by

Dr. Hussein Abu Saud : Strategi Menutup Jarak Antara Suni-Syiah

Dr. Hussein Abu Saud adalah seorang aktivis pendekatan muslim suni dan Syiah serta salah seorang pendiri Forum Persatuan Islam di London. Ia adalah warga Irak yang tinggal di Inggris, dan baru-baru ini menjawab pertanyaan dari Islam Online tentang hubungan suni-Syiah.
Dalam pandangan Anda, apa yang dibutuhkan untuk mencapai persatuan, atau setidaknya pendekatan antara suni dan Syiah? Apa saja penghambat yang ada?
Pertama, kita harus mengakui bahwa benar ada sebuah konflik antara Syiah dan suni. Namun, konflik ini sebenarnya nyata atau tidak? Kami sengaja mengajukan pertanyaan ini tanpa memberikan sebuah jawaban.
Persatuan umat muslim secara sempurna memang tidak mungkin, namun ada tujuan penting bagi umat muslim yang menjalankan perintah Allah: “Sesungguhnya ini adalah agama kalian semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah aku.” Di sisi lain, pendekatan adalah hal yang mungkin, sebagai sebuah kewajiban suci bagi seluruh umat muslim, tua-muda, pria dan wanita dalam rangka memenuhi sebuah kewajiban.
Keyakinan tulus dalam Agama Sejati (Islam) adalah hal pertama  yang dibutuhkan; percaya bahwa Islam yang menyatukan kita semua di bawah bendera ini. Setelah itu, kewajiban (tersisa) yang harus dilakukan begitu banyak.
Ulama diwajibkan untuk membuka persamaan mendasar secara benar untuk pendekatan, sementara orang awam diwajibkan untuk menerima persamaan mendasar itu dengan tujuan baik. Di sisi lain, pemerintah diminta untuk melindungi dan mendukung usaha pendekatan.
Poin-poin tersebut butuh perluasan lebih lanjut yang mungkin dibahas dalam tulisan terpisah yang akan dipublikasikan nantinya, insya Allah. Mengenai hal ini, kita tidak boleh melupakan peran pemerintah karena kekuatan dan kekuasaan ada di tangan mereka. Diriwayatkan dari Khalifah Ketiga, Utsman bin Affan ra. bahwa ia berkata, “Sungguh, Allah menjaga Sultan (penguasa) yang tidak menghalangi Quran.”
Sedangkan penghalang di dalam pendekatan antara mazhab Islam—khususnya dua mazhab besar (suni dan Syiah)—ada banyak, dan yang terpenting adalah sebuah kekuatan tersembunyi pihak ketiga yang berencana dan mengatur cobaan dengan dana mereka. Kekuatan ini telah menjaga api keretakan selama ribuan tahun.
Mereka terus membuat rencana rahasia dengan tujuan menjaga apa konflik berkobar ribuan tahun berikutnya. Umat diharuskan untuk mendiagnosa dan mengenali kekuatan ini dengan tujuan menghindari bahaya dan pengaruhnya.
Penghalang serius lainnya adalah keberadaan kelompok dari dua pihak yang mengambil sebuah posisi ekstrim, baik sadar ataupun tidak. Mereka berdiri bagaikan batu penghalang di jalan seluruh usaha pendekatan. Sementara pendekatan adalah sebuah tugas besar, sumber-sumber yang tersedia begitu langka.
Dan tidak peduli seberapa jauh jarak perbedaan melebar, kalamullah berdering dengan jelas dan bergema di telinga “Berpeganglah kalian semua dengan Tali (Agama) Allah, dan jangan berpecah di antara kalian.”
Apa pendapat Anda tentang isu ekspansi Syiah di negara mayoritas suni? Apakah dakwah mazhab Syiah di negara mayoritas suni adalah salah satu prioritas mazhab Syiah?
Meskipun kata itu (ekspansi) terdiri dari beberapa huruf, tapi memiliki dampak, konsekuensi, dan bahaya yang jelas. Di sini, kata tersebut digunakan dengan tujuan meninggikan perbedaan, sebagaimana semua orang tahu bahwa tidak ada “ekspansi” atau penyebaran Syiah. Justru, ada beberapa kasus atas pemahaman terhadap mazhab lain, yakni kasus suni menjadi Syiah seimbang dengan kasus Syiah menjadi suni.
Ini merupakan hal yang sama dengan orang Kristen kembali kepada Islam atau satu-dua orang yang meninggalkan Islam, sebagaimana hal ini adalah kasus individu yang tidak meningkatkan level fenomena ekspansi dan oleh karena itu jangan membenarkan hal yang dilebih-lebihkan.
Sebagai tambahan, mereka yang berbicara tentang “ekspansi” ini di depan umum dan siapa yang memperingatkan bahaya ini berasal dari kelompok ekstrimis, yang sudah saya katakan di atas ada di antara semua mazhab, dan hal yang dilebih-lebihkan itu adalah elemen utama dalam program dan tujuan kelompok ini.
Lagi pula, jika ada seruan kepada mazhab Syiah, hal itu bersamaan dengan seruan kepada mazhab suni melalui situs Paltalk dan Youtube, penerbitan dan pembicaraan publik. Dakwah (seruan Islam) harus (bertujuan) untuk Islam dan bukan mazhab. Karenanya hampir bisa pastikan bahwa tidak ada prioritas bagi Syiah berkenaan dakwah bagi mazhab Syiah [begitu juga sebaliknya]. Tapi pintu terbuka bagi siapa saja yang ingin berkenalan dengan mazhab dan mempelajari tentang keyakinan.
Jadi siapapun yang jarinya lebih dekat kepada kita untuk berkenalan dan mendekat, kita akan mendapatkan tangan yang lebih dekat kepadanya, karena Allah Swt. berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.”
Dalam konteks ini, secara pribadi saya berharap kita menggunakan istilah “menjembatani” daripada “ekspansi”. Saya juga akan mengatakan bahwa masalah terletak pada kesalahpahaman sejarah, yakni ekstrimisme dan kelalaian kedua pihak. Kita juga harus mengakui bahwa kita belum memahami keluarga Nabi dan sahabat dalam cara yang tepat yang mengarah pada kekerabatan, kasih sayang, pengertian dan kedekatan.
Bagaimana Anda memandang realitas dan masa depan Dakwah Islam di luar negara muslim, khususnya di Barat?
Pertama, kita harus akui bahwa pada dasarnya Barat telah siap menerima dakwah Islam, khususnya setelah mereka menyadari betapa peradaban materialis kosong dari nilai dan kebenaran. Namun sayangnya, umat muslim pindah ke Barat tanpa membawa agama mereka (Islam).
Justru mereka membawa perbedaan ideologi mereka, mazhab, keyakinan dan kepercayaan. Bukannya memanfaatkan keadaan toleransi yang ada di sana, beberapa dari mereka terjebak dalam lumpur sektarianisme. Meski kita tahu bahwa dakwah bagi Islam diharuskan, dibutuhkan dan diwajibkan, tapi tidak bagi dakwah untuk mazhab.
Saya juga percaya bahwa seruan kepada Islam di negara Barat tidak berada pada level yang dibutuhkan, dan cendikiawan muslim yang tinggal di Barat harus mengangkat wacana Islam yang mempersatukan dan memanfaatkannya dalam Dakwah Islam.
Oleh karena itu, saya menyerukan pembangunan masjid muslim pertama di Eropa yang didasari pada agama Islam sejati dan bukan mazhab, dan masjid seperti itulah sepenuhnya didedikasikan untuk beribadah kepada Allah Swt., dan bukan untuk penyebaran mazhab. Kemudian, setiap muslim—terlepas dari hubungan ideologinya—dapat dengan bebas memasuki masjid itu dan melakukan praktik agamanya.
Perlu dicatat bahwa ketika saya mengatakan “masjid muslim pertama”, saya sungguh-sungguh, karena masjid yang dibangun di Eropa adalah masjid Suni atau masjid Syiah. Jadi ini adalah seruan untuk memeluk Islam dan menolak perpecahan, sektarianisme dan pengelompokan.
Apakah penerapan prinsip kewarganegaraan memberikan solusi di negara Suni minoritas Syiah dan negara Syiah minoritas Suni?
Kewarganegaraan, sebagaimana yang kita tahu, merupakan ide baru yang diperkenalkan penjajah dan tidak dikenal pada masa lampau sebagaimana pengertian saat ini. Tanah air digunakan dalam arti konvensional sebagai tempat kelahiran seseorang dan tempat di mana ia dibesarkan, bisa berarti desa atau kota. Seiring berjalannya waktu, gagasan ini berubah menjadi de facto yang harus diakui, dan masyarakat memperoleh kewarganegaraan yang kuat dan cinta mendalam pada tanah yang sudah ada, meski dibuat-buat, dibatas.
Di sisi lain, prinsip kewarganegaraan sudah dilaksanakan secara luas (oleh Syiah) dan jika seorang individu atau kelompok individu memiliki kesetiaan pada selain negara mereka akan menjadi pengecualian bukan aturan umum. Dalam konteks ini, kita melihat misalnya bagaimana Syiah Kuwait berjuang mempertahankan negara mereka dari serangan rezim Irak dulu.
Juga kalau kita tanya Syiah dari Qatif, misalnya, tentang kesetiannya, kita akan tahu tidak berkurangnya kesetiaan mereka bagi tanah air daripada saudara Suni mereka. Masalah ini dibangkitkan oleh almarhum Muhammad Mahdi Shamsuddin, Presiden Dewan Tertinggi Islam Syiah Lebanon, yang menyatakan dengan jelas:
“Saya mendesak bahwa Syiah di setiap negara mereka menghindari panji-panji ‘hak-hak mazhab’ dan menuntut kuota dalam sistem (politik). Saya juga menasihati mereka dengan tegas bahwa tak satupun dari mereka harus berusaha untuk mendirikan sistem khusus bagi Syiah di negara mereka bersama sistem masyarakat umum, baik bidang politik, ekonomi atau pembangunan. Saya anjurkan mereka untuk bergabung (integrasi) ke dalam sistem publik dan sistem nasional secara umum, dan setara sebagaimana mereka patuh pada sistem yang dihormati publik, hukum dan pihak berwenang. Saya juga ulangi rekomendasi bahwa mereka seharusnya tidak melakukan konfrontasi politik atau keamanan dengan rezim manapun.”
Apa yang bisa muslim arif, di antara suni dan Syiah, lakukan untuk menurunkan fanatisme rakyat awam yang saling melawan? Kegiatan seperti apa yang Anda lakukan di Forum Persatuan Islam London untuk mencapai tujuan?
Suara pemikiran terdengar kecil dan rendah di hadapan banjirnya perdebatan yang mendominasi arena publik, mengetahui hal ini Allah berfirman, “Tapi kebanyakan dari mereka membenci kebenaran”. Di samping itu, orang-orang bijak dari kedua pihak bekerja dan terus bekerja untuk mengkomunikasikan suara mereka kepada masyarakat umum untuk memberi tahu mereka bahwa apa yang telah terjadi selama ribuan tahun tidak ada hubungannya dengan agama atau akal, dan karena itu fanatisme adalah sifat keji dan terkutuk.
Mereka juga bekerja untuk menyampaikan bahwa pekerjaan ini tidak mudah, menghadapi pihak yang menghancurkan dalam satu menit apa yang reformis bangun selama ini. Sebagai contoh pihak bermusuhan ini adalah saluran TV satelit yang menjadi giat selama bulan Ramadan untuk menyebarkan racun perpecahan antara pengikut dua mazhab.
Forum Persatuan Islam di Inggris telah mengadakan beberapa konferensi yang dihadiri perwakilan banyak negara muslim. Tujuan konferensi ini secara umum tercapai dan peserta diundang ke pusat Islam suni dan Syiah di London, di mana mereka diterima dengan bersahabat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat telah sadar bahaya perpecahan dan manfaat persatuan.
Ini juga tambahan bagi seminar dan dialog televisi di mana para anggota berpartisipasi. Selain itu, forum memiliki proyek masa depan, termasuk menerbitkan majalah bulanan dan situs serta mengadakan konferensi persatuan di negara muslim lain, bergantung sumber daya yang tersedia.
Saya kemudian berpikir kalau kita berkumpul sepuluh orang dari dua mazhab dan membiarkan mereka salat berjemaah di depan umum, maka akan menjadi kemenangan. Akan menjadi suara gemilang dihadapan suara putus asa dan kekesalan.
Kita juga ingin mengatakan kepada masyarakat: “Wahai manusia, sesungguhnya (agama tauhid) adalah agama kamu semua agama yang satu; berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah (misalnya Quran) dan janganlah kamu bercerai berai yang menyebabkan kalian kehilangan keteguhan dan keberanian, dan bangsa lain bersama-sama melemahkan kalian.”
Mufti Sur—di Lebanon—Syekh Ali al-Amin, menyarankan dalam wawancara dengan kolega kami Madarek di portal Islam Online, agar bekerja sama dalam pendirian lembaga bersama di mana pihak suni dan Syiah melakukan studi bersama, sebagai salah satu mekanisme bagi pendekataan mazhab suni dan Syiah, dan Beirut direkomendasikan menjadi lokasi pertama bagi lembaga ini. Apa Anda pikir lembaga seperti itu dapat membantu proses pendekatan yang dibutuhkan?
Apa yang disarankan oleh yang terhormat Syekh Ali al-Amin, Mufti Sur, tentang pendirian lembaga bersama adalah baik dan saran berharga yang telah disuarakan oleh banyak orang. Namun, saran ini butuh kejelasan dan studi pemikiran yang cermat, mengingat Beirut dapat menjadi tempat yang tepat, karena memenuhi syarat baik karena lokasi maupun populasi.
Gagasan seperti itu dapat membantu tapi juga bisa meningkatkan alienasi (antara kedua mazhab), karena tidak setiap ide berakhir baik. Tapi juga setiap pekerjaan yang membawa kepentingan dan kesejahteraan umat diberkati dan penting, sebagaimana firman Allah Swt: “Dan katakanlah (wahai Muhammad): ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…’”
Apa pendapat Anda tentang prinsip Wilayatul Faqih (kepemimpinan ahli hukum agama) yang dibangun oleh Imam Khomeini di Iran? Apakah penerapan prinsip ini menjadi suatu hambatan bagi jalan pendekatan antara Suni dan Syiah?
Saya secara pribadi tidak melihat hubungan logis apapun antara Wilayatul Faqih dan pendekatan suni-Syiah. Selain itu, Wilayatul Faqih adalah isu kontroversial di antara Syiah sendiri. Meskipun ulama Najaf mungkin percaya dengan Wilayatul Faqih, mereka tidak melihat keberhasilan itu di Irak, misalnya, karena keadaan dan realitas yang berbeda, dan kemudian mereka tidak menuntut penerapannya.
Namun, sistem Wilayatul Faqih telah berhasil di Iran dan terus bekerja sejak lembaga Republik Islam melalui persetujuan semua pihak. Selain itu, kepemimpinan para ahli hukum [fakih] di mata masyarakat lebih baik daripada kepemimpinan orang-orang bodoh; saya maksud orang yang memikirkan diri sendiri dan mendominasi orang lain.
Selain itu, jika seseorang beda pendapat dari kepemimpinan fakih, yang diharuskan orang yang saleh, berkomitmen dan bersungguh-sungguh, apa yang akan ia katakan misalnya tentang presiden Arab dan negara muslim sekarang?
Selain itu, fakih selalu mengajarkan nilai-nilai dan kebenaran, dan kepemimpinannya adalah sesuatu yang harus ditakuti! Kami belum pernah mendengar setiap orang suni Iran hampir dirugikan karena Wilayatul Faqih dengan cara apapun. Singkatnya, Wilayatul Faqih adalah sebuah sistem yang tidak berhubungan dengan pendekatan, dan jika ini mempunyai pengaruh, maka mau tidak mau berdampak positif.
Beberapa geo-politikus menyatakan bahwa Syiah memiliki pandangan wahyu tentang dunia yang diwakili dengan kemunculan al-Mahdi al-Muntazhar, yang dengan ini perlunya mempersiapkan skema dunia untuk kemunculannya (menurut beberapa riwayat), dan hal ini berpotensi mempengaruhi politik internasional… Apa pendapat Anda tentang analisis ini? Kita sekarang hidup dalam masa kritis karena konspirasi yang bertujuan melawan umat muslim.
Al-Mahdawiah adalah konsep bersama Islam yang melibatkan riwayat luas dari kedua pihak, dan tidak terbatas hanya pada Syiah. Jadi, seseorang yang memikirkan masalah ini mendapati bahwa mereka akan beruntung pada akhir waktu, yaitu akhir dunia. Gagasan ini bertemu dengan doktrin Kristiani tentang Saviour (Juru Selamat).
Namun, percaya pada konsep ini, yang adalah murni masalah gaib, tidak harus berarti keikutsertaan Iran dalam konfrontasi skala besar melawan kekuataan lain. Selain, apa yang mengasumsikan Iran mempersiapkan militer, bersama dengan pengembangan program nuklirnya, tidak ada hubungannya dengan gagasan kembalinya Imam Mahdi. Sebuah persiapan yang keluar dari fakta bahwa Iran adalah sebuah negara penting, meski tidak digolongkan sebagai salah satu adidaya.
Di sini, perlu dicatat bahwa Iran pendukung penyebab Ahlussunah wal Jemaah (mereka yang mengikuti sunah dan tubuh utama muslim), lebih dari yang dilakukan kelompok lain. Selain itu, Iran tidak lagi menjadi negara Syiah dari perspektif sempit sektarian daerah. Sebaliknya sebagaimana yang dinyatakan oleh Almarhum Imam Khomeini, sebuah negara Islam.
Apa saja prioritas lain yang menurut Anda harus mendapat perhatian lebih sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman dan pemulihan hubungan antara Syiah dan suni di tingkat Dunia Arab dan Islam?
Sekarang kita hidup di saat yang sangat kritis, karena konspirasi sedang dipanaskan melawan umat muslim dari kekuatan seluruh dunia, dan kita harus mempercepat langkah pemahaman dan pendekatan antara dua mazhab muslim.
Hal ini dapat dicapai melalui kelompok dengan mekanisme dan prioritas, termasuk pertukaran kunjungan antara ulama dari dua kelompok, bergabung dalam ibadah bersama dihadapan media massa, menunjuk pemerintah dan universitas dan menyerukan pada mereka untuk turut serta dalam kampanye pendekatan, menghindari penulisan dalam isu kontroversial, menghancurkan terbitan yang mengundang perpecahan, menghindari pencemaran dari tokoh simbol kedua belah pihak.
Selain itu, saluran satelit resmi di negara muslim harus menyiapkan beberapa waktu untuk diskusi bersama yang dilakukan oleh ulama yang memperjuangkan pendekatan dari dua pihak dengan tujuan untuk membuat gagasan yang jelas bagi mentalitas masyarakat awam, menyebarkan budaya pendekatan di antara muslim dan memusatkan ide hidup berdampingan.
Mengenai ide hidup berdampingan ini, Imam Muhammad Al-Baqir mengatakan, “Kesejahteraan rakyat bergantung pada hidup berdampingan.” Di samping itu, Allah Azza wa Jalla berfirman, “.. Janganlah kamu bercerai berai yang menyebabkan kalian kehilangan keteguhan dan keberanian, dan bangsa lain bersama-sama melemahkan kalian.”
Sebagai kesimpulan, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Anda, memohon kepada Allah yang Mahakuasa, untuk menyatukan umat agar menjadi “umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar” (QS. 3: 110).
Saya ucapkan terima kasih kepada Islam On-Line atas wawancara ini dan saya menghargai usaha yang diberikan situs Anda untuk pendekatan antar-mazhab untuk menjamin masa depan yang lebih baik bagi umat muslim di manapun, jauh dari argumen busuk yang menghabiskan waktu, uang dan tenaga.
Sumber : ejajufri.wordpress.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed