by

Syi'ah Menolak Segala Bentuk Penyimpangan Al-Quran

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, Syi’ah mengingkari segala bentuk perubahan dan penyimpangan dalam al-Quran dan sepakat bahwa al-Quran yang saat ini berada dalam kewenangan kaum Muslimin, tak lain adalah al- Quran yang telah diturunkan oleh Allah Swt kepada rasul- Nya, yaitu
bahwa al-Quran yang ada saat ini adalah sempurna.
Kendati demikian, sebagian dari mereka yang tidak mempunyai pengenalan mendalam terhadap Tasyayyu’, dan tidak mempunyai interaksi dekat dengan masyarakat Syi’ah, mengklaim bahwa para Syi’ah percaya terjadinya penyimpangan dalam al-Quran dan bahwa sebagian dari bagian-bagian al-Quran telah terhapus.
Sumber tuduhan ini tak lain adalah karena adanya beberapa hadis dalam majemuk hadis-hadis Syi’ah yang menganggap terjadinya penyimpangan dalam al-Quran.
Akan tetapi, pada hakikatnya adalah bahwa mayoritas ulama Syi’ah dan masyarakat umum, tak satupun yang memiliki akidah seperti ini. Tuduhan ini sedemikian anehnya sehingga tidak menuntut pembahasan yang serius dan biasanya setiap kali persoalan ini diketengahkan, akan muncul perdebatan dan permusuhan.
Di manapun di dunia Islam, tak ada seorangpun yang pernah menemukan atau melihat lembaran dari al-Quran yang berbeda dengan lembaran-lembaran al-Quran yang biasanya ada. Lembaran-lembaran kuno dengan tulisan tangan yang berkaitan dengan masa para Imam Syi’ah yang saat ini bisa terjangkau, sepenuhnya sesuai dengan al-Quran yang ada saat ini.
Di antara lembaran-lembaran Quran kuno bisa ditemukan di museum-museum Iran, Pakistan, Irak dan di seluruh negara lainnya, salah satu yang bisa dikatakan sebagai lembaran-lembaran bersejarah sangat berharga mengenai al-Quran, terdapat di museum al-Quran di provinsi Quds di kota Masyhad.
Di museum ini terdapat lembaran- lembaran dari al-Quran yang ditulis di atas sebuah kulit rusa. Sebagian dari lembaran-lembaran ini berumur lebih dari seribu tahun, dan berkaitan dengan Imam Ali as, Imam Sajjad As, atau seluruh para Imam atau para ulama kuno.
Tak ada seorangpun yang pernah mengklaim bahwa kalimat-kalimat al-Quran yang terdapat pada lembaran-lembaran ini atau seluruh lembaran-lembaran kuno lainnya berbeda dengan kitab al-Quran yang ada saat ini.
Al-Quran al-Karim sendiri secara eksplisit menjelaskan bahwa Allah Swt akan menjaganya dari segala perubahan dan penyimpangan, sebagaimana firman-Nya dalam salah satu ayat-Nya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al- Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al-Hijr [15]: 9)
Allamah Sayyid Muhammad Husein Thabathabai dalam Tafsir al-Mîzân mengenai ayat ini berkata demikian: “… al-Quran merupakan dzikir dan pengingat yang hidup dan abadi yang tak akan pernah mati atau dilupakan. Al-Quran terlepas dari segala penambahan dan pengurangan. Al-Quran juga terbebas dari segala perubahan bentuk yang memberikan pengaruh pada peran dan karekteristiknya sebagai pengingat Allah, peletak dan landasan makrifat dan hakikat Ilahi. Dengan inilah, maka ayat
di atas mengimplikasikan masalah bahwa kitab Ilahi senantiasa terbebas dari segala perubahan dan penyimpangan.”
Selanjutnya kita akan mengkaji berbagai pendapat dan penjelasan-penjelasan dari para ulama Syi’ah yang berkaitan dengan masalah ini.
Setelah itu, karena dalil yang digunakan untuk menuduh Syi’ah dalam penerimaan penyimpangan al-Quran adalah keberadaan beberapa hadis palsu yang terdapat di sebagian literatur Syi’ah, maka kita juga akan membahas sebagian dari dimensi-dimensi metode Syi’ah dalam mengkaji hadis, supaya menjadi jelas bagaimana sikap Syi’ah terhadap hadis-hadis secara umum dan hadis-hadis ini secara khusus.
Penting untuk mengingatkan bahwa hadis-hadis ini atau bahkan yang lebih tegas dari ini juga terdapat dalam literaturliteratur non-Syi’ah. Akan tetapi, Syi’ah tidak pernah menuduh Ahlusunnah mempunyai akidah terhadap penyimpangan al-Quran.
Pada prinsipnya untuk menisbatkan sebuah akidah tertentu kepada sebuah kelompok atau mazhab harus dengan melihat pendapat dan penjelasan-penjelasan yang diutarakan oleh para marja’ atau pembesar kelompok atau mazhab tersebut, bukan dengan menyebutkan masalah- masalah yang lemah dan tersebar yang mungkin juga terdapat pada sebagian kitab-kitab mereka sendiri, akan tetapi mereka sendiri pun tidak menerimanya atau mengintepretasikannya dalam bentuk
yang berbeda.
 
oleh : Muhammad Ali Shomali di buku “Cakrawala Syiah”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed