by

Kisah Seorang Hindu yang Menjadi Pecinta Al-Husein as

Ustadz Burujerdi dimalam 27 Muharram bercerita, “ Saya mendengar langsung dari Ulama-ulama Karbala bahwa suatu hari di Karbala terdapat seorang dari India yang bernama Hakim. Ketika itu mereka tidak tahu sebab datangnya orang India tersebut ke Karbala.
Pada saat itu Karbala kedatangan Ulama-ulama besar dari Ahlu Sunnah yang datang ke Karbala untuk melakukan diskusi Madzhab, kebetulan diskusi tersebut dilakukan dirumah Hakim Hindi. Hakim berkata, “ Saya dulu adalah seorang Hindu yang sekarang menjadi Islam serta memilih Mazhab Ahlul bayt, dari pertama saya datang ke Karbala, saya tidak pernah bercerita tentang sebab saya menjadi Pecinta Ahlul bayt dan bermukim di Karbala, namun karena saya merasa ajal saya sudah dekat, saya ingin bercerita kepada kalian asal muasal saya dan mengapa saya berada di tengah-tengah kalian.
Saya seorang Hindu yang hidup didekat Kasymir dan India, disana agama dan mazhab sangat banyak, diantaranya: Yahudi, Nashrani, Budha ,Hindu dan Islam. Diwilayah saya terdapat orang-orang pecinta Ahlul bayt yang ketika menjelang Muharram, mereka selalu mengadakan acara duka untuk imam mereka dan selalu meminta sumbangan bagi yang mau berpartisipasi dalam acara tersebut.
Saya terkenal dengan orang dermawan dikota saya, dan saya selalu memberikan bantuan dan makanan kepada mereka ketika Muharram tiba, saya memberikan bantuan ke mereka bukan karena pengetahuan, melainkan karena saya terkenal dermawan, jika saya tidak memberikan bantuan, maka mereka, khususnya kelompok Islam ini akan mengatakan saya seorang yang bakhil.
Saya adalah saudagar kaya yang selalu berpergian dari kota satu ke kota yang lain, ketika itu saya berangkat dari Kasymir menuju Mumbai dengan membawa barang dagangan. Setiap saya berada di Mumbai, saya selalu tidur ditempat nenek jompo yang selalu memberikan tumpangan kepada para Musafir, ketika barang dagangan laku, saya membayar segala pengeluaran dirumah nenek tersebut ditahun yang akan datang ketika saya kembali ke kota Mumbai.
Tahun itu saya kembali ke Mumbai dan membayar segala pengeluaran saya ke nenek jompo tersebut dan bersiap kembali ke kasymir, namun ketika saya menaiki Kapal laut, ketika itu pemberangkatan ditunda karena kapal sedang dalam perbaikan, karena kembali ke nenek jompo memerlukan biaya tambahan, saya berniat untuk tidur saja di kapal hingga kapal siap diberangkatkan.
Ketika saya tertidur, saya bermimpi didatangi seseorang dan mengatakan kepadaku bahwa Sayidul Anbiya ingin bertemu denganmu. Saya bertanya, “ Sayidul Anbiya siapa? “ beliau menjawab, Muhammad ibn Abdullah saww penutup dan pemimpin para nabi, beliau ingin bertemu denganmu.”
Owh..dia Nabi kaum Muslimin, sedangkan saya seorang Hindu saya tidak memiliki urusan dengan nabinya Kaum Muslimin.
Namun ia terus-terusan memaksa, hingga saya mengabulkannya. Ketika saya bertemu, saya melihat seorang yang agung terpancar dari dirinya, cahaya yang menerangi seluruh alam, didampingi dua pemuda agung yang berdiri disamping kiri dan kanannya.
Ketika itu, hati saya bergetar hebat melihat keagungan dan kewibawaan ketiga orang tersebut, akhirnya orang tersebut bertanya kepada saya, “ Apakah kamu tahu mengapa saya mendatangkan anda disini?” Aku menjawab, “ Aku tidak tahu tuanku.” Aku ingin memberikan hadiah besar kepadamu yang menjadi hakmu, karena engkau telah membantu para pecintaku di kotamu dengan memberikan bantuan untuk peringatan kesyahidan putraku Al-Husein as.”
Aku menjawab, “ Aku tidak meyakini kalian sama sekali, dan apapun yang saya berikan hanyalah bantuan ala-kadarnya karena aku terkenal sebagai saudagar dan terkenal dengan kedermawanan, bantuanku tidak lebih hanyalah bantuan terhadap sesama kemanusiaan.”
Orang tersebut yang tidak lain adalah Rasulullah saw berkata, “ Kebaikanmu terhadap para Syiahku dan untuk terlaksana peringatan Syahadah Putraku Al-Husein as tetap harus aku bayar, namun jika engkau mau balasan dariku, syarat pertama adalah ke-Islamanmu, selama engkau tidak menjadi muslim, maka engkau tidak akan mendapatkan hadiah dariku, dan jika engkau benar-benar ingin menjadi muslim, maka muslimlah dalam kelompok putraku Al-Husein as karena Islam sekarang terpecah menjadi beberapa golongan.”
Akhirnya aku mengabulkan permintaan beliau dan langsung mengikrarkan Syahadatain yang langsung dibimbing oleh Rasulullah saww.”
Kemudian setelah itu beliau berkata, “ Sekarang pejamkan matamu, kemudian aku pejamkan dan beliau berkata, bukalah matamu, ketika aku buka aku mendapati diriku ditempat besar dan aku bertanya, “ tempat apakah ini?” beliau menjawab, “ Ini tempat putra-putra Al-Husein as yang pertama adalah Musa ibn Jakfar as dan Muhammad ibn Musa as.
Ziarahlah kepada kedua putra Al-Husein as dan setelah itu pejamkan lagi kedua matamu.” Kemudian aku pejamkan dan beliau berkata sekarang bukalah matamu, setelah aku buka, aku mendapati diriku ditempat lain, kemudian aku bertanya, “ dimanakah ini wahai Maulaku? Beliau berkata, “ ini adalah Samara dan tempat dikuburkan pula putra-putra Al- Husein as, berziarahlah dan kembali tutup matamu.”
Kemudian setelah beliau memerintahkan membuka mataku, aku mendapati diriku ditempat yang indah, kemudian bertanya, “ dimanakah ini?” Beliau menjawab, “ ini adalah pusara Ali ibn Musa Al-Ridha as dari keturunan Al-Husein as.” Setelah aku berziarah, aku menutup mataku kembali, dan ketika aku buka, aku mendapati ditempat lain kemudian aku bertanya, “ disini pusara siapa lagi? “
Kemudian beliau berkata, “ Disini adalah tempat disemayamkan putraku Al-Husein yang bernama Karbala. “ Setelah aku ziarah, aku mendapati tempat lain kemudian aku bertanya, “ Pusara siapa didepan pusara putramu itu?” beliau menjawab, “ Itu adalah pusara saudara Al-Husein as Abul Fadhl Abbas.”
Setelah satu persatu saya berziarah, kemudian saya sadar bahwa dihadapan saya adalah Rasulullah saww dan disamping kanannya adalah Imam Husein as, kemudian aku terkejut dan terbangun kemudian menangis sejadi-jadinya.
Kemudian aku kembali dari kapal menuju rumah Nenek jompo tersebut dan menceritakan mimpi ajaib tersebut. Si nenek sangat senang dan takjub mendengar cerita tersebut dan berkata, “ Sesungguhnya aku masih keturunan Al-Husein as, namun saya menyembunyikan hal tersebut karena tahu engkau adalah seorang Hindu.”
Setelah aku tenang, aku bergegas ingin kembali meng-ikrarkan Syahadat ke-Islamanku, kemudian aku keluar dan melihat masjid jami besar, namun hatiku tidak ingin menuju ke masjid tersebut, dan aku melihat masjid kecil disekitar rumah, justru aku merasakan dorongan besar menuju Masjid kecil tersebut.”
Kemudian aku datang ke Masjid kecil tersebut dan langsung mengutarakan maksud kedatanganku dan kenapa hatiku menuju ke Masjid kecil ini, dan tidak menuju Masjid besar itu. Imam Masjid berkata, “ Sesungguhnya Imam husein as yang menggerakan hatimu ke Masjid kecil ini, karena Masjid besar itu adalah kepunyaan Ahlu Sunnah wal Jamaah saudara kita.”
Setelah aku menjadi Muslim, aku menitipkan seluruh harta daganganku untuk dikembalikan kepada sanak keluargaku di Kasymir karena aku ingin pergi menuju Karbala Imam Husein as dan berniat bermukim disana.
Sampai detik ini saya bersama kalian di Kota suci Karbala, itulah kisahku mengapa aku menjadi pecinta Ahlul- bayt dan menetap dikota Karbala serta berkhidmat untuk para penziarah Imam Husein as.
Ya Aba Abdillah dengan linangan air mata dan tersayatnya hati, engkau merahmati orang yang sama sekali tidak meyakinimu, tidak mengenalmu dan tidak beragama datukmu, namun dikarenakan mengeluarkan beberapa harta untuk acara peringatanmu tanpa ikhlas untukmu, engkau begitu memerhatikannya dan membalasnya dengan guyuran rahmat dan kasih sayang.
Oh..Maulaku Aba Abdillah….lalu bagaimana dengan para pecintamu dan Syiahmu dengan kecintaan dan kerinduan membaktikan seluruh hartanya untukmu dan untuk para penziarahmu sepanjang jalan menuju pusaramu…..
Allahumarzuqna Syafaatal Husein as Yaumal Wurud….
Ya Aba Abdillah Isyfa lana Indallah….
(Diambil dari ceramah Ustadz Burujerdi di malam 27 Muharram)
 
Ditulis oleh Abu Syirin Al-hasan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed