by

Tentang Tokoh-tokoh Besar Ilmu Nahwu dari Kaum Syi'ah

Di antara mereka ialah ‘Atha’ ibn Abul Aswad. Nama ini telah kami singgung secara memadai di pasal keempat.
Di antara mereka ialah Yahya ibn Ya’mur Al-‘Udwani Al-Wasaqi Al-Mudhorri dari warga Basrah dari kabilah ‘Adnan ibn Qois ibn Ghilan ibn Mudhor, mirip dengan seseorang dari kabilah Bani Laits ibn Kinanah. Yahya adalah salah satu imam qiroah (bacaan Al-Quran) dari Basrah, dan padanya Abdullah ibn Ishaq belajar ilmu Qiroah. Ibnu Khalkan mengatakan: “Ia seorang alim yang menguasai Al-Quran, Nahwu dan pelbagai bahasa. Ia belajar Nahwu pada Abul Aswad Ad-Duali. Dan ia termasuk Syi’ah generasi pertama yang meyakini keutamaan Ahlul Bait a.s. tanpa menjatuh-kan keutamaan selain mereka.”
Saya katakan bahwa data serupa juga dilaporkan oleh Al-Hakim dalam kitab Ta’rikh Naysabur. Di sana, ia memuji dan mengagungkan Yahya sedemikian tingginya. Sebagian pujian atas Al-Hakim telah saya nukil dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam. Di dalamnya juga saya telah membawakan apa yang tercatat dalam Ar-Raudh Az-Zahir, yaitu diskusinya dengan Hajjaj ibn Yusuf. Di hadapannya, ia membuktikan bahwa Hasan dan Husein adalah dua putra Rasulullah saw. yang tersinggung dalam firman; “Wa wahabna lahu Ishaqo wa Ya’quba”, sampai firman; “Wa Isa wa Ilyas” (QS.6:84-85).
Yahya ibn Ya’mur berkata kepada Hajjaj: “Dalam ayat ini, siapakah ayah Nabi Isa, sedangkan setelah namanya, Allah swt. membawakan keturunan Nabi Ibrahim, dan di antara Nabi Isa dan Nabi Ibrahim tidak lebih banyak dari di antara Hasan, Husein dan Nabi Muhammad saw.?”
Hajjaj menjawab: “Sungguh aku tidak mendapatkanmu selain telah menarik suatu kesimpulan dan membawakan ayat itu sebagai bukti yang kuat dan argumentasi yang jelas.”
As-Suyuthi dalam Bughyatul Wu’at menyatakan bahwa Yahya ibn Ya’mur wafat pada tahun 129 H. Sementara di dalam At-Taqrib, ia mengatakan tahun wafatnya jatuh pada tahun sebelum masuk abad kedua, dan sebagian pendapat mengatakan setelah masuk abad kedua.
Di antara mereka ialah Muhammad ibn Al-Hasan ibn Abu Sarah Abu Ja’far, tokoh kaum Anshar. Ia terkenal dengan nama Ar-Rawasi Al-Kufi, imam mazhab nahwu dan bahasa di Kufah. Di antara tokoh mazhab Kufah, Ar-Rawasi adalah orang pertama yang menulis tentang Nahwu, sebagaimana yang baru saja dibahas di pasal kelima. Ia wafat pada tahun setelah setarus Hijriyah. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mencatat riwayat hidup dan karya-karyanya secara lengkap.
Di antara mereka ialah Al-Farra’, nama besar dan disegani di dunia Nahwu. Nama lengkapnya adalah Yahya ibn Ziyad yang bertangan buntung dari warga Kufah. Tangan sang ayah ditebas dalam peristiwa Fakh. Ziyad ibn Abdullah berada di barisan Husein ibn Ali ibn Hasan Ketiga ibn Hasan Kedua ibn Hasan cucunda Rasul saw. Dalam kitab Riyadhul ‘Ulama’ dikatakan: “Catatan As-Suyuthi mengenai kecenderungan Al-Farra’ kepada mazhab Mu’tazilah mungkin berawal dari kekeliruannya dalam memilah dasar-dasar mazhab Syi’ah dan mazhab Mu’tazilah. Sebab, sejatinya ia adalah seorang penganut Syi’ah Imamiyah, sebagaimana telah ditegaskan di atas tadi.”
Dinukil dari Abul Abbas Taghlab: “Seandainya Al-Farra’ tidak ada, bahasa Arab pun tidak akan pernah ada. Karena, dialah yang memurnikan dan mencatatnya sebegitu cermat.” Abul Abbas melanjutkan: “Seandainya Al-Farra’ tidak ada, bisa dipastikan bahasa Arab akan punah, sebab bahasa ini selalu menjadi pusat perselisihan dan persaingan klaim oleh setiap orang yang ingin bicara. Mereka membicarakan bahasa ini begitu gampang dengan pelbagai kadar pikiran dan cita rasa mereka, lalu kita pun membuat mazhab baru.”
Saya katakan bahwa di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mencatat riwayat hidup dan bebarapa karya Al-Farra’, dan bahwa ia wafat pada tahun 207 H., yaitu dalam perjalanan menuju Mekkah pada usia 63 tahun.
Di antara mereka ialah Abu Utsman Bakar ibn Muham-mad ibn Habib ibn Baqiyyah Al-Mazani dari Bani Mazan dari keturunan Syaiban ibn Dzahal ibn Tsa’labah ibn ‘Ukabah ibn Sha’b ibn Ali Bakr ibn Wail, pemuka para tokoh Nahwu dan bahasa Arab di Basrah. Kepeloporannya di bidang ini sudah sangat masyhur. Abu Utsman adalah seorang ulama Syi’ah Imamiyah. Saya telah mengulas nama ini pada pembahasan ilmu Sharaf. Menurut pendapat yang paling kuat, ia wafat pada tahun 248 H.
Di antara mereka ialah Imam Ibnu Hamdun, sekretaris dan penasehat dekat khalifah yang tersohor akan nahwunya. Nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Ibrahim ibn Ismail ibn Dawud ibn Hamdun. Yaqut berkata: “Abu Ja’far Al-‘Alawi di dalam Mushonnifil Imamiyah telah membahas nama ini dan menyatakan bahwa ia adalah guru besar para pakar bahasa Arab. Ibnu Hamdun juga adalah guru Abul Abbas Taghlab. Sebelum Ibnu ‘A’rabi, Abul Abbas telah lebih dahulu belajar padanya dan keluar sebagai murid unggul di kelasnya.”
Saya katakan bahwa data ini juga terdapat dalam Fehrest Mushannifisy Syi’ah, karya Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi dan Fehrest Asma’ Mushonnifisy minal Imamiyah, karya An-Najasyi, sebagaimana dilaporkan oleh Yaqut. Saya juga telah mem-bawakannya dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam dengan beberapa tambahan.
Di antara mereka ialah Abul Abbas Al-Mubarrad. Nama lengkapnya ialah Muhammad ibn Yazid ibn Abdul Akbar ibn ‘Umair Ats-Tsumali Al-Azdi, seorang warga Basrah, tokoh bahasa dan nahwu yang masyhur. Di jamannya, ia adalah imam bahasa Arab. Al-Mubarrad belajar ilmu-ilmu bahasa Arab pada Imam Abu Utsman Al-Mazani hingga lulus di bawah asuhannya. ihwal kesyi’ahan Al-Mubarrad, saya telah membawakan kesaksian dan sejarah hidupnya.
Di antara mereka ialah Tsa’labah ibn Maimun; Abu Ishaq; sesepuh kabilah Bani Asad lalu menjadi tokoh di kabilah Bani Salamah. Ketika itu, ia adalah imam bahasa Arab di Kufah. Berdasarkan catatan dari kitab Fehrest Asma’ Mushannifisy karya An-Najasyi, Tsa’labah berperangai mulia, serbazuhud dan ahli ibadah. Kemudian, An-Najasyi mence-ritakan satu dari sekian kisah-kisahnya, yaitu ketika penguasa Abbasiyah; Harun ibn Muhammad Ar-Rasyid memasuki kota Kufah. Ia juga telah meriwayatkan dari Imam Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq dan Imam Musa Al-Kadzim a.s., sampai ia menulis kitab di bidang hadis. Saya telah memaparkan semua ini di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
Di antara mereka ialah Abul Qosim Al-Jurji; seorang warga Kufah dan tokoh Nahwu ternama. Nama lengkapnya adalah Sa’id ibn Muhammad ibn Sa’id Al-Jurji. As-Sam’ani dalam kitab Al-Ansab mengatakan: “Ia adalah salah satu imam ilmu nahwu, dan dikenal kejujurannya. Al-Jurji juga begitu fanatik dan berlebihan dalam kesyi’ahannya.”
Di antara mereka ialah Ya’qub ibn Sufyan, salah satu tonggak sastra, mujtahid dalam setiap bidang ilmu-ilmu keislaman, khususnya ilmu-ilmu bahasa Arab. Ibnu Atsir di dalam Al-Kamil mengatakan: “Ia termasuk ulama dan tokoh Syi’ah”. Ya’qub wafat pada 277 H.
Di antara mereka ialah Qutaibah An-Nahwi Al-Ja’fi dari warga Kufah dan salah satu imam ilmu Nahwu dan bahasa. An-Najasyi dalam kitabnya; Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah menggambarkan dirinya sebagai seorang niktalopik (rabun malam) dan beradab tinggi. Panggilan nasabnya adalah Abu Muhammad Al-Maqorri, tokoh di negeri Azd, sebagaimana yang disebutkan oleh As-Suyuthi di dalam Ath-Thabaqot.
Berdasarkan data Az-Zubaidi, As-Suyuthi memasukkan Qutaibah Al-Ja’fi ke dalam daftar imam para pakar Nahwu dari mazhab Kufah, dan mengatakan: “Ketika salah seorang sekretaris Khalifah Al-Mahdi menjumpai nama dusun-dusun Arab, ia menambahkan tanda baca tanwin pada akhir nama setiap dusun, namun Syubaib ibn Syaibah memprotesnya. Maka, sekretaris itu menanyakan hal ini kepada Qutaibah. “Jika yang dimaksudkan adalah dusun-dusun Hijaz, maka nama-nama itu tidak bisa di-tanwin, sebab semua itu berstatus ghairu munshorif. Adapun nama dusun-dusun Sudan, bisa di-tanwin, karena mereka berstatus munshorif”, demikian jawab Qutaibah.
Di antara mereka ialah As-Sayyari. Nama aslinya adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Sayyar, Abu Abdillah; seorang sekretaris, tokoh Nahwu, bahasa, syair dan sastrawan dari mazhab Basrah. An-Najasyi mengatakan: “Ia adalah salah satu sekretaris Khalifah Ath-Thahir di jaman Imam Abu Muhammad Hasan Al-Askari a.s.” As-Sayyari mempunyai banyak karangan yang semuanya telah saya sebutkan dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
Di antara mereka ialah Abu Bakar Ash-Shouli. Ia belajar pada Al-Mubarrad. Pribadi ini telah dibahas pada bab-bab sebelum ini.
Di antara mereka adalah Abu Ja’far. Nama lengkapnya ialah Muhammad ibn Salamah ibn Nabil Al-Yasykari, tokoh Nahwu dan disegani di kalangan ulama Syi’ah dari mazhab Kufah. Ia juga seorang faqih yang handal dan ahli bahasa. Abu Ja’far Al-Yasykari seringkali keluar ke perkampungan baduwi. Ia bergaul dan belajar banyak dari orang-orang Arab di sana. Padanyalah Ya’qub ibn Sikkit dan Muhammad ibn Abduh An-Naib belajar.
An-Najasyi menuturkan: “Dan rumah Al-Yasykari adalah rumah yang kaya akan ilmu dan keutamaan. Di dalamnya lahir penulis-penulis sampai jaman sekarang ini.” Lalu, An-Najasyi mendaftar judul karya-karyanya, dan saya sendiri telah membawakan semua itu dalam kitab Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
Di antara mereka ialah Abu Ja’far, seorang tokoh Nahwu yang terkenal dengan panggilan Abu ‘Ashidah. Nama aslinya adalah Ahmad ibn Ubaid ibn Nashih ibn Balanjar, tokoh Bani Hasyim, berasal dari daerah Dailam-Kufah. Ia adalah salah satu imam bahasa Arab dan guru sastra Khalifah Al-Mu’tazz ibn Al-Mutawakkil. Abu ‘Ashidah belajar pada Al-Ashma’ie hingga sejajar dengan kelasnya. Ia juga meriwa-yatkan hadis dari Al-Waqidi dan menurunkannya kepada Al-Qosim Anbari. Bahkan melaluinya, sekelompok perawi meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait a.s. dari Al-Waqidi dan yang lain. Dikisahkan bahwa Abu ‘Ashidah pernah mendapatkan kesempatan bersama Al-Mu’tazz untuk membunuh Khalifah Al-Mutawakkil. Kisah ini dinukil oleh Nurullah Al-Mar’asyi dalam Thabaqotusy Syi’ah, pada tema riwayat Abu ‘Ashidah.
Di antara mereka ialah guru besar sastra; Abu Ali Al-Farisi. Nama aslinya adalah Al-Hasan ibn Ali ibn Ahmad ibn Abdul Ghaffar ibn Muhammad ibn Sulaiman ibn Aban Al-Qoswi. Dialah imam Nahwu di jamannya. Malah dikatakan bahwa Nahwu dirintis oleh orang Persia (Iran), dan oleh orang Persia pula ilmu Nahwu dituntaskan secara sempurna. Yakni dirintis oleh Sibaweih dan dituntaskan oleh Abu Ali Al-Farisi. Ia pernah menjumpai Saifuddaulah di Halab pada tahun 331 H. dan menetap di selama beberapa waktu, lalu melanjutkan perjalanan hingga menemui ‘Adhduddaulah ibn Baweih di negeri Persia. Di sana, dia disambut dan dilayani secara terhormat.
Berdasarkan data dari Riyadhul ‘Ulama’ dan kitab-kitab lainnya, Abu Ali Al-Farisi adalah seorang penganut Syi’ah Imamiyah. Sungguh keliru anggapan sebagian peneliti yang menisbahkannya kepada mazhab Mu’tazilah. Dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah bawakan riwayat hidupnya secara lengkap, termasuk karya-karyanya. Tahun kelahiran Abu Ali Al-Farisi jatuh pada 288 H. dan wafat pada hari Ahad, 17 Rabiul Tsani, 377 H.
Di antara mereka ialah Al-Arjani Faris ibn Sulaiman; Abu Syuja’ Al-Arjani. An-Najasyi mengatakan: “Ia adalah salah satu guru besar para ulama Syi’ah, kaya akan khazanah sastra dan hadis. Ia pernah bersahabat dengan Yahya ibn Zakaria At-Termosyiri dan Muhammad ibn Bahar Ar-Rahbi. Pada kedua orang ini Al-Arjani belajar. Ia mengarang kitab musnad Abu Nawas, Hajar, Asy’ab, Buhlul dan Ja’faran.”
Di antara mereka ialah Ibnu Kufi Ali ibn Muhammad ibn Ubaid Az-Zubair, berasal dari Bani Asad, dan bermazhab Syi’ah Imamiyah. Ia termasuk tokoh-tokoh besar dari sahabat Abul Abbas Taghlab, dan pemuka dalam bidang bahasa dari mazhab Kufah.
An-Najasyi dalam kitab Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah menyebutkan nama Ibnu Kufi dan memujinya. Begitu pula Sayyid Bahrul ‘Ulum di dalam Al-Fawaid Ar-Rijaliyah, sementara Yaqut dalam Al-Mu’jam dan As-Suyuthi dalam Ath-Thabaqot menerangkan riwayat hidupnya. Dan saya telah menukil beberapa statemen Ibnu Kufi dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam. Ibnu Kufi mengarang Al-Faroid wal Qolaidfil Lughah, Ma’anisy Syi’r dan kitab Al-Hamz. Ia lahir pada tahun 254 H. dan wafat pada Dzul Qo’dah, 348 H.
Di antara mereka ialah Al-Akhfasy Pertama. Dia wafat pada 250 H. Nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Imran ibn Salamah Al-Ilhani. Nama panggilan nasabnya adalah Abu Abdillah. Setelah menuliskan riwayat hidup Akhfasy, Yaqut mengatakan: “Dan dia mempunyai banyak syair mengenai Ahlul Bait a.s. Di antaranya:
“Sungguh keturunan Fatimah yang berkah
Manusia-manusia suci dari titisan nun mulia
Musim semi kita di tahun terkutuk
Mereka semua bak mahligai surga”
Di dalam kitab Ar-Rijal, syair ini juga dinukil oleh Sayyid Bahrul ‘Ulum Ath-Thabathabai. Di sana ia menegaskan bahwa Al-Akhfasy termasuk penyair Ahlul Bait. Ketulusan cintanya pada keluarga suci Nabi saw. tidak diragukan lagi. Ia berasal dari Syam, namun berhijrah ke Irak guna menuntut ilmu, lalu bergerak menuju Mesir, kemudian menuju Thabariyah. Al-Akhfasy sempat berteman dengan Ishaq ibn Abdus. Dia mengajarkan sastra kepada anaknya di Thabariyah.
Di antara mereka ialah Marzakkeh. Nama aslinya adalah Zaid. Ia berasal dari Mushil. Marzakkeh adalah salah seorang imam dalam ilmu Nahwu dari kaum Syi’ah. Demikian ini juga dinyatakan oleh As-Suyuthi di dalam Thabaqotun Nuhat. Ash-Shofadi mengatakan: “Ia adalah seorang tokoh Nahwu, penyair, sastrawan rafidhi. Adapun Ibnu Nadim mengenalkan Marzakkeh sebagai penyair dan mutakallim Syi’ah.”
Di antara mereka ialah Ibnu Abu Azhari; seorang tokoh Nahwu ternama dari ulama besar Syi’ah. Di dalam kitab-kitab autobiografi pengarang-pengarang Syi’ah, riwayat hidup dan karya-karyanya diterangkan. Ini juga dibawakan oleh para ahli sejarah, termasuk oleh Al-Khatib dalam Ta’rikh Al-Baghdadi dan selainnya. Ibnu Abu Azhari wafat pada 325 H. pada usia sambilan puluh lebih.
Di antara mereka ialah Abu Abdillah Muhammad ibn Abdullah, seorang menulis bermazhab Basrah, tokoh Nahwu dan penyair yang terkenal dengan Al-Mufji’e, sebagaimana telah dibahas sebelum ini. Yaqut mengatakan: “Ia salah satu tokoh besar Nahwu, penyair cemerlang dari kaum Syi’ah.” An-Najasyi menuturkan: “Ia dihormati oleh kalangan tokoh bahasa, sastra dan hadis.”
Saya katakan bahwa Abu Abdillah mempunyai riwayat hidup yang panjang sebagaimana tersebut dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
Di antara mereka ialah Ibnu Kholaweih; seorang imam bahasa dan sastra serta cabang-cabang ilmu sastra lainnya. Nama ini telah dipaparkan sebelum ini. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, terdapat riwayat hidup dan daftar judul karya-karyanya yang dicatat secara cermat. Ibnu Kholaweih wafat di Halab pada tahun 370 H.
Di antara mereka ialah Al-Kholi’e; seorang pakar Nahwu. Nama lengkapnya ialah Husein ibn Muhammad ibn Ja’far ibn Muhammad ibn Al-Husein Ar-Rofi’ie. Ash-Shofadi ber-kata: “Ia adalah tokoh besar para ahli Nahwu. Ia belajar pada Al-Farisi dan As-Sirofi, sebagaimana disebutkan oleh An-Najasyi dalam kitab Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah. Di dalamnya, An-Najasyi juga mendata karya-karyanya, seperti kitab Sha’atusy Syi’r, Ad-Darojat, Amtsalul ‘Ammah, Takhayyulat Al-‘Arab, Syarah Syi’r Abi Tammam, dan kitab Al-Adwiyah wal Jibal wal Ar-Rummal. Husein ibn Muhammad Ar-Rofi’ie hidup pada sekitar tahun 380-an H.”
Di antara mereka ialah Al-Marzebani Muhammad ibn Imran, seorang penulis dari Baghdad sebagaimana yang telah dibahas sebelum ini. Ia termasuk tokoh besar dalam pelbagai ilmu sastra Arab, belajar pada Ibnu Duraid dan Ibnu Anbari. Dan kepadanyalah Abu Abdillah Ash-Shoimari, Abul Qosim At-Tanukhi, Abu Muhammad Al-Jauhari dan pakar bahasa lainnya. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah membawakan daftar judul karya-karyanya secara lengkap.
Di antara mereka ialah Abul Fatah Muhammad ibn Ja’far ibn Muhammad Al-Hamadani Al-Muraghi An-Nahwi. Yaqut mengatakan: “Ia penghafal kuat Al-Quran, tokoh Nahwu dan sastrawan kelas tinggi.” Begitu pula At-Tauhidi menuturkan: “Di masanya, Abul Fatah merupakan model unggul dalam ilmu Nahwu dan sastra meskipun usianya masih amat muda. Selama ini aku tidak menemukan orang sepertinya.”
Dalam kitab Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah, An-Najasyi mengatakan: “Abul Fatah adalah imam besar ilmu Nahwu dan bahasa Arab dari Baghdad, kuat hafalan, perawi sthiqoh riwayat-riwayat yang shahih. Abu dan ia amat meminati analisis kalimat.” Ia wafat pada tahun 371 H. Saya telah telah memaparkan karya-karyanya dalam kitab Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
Di antara mereka ialah Al-Husein ibn Muhammad ibn Ali Al-Azdi Abu Abdillah, seorang tokoh Nahwu dari Kufah. An-Najasyi mengatakan: “Ia adalah seorang perawi tepercaya dari ulama Syi’ah. Ilmu-ilmu yang tampak lebih dikuasai-nya ialah Siroh, Sastra dan Syair. Di antara karya-karya Al-Husein ibn Muhammad Al-Azdi ialah kitab Al-Wufud ‘ala An-Nabi saw. dan kitab Akhbaru Ibn Abi ‘Aqob wa Syi’ruhu.” Ia wafat di akhir abad ketiga Hijriyah.
Di antara mereka ialah Ahmad ibn Ismail ibn Abdullah Abu Ali Al-Bajali, seorang pemuka bahasa Arab yang lebih dikenal dengan nama Samkah Al-Qummi. Dia guru Ibnu Al-‘Amid; salah seorang tokoh utama sastra Arab dan Nahwu. Ahmad Al-Bajali belajar sastra pada Ahmad ibn Abu Abdillah Al-Barqi dan selainnya. An-Najasyi mengatakan bahwa dia menulis kitab-kitab yang tidak ditemukan padanannya. Kemudian, An-Najasyi menyebutkan judulnya satu persatu, sebagaimana saya juga menukilnya dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam.
Di antara mereka ialah Abul Hasan As-Simsathi. Pada masa itu, ia adalah tokoh utama di setiap bidang sastra dan bahasa Arab. Hampir di setiap bidang ilmu, ia mempunyai karangan ilmiah. Saya telah membawakan daftar seluruh karyanya dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam. An-Najasyi mengatakan: “Dialah guru besar kami di Jazirah Arab, ulama terkemuka di masanya dan sastrawan tersohor.” Kemudian An-Najasyi menyebutkan judul karya-karyanya.
Saya katakan bahwa As-Simsathi juga menulis surat-surat untuk Saifuddaulah. Tepatnya, ia berada sekelas dengan Al-Kulaini.
Di antara mereka ialah Syeikh Ibnu ‘Abdun yang pada masanya terkenal dengan nama; Ibnul Hasyir. Nama aslinya adalah Ahmad ibn Abdul Wahid ibn Ahmad Al-Bazzaz. Adapun nama panggilan nasabnya yaitu Abu Abdillah. Ibnul Hasyir merupakan tokoh besar di bidang sastra, fiqih dan hadis. Ia banyak mengoleksi kisah dan riwayat.
An-Najasyi mengatakan: “Guru besar kami yang masyhur dengan nama Ibnu ‘Abdun adalah pakar besar dalam sastra. Ia telah mempelajari kitab-kitab sastra pada guru-guru besar di jamannya. Ia juga pernah berjumpa dengan Abul Hasan Ali ibn Muhammad Al-Qurasyi yang terkenal dengan pang-gilan nasab Ibnu Zubair. Pada saat yang sama, Ibnul Hasyir adalah penganut kepercayaan akan kekhalifahan Imam Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia mengarang banyak kitab, seperti Akhbaru As-Sayyid ibn Muhammad, At-Ta’rikh, Tafsir Khutbah Fathimah a.s., Al-Jumu’ah, dan kitab Al-Haditsiyyin Al-Mukhtalifin.”
Saya katakan bahwa Ibnul Hasyir juga mengarang kitab Adabul Khulafa’. Ia wafat pada tahun 323 H. Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi meriwayatkan hadis darinya dan mendapatkan ijazah periwayatan semua hadis yang diriwayatkannya.
Di antara mereka ialah Ibnu Najjar, tokoh Nahwu dari Kufah. Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ja’far ibn Muhammad ibn Harun ibn Fauqoh Abul Husein At-Tamimi. Ia adalah pengarang kitab Al-mukhtashar fim An-Nahw dan kitab Al-Malih wan Nawadir. Yaqut mengatakan: “Ibnu Najjar dilahirkan di Kufah pada tahun 303 H. atau 311 H. Lalu ia datang ke Baghdad dan belajar hadis pada Ibnu Duraid dan Nafthaweih. Ia adalah seorang perawi yang terpercaya dan pembaca terindah Al-Quran.”
Dan pada hemat saya, Ibnu Najjar termasuk guru besar An-Najasyi; penulis kitab Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah. Ia sendirinya menyebut namanya dengan penuh hormat dan sanjungan, selain juga menyebut-kan karya-karyanya seperti: kitab Ta’rikh Al-Kufah.
Di samping itu, tak diragukan lagi bahwa Ibnu Najjar, selain nama panggilan untuk orang yang kita bicarakan ini, juga nama panggilan seseorang yang bernama Muhibuddin Muhammad ibn Mahmud ibn Hasan ibn An-Najjar; penulis kitab At-Tahshil wat Tadzlil, sebagaimana laporan dari Ta’rikh Al-Baghdadi. Muhibuddin adalah seorang ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah, sedangkan Ibnu Najjar yang kita bicarakan di sini adalah seorang ulama Syi’ah Imamiyah. Ibnu Najjar wafat pada tahun 420 H. atau 460 H.
Di antara mereka ialah Abul Faraj Al-Qannani, pakar ilmu Nahwu dari Kufah. Ia adalah penjual kertas, sebagai-mana disebutkan oleh An-Najasyi di dalam Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah. Di sana, An-Najasyi juga mendata nama karya-karyanya. Sesungguhnya Abul Faraj adalah salah satu guru An-Najasyi. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya membahas nama ini di antara ulama abad keempat Hijriyah.
Di antara mereka ialah Abul Faraj Muhammad ibn Abu Imran Musa ibn Ali ibn Abdurabbah Al-Qazweini. Ia penulis dan tokoh Nahwu dari mazhab Kufah, sebagaimana yang dinyatakan oleh An-Najasyi yang hidup semasa dengannya, hanya saja ia tidak mendapatkan kesempatan untuk bertukar ilmu dan pikiran dengannya. Abul Faraj Al-Qazweini hidup di abad keempat Hijriyah.
Di antara mereka ialah Abul Hasan Ar-Rab’ie. Nama aslinya adalah Ali ibn Isa ibn Al-Faraj ibn Shaleh Ar-Rab’ie. Ibnu Katsir Asy-Syami di dalam At-Ta’rikh berkata: “Pada mulanya, Ar-Rab’ie belajar ilmu-ilmu bahasa Arab pada As-Sirofi, lalu pada Abu Ali Al-Farisi dan secara intensif dan penuh berguru padanya selama dua puluh tahun hingga mencapai puncak kematangan dan ketinggian ilmu.”
Ibnu Katsir melanjutkan: “Suatu hari, ia jalan-jalan di tepi sungai Dajlah. Sementara itu, Syarif Al-Murtadha dan Syarif Ar-Radhi berada di sebuah sampan di sekitar tepi sungai tersebut. Bersama mereka adalah Utsman ibn Janey Abu; Fath. Ali ibn Isa berkata kepada mereka berdua: ‘Hal yang paling mengherankan dari kalian berdua ialah bagai-mana Utsman bisa bersama kalian sedangkan Ali berjalan di tepi Dajlah dan jauh dari kalian?!'” Ali ibn Isa wafat pada tahun 420 H.
Di antara mereka ialah Abu Ishaq Ar-Rifa’ie Ibrahim ibn Sa’d ibn Tayyib Ar-Rifa’ie, seorang tokoh Nahwu. Abu Ghalib Muhammad ibn Muhammad ibn Sahal ibn Bisyran An-Nahwi berkata: “Sungguh aku tidak pernah melihat orang yang lebih pandai dari Abu Ishaq Ar-Rifa’ie.”
Abu Ishaq Ar-Rafi’ie seorang buta, belajar Nahwu pada As-Sirofi dan mempelajari Syarahnya atas kitab Al-Kitab karya Sibaweih. Dinukil bahwa ia mengarang beberapa kitab bahasa Arab dan koleksium syair. Ia pernah keluar dari kota Baghdad menuju Wasith. Padahal, sebelum kedatangannya di Baghdad, ia singgah di Wasith dan belajar Al-Quran di sana pada Abdul Ghaffar Al-Hishni. Ia selalu duduk di bagian depan masjid jami’ seraya membacakan Al-Quran untuk para jamaah masjid. Kisah demikian ini dibawakan oleh Yaqut dan dikatakan: “Kemudian ia singgah di Az-Zaidiyah. Di sanalah ia menemukan mazhab Rafidhah dan ‘Alawiyah. Karena itu, ia seringkali dinisbahkan ke mazhab ini. Sungguh ini sebuah fitnah dan kezaliman terhadap dirinya.” Abu Ishaq Ar-Rifa’ie wafat pada tahun 411 H.
Di antara mereka ialah Abdul Salam ibn Al-Husein Abu Ahmad, seorang ahli Nahwu dari mazhab Basrah, sebagai-mana yang dicatat An-Najasyi dan digambarkannya sebagai guru besar sastra dari Basrah. Pada dasarnya, Abdul Salam adalah salah satu guru An-Najasyi di Kufah.
Di antara mereka ialah Syarif Yahya ibn Muhammad ibn Thabathaba Al-‘Alawi. Panggilan nasabnya ialah Abul Mu’izz dan Abu Muhammad. Ia belajar Nahwu pada Ar-Rab’ie dan Asy-Syimas, dan padanya Ibnu Syajar belajar. Yaqut berkata: “Ibnu Syajar senantiasa bangga dengan nama Syarif Yahya.”
Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest mengatakan: “Yahya Al-‘Alawi Abu Muhammad An-Naysaburi adalah seorang ahli Kalam dan pengarang banyak kitab.” Ia pernah ditemui oleh sekelompok pakar yang lalu belajar padanya, sebagaimana dicatat oleh As-Suyuthi dalam kitab Thabaqotun Nuhat, dan dikisahkan bahwa Syarif Yahya adalah seorang syi’ah.
Saya katakan bahwa data ini juga ditegaskan oleh Syeikh Syi’ah Allamah Ibnu Muthahhar dalam Al-Khulashoh. Di sana ia mengatakan: ” Syarif Yahya adalah seorang faqih, alim dan mutakallim yang hebat. Ia tinggal di Naysabur.” Demikian ini juga dibawakan oleh An-Najasyi, Syeikh Ibnu Dawud dan tokoh-tokoh lainnya. Dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah menukil redaksi kesaksian-kesaksian mereka.
Di antara mereka ialah Tsabit ibn Aslam ibn Abdul Wahhab Abul Hasan, seorang ahli Nahwu dari Halab. As-Suyuthi dalam Thabaqotun Nuhat mengatakan: “Adz-Dzahabi berkata: ‘Tsabit adalah salah satu tokoh besar Nahwu. Ia bermazhab Syi’ah. Ia mengarang sebuah kitab tentang ana-lisis atas bacaan Al-Quran ‘Ashim. Pada masa pemerintahan Saifuddaulah, ia menjabat sebagai kepala perpustakaan. Sementara itu, kaum Ismailiyyah menilai bahwa langkahnya itu malah akan merusak misi dakwah mereka, sebab ia mengarang sebuah kitab yang menyingkapkan rahasia-rahasia buruk mereka dan memulai dakwah kepada mereka. Maka itu, ia culik ke Mesir dan disalib di sana.'” Tsabit wafat pada kisaran 460 H.
Di antara mereka ialah Abul Qosim At-Tanukhi. Nama lengkapnya Ali ibn Al-Muhsin ibn Ali ibn Muhammad ibn Abul Jaham. Pengarang Nasamatus Sahar pada tema ‘Mereka yang Bermazhab Syi’ah dan Penyair’, berkata: “Abul Qosim adalah seorang ulama besar, penyair dan sastrawan ulung, persis dengan ayah dan datuknya. Dia belajar bahasa Arab pada Abul ‘Ala’ Al-Ma’arri. Ia juga banyak meriwayatkan syair. Lain dari itu, Abul Qosim pernah menduduki jabatan sebagai hakim di beberapa negeri.”
Saya katakan bahwa Abul Qosim At-Tanukhi juga pernah belajar Nahwu pada Sayyid Syarif Al-Murtadha. Muhammad ibn Syakir dalam Fawatul Wafiyyat mengatakan: “Dia adalah seorang syi’ah yang percaya pada Mu’tazilah.” Pendapat ini hanyalah kekeliruan dari Muhammad ibn Syakir. Sejatinya, Abul Qosim At-Tanukhi bermazhab Syi’ah Imamiyah. Ia lahir pada hari Selasa, pertengahan Sya’ban, 355 H, dan wafat pada 447 H. Al-Qodhi Al-Mar’asyi dalam Thabaqot Asy-Syi’ah memberikan kesaksian atas kesyi’ahan dirinya dan kesyi’ahan ayahnya; Al-Muhsin, serta datuknya; Al-Qodhi At-Tanukhi.
Di antara mereka ialah Ali ibn Ahmad Al-Fanjkari. Dia berasal dari Fanj Kurd, yaitu sebuah daerah di Naysabur. Dia seorang sastrawan besar yang meraih mahkota syair Arab dan kebanggaan Syi’ah, yaitu syair Amiril Mukminin Ali a.s. Al-Maydani mengarang kitab As-Sami fil Asami fil Lughah dalam bahasa Persia. Di dalamnya, ia menyinggung nama Ali ibn Ahmad Al-Fanjkari dan memuji ketinggian ilmu, kemuliaan akhlak dan sastra Arabnya.
Al-Qodhi Al-Mar’asyi dalam kitabnya; Thabaqotusy Syi’ah, mengatakan: “Ia seorang sastrawan hebat, berperangai mulia, cerdas dan seorang mukmin yang sempurna. Ia mempunyai syair-syair yang indah yang menyanjung Ahlul Bait a.s. Al-Mar’asyi membawakan bebarapa bait darinya.”
As-Suyuthi mengatakan: “Ali Al-Fanjkari berada di kelas para sastrawan terunggul, pencipta komposisi syair dan prosa puitik yang berkembang luas dan mengalir deras. Ia belajar bahasa Arab pada Ya’qub ibn Ahmad; sang sastrawan besar. Di bawah asuhannyalah ia mematangkan talenta puisinya.”
Pengarang kitab Al-Wasysyah, tatkala sampai di nama Ali Al-Fanjkari, mengatakan: “Ia dijuluki sebagai guru besar para pakar, mukjizat jaman, bukti para ahli.” Ia wafat pada 512 H. pada usia 80. Dalam kitab As-Siyaq tercatat tahun wafatnya jatuh pada 13 Ramadhan 503 H. Saya pun telah membawakan beberapa bait syairnya dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam. Ali Al-Fanjkari hidup semasa dengan Az-Zamakhsyari, dan terdapat banyak kisah tentang pengala-man dua tokoh ini.
Di antara mereka ialah raja para tokoh Nahwu bernama Al-Hasan ibn Shofie ibn Nizar ibn Abul Hasan. Dalam Kasyful Dzunun dinyatakan bahwa panggilan nasabnya adalah Abu Nizar. Penulisnya mengatakan: “Sebuah pilar Nahwu berada di tangan Abu Nizar; pemuka Rafidhah dan tokoh Nahwu. Nama aslinya adalah Hasan ibn Shofie Bardun dari bangsa Turki.” Abu Nizar wafat pada tahun 798 H.
Namun, telah terjadi kekeliruan di dalam Ta’rikhul Wafat mengenai hari kelahiran dan wafat tokoh besar nahwu ini. Kekeliruan serupa juga dilakukan oleh As-Suyuthi tatkala ia mengatakan bahwa Abu Nizar wafat di Damaskus pada hari Selasa, 9 Syawal 568 H., dan hari kelahirannya jatuh pada tahun 489 H. Karena, sesungguhnya ia wafat pada tahun 463 H., sebagaimana yang dicatat di dalam Al-Khalal As-Sindiyah, dan ini dibenarkan oleh Ibnu Khalkan. Sang raja para tokoh ini belajar Nahwu pada Al-Fashihi yang bermazhab Syi’ah Imamiyah. Di bawah arahan guru ini, Abu Nizar mencapai kesempurnaan ilmunya. Lalu ia mengarang kitab Al-Hawi, Al-‘Umdah, Al-Maqshad fit Tashrif, Al-‘Arudh, At-tadzkirah As-Sanjariyah, Al-Maqomat, Al-Masailul ‘Asyr Al-Mu’ammayat, dan sebuah kitab kumpulan syair.
Abu Nizar lahir di Baghdad lalu bertolak menuju kota-kota di Iran seperti Khurasan, Kirman dan Ghaznah. Sampai akhirnya ia tiba di negeri Syam lalu tinggal dan wafat di sana. Di dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya menukilkan beberapa baitnya.
Di antara mereka ialah Ali ibn Muhammad ibn Ali ibn Abu Zaid Al-Fashihi. Nama Al-Fashihi adalah sebuah nisbah kepada kitab Al-Fashih lantaran ia membacanya berulang kali. Ia berasal dari Istarabad di propinsi Jurjan. Al-Fashihi belajar pada Abul Qodir Al-Jurjani, dan padanyalah sang raja para tokoh itu, Abu Nizar, belajar Nahwu. Ia adalah imam di setiap bidang ilmu bahasa Arab dan membuka kuliah Nahwu di pusat pendidikan Nidzamiyyah di kota Baghdad di masa pasca Al-Khathib At-Tabrizi.
Tak lama kemudian, masyarakat di sana mulai mengetahui mazhab Syi’ahnya. Tatkala berita ini disampaikan kepada-nya, ia mengatakan: “Aku tak akan menolak, aku seorang Syi’ah dari ubun-ubun sampai ujung kaki.” Karena itu, segera Abu Manshur Al-Jawaliqi memecatnya dan menyediakan posisi lain untuknya. Al-Fashihi wafat di Baghdad pada hari Rabu, 13 Dzul Hijjah, 516 H.
Di antara mereka ialah Ibnu Syajari; guru Ibnu Anbari. dia orang pandai yang langka di masanya dan unggul dalam bahasa Arab, penguasaan bahasa dan syair-syair Arab. dia banyak menghafal sejarah bangsa Arab, menekuni sastra dan mempunyai akhlak yang sempurna. Data ini juga dibawa-kan oleh As-Suyuthi, Ibnu Khalkan, Yaqut, Ibnu Al-Anbari.
Dari ulama Syi’ah yang melaporkan data ini ialah Syeikh Muntakhabuddin dalam kitab Fehrest Asma ‘Ulama’ Syi’ah Al-Muta’akhkhirin. Ia sendiri menukil data tersebut dari Syeikh Ath-Thusi, dan Syeikh Sayyid Ali ibn Shadruddin Al-Madani dalam Ad-Darajat Ar-Rafi’ah fi Thabaqot As-Syi’ah.
Sungguh As-Suyuthi telah melakukan kekeliruan dalam memaparkan nasab Ibnu Syajari, sebagaimana hal yang sama dilakukan oleh Yaqut dalam menafsirkan ihwal namanya, sebab nama aslinya ialah Hibatullah ibn Ali ibn Muhammad ibn Hamzah ibn Ahmad ibn Ubaidillah ibn Muhammad ibn Abdurrahman Asy-Syajari (bernisbah kepada Syajar, yaitu sebuah desa di salah satu daerah Madinah) ibn Al-Qosim ibn Al-Hasan ibn Zaid ibn Al-Hasan; cucunda yang mulia Nabi saw., putra tercinta Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Ibnu Syajari wafat pada tahun 537 H. Dalam Ta’ssisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mendata karya-karyanya.
Di antara mereka ialah Yahya Ibnu Abu Thayyi Ahmad ibn Dzahir Ath-Thaie Al-Kalbi Al-Halabi, seorang pakar besar Nahwu. Nama panggilan nasabnya ialah Abul Fadhl. Yaqut mengatakan: “Ia adalah salah satu tokoh sastra dan menekuni fiqih Syi’ah Imamiyah. Ia pengarang banyak karya di pelbagai bidang ilmu. Ibnu Abu Thayyi Al-Halabi hidup pada kisaran abad keenam Hijriyah.”
Saya katakan bahwa penulis Kasyful Dzunun menegaskan bahwa kitab Akhbaru Syu’ara’ As-Sab’ah adalah karya Ibnu Abu Thayyi Yahya ibn Humaidah Al-Halabi yang wafat pada 335 H. Ia menyusun bab-bab kitab itu berdasarkan urutan huruf Abjad. Dan saya mengira keterangan ini tidak-lah benar. Yang tepat, kelahirannya jatuh pada bulan Syawal 575 H.
Di antara mereka ialah Ahmad ibn Ali ibn Mu’qil Abul Abbas Al-Maqorri Al-Malhabi Al-Hamdhi, seorang sastrawan dari kabilah Azd. Ia adalah seorang pakar yang langka pada jamannya di bidang sastra dan bahasa Arab.
As-Suyuthi mengatakan: “Adz-Dzahabi berkata: ‘Ahmad ibn Ali Al-Maqorri lahir pada tahun 567 H. Ia pergi menuju Irak. Di sana, dia menganut mazhab Rafidhah sambil belajar Nahwu pada Abul Baqo’ Al-‘Akbari dan Al-Wajih Al-Wasithi. Dia juga belajar ilmu itu di Damaskus pada Abul Yaman Al-Kindi dan menjadi pakar dalam bahasa Arab dan ‘Arudh hingga ia menulis kitab tentang dua ilmu ini. Ia merangkai syair sebegitu indah dan menata prosa puitik dan catatan penyempurnaan atas karya Al-Farisi. Ia melakukan semua itu secara baik dan mampu mengadakan hubungan dengan Al-Malik Al-Amjad dan mendapatkan kemuliaan di sisinya. Al-Maqorri hidup dengannya di sekitar kaum rafidhi di daerah itu.'”
Ahmad ibn Ali Al-Maqorri amat kaya akan kekuatan dan keluasan pikirannya, berlebihan dalam kesyi’ahannya, dan pezuhud dunia. Dia wafat pada 25 Rabiul Awal 644 H.
Di antara mereka ialah Ahmad ibn Muhammad Abul Al-Abbas Al-Asybili dari kabilah Azd. Dia terkenal juga dengan nama Ibnul Hajj. Ia termasuk salah satu imam ilmu Nahwu dan bahasa Arab. Ia belajar dan lulus dari bimbingan Asy-Syalubin dan tokoh-tokoh sekelasnya sampai menjadi imam dalam bahasa Arab, penguasa perbagai bahasa, dan tokoh besar dalam ‘Arudh. Pengarang kitab Al-Badrul Safir mengatakan: “Dia cemerlang dalam pengasaan bahasa Arab hingga tidak lagi menyisakan derajat di atas atau di sam-pingnya untuk seorang pun.”
Majduddin di dalam Al-Bulghah mengatakan: “Ibnul Hajj pernah mengatakan: ‘Jika aku telah mati, Ibnu ‘Unfur akan melakukan intervensi atas Al-Kitab Sibaweih sesuka hatinya.” Ia sendiri mempunyai catatan atas kitab Sibaweih ini. Ia juga mengarang sebuah kitab tentang mazhab Syi’ah Imamiyah; sebuah kitab yang bagus yang membuktikan keimamahan dua belas imam Ahlul Bait a.s., sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab Ma’alimul ‘Ulama’.
Selain itu, Ibnul Hajj juga menulis kitab tentang Ulumul Quran, ringkasan atas Khashoish Ibnu Junay, kitab Hikam As-Sima’, Mukhtashorul Mustashfa’ karya Al-Ghazzali di bidang Ushul Fiqih, An-Nuqud ‘alal Shihah, dan kitab Al-Irodat ‘alal Maghrib. Ia pun mempunyai catatan pinggir atas kitab Al-Musykilat karya Al-Ghazali, catatan pinggir atas kitab Sirr Ash-Shina’ah dan atas Al-Idhah. Ibnul Hajj wafat pada tahun 647 H. Ibnu Abdul Malik mengatakan bahwa ia wafat pada tahun 561 H. Namun, yang tepat adalah yang pertama tadi.
Di antara mereka ialah bintang para imam Nahwu, Ar-Ridha Al-Istarabadi. As-Suyuthi di dalam Thabaqot An-Nuhat mengatakan: “Ar-Ridha adalah tokoh besar yang masyhur, pengarang kitab Syarhul Kafiyah; sebuah syarah untuk Al-Kafiyah karya Ibnul Hajib. Kitab ini tidak ada padanannya dalam ukuran umumnya sebuah kitab Nahwu, baik dari segi cakupan, ketelitian maupun analisisnya. Orang-orang banyak menekuni kitabnya ini, bahkan dijadikan bahan diskusi dan buku pelajaran dan rujukan bagi tokoh-tokoh sejamannya. Gelarnya adalah ‘Bintang Para Tokoh’, hanya saja saya tidak mengetahui nama aslinya atau pun riwayat hidupnya.”
Al-Fadhil Al-Baghdadi pada pembukaan kitab Khazanatul Adab fi Syarhi Syawahid Syarh Ar-Ridha mengatakan: “Dan aku telah melihat di akhir naskah kuno dari syarah-syarah ini. Redaksi dari naskah itu berbunyi: ‘Ia adalah tuan, imam, alim, raja ulama, pemuka para ahli, mufti golongan-golongan, faqih yang besar, bintang agama dan bangsa, Muhammad ibn Al-Hasan Al-Istarabadi. Ia telah mendikte-kan syarah ini di Hadzrat Yang Mulia Al-Gharawi pada Rabiul Awal 688 H.”
Saya katakan bahwa saya sendiri telah melihat tulisan tangan seorang alim dari Isfahan yang masyhur dengan nama Al-Fadhil Al-Hindi di balik lembaran syarah Ar-Ridha atas kitab Asy-Syafiyah fil Sharf. Berikut ini bunyi redaksi itu: “Inilah syarah kitab Asy-Syafiyah karya Syeikh Ar-Ridha Al-Murdhi, bintang agama, lambang kebenaran dan hakikat, Tuan Al-Istarabadi, yang menjulangkan kalimatnya sebegitu tingginya hingga melampaui bintang-bintang di langit dan menguraikannya secara lebih deras dari membuka bendu-ngan air. Bila ia mengucapkan sesuatu, hasrat akan ber-getar. Bila ia berbicara sebuah kalimat, pendengaran akan terpatri untuk menyimak. Dialah yang di tengah para tokoh tampil bagai raja yang ditaati, di hadapan pendukung dan menentangnya, di segenap negeri dan kawasan.”
Saya tegaskan kembali bahwa di akhir-akhir syarahnya atas kitab Al-Kafiyah, yakni sebelum menjelaskan hukum Ha’ As-Sakt, Ar-Ridha mencantumkan tanggal penulisan syarah itu. Ia mengatakan: “Inilah akhir syarah atas Al-Muqoddimah. Segala puji bagi Allah atas segala nikmat dan kemurahan-Nya secara sempurna, dan shalawatnya atas Muhammad dan keluarganya yang termulia. Dan telah tuntas serta tamat kalimat akhir syarah ini di Haram Hadzrat Yang Suci Al-Gharawi. Maka, atas pemilik dan pengawas Haram, sebaik-baiknya salam Tuhan keperkasaan pada Syawal 686 H.”
Di antara mereka ialah Sayyid Ruknuddin, pengarang Al-Mutawassith; syarah Muqoddimah Ibnu Hajib ke dalam tiga syarah; yang paling masyhur di antara tiga syarah ini adalah syarah Al-Mutawassith. As-Suyuthi mengatakan: “Ibnu Rafi’e di akhir Ta’rikh Baghdad membubuhkan: ‘Ruknuddin tiba di Marogheh dan bekerja untuk Yang Mulia Nashiruddin Ath-Thusi. Ia tampak begitu mendidih lantaran kecerdasan yang luar biasa. Karena itu, Nashiruddin mengajukannya sebagai pemuka ulama di Marogheh. Ia giat mengajar filsafat dan menulis catatan pinggir atas kitab At-Tajrid dan atas kitab-kitab lainnya. Untuk anak Nashiruddin, ia juga menuliskan sebuah syarah atas Qowaidul ‘Aqoid karya Nashiruddin.”
Tatkala Nashiruddin berhijrah ke Baghdad pada tahun 672 H., ia turut menyertainya ke sana. Sampai ketika tahun itu Nashiruddin wafat, dia berpindah ke Musil dan menetap di sana lalu mengajar di Madrasah Nuriyyah. Di sana, dia dipercayai untuk mengelola harta-harta wakaf madrasah. Dalam pada itu, Ruknuddin menulis syarah atas kitab Al-Muqoddimah karya Ibnu Hajib sebanyak tiga syarah; yang paling masyhur di antara tiga syarah ini adalah syarah Al-Mutawassith. Ia juga berkecimpung secara tekun di bidang Ushul Fiqih dan belajar pada As-Saif Al-Amadi, sehingga ia dipercayai untuk membuka sendiri kuliah mazhab Syafi’iyah di kawasan Sultaniyah.
Ash-Shofadi mengatakan: “Ruknuddin sangat tawadhu. Dia akan senantiasa bangit berdiri di hadapan setiap orang sebagai penghormatan, bahkan kepada penghidang air. Dia begitu penyabar, mulia dan wibawa. Ia menulis syarah atas kitab Al-Mukhtashar karya Ibnu Hajib Al-Ashli dan atas Asy-Syafiyah fi At-Tashrif. Usianya mencapai tujuh puluh tahun lebih.” Pengarang Riyadhul ‘Ulama’ mengatakan: “As-Sayyid ibn Syaraf Syah adalah Sayyid Ruknuddin Al-Istarabadi, yaitu Abu Muhammad Al-Hasan ibn Muhammad ibn Syaraf Syah Al-Husaini. Ia mengarang kitab Manhaj Asy-Syi’ah fi Fadhail Washiy Khatam Asy-Syari’ah, atas nama Sultan Uweis Bahadur Khan.”
Saya pribadi juga memiliki beberapa karya Ruknuddin, di antaranya syarah atas kitab Qowaidul ‘Aqoid karya Khajeh Nashiruddin Ath-Thusi, gurunya sendiri. Penulis Raudhatul Jinan menyatakan: “Ruknuddin adalah tokoh besar Syi’ah. Sekelompok ulama telah memberikan sejumlah kesaksian atas kesyi’ahannya dan menyebutkan karya-karyanya, termasuk kitab Manhaj Asy-Syi’ah. Ruknuddin wafat pada 718 H. Bagi sebagian ahli, hari wafatnya jatuh pada 14 Shafar 715 H.”
Demikianlah kitab ini ditulis tuntas dengan segenap puji dan syukur atas hadirat Allah swt., oleh penulisnya; seorang hamba yang mengharap penuh akan kemurahan Tuhannya; Dzat Yang Maha Pengasih, Abu Muhammad Al-Hasan yang masyhur dengan nama Sayyid Hasan Shadruddin ibn Sayyid Hadi Al-Kadzim, pada hari Sabtu, 15 Jumadil Akhir 1330 H.[](islamshia-w.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed