by

Peran dan Karya Muslim Syiah dalam Ilmu 'Arudh

Tentang Orang Pertama yang Meletakkan Ilmu ‘Arudh
Ia adalah Al-Khalil ibn Ahmad yang telah dibahas sebelum ini pada bab ilmu bahasa Arab. Tidak ada seorang pun yang mendebat bahwa Al-Khalil adalah orang pertama yang menyimpulkan ‘Arudh dan meletakkan syair-syair Arab ke dalam kerangkanya, sehingga ia dikenal dengan nama ‘Arudhie. Seandainya kita hendak membawakan kesaksian tokoh-tokoh atas fakta ini, tentu akan menyita banyak waktu kita di pasal ini. Di dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah menukil sekelumit kesaksian tersebut.
Di dalam Ash-Shahibi, Ibnu Faris secara tegas mengklaim bahwa sesungguhnya ilmu ‘Arudh telah ada sejak dahulu, hanya saja waktu datang silih berganti sehingga menjadi langka dan asing di tengah orang Arab. Ketika itulah Al-Khalil hadir dan memperbaharui ilmu tersebut. Ibnu Faris mendasarkan keterangannya ini pada perkataan Al-Walid ibn Al-Mughirah tentang Al-Quran: “Aku telah membacakan apa yang dibaca oleh Muhammad untuk dibandingkan dan dinilai segenap segi-seginya dengan komposisi-komposisi syair Arab, namun aku tidak mendapatkan sesuatu pun yang menyamainya. Bahkan, tidak ada ucapan dari tradisi Arab terdahulu yang mendukungnya, tidak pula laporan sejarah atau kesimpulan yang benar.”
Keterangan Ibnu Faris di atas ini hanyalah dugaan dan perkiraan yang hanya dia yang mengatakannya. Maka itu, ia tidak ada nilai validitasnya bagi para ahli sejarah dan tradisi. Adapun Al-Walid adalah orang yang?berdasarkan karakter dan talenta puitiknya?hanya dikenal sebagai ahli rima syair Arab. Sebagaimana ia juga mengetahui bahasa secara baik. Namun, ini tidaklah sama dengan bagian dan macam yang dirumuskan oleh Al-Khalil Al-Farahidi ke dalam lima balok dan menguraikannya hingga lima belas matra.
Hamzah ibn Al-Hasan Al-Ishfahani di dalam At-Tanbih mengatakan: “Dengan demikian, sesungguhnya negeri Islam tidak melahirkan orang yang lebih awal menciptakan cabang-cabang ilmu yang sebelumnya tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh Arab kecuali Al-Khalil. Tidak ada pula dalil yang lebih kuat dan lebih jelas atas hal ini selain keberadaan ‘Arudh; ilmu yang oleh Al-Khalil tidak dirumuskan dari seorang bijak pun dan tidak dikembangkan dari sebuah gagasan yang sudah ada sebelumnya.”
Kesaksian di atas ini juga telah saya nukil dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam.
Abul Faraj Muhammad ibn Ishaq ibn Abu Ya’qub An-Nadim, tatkala membahas nama Al-Khalil, mengatakan: “Ia adalah orang pertama yang membidani ilmu ‘Arudh dan meletakkan batasan-batasan kaidah pada syair-syair Arab.” Begitu pula Ibnu Qutaibah menuturkan: “Al-Khalil adalah pencipta ilmu ‘Arudh.”
Abu Bakar Az-Zubaidi dalam pembukaan kitab Istidrokul Ghalath berkata: “Al-Khalil ibn Ahmad adalah tokoh utama di jamannya dan pemecah sejarah, pemuka umat, guru besar para ahli, tidak dijumpai tandingannya, tidak dikenal padanannya di dunia. Ia mengarang kitab tentang sesuatu yang benar-benar baru, yaitu kitab Al-Farsy wal Mitsal fil ‘Arudh. Di dalamnya, ia merumuskan semua matra-matra syair dan membentuknya ke dalam kerangka rumusan layaknya sebuah kitab, lalu melengkapinya dengan model dan bentuk yang melumpuhkan daya pikir, membekukan daya kreasi, dan menggetarkan jantung.”
Abdul Wahid dalam Maratib An-Nahwiyyin mengatakan: “Al-Khalil menggagas Badi’e; sebuah disiplin ilmu belum dijumpai sebelumnya. Ia juga menciptakan ilmu ‘Arudh dan menurunkan ke dunia sastra Arab sejumlah model syair yang bukan dari model matra-matra syair Arab.”
Tatkala membawakan riwayat hidupnya, Ibnu Khalkan membubuhkan: “Dialah yang membongkar ilmu ‘Arudh dan mengangkatnya ke permukaan dunia.” Begitu pula Allamah Jamaluddin Al-Hasan ibn Yusuf ibn Al-Muthahhar Al-Hilli dalam Al-Khulashoh menyatakan: “Al-Khalil ibn Ahmad orang paling disegani di dunia sastra. Statemennya adalah bukti. Dialah pencipta ilmu ‘Arudh. Kepandaiannya mengungguli popularitasnya. Al-Khalil adalah mazhab Syi’ah Imamiyah.”
Seandainya saya berminat untuk menukil pernyataan dan kesaksian atas kedudukan tinggi Al-Khalil ibn Ahmad dari tokoh-tokoh besar sastra Arab, sudah barang tentu akan memakan banyak waktu dan lembaran kitab ini. Saya kita apa yang telah saya bawakan di atas tadi cukup memadai kapasitas pembahasan di pasal ini.
Tentang Orang Pertama yang Mengarang Kitab di Bidang ‘Arudh Pasca Al-Khalil
Ketahuilah bahwasanya dia adalah Abu Utsman Al-Mazani Bakr ibn Habib; seorang tokoh besar Nahwu yang wafat pada 248 H. Abu Utsman adalah salah satu budak Ismail ibn Maytsam; imam kaum mutakallim Syi’ah sebagaimana yang dilaporkan oleh Abul Abbas Al-Mubarrad. Di dalam Fehrest Asma’ Mushonnifisy Syi’ah, Abul Abbas An-Najasyi berkata: “Abu Utsman Al-Mazani adalah tokoh utama di atas para ahli Nahwu, bahasa dan sastra Arab di kota Basrah. Ihwal kepeloporannya di cabang-cabang ilmu ini sudah sangat masyhur.”
Hal senada juga disampaikan oleh Jamaluddin ibn Al-Muthahhar Al-Hilli dalam Al-Khulashoh, dan ia menegaskan bahwa Abu Utsman Al-Mazani bermazhab Syi’ah Imamiyah. As-Suyuthi dalam kitab Ath-Thabaqot mengatakan: “Ia adalah imam dalam bahasa Arab, berwawasan luas dalam riwayat hadis. Ia percaya pada mazhab Murji’ah dan tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali ia taklukkan lantaran kekuatannya dalam berbicara. Suatu hari, ia pernah berdebat dengan Al-Afkhasy dan membuatnya terdesak hingga tak lagi berkutik.” Abul Abbas Al-Mubarrad berkata: “Setelah Sibaweih, tidak ada orang yang lebih pandai dalam ilmu Nahwu dari Abu Utsman Al-Mazani.”
Abu Utsman Al-Mazani menulis beberapa kitab, seperti Fil Quran, ‘Ilal An-Nahw, Tafasir Kitab Sibaweih, Ma Yalhanu Fihil ‘Ammah, Al-Alif wa Al-Lam, At-Tashrif, Al-‘Arudh, Al-Qowafie, dan Ad-Dibaj. Semua judul kitab-kitab ini dibenarkan oleh Ibnu Nadim, As-Suyuthi, Al-Himawi dan tokoh-tokoh lainnya. Kitab terakhir ini, yakni Ad-Dibaj, adalah kitab besar Abu Utsman, sebagaimana yang juga dicatat oleh pengarang kitab Kasyful Dzunun.
Tentang Kitab ‘Arudh yang Dikarang oleh Kaum Syi’ah
Terdapat karya-karya selain judul-judul di atas tadi yang dikarang oleh orang-orang Syi’ah. Di antaranya kitab Al-Iqna’e fil ‘Arudh; karya Kafil Kufat Ash-Shohib ibn ‘Imad yang telah kita bahas sebelum ini.
Lalu, kitab Shan’atusy Syi’r fil ‘Arudh wal Qowafie; karya Al-Husein ibn Muhammad ibn Ja’far ibn Muhammad ibn Al-Husein Ar-Rafi’ie yang terkenal dengan julukan Al-Khali’e (Sang Pemecat). Ia wafat pada pertengahan abad keempat. Di dalam Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, riwayat hidupnya dibawakan secara terinci. Di sini, dapat dipastikan bahwa Al-Husein ibn Muhammad Ar-Rafi’ie adalah seorang penganut Syi’ah Imamiyah.
Lalu, kitab ‘Ayarusy Syi’r, kitab Tahdzibuth Thab’e, kitab Al-‘Arudh. Semua kitab ini karya Syarif Abul Hasan Muham-mad ibn Ahmad Ath-Thabathabai Al-Ishfahani sebagaimana yang dinyatakan dalam Nasamatus Sahar pada tema “Orang yang Bermazhab Syi’ah dan Bersyair.” Ia lahir pada tahun 322 H. Pengarang kitab Ma’ahid At-Tanshish menyebutkan data ini lalu memujinya. Ia menyebutkan judul kitab terakhir Syarif Abul Hasan itu, Al-‘Arudh, dan mengenangnya: “Itulah kitab yang tidak ditemukan padanannya.” Syarif Abul Hasan juga pencipta beberapa bait syair yang masyhur itu:
Duhai dia yang melukiskan
Bagai embun begitu lembut
Sedang hatinya keras selaksa batu
Ah! Andai nasibku busana pada tubuhmu
Wahai satu dari bangsa manusia
Akankah kalian dikejutkan
Orang yang melepas baju tidur
Saat ia tlah kaitkan
Butir-butir kancingnya pada rembulan
Lalu, kitab Al-‘Arudh wal Qowafie; karangan Muhammad ibn Ahmad Al-Wazir sebagaima telah dibahas sebelum ini.
Lalu, kitab Al-Kafie fi Ilmil ‘Arudh wal Qowafie dan kitab Nadzmul ‘Arudh; karangan Sayyid Abu Ridha Fadhlullah Ar-Rawandi ra. yang hidup pada tahun 548 H. Riwayat hidupnya dibawakan secara indah di dalam Ad-Darojat Ar-Rofi’ah fith Tabaqot Asy-Syi’ah.
Lalu, sebuah risalah Ar-‘Arudh wal-Qowafie; karangan Al-Hakim Al-Anwari, seorang penyair yang wafat pada masa-masa keruntuhan dinasti Abbasiyah.
Lalu, kitab Al-‘Arudh; karya Raja Para Tokoh Nahwu. Ia juga pengarang Al-‘Umdah fin Nahw sebagaimana disebutkan dalam Kasyful Dzunun. Masih dalam kitab ini, ia dinyatakan sebagai orang syi’ah. Akan tiba keterangan lebih rinci ihwal dirinya pada pembahasan ‘Tokoh-tokoh Besar Ilmu Nahwu’, Insyaallah!
Lalu, kitab Al-Iklil At-Tajie fil ‘Arudh, Qurratu ‘Ainul Khalil fi syarh An-Nadzm Al-Jalil li ibn Hajib, dan kitab Syarh Qoshidah Shadruddin As-Sawi fil ‘Arudh. Semua kitab ini karya Syeikh Taqiyyuddin Al-Hasan ibn Ali ibn Dawud Al-Hilli, penulis kitab Ar-Rijal. Ia terkenal dengan nama Ibnu Dawud, murid Sayyid Ibnu Thawus yang telah diulas dalam pembahasan mengenai ulama-ulama ilmu “Al-Jarh wat Ta’dil”.
 
sumber : alhassanain.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed