by

Kitab Isiftaat Nuh Maraji : Batasan-Batasan Ghibah

Adakah batasan-batasan Ghibah yang diperbolehkan, bahkan diwajibkan seiring fenomena yang terjadi belakangan ini ?
Hukum Fiqih mengharamkan Ghibah kecuali dibolehkan di beberapa hal:

  1. Ghaibah Mutajahir bil Fishq yaitu menggunjing pelaku maksiat yang terang-terangan dan sudah terkenal didalam kemaksiatannya di sebuah masyarakat tertentu. Adapun maksiat sembunyi-sembunyi para Fuqaha berbeda pendapat. Jika yang dilakukan sembunyi-sembunyi itu berdampak luas pada kerusakan sosial, maka diperbolehkan untuk menggunjingnya.
  2. Pelaku Kedzaliman yang mengambil hak-hak orang lain.
  3. Ketika ingin Musyawarah. Seperti seseorang ingin menikahkan putrinya, maka sang wali memiliki hak untuk mendengar sifat dan karakter calon menantunya.
  4. Ketika melakukan nasihat untuk kebaikan dimasa yang akan datang. Seperti: Seseorang berteman dengan orang Fasiq dan kita menasihatinya bahwa orang tersebut adalah pendosa dan pelaku maksiat.
  5. Ketika seseorang ingin menghancurkan sendi-sendi Agama dan Akidah.
  6. Seseorang yang memiliki tulisan yang menyesatkan dan meracuni pemikiran masyarakat.
  7. Ketika seseorang memfitnah orang baik dan adil.
  8. Ketika seseorang mengaku ngaku dalam hal Nasab dan ternyata hal tersebut adalah batil, maka diperbolehkan untuk menggunjingnya. Seperti: Seorang ngaku sebagai Sayid atau Habib.
  9. Pelaku Bidah terhadap agama
  10. Ghibat ketika meminta Istiftaat dalam permasalahan sosial kepada seorang Marja.

Tata cara Taubat dari Ghibah
Merasakan penyesalan yang mendalam dan Ikhtiyat wajib untuk meminta kehalalan dari orang yang digunjingnya atau jika yang digunjing telah tiada, maka bisa menghadiahkan Istighfar sebanyak banyaknya kepada yang digunjing.
Syarat-syarat sesuatu dihukumi Ghibah:
1. Seseorang yang digunjing tidak ada ditempat
2. Perkataan tersebut adalah Aib dan kekurangan yang digunjing
3. Aib yang digunjing adalah termasuk Aib yang tersembunyi dari yang digunjing
4. Perkataan tersebut, ketika yang digunjing mendengarnya, menyebabkan sakit hati dan sedih.
Perhatian:
Maraji dalam hal hal Fiqih biasanya selalu memberikan Fatwa yang bersifat umum. Untuk menerapkan hukum umum tersebut kepada kasus hukum, ditangan Muqallid.
 
Oleh Abu Syirin Al-Hasan, Disarikan dari Kitab Isiftaat nuh maraji (Dua jilid)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed