by

Ketika Imam Ridha as Menyatukan Dua Hati

Syeikh Muhsin Qiraati di depan Penziarah Imam Ridha as berceramah. Disela-sela ceramahnya, beliau bercerita tentang kasih sayang Ahlul-bayt as kepada kita sangatlah besar melebihi yang kita pikirkan dan Bayangkan. Beliau bercerita tentang Dua Insan yang dipertemukan dengan cinta Imam Ridha as.
Suatu hari Hidup seorang saudagar kaya Teheran yang bisnisnya meliputi Iran dan luar Iran. Ia memiliki seorang anak laki-laki tunggal yang sudah cukup usia untuk menikah. Saudagar kaya ini, selain ia seorang Milioner, adalah seorang pecinta Ahlul-Bayt yang taat dan shaleh.
Ia berkata kepada anaknya, “ Wahai anaku! Engkau sudah cukup usia untuk menikah. Maukah engkau ayah carikan seorang gadis untuk menikah denganmu?” Anak itu menjawab, “ Tidak ayah, aku tidak mau menikah dengan Gadis Iran, aku ingin menikahi Gadis luar negeri saja.” Jawab anak tersebut.
Saudagar itu berkata kepada anaknya, “Wahai anaku! Gadis luar memiliki akhlak, budaya,agama dan adat yang berbeda dengan kita, untuk apa engkau mengambil gadis luar negeri, seakan gadis Pribumi kurang layak untukmu.”
“Bukan, bukan masalah itu, hanya ingin saja menikahi selain gadis Iran, Jawab anaknya.”
Saudagar ini memiliki seorang teman di Masyhad Imam Ridha as, kebetulan temannya ini adalah Khadim Imam Ridha as yang memiliki kunci Makam Imam Ridha as, sehingga kapanpun bisa ziarah langsung didalam Zarih Imam Ridha as.
Ketika Makam Imam Ridha as akan dibersihkan, ( Didalam Zarih biasanya ada ritual pembersihan makam) saudagar tersebut dihubungi temannya untuk bisa masuk kedalam Zarih membersihkan makam Imam Ridha as. Tentu saja kesempatan langka ini langsung diambil oleh Saudagar kaya tersebut dan akhirnya ia terbang ke Masyhad bersama Putra tunggalnya.
Suatu hari disudut kota Masyhad terdapat rumah kecil nan sederhana dipenuhi dengan lantunan ayat suci Al-Quran. Seorang tua renta setiap dini hari keluar untuk menunaikan kewajibannya sebagai tukang sapu jalanan. (street sweeper) pekerjaan yang sudah digelutinya sekian tahun itu dengan tawakal dan sabar ia jalani tanpa mengeluh, walaupun terkadang sedih juga hingga saat ini putri kesayangannya belum menikah.
Gadis putri Penyapu jalanan itu sangat tahu kesedihan sang ayah, itu terlihat dalam gurat wajah ayahnya yang selalu tersenyum kepadanya namun mengeluarkan aura kesedihan. Iapun ikut sedih. Umurnya sudah mulai berumur untuk menikah, namun tidak ada satupun yang melamar dirinya karena Ia tahu ayahnya seorang miskin penyapu jalanan sehingga tidak ada satupun yang mau untuk menikah dengan gadis miskin seperti dirinya.
Gadis itu hanya mengeluh kepada Imam Ridha as setiap ia ziarah kemakam Imam kedelapan Ahlul-Bayt tersebut. Ketika suatu hari ia berziarah, Ia menyelipkan secarik kertas kecil disela-sela Zarih Imam Ridha as. Gadis itu berkata, “ Wahai Imam Ridha Aghistni…Aghistni… Setelah mengadu kepada Imam Ridha as kemudian Ia pergi.
Saudagar kaya dan putranya tiba dibandara Masyhad dan langsung memesan Hotel bintang lima untuk Istirahat. Sahabatnya menelepon bahwa ritual pembersihan Makam Imam Ridha as akan dilaksanakan. Tanpa berfikir panjang Saudagar dan putranya langsung bergegas menuju Makam Imam Ridha as untuk ikut serta “ngalap berkah” dalam ritual pembersihan Makam Imam Ridha as.
Ritual Pembersihan akhirnya dilaksanakan dengan Syahdu dan Saudagar kaya itu meminta kepada Sahabatnya untuk mengambilkan Debu-debu yang menempel disekitar Zarih untuk dijadikan “Tabarukan.”
Ketika debu-debu itu sedang dibersihkan, dari sela-sela Zarih terjatuh secarik kertas yang membuat Saudagar kaya itu takjub lalu mengambilnya dan menyerahkan kepada putranya.
“Wahai Putraku Ambilah debu-debu ini dan secarik kertas penuh debu ini sebagai berkah dari Imam terasing Ali bin Musa Al-Ridha As.” Putra tersebut kemudian mengambil debu tersebut dan mencium secarik kertas tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Imam Ridha as kemudian menyimpan disakunya.”
Saudagar kaya tersebut seraya menghadap kepada Imam Ridha as berkata, “ Wahai Imamku! Maulaku! Aku bertawasul kepadamu untuk melunakan hati putraku agar Ia menikah dengan seorang shalehah dari pecintamu, bukan seorang gadis Luar negeri yang tidak tahu asal-usulnya.” Setelah selesai berdoa, ia dan putranya kembali ke Teheran.
Setelah kembali ke Teheran, Putra saudagar itu merogoh sakunya dan mengambil secarik kertas kecil tersebut dan membacanya, tertulis: “ Wahai Imam Ridha as! Aku adalah seorang anak gadis Penyapu jalanan, Umurku sudah sangat cukup untuk menikah, namun tidak ada satupun pria yang mau melamarku karena Ayahku Faqir miskin dan hanya seorang penyapu jalanan ditengah malam yang kelam. Sampai detik ini aku tidak pernah bermaksiat dan melakukan dosa, untuk itu wahai Maulaku tolonglah aku!….”
Ketika ia membaca secarik kertas itu, tiba-tiba hatinya berdegup kencang tanpa ada sebab dan memiliki keinginan kuat untuk bertemu dengan gadis tersebut atas kuasa Allah swt. Namun ia mulai bertanya kepada dirinya, Apakah ayahnya yang saudagar kaya terkenal di Ibukota akan mengizinkan Ia menikah dengan Gadis “ tukang Sapu??”
Wahai Ayah! Gadis ini anak siapa? Aku akan menikahinya. Ayahnya berkata, “ Yakin engkau akan menikahinya?? Engkau belum melihat fisik dan wajahnya, Karakter dan sifatnya wahai anaku?” Aku yakin akan detak jantungku yang berdegub kencang ini tanpa keraguan sedikitpun.” Dengan heran ayahnya bertanya kembali, “ Wahai anaku! Ia anak dari seorang Sapu jalanan, engkau yakin akan menikahinya? Iya, jawab tenang putranya.
Saudagar ini sangat gembira bahwa anaknya akan menikah dengan Gadis Iran, bukan gadis luar negeri. Akhirnya keduanya kembali ke Masyhad dan melewati perantara Dinas Kebersihan Masyhad, Akhirnya mereka menemukan alamat Gadis anak dari penyapu jalan tersebut.
Mereka akhirnya datang ke sudut kota Masyhad dengan Mobil mewah dan mengetuk rumah sederhana Tukang sapu tersebut. Setelah membuka pintu, Tukang sapu tersebut kaget dan bertanya, “ Ada keperluan apa anda kemari Tuan? Mungkin kalian salah alamat.” Ketika akan menutup pintu rumahnya, Putra saudagar kaya tersebut langsung menahan pintu dan berkata, “ Maaf! Engkau Bapak Fulan bin fulan? Iya betul, Jawab tukang sapu tersebut. Putra saudagar kembali bertanya, “ Benar bahwa anda memiliki seorang Putri?” Betul, saya memiliki seorang putri, jawab tukang sapu.”
Kemudian anak saudagar kaya itu berkata, “ Bisa tidak saya masuk bertamu ke rumah anda?” Owh…Iya Silahkan tuan, dengan terheran-heran.” Tukang sapu kembali bertanya, “ Maaf, darimana anda mengenal putri saya atau siapa yang mengutus anda berdua kerumah saya?” Tanya heran tukang sapu.
Siapa yang mengutus kami? ” Insya Allah nanti kami akan jelaskan. Jawab Sang Anak Saudagar.” Owh…Maaf! Mungkin kalian datang dari salah satu stasion televisi dan ingin membuat film diwilayah kami? Tanya polos orang tua tersebut. Tidak! Kami bukan dari Stasion televisi atau darimanapun, jawab pemuda tersebut.”
Gadis tukang sapu heran dengan kejadian langka tersebut, akhirnya Ia lewat sebentar untuk melihat siapa tamu ayahnya tersebut. Lewat si gadis tersebut, tidak luput dari pandangan si anak saudagar kaya dan berkata kepada ayahnya tanpa ragu, “ Wahai Ayah! Saya menginginkan gadis tersebut.” Ayahnya yang tadi tidak melihat kejadian sekilas tadi, mengingatkan putranya bahwa engkau belum mengetahui betul gadis tersebut, akhlaknya, sifatnya, karakternya dan lain sebagainya. Namun Anak tersebut sangat yakin dengan kemantapan hatinya dan berkata kepada ayahnya, saya tetap akan menikahi anak gadis dari Bapak ini, apapun caranya.
Akhirnya Tukang sapu tersebut kembali kedalam rumah dan mengatakan kepada Anak gadisnya, bahwa Anak dan Ayah diruang tamu itu ingin melamarmu. Tentu saja Gadis itu terkejut bukan main, gerangan apa sehingga membawa saudagar kaya dan anaknya datang kerumahnya untuk melamar dirinya. Setelah melihat pancaran mata si Anak saudagar kaya tersebut, akhirnya gadis tersebut menerima pinangan mereka.
Setelah melakukan proses pernikahan, gadis tukang sapu itu masih takjub dan bertanya-tanya dalam hatinya kepada suami didepan dirinya itu. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya kepada suaminya:
“ Wahai Suamiku, katakanlah kebenarannya atas nama Allah swt, benarkah engkau menginginkanku? Tanya gadis itu.” Demi Allah swt saya menginginkanmu dari hati yang paling dalam. Jawab Suaminya.”
Lalu bagaimana caranya anda bisa datang kerumah saya dan melamar saya tanpa keraguan sedikitpun? Tanya heran Istrinya. Suaminya merogoh sakunya dan berkata, “ Secarik kertas inilah yang menyebabkan semua ini.” Istrinya itu dengan kaget mengambil secarik kertas tersebut dan bertanya dengan heran, “ Engkau masuk kedalam Zarih wahai Suamiku?
Karena aku masukan kertas ini kedalam Zarih Imam Ridha as yang tidak mungkin bisa dijangkau oleh penziarah. Suaminya hanya mengangguk tenang dan berkata, “ Imam Ridha as yang telah menikahkan kita dan menyatukan hati kita duhai istriku, untuk itu malam mini, mari kita bersama-sama berziarah kemakam Imam Ridha as sebagai ungkapan terima kasih kita kepada beliau yang telah mempertemukan dan menyatukan kita.”
Syeikh Muhsin Qiraati dalam isak tangisnya tetap melanjutkan kisahnya dan berkata, “ Wahai Hadirin sekalian! Jika engkau memahami cinta Ahlul Bayt yang sangat besar kepada kita semua, tentu kita akan malu selalu melalaikan dan melupakan mereka.”
Imam Zaman berkata, “ Saya seratus kali berdoa untuk kalian!! namun apa balasan kita, selain melupakan beliau dalam kesendirian dan keterasingan?
Ya Shahiba Zaman Adrikna Bihaqqi Imam Rauf Ali bin Musa Al-Ridha as.
 
Oleh : Abu Syirin Al-Hasan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed