by

Siapa Syahid Mihrab Sayid Qadhi Thabathabai ?

29 Muharram atau 10 Aban (31 Oktober) adalah hari dimana Ayatullah dan Pejuang besar asal Tabriz Ayatullah Sayid Qadhi Thabathabai meneguk cawan Syahadah.
Beliau adalah Ulama sekaligus Mujahid besar pada zaman Imam Khomeini. Keagungan beliau dan ayahnya sebagai Ulama Mujahid yang membela hak-hak kaum Mustadhafin dikawasan Tabriz mendapatkan ancaman keras Raja Iran ketika itu Reza Khan Pahlevi, sehingga Sayid Qadhi beberapa kali diasingkan ke kota Tehran dan Masyhad oleh pemerintahan setempat.
Keilmuan Sayid Qadhi
Beliau adalah salah satu Murid khusus Ayatullah Hujjat ( Pendiri Hauzah Hujjatiyah) dan Ayatullah Sayid Muhammad Ridha Ghulpeghani. Beliau juga adalah Murid kesayangan Imam Khomeini.
Untuk mendapatkan derajat Ijtihad, beliau berangkat ke kota Najaf dan belajar kepada Ulama-ulama tersohor Najaf seperti: Sayid Muhsin Hakim, Sayid Abul Qasim Khui dan Muhammad Husein Kasyiful Ghita. Setelah mencapai derajat Ijtihad, beliau kembali ke kotaTabriz untuk menyebarkan Ilmu-ilmu Ahlul Bait dan berjuang menegakan keadilan melawan para antek-antek Kapitalis.
Sekembali ke Tabriz dan melakukan gerakan politik sebelum Revolusi membuat Riza Khan Pahlevi panas dan tidak bisa tidur. Untuk itu beberapa kali beliau diasingkan ke Tehran, Masyhad, Irak, Kerman,Zanjan dan Azarbeijan sebagai bukti bahwa teriakan beliau sangat berpengaruh dan mengguncangkan sendi-sendi kerajaan keluarga Pahlevi.
Setelah Revolusi Iran pada tahun 1979 diledakan oleh Imam Khomeini, Sayid Qadhi dipulangkan ke kota asalnya Tabriz sebagai Wakil Wali faqih untuk kawasan Azarbeijan dan kota Tabriz. Beliau juga Imam Jumat pertama yang ditunjuk Imam Khomeini untuk kawasan Tabriz.
Makar Mujahidin Khalq dan Kelompok Furqan
Setelah Revolusi Islam Iran 1979 tidak serta merta Iran aman dari ancaman external dan Internal. Salah satunya tebentuknya Mujahidin Khalq dan Kelompok Furqan dikawasan Timur Azarbeijan.
6bulan pasca Revolusi, Sayid Qadhi dikejutkan oleh Syahidnya Murtadha Muthahari oleh kelompok sempalan yang mereka namai “Furqan”. Syahadah Muthahari menyebabkan kesedihan tak terkira sehingga beliau selalu berdoa, “Andaikan saya mendapatkan hadiah kesyahidan seperti sahabatku Murtadha Muthahari.”
Syahadah Sayid Qadhi
Tidak berselang doa beliau, Ketika Sayid sedang menuju Masjid Sya’ban untuk menunaikan Shalat Maghrib dan Isya beliau ditembak oleh anggota kelompok Furqan seraya berkata, “ Aku sudah membunuh Khomeini kedua” seperti disaksikan oleh Ajudannya Husein Muhammad Parvan.
Kesedihan Imam Khomeini
Ketika Imam Khomeini mendengar kesyahidan Murtadha Muthahari murid terbaiknya beliau begitu sedih, tidak berselang lama beliau dikejutkan dengan Syahidnya Ulama Mujahid Sayid Qadhi Thabathabai menyebabkan beliau terdiam kaku begitu lama dan mengucapkan Innalillah beberapa kali seraya mengalirkan airmata.
Kemudian Imam Khomeini mengumumkan kepada Masyarakat berita Syahadah Imam Jumat Tabriz, Wakil Wali Faqih Azarbeijan dan Tabriz Ayatullah Syahid Mihrab Iran Sayid Qadhi Thabathabai yang mana perjuangan beliau selalu dikenang setiap 10 Aban atau sekarang bertepatan dengan 31 Oktober.
Ulama saja tidak ditakuti oleh Musuh-musuh Islam seperti Liberalisme dan Kapitalisme, namun Ulama Mujahid yang mengedepankan keadilan untuk Masyarakat tertindas, Menulis karya Ilmiah dan kitab untuk menjawab Syubahat serta segala bentuk aktifitas yang menghancurkan Hegemoni barat, sangat ditakuti dan dikhawatirkan musuh-musuh Islam.
Ulama Mujahid sekaligus Habib adalah senjata ampuh untuk Tabligh Islam Muhammadi, Masyarakat akan menghormatinya dari segala sisi tidak hanya dari Nasabnya yang kembali kepada Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as, melainkan keilmuan, kewaraan dan kewibawaannya yang memancarkan cahaya Hasyimi.
Orang-orang seperti Sayid Qadhi tidak menjual “kehabibannya” untuk menggerakan Masyarakat, melainkan mengayomi, membela, melindungi hak-hak Masyarakat dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Berjuang dengan darah dan pena hanya untuk melindungi masyarakat dari pemikiran dan gerakan sesat yang disampaikan kaum Imprealis, sosialis, komunis, kapitalis dan Liberalis, bukan menjadi kepanjangan tangan mereka.
Habib atau Sayid tidak hanya gelar keistimewaan yang diakui Rabithah Alawiyah saja, melainkan memiliki Taklif, tugas dan tanggung jawab yang diemban sebagai pemikul darah Muhammadi, darah Fatimi, darah Alawi,darah Hasani, darah Huseini dan Darah Zainabi yang seharusnya ditularkan kepada masyarakat agar masyarakat terbimbing kearah kesempurnaan Ilahiah.
Masyarakat Iran sangat menghormati Sayid karena mereka langsung bersentuhan dengan Sayid Qadhi, Sayid Ruhullah Musawi Khomeini, Sayid Ali Khamenei dan sayid-sayid lainnya yang mengutamakan keadilan dan kemurnian agama datuknya.
Sejarah Alawi Indonesia yang berasal dari keturunan Sayid Faqih Muqaddam, seharusnya mengetahui sejarah beliau mengapa mematahkan pedang untuk menghentikan peperangan yang berkelanjutan,serta memilih Taqiyah untuk kelangsungan keturunan Alawi hingga saat ini.
Inilah hikmah Karbalaisme dan Huseinisme harus ada disepanjang Tahun dan zaman, darah keadilan yang tertumpah harus dihidupkan oleh kita yang mengaku Pengikutnya, khususnya kaum Alawi Hasani dan Huseini hingga sampai hari dijanjikan Dhuhurnya Shahibul ashr wa Zaman Imam Al-Muntadzar Al-Mahdi as arwahuna lahul fida.
 
oleh : Abu Syirin Al-Hasan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed