by

Mencari Kenikmatan Shalat

Oleh : Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, MSc

“ketika kita membantu orang-orang menderita dan orang-orang miskin, janganlah berfikir bahwa kita membantu. Pada hakekatnya kitalah yang dibantu mereka. Antara lain kita dibawa lebih dekat kepada Allah swt. Kita dibawa untuk memperoleh kenikmatan yang lain dari shalat” ( KH Dr. Jalaludin Rakhmat, MSc )

Ada kawan saya yang mendatangi beberapa guru, belajar beberapa aliran tarekat, dengan maksud ingin merasakan *kenikmatan sholat.*Dari gurunya dia diberi bermacam-macam bacaan yang harus diucapkan sebelum shalat; agar shalatnya memperoleh kekhusyukan dan kenikmatan.
Pernah dia shalat bersama kawannya yang lain. Semua orang menangis terisak-isak. Dia sendiri tidak bisa menangis. Dia memandang kenikmatan shalat berasal dari tangisan. Makin keras menangis, di waktu shalat, makin banyak air mata keluar, makin terasa shalat itu nikmat baginya.
Kawan saya ini, seorang purnawirawan, sukar sekali menangis kalau shalat. Tetapi dia bercerita kepada saya bahwa dia mudah menangis, kalau dia melihat – dalam televisi atau mendengar dari pesawat radio – seorang anak manusia yang menderita karena dianiaya atau disakiti hatinya. Di situ dia memperoleh kenikmatan dalam menangis. Tangisan yang sama tidak bisa dia keluarkan ketika dia shalat.
Kawan saya itu bertanya bagaimana caranya menangis dalam shalat. Dia ingin merasakan kenikmatan shalatnya. Pada saat itu saya katakan kepadanya, _*”Bapak lebih baik menangis ketika melihat penderitaan orang lain ketimbang menangis pada waktu shalat. Menangis yang pertama lebih bermanfaat ketimbang menangis yang kedua. Menangis di waktu shalat mungkin hanya menguntungkan diri Anda saja. Boleh jadi, tidak ada bekasnya sesudah itu”*_
Dia menukas, _*”Betul. Saya pernah menyaksikan seseorang dalam rombongan jama’ah haji. Ketika shalat di Masjidil Haram, dia menangis keras. Tetapi begitu keluar dari Masjidil Haram, dia tertawa terbahak-bahak. Tidak tampak bekas tangisan itu sesudahnya*_
Buat saya, kenikmatan shalat tidak diukur dengan kemampuan menangis. Memang tidak ada jeleknya menangis ketika shalat. Nabi sendiri mangajarkan kepada kita untuk menangis. Beliau saaw bersabda: _*”Kalau kamu tidak bisa menangis, maka usahakan supaya kamu dapat menangis.”*_
*Siti Aisyah* pernah bercerita, segera saja setelah Rasulullah saaw mengangkat tangannya _takbiratul ihram,_ ketika beliau saaw memasuki surah yang dibacanya, Rasulullah menangis terisak-isak. Begitu pula ketika sujud. Janggutnya basah dengan air matanya.
Usai shalat, ketika Bilal memberitahu bahwa sesaat lagi akan masuk waktu subuh, Rasulullah saaw masih terisak-isak menangis. Bilal bertanya, _*”Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun yang kemudian ?”.*_ Rasulullah saw menjawab, _*”Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur ?”.*_
Kemudian Rasulullah bersabda : “Pada malam ini turun satu ayat Al Qur’an. Celakalah orang yang membaca ayat Al Qur’an ini, tapi tidak merenungkan maknanya”.
Kemudian Rasulullah saaw membacakan ayat :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.(QS. 3:190)
Rasulullah saaw shalat dalam keadaan menangis. Para _awliya’,_ orang-orang yang saleh, juga menangis pada waktu shalat. Kita juga dianjurkan, kalau bisa, shalat dalam keadaan menangis.
Karena orang melihat contoh dari Rasulullah saaw, sahabat, dan para kekasih Allah, maka mereka menduga bahwa kenikmatan shalat hanya terletak pada tangisan. Kalau dia tidak bisa menangis pada waktu shalat, maka orang membuat cara bagaimana menciptakan suasana agar bisa menangis ketika berdoa. Sehingga ada yang kita sebut *rekayasa spiritual* ( _*spiritual engineering*_ ).
Dahulu, dan mungkin belakangan ini, ada anak-anak muda yang dididik dalam _training-training,_ apakah itu pesa
ntren kilat, atau studi Islam Intensif, atau apa saja namanya. Pada hari terakhir acara, biasanya pada tengah malam, diadakan apa yang disebut renungan suci. Renungan suci ini dinilai berhasil apabila semua peserta menangis. Lebih berhasil lagi kalau mereka menangis histeris.
Mereka berkata bahwa dengan tangisan itu orang merasakan kenikmatan shalat. Sekali lagi, itu tidak salah, kalau bisa, menangislah ketika shalat. Sadari segala dosa-dosa dan perbuatan yang tercela. Mohon ampunan di waktu shalat.
Akan tetapi, biasanya dari pengalaman banyak orang dan juga seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saaw, *Shalat dengan menangis itu umumnya hanya bisa dilakukan kalau kita sedang melakukan shalat malam _(Shalat tahajud)._* Saya belum membaca keterangan hadits Rasulullah saaw bahwa beliau menangis pada waktu sholat _fardhu._ Kita hanya mendengar riwayat *Tangisan Rasulullah saaw itu ketika beliau melakukan shalat sunnat, terutama sekali shalat malam.*
Nabi mengajarkan kepada kita bagaimana cara melakukan shalat malam. Di bawah ini saya akan menyampaikan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Dengan mengikuti petunjuk Nabi, saya menjamin bahwa saudara akan terisak-isak menangis ketika melakukannya.
Ketika shalat malam, shalatlah *dua rakaat-dua rakaat,* karena Rasulullah saaw paling sering melakukan shalat malam dua rekaat-dua rekaat ( _matsna-matsna_ ).
Sesudah empat kali dua rekaat _(berarti delapan rekaat)_, Anda lakukanlah shalat dua rakaat lagi yang disebut dengan _*shalat syafa’.*_ Pada rakaat pertama, anda baca surah Al-Fatihah dengan Al-Kafirun; dan pada rakaat yang kedua, Anda baca surah Al-Fatihah dengan Al-Ikhlash. Kemudian lakukanlah shalat witir satu rakaat. Bacalah surat Al-Ikhlas, surah Al-Falaq, dan Surah Al-Nas. Kemudian bacalah _Istighfar_ sebanyak tujuh puluh kali ( _*Astaghfirullaha rabbi wa atubu ilayh*_).
Memohon ampun di waktu dini hari, pada saat shalat malam, ditegaskan di dalam Al Quran sebagai salah satu tanda orang-orang yang bertakwa.
“Dan di akhir-akhir malam mereka memohan ampun kepada Allah”
_(QS 51:18)_
Setelah _istighfar,_ sebelum rukuk, bacalah doa; “hadza maqamul ‘aidzi bika minannar (Ya Allah, inilah aku yang berlindung kepada-Mu dari api neraka)_ sebanyak tujuh kali.
Sesudah itu, mohonkanlah ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat. Sebut nama mereka satu per satu, paling sedikit empat puluh orang. Ucapkanlah _*Rabbighfirli…wa…,*_ dan seterusnya. Kemudian kita berdoa apa saja, lalu kita rukuk, iktidal, sujud, tasyahud, dan seterusnya.
_Insya Allah,_Anda akan merasakan kenikmatan menangis pada waktu dini hari. Menangis di hadapan Allah SWT. Ini semua dilakukan pada saat shalat sunnat, tidak pada shalat fardhu.
Mengapa ? Pada shalat fardhu, kita dianjurkan untuk memperpendek bacaan shalat, karena boleh jadi ada orang yang hendak melakukan keperluannya di tempat lain. Mungkin juga ada orang yang sangat tua, atau ada di antara pengikut shalat yang sedang sakit. Karena itu Rasulullah hanya memperpanjang shalatnya pada saat beliau melakukan shalat malam. Pada shalat fardhu, Rasulullah tidak melazimkan shalat yang panjang.
Saya kira, menangis yang tulus, tanpa rekayasa, adalah menangis pada waktu kita melakukan shalat sendirian.
Kalau kita menangis dalam keadaan ramai-ramai, maka boleh jadi penyebab tangisan itu adalah sugesti kelompok; karena kita mendengar orang lain terisak-isak, kita ikut menangis juga.
Mungkin ada orang yang tulus juga dalam menangis pada shalat bersamaan itu, tetapi saya kira lebih tulus lagi kalau Anda menangis pada waktu sendirian, ketika kita berduaan dengan Allah SWT. Tangisan yang keluar spontan adalah tangisan yang ikhlas. Dan mata yang menangis karena Allah SWT adalah mata yang tidak akan disentuh api neraka.
Tetapi, sekali lagi, *apakah betul kenikmatan shalat itu hanya terletak pada waktu menangis saja ?* Dalam sebuah hadits qudsi pernah diungkapkan tanda-tanda orang yang shalatnya diterima oleh Allah swt. Artinya, kalau seseorang menemukan tanda-tanda seperti yang diungkapkan oleh hadits tersebut dalam shalatnya, maka insya Allah
dia akan menerima kenikmatan shalat dalam bentuk yang lain. Dia akan merasakan manfaat di dalam kehidupannya. Ada kenikmatan tertentu yang dia peroleh dari shalatnya. Bukan hanya kenikmatan menangis saja, tetapi juga kenikmatan yang lain.
Kalau selama ini shalat kita belum mendatangkan kenikmatan, maka besar kemungkinan shalat kita belum diterima oleh Allah swt. Rasulullah saw yang mulia bersabda:
“Pada hari kiamat nanti ada orang yang membawa shalatnya kepada Allah swt. Kemudian dia mempersembahkan shalatnya kepada Allah swt. Lalu shalatnya dilipat-lipat seperti dilipatnya pakaian yang kumal kemudian dibantingkan ke wajahnya. Allah tidak menerima shalatnya.”
Banyak sekali orang, yang shalat dan shalatnya akan dibantingkan ke wajahnya, ditolak oleh Allah swt. Bahkan ada yang celaka dengan shalatnya.
Allah swt berfirman : “Celakalah orang-orang yang shalat, Yaitu orang-orang yang melalaikan shalatnya”
_(QS. 107:4-5)._
Tanda-Tanda Shalat yang Diterima Allah swt
Lalu, apa tanda-tanda shalat yang diterima oleh Allah swt ? Kalau anda memiliki tanda-tanda yang disebutkan dalam hadis qudsi ini, maka itu pertanda Anda menemukan kenikmatan shalat. Allah swt berfirman :
_”Sesungguhnya Aku hanya menerima sholat orang-orang yang merendahkan diri karena kebesaran-Ku, menahan dirinya dari hawa nafsu karena Aku, yang mengisi sebagian waktu siangnya untuk berzikir kepada-Ku, yang melazimkan hatinya untuk takut pada-Ku, yang tidak sombong terhadap makhluk-makhluk-Ku, *Yang memberi makan kepada yang lapar, yang memberi pakaian kepada orang yang telanjang, menyayangi orang yang terkena musibah, yang memberikan perlindungan kepada orang yang terasing.*_
_*Kelak cahaya orang itu akan bersinar seperti cahaya matahari. Aku berikan cahaya ketika dia kegelapan, aku berikan ilmu ketika dia tidak tahu, Aku akan lindungi dia dengan kebesaran-Ku. Aku suruh malaikat menjaganya, kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku akan segera menjawabnya, kalau dia meminta kepada-Ku, Aku akan segera memenuhi permintaan-Nya. Perumpamaannya di hadapan-Ku seperti perumpamaan firdaus.”*_
_[Hadits Qudsi : *Kalimatullah Al ‘Ulya* hlm 264]_
Tanda pertama, merendahkan diri
Para ulama mengatakan : _*”Kalau saudara sudah berdiri diatas sajadah, sudah mengangkat tangan untuk takbir, ketahuilah bahwa saudara sudah meninggalkan dunia ini, sudah meninggalkan Indonesia. Sudah meninggalkan planet bumi, saudara sudah mi’raj menghadap Allah swt seperti Rasulullah saaw, anda berada di sidratul muntaha”*_
Seperti itulah Anda ketika melakukan shalat. *Imam Al Ghazali,* di dalam salah satu bukunya, pada bab “shalat,” menceritakan kisah salah seorang cucu Rasulullah saw, yang bernama *Imam Ali Zaenal Abidin”.*
_Zayn Al-‘Abidin_ artinya hiasan orang-orang yang ahli ibadah.
Ayahnya adalah *Husain putra Fathimah Az zahra.* dan Fatimah adalah putri Rasulullah saw. Imam al Ghazali bercerita bahwa pada suatu hari orang melihat imam Ali Zaenal Abidin sedang berwudhu dan wajahnya berubah menjadi wajah yang pusat pasi.
Tubuhnya gemetar, ketika beliau ditanya : _*”Apa yang menimpa Anda ?”*_
Imam Ali Zaenal Abidin menjawab, _*”Engkau tidak mengetahui di hadapan siapa sebentar lagi aku akan berdiri”*_
Ketika berwudhu, Imam Ali Zaenal Abidin menyadari bahwa sebentar lagi beliau akan berdiri di hadapan _Rabbul Allamin,_ penguasa alam semesta ini. Karena itu, pada waktu wudhunya saja beliau sudah gemetar, sudah ketakutan, karena sebentar lagi akan menghadap Allah swt.
Tanda kedua : Menahan Nafsu
Orang yang diterima shalatnya oleh Allah swt, mampu mengendalikan dirinya dari hawa nafsunya. Pada hari kiamat nanti, kata Rasulullah saaw, ada orang-orang yag diistimewakan oleh Allah swt; dilindungi khusus sebagai orang-orang penting pada hari kiamat.
Salah satu diantara orang yang mendapat perlindungan ialah orang yang diajak kencan oleh seorang perempuan cantik, yang mempunyai pangkat yang tinggi, tapi dia menolak dari ajakannya seraya berkata, _*”Aku takut kepada Allah swt.”*_ itulah contoh orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya karena takut kepada Allah swt.
Tanda ketiga : banyak berdzikir
Tanda ketiga, mengisi sebagian siangnya atau memecah-mecah waktu siangnya untuk berdzikir kepada Allah.
Kita dianjurkan untuk berdzikir. Dalam Al Quran, *kita tidak diperintahkan untuk banyak melakikan amal saleh, tetapi disuruh melakukan amal sebaik-baiknya.* Al Quran Al-Karim menyebutkan:
_… Allah ingin menguji kamu siapa diantara kamu *yang paling baik amalannya*…_
_(QS. 11:8)_
Allah akan menguji manusia, siapa yang paling baik amalannya _( *ahsanu amalan* )_ dan bukan yang paling banyak amalannya _( *aktsaru amalan* )._ Dalam Al Quran, zikir ada yang diperintahkan untuk dilakukan sebanyak-banyaknya. Dan itu adalah *”berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya”.*
Tanda lainnya : Solidaritas Sosial
Tanda-tanda yang lain ialah membiasakan hatinya takut kepada Allah. _*”Dia tidak sombong kepada makhluk-Ku. dia memberi makan kepada orang miskin, dia menyayangi orang yang terkena musibah, dan memberi perlindungan kepada orang terasing.”*_
Kalau Anda sudah dapat melakukan hal-hal yang disebutkan di atas, maka wajah anda akan memancarkan cahaya yang bersinar seperti cahaya matahari.
Cahaya yang menerangi kegelapan. Allah akan memberikan ilmu disaat anda tidak tahu.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw menyebutkan bahwa *salah satu cara supaya kita dekat dengan Allah swt ialah bersifat dermawan, senang membantu.*
Rasulullah saw bersabda: _*Orang *yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan surga*_ kemudian Rasulullah saaw juga bersabda : _*”Orang yang bakhil jauh dari Allah swt, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka”.*_
_(Biharul Anwar, 73/308)_.
Dalam hadits Qudsi yang lain Allah swt berfirman : _”Aku haramkan surga kepada tiga orang; *Orang yang bakhil, orang yang memberi kemudian menyusulnya dengan caci maki, dan orang yang suka mengadu domba, memecah belah umat Islam”*_
Rasulullah saaw bersabda, _”kalau shalat seseorang *tidak mencegah dia dari kemungkaran, maka shalatnya tidak menambah sesuatu kecuali shalatnya hanya akan menjauhkannya dari Allah swt”*_
Orang yang dermawan insya Allah akan menemukan kenikmatan dalam shalatnya. Dia memperoleh kenikmatan di dalam shalatnya, karena akan dijaga oleh para malaikat, diberi cahaya dalam kegelapan, dan diberi ilmu secara langsung oleh Allah swt.
Begitu mulianya orang-orang yang dermawan, sehingga walaupun ia berdosa besar, ia disukai Tuhan.
_”Ketika *Nabi Musa as* pergi ke bukit *Sinai* meninggalkan bani Israil, ia menitipkan Bani Israil kepada Nabi Harun as, disebutkan bahwa tidak lama setelah kepergian Musa as, orang-orang Bani Israil melakukan kemusyrikan atas bujukan seorang yang bernama *Samiri.* Samiri datang membawa patung emas, patung itu – entah bagaimana – bisa berbicara, dan dapat menjawab langsung permintaan orang. Kemudian samiri mengajak orang untuk menyembah patung dari emas itu. Ketika Nabi Musa as kembali, dipanggilnya Samiri dan harus dihukum karena telah menyesatkan bani Israil. Semula Samiri akan dihukum mati oleh Nabi Musa, tapi kemudian malaikat Jibril as turun dan memberitahukan kepada Musa as supaya Samiri tidak dihukum mati. Dia malah diberi usia yang panjang. Allah swt berfirman, “Lepaskan dia dari hukuman mati karena walaupun dia memurtadkan banyak orang tetapi dia orang yang dermawan” Lantaran kedermawanannya, Allah mengistimewakan Samiri untuk tidak dihukum mati pada waktu itu”_
Dalam kisah yang lain diceritakan
“Pada suatu peperangan, banyak orang Yahudi yang di hukum mati. Ketika satu tawanan mau dihukum mati, tiba-tiba malaikat Jibril as datang memberitahukan kepada Rasulullah saaw. Supaya orang Yahudi itu dibebaskan. Diberitahukan bahwa orang Yahudi yang satu ini suka memberikan makanan, menjamu tamu, dan suka menolong fakir miskin. Ketika Rasulullah datang memberitahukan orang Yahudi itu bahwa dia dibebaskan, dia bertanya : “Mengapa ?” Nabi saaw menjawab, “Allah baru saja memberitahukan kepadaku bahwa kamu suka membantu orang miskin, suka menjamu tamu, suka memikul beban orang lain”. Kemudian Yahudi itu berkata, ” Apakah Tuhanmu menyukai
perilaku seperti itu ?”. Nabi saaw menjawab : “betul, Tuhanku menyukai hal itu.” waktu itu juga orang Yahudi itu memeluk Islam. Dia masuk Islam karena sifat kedermawanannya dicintai Allah swt._
Orang-orang yang suka memberikan pertolongan seperti itu insya Allah akan memperoleh kenikmatan shalat, selain pada tangisan.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan menceritakan seorang pejabat tinggi, direktur sebuah bank nasional ternama di Jakarta. _(Sekiranya beliau membaca tulisan ini, saya mohon maaf)_:
_”Beliau bercerita dalam sebuah pertemuan, *dia ingin sekali merasakan kenikmatan dalam shalat atau kenikmatan membaca Al Quran.* Bukankah Al Qur’an mengatakan bahwa orang yang beriman itu ialah orang yang apabila dibacakan Al Quran akan bergetar hatinya._
_Pak direktur itu telah membeli kaset-kaset Al Quran yang bagus-bagus dari Mesir, dan dari tempat-tempat yang lain di dunia. Dia dengarkan kaset-kaset itu. Dia tidak bergetar dan terguncang hatinya_
_Sampai suatu saat, ia memulai satu kebiasaan yang sangat bagus. Senang membangu fakir miskin, senang mendatangi kampung-kampung kumuh, dan sejenisnya. Rumahnya yang besar dia pecah-pecah menjadi beberapa kamar yang diisi oleh anak-anak yatim yang dipungutnya dari kawasan miskin. Mereka diperlakukan seperti anaknya sendiri; diurus, diberi makan, dan disekolahkan _(beberapa tahun berikutnya dari anak itu ada yang berhasil)._
_Ketika itu, ia berkunjung ke kampung kumuh dan miskin. Di situ ada surau kecil. Ke surau itu masuklah anak-anak miskin. Mereka bersama-sama membaca Al Fatihah. Entah bagaimana ayat Al Quran itu menggetarkan jauh dalam lubuk hatinya. Dia berlinang air mata, dia berkata, *”Kita membantu orang-orang miskin janganlah berfikir bahwa kita membantu. Pada hakikatnya kitalah yang dibantu mereka. Antara lain kita dibawa lebih dekat kepada Allah swt”*._
Rasulullah saaw, menyenangi tempat-tempat yang disitu kita menyantuni fakir miskin.
Kepada Aisyah ra, Rasulullah saaw berpesan, _*”Wahai Aisyah, dekatilah orang-orang miskin. Cintai mereka, nanti Allah akan dekat dengan kamu”*_
Tempat-tempat ketika kita membantu orang-orang yang teraniaya, orang-orang yang menderita, orang-orang yang miskin adalah tempat-tempat yang membawa kita lebih dekat dengan Allah swt. Insya Allah, apabila sesudah shalat, disusul dengan perbuatan-perbuatan tersebut, *terutama menyantuni orang-orang yang menderita dan orang-orang miskin, maka kita akan memperoleh kenikmatan yang lain dari shalat itu.*
 
Ditulis tahun 1990
Ditulis ulang oleh : Pengajian un Patembayan Cakruk

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed