by

Pandangan Imam Ali Khamenei : Peran Media Sosial dan Jejaring Internet

Rahbar dalam pertemuannya dengan Para Guru,Ustadz dan Budayawan pada Tahun 1391 Syamsi tepatnya 11 Oktober 2012 beliau berkata,
اگر من امروز رهبر انقلاب نبودم،رئیس فضای مجازی کشور میشدم!
“Kalau sekarang saya tidak menjadi pemimpin Revolusi Islam iran, Saya pasti akan memilih menjadi pemimpin Media Sosial dan Internet.”
Rahbar Menambahkan,
“ Sekarang Komputer, Laptop, Handphone, Ilmu Jurnalistik dan segala hal yang bisa menghubungkan anda sekalian dengan Media Sosial dan Internet, maka kuasailah hal tersebut dan menulislah dengan kata-kata anda, yang mana kata-kata anda itu bisa sampai kepada jutaan masyarakat yang anda sendiri tidak mengenal mereka, namun pesan anda tersampaikan.
Ini adalah kesempatan yang sangat luar biasa yang tidak boleh kita semua sia-siakan. Jika kita sampai kehilangan kesempatan berharga ini, maka kelak orang-orang seperti saya dan anda pada hari kiamat akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah swt.”
Perkataan Rahbar ini menjelaskan kedahsyatan Media Sosial dan jaringan Internet dalam menggiring opini Masyarakat, atau bahkan menjadi alat pengalihan isu agar masyarakat lupa dengan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai manusia. Masih ada dibenak kita bagaimana fenomena “ Om Telolet Om” yang awalnya terjadi di daerah terpencil jawa tengah, bisa meledak hingga menembus dunia Internasional adalah bukti keampuhan Media Sosial dan jejaringan Internet dizaman sekarang ini.
Perkataan Wali Faqih ini meliputi orang-orang yang memiliki potensi dan kemampuan untuk masuk keranah medsos dan jejaring Internet, bahkan bagi orang-orang yang tidak memiliki potensipun sebisanya memanfaatkan kesempatan berharga ini dalam rangka menjelaskan kebenaran dan merajut persatuan.
Untuk menekankan pentingnya peran diranah ini, Rahbar mengatakan jika Ia tidak menjadi Pemimpin Revolusi, Pasti akan menjadi pemimpin dunia Cyber sebagai alat satu-satunya dalam menggiring opini publik yang sederhana, namun memiliki muatan yang luar biasa.
Kita bisa menggiring opini masyarakat kearah yang benar, tentunya kita harus ingat, segala hal yang kita tulis dan ketik memiliki pertanggung jawaban besar kelak dihari Kiamat.
Ayatullah Husein Yekta berkata,
“ Perkataan Rahbar ini sangat tegas dan lugas menjelaskan kepada kita untuk ikut andil dalam program penggiringan opini masyarakat kearah pencerahan. Ya, karena musuh sebagai pembuat jejaring Internet dan Media sosial memiliki program besar untuk menguasai perasaan dan pemikiran masyarakat kita.
Setiap dari mereka, memiliki data valid satu-persatu tentang kita dan masyarkat kita yang berjumlah 70 juta jiwa.”
Kita ketahui Masyarakat Indonesia sekarang minimal mereka memiliki Handphone berbasis Android, IOS dan Windows Phone, serta satu persatu dari mereka pasti memiliki Jejaring sosial dan Media Telekomunikasi online seperti: BBM, Whatsapp, Telegram dan media lainnya. Begitu juga dengan Media Sosial seperti: Facebook, tweeter, Instagram dan lainnya. Bisa kita bayangkan masyarakat Indonesia yang berjumlah kira-kira 250 juta jiwa, jika kita anggap 50 % dari mereka aktif didunia media sosial, maka berapa jumlah akun yang masuk ketangan kaum Imprealis dan kapitalis dalam rangka menggiring opini mereka?
Disinilah peran kita semua, apakah kita akan ikut arus mereka ataukah melawan arus mereka?
Beberapa orang berpendapat, jangan terlalu berlebihan ini hanya dunia maya, namun yang harus kita ketahui berapa banyak kejahatan dan kebaikan yang terjadi akibat dari dunia maya yang dipandang remeh ini?
Ya, seandainya empat tahun yang lalu kita semua aktif diranah jejaring sosial dan website sesuai pesan Rahbar, mungkin setidaknya kita tidak separah seperti sekarang ini, bahkan pada hari inipun masyarakat dan kaum Intelek kita masih “ Mencibir” peran dunia maya.
Ketika saya analisa, bagaimana peran penting Internet dan jejaring sosial ketika Facebook booming pada tahun 2008-2009, semua masyarakat Indonesia memiliki gambaran Syiah sebagai aliran sesat dan menyesatkan yang harus dilenyapkan dari bum
i Nusantara.
Asyura dan Arbain dilarang dan didemo, dikarenakan mereka memahami Syiah dari Internet seperti website dan jejaring sosial sebagai aliran yang membahayakan. Padahal jika kita menilik ke tahun sebelumnya, dimana masyarakat awwam belum disuguhi media sosial dan alat komunikasi online, gerakan Ahlul bayt dan peringatan-peringatan Ahlul bayt dengan lancar dan aman bisa dilaksanakan.
Kenapa sebelum “Booming Facebook” aman-aman saja, (Kisaran 2007 kebawah) sedangkan setelah booming Facebook masyarakat memiliki gambaran negatif terkait Syiah serentak seluruh Indonesia?
Karena pada tahun 2007 kebawah, masyarakat tidak terlalu mengetahui Internet dan media sosial, hanya sebagian kecil masyarakat menengah yang mengetahui Internet dan aktif di Mailing List dalam berdiskusi. Artinya masyarakat secara keseluruhan, belum memiliki gambaran terkait Syiah, sehingga pada zaman itu Yayasan dan Organisasi dengan mudah bisa menyelenggarakan aktifitas-aktifitas keagamaan.
Namun setelah meledaknya dunia Internet dan Media sosial ke seluruh lapisan masyarakat, orang-orang yang meneriakan teknologi sebagai “Bid’ah kubra,” paling terdepan dalam menyebarkan akidah mereka dan terdepan dalam menyesatkan akidah-akidah selain mereka, sehingga masyarakat yang sedang dimabuk cinta media sosial ketika itu, memiliki gambaran terkait ajaran dan akidah sesat, terkhusus menggambarkan ajaran Mazhab Ahlul-bayt sebagai ajaran sesat-menyesatkan.
Logika sederhananya, jika kita jauh-jauh hari memanfaatkan kemajuan teknologi ini sebagai perantara mencerahkan masyarakat dari kebodohan dan fanatik keagamaan, maka mungkin hasilnya akan lebih dari sekarang ini. Zaman media cetak saja, masyarakat tercerahkan dan berbondong-bondong membeli buku-buku Syahid Muthahari, Ali Syariati, Syarafudin Musawi, Tijani samawi dan tokoh-tokoh intelektual lainnya. Saking gandrungnya, penerbitan menjamur dimana-mana dengan diskon-diskon fantastis.
Namun ketika masuk kebabak New Media “Digital Devices” yang hanya membutuhkan sentuhan jari, kita seakan lalai dan malas dalam memaksimalkan kesempatan emas ini, sehingga kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh untuk menyerang dan menghancurkan kita.
Akhir kata, tidak ada kata terlambat untuk kita semua dalam memainkan peran kita semaksimal mungkin didunia maya ini, jika bisa menulis, menulislah! Jika hanya bisa men- Share, maka Sharelah! Setiap gerakan dan kesempatan yang kita lakukan memiliki pahala yang sangat besar dan sebaliknya, jika kita acuh dan meremehkan peran yang dianggap penting bahkan oleh Rahbar, maka kelak harus menjelaskan sikap tersebut dipengadilan Allah swt.
 
oleh : Abu Syirin Al Hasan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed