangkul Arab Saudi sebagai sekutu untuk menggunakan isu sektarian dengan maksud membuat adu domba antara kelompok muslim Sunni dan Syiah guna mencapai tujuan di Timur Tengah, termasuk di Aleppo, Suriah.
Sesungguhnya Syiah-Sunni itu sesama saudara muslim. Masalahnya bukanlah soal perbedaan Sunni-Syiah tapi ada pihak yang membuat Sunni-Syiah itu bermusuhan karena perbedaan.
Secara garis besar, warga Suriah juga terdiri dari beragam etnis dan penganut agama. Dikutip dari laman Truthdig.com, sebanyak 14 persen adalah penganut Syiah Alawit, 7 persen Kristen, 3 persen Druze, 1 persen Ismaili, 10 persen Kurdi, 30 persen Sunni Arab Sekuler dan 34, 5 persen Sunni Arab taat.
Amerika mendanai dan mempersenjatai apa yang mereka sebut teroris moderat alias Tentara Pembebasan Suriah (FSA) sebagai upaya perlawanan terhadap rezim yang berdaulat. AS mengajak Saudi, Qatar, Israel, Turki untuk mendanai dan memasok senjata kepada kelompok pemberontak buat menggulingkan Assad yang menganut paham Syiah Alawit.
Dari catatan sejarah, sejumlah pentolan ISIS yang ingin mendirikan kekhalifahan di Irak dan Suriah pernah ditahan dalam penjara AS. Militan asal Afganistan yang merekrut jihadis untuk ISIS, Abdul Rahim Muslim Dost, pernah mendekam tiga tahun di penjara Guantanamo.
Pemimpin ISIS Ibrahim al-Badri alias Abu Bakar al-Baghdadi pernah ditahan selama satu-dua tahun di Kamp Bucca di Irak. Ketika Baghdadi dibebaskan pada 2006, pemerintahan Bush di AS mengumumkan rencana pembentukan “Timur Tengah Baru”. Agenda yang memasukkan adu domba sektarian Syiah-Sunni sebagai bagian dari proses menuju pembentukan Timur Tengah Baru.
Pada 2012 intelijen AS melaporkan dua fakta penting tentang konflik di Suriah. Pertama, para pemberontak di Suriah berasal dari kelompok Al Qaidah dan kedua, isu sektarian yang dikampanyekan oleh para pemberontak itu sesuai dengan kepentingan AS dan sekutunya.
Pada 2013 AS secara terbuka mengakui melatih dan mempersenjatai para pemberontak yang kemudian juga termasuk Jabhat Nusra dan ISIS.
Pemberontak FSA yang didukung AS misalnya, berperang bersama ISIS melawan pasukan Suriah selama beberapa bulan pada 2013 untuk merebut pangkalan udara Menagh dekat Aleppo. Salah satu komandan ISIS dalam operasi itu adalah warga Chechnya Abu Umar al Shisani, sosok yang pernah menerima pelatihan militer dari AS sebagai bagian dari pasukan elit Georgia pada 2006. Dia terus mendapat dukungan dari AS pada 2013 lewat FSA.
Bukti dukungan AS terhadap ISIS itulah yang membuat Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mikdad mengatakan perang AS melawan ISIS hanyalah kosmetik belaka. Teorinya AS menyerang ISIS tapi di lapangan justru membantu dan melindungi. Tujuan sebenarnya Negeri Paman Sam dan sekutunya adalah menjatuhkan rezim Assad lewat tangan kelompok pemberontak dan ekstremis macam ISIS dan Jabhat Nusra. Strategi itu dilakukan dengan menyebar isu konflik sektarian Sunni-Syiah.
Ketika Rusia memutuskan terlibat dalam konflik Suriah pada September tahun lalu mereka menyokong militer Suriah dengan bantuan serangan udara. Sasaran Rusia adalah kelompok oposisi dan pemberontak, termasuk ISIS. Hal itu menjelaskan mengapa AS terbukti menolak kerja sama dengan Rusia membantu militer Suriah memerangi kelompok militan ISIS. Kalau memang mereka ingin menumpas ISIS, mengapa tidak bekerja sama dengan Rusia dan militer Suriah menghabisi kelompok militan itu?
Mereka yang menganggap perang di Suriah adalah konflik Syiah-Sunni sebaiknya berpikir lagi. AS sudah sejak lama merencanakan pergantian rezim di Timur Tengah, bekerja sama dengan Saudi menggunakan isu sektarian.
 
Sumber : Merdeka.com, satuislam.org, nu.or.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed