by

Merajut Ukhuwah Sunni-Syiah di Indonesia

“Segala bentuk provokasi, fitnah yang sering dialamatkan kepada Syi’ah, harus dihentikan. Orang yang selalu ‘menyanyikan lagu’ lama tentang Syi’ah, secara sadar atau tidak, sejatinya menjalankan agenda kaum mustakbirîn yang ingin memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa..”

SETIAP hari, berita memilukan tentang jatuhnya korban putra- putri terbaik umat ini membanjiri ruang informasi kita. Entah itu terbunuh atau luka oleh tangan-tangan kaum mustakbirin dan antek-antek mereka.
Di Palestina, hampir setiap hari surga tidak absen men- jamu mujahidin anak negeri yang tewas akibat peluru musuh, zionis Israel. Di medan tempur antara mujahidin Chechnya dengan Rusia, darah-darah suci dengan deras mengalir dari tubuh para pejuang Islam yang perkasa. Adapun holocaust umat Islam di Bosnia, Albania, Phillipina, Thailand, menjadi serial tragedi yang tak pernah padam menimpa umat kita.
Korban- korban Islam di lorong-lorong penjara Israel, Guantanamo, dan di mana saja oleh kejamnya siksaan sedemikian rupa sehingga hanya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Perkasa yang menjadi tumpuan harapan mereka.
Kita benar-benar tersayat oleh darah dan penderitaan mereka. Tetapi, di saat yang sama, membangkitkan tekad dan harapan akan pertolongan Allah Swt; selama darah itu mengucur di medan tempur melawan para musuh, demi tegaknya Islam, kebebasan dan kemerdekaan.
Beberapa tahun terakhir ini berita memilukan sering kita lihat di media massa. Jatuhnya banyak korban tewas maupun luka akibat konflik ‘sektarian’ antara Syi’ah dengan Sunnah di Irak, seolah menjadi menu wajib media massa kita pasca invasi Amerika ke Irak. Berita semacam ini lebih menyayat perasaan kita daripada berita lainnya.
Meski—umpamanya—jumlah korban hanya satu orang saja, tetapi lebih menyakitkan daripada ribuan korban yang jatuh di Palestina, Chechnya, Lebanon atau di medan jihad lain. Seribu syahid yang gugur di medan juang hakiki melawan musuh membawa berita gembira akan pahala Allah dan semakin dekatnya kemenangan.
Sedangkan jatuhnya satu korban dalam konflik dungu antar madzhab sungguh sangat menyayat hati kita dan membawa kesedihan yang mendalam.
Apalagi dalam kasus Irak, ribuan nyawa tak berdosa telah menjadi korban. Ditambah dengan rusaknya pusat-pusat peradaban dan fasilitas umum lainnya.
Kasus Irak harus menjadi pelajaran penting bagi kita, umat Islam Indonesia. Ancaman disintregasi bangsa ada di hadapan kita. Isu Sunni-Syi’ah tidak boleh menambah carut- marutnya negeri kita. Bahwa Ahlussunnah sebagai madzhab mayoritas di Indonesia adalah fakta yang tidak bisa dibantah.
Tetapi, fakta juga membuktikan bahwa tradisi masyarakat Indonesia adalah tradisi Syi’ah. Syi’ah menjadi pilihan hidup bagi sebagian umat Islam Indonesia.
Kekuatan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka sekarang telah ber- gabung dalam ORMAS resmi yang dilindungi oleh undang-undang negeri ini. Artinya, Syi’ah telah menjadi aset bangsa yang harus dipelihara dan dilindungi, bukan dimusuhi. Tirani mayoritas harus dihindari.
Mereka yang aktif dalam gerakan Syi’ah Indonesia bukan- lah Syi’ah keturunan. Mereka memilih Syi’ah sebagai jalan hidup setelah melewati laku spiritual dan intelektual yang panjang. Maka, konsekuensi dari pilihan hidup akan dihadapi dengan semangat perjuangan karbala. Spirit syahadah Imam Husein menjadi inspirasi perjuangan mereka. Mengalir seperti aliran darah dalam tubuh mereka.
Karena itu, segala bentuk provokasi, fitnah yang sering dialamatkan kepada Syi’ah, harus dihentikan. Orang yang selalu ‘menyanyikan lagu’ lama tentang Syi’ah, secara sadar atau tidak, sejatinya menjalankan agenda kaum mustakbirîn yang ingin memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa.
Toleransi harus ditegakkan pada bangunan umat Islam. Toleransi akan muncul dengan adanya saling memahami antara satu dengan yang lain.
By Muhammad Babul Ulum dalam pengantar buku “Merajut Ukhuwah, Memahami Syiah”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed