by

Ulama "Su" dalam Riwayat Ahlul Bayt as

Ulama adalah tempat masyarakat mengadu dan menjadikan mereka sebagai suri telaudan sehari hari. Namun apa jadinya ketika ulama telah rusak dan memanfaatkan keulamaannya demi harta, tahta dan wanita?
Tempat kembalinya masyarakat ketika mereka membutuhkan tempat berlindung, namun tempat berlindung itu telah rusak dan terkontaminasi, maka secara otomatis masyarakat akan ikut rusak dan hancur. Untuk itu ulama diibaratkan kutub masyarakat, yang mana ketika mereka telah rusak, maka masyarakatpun akan ikut rusak.
Apa itu Ulama “su”?
Ulama yang ilmunya untuk mendapatkan kenikmatan duniawi semata dan tujuannya adalah kenikmatan dunia dan martabat tinggi dihadapan masyarakat.
Ulama “Su” dalam pandangan Ahlul Bayt as
Sayid Muhammad Husein Tehrani dalam bukunya salik Aghah menjelaskan hadis dari Imam Jakfar Ashadiq as terkait pembagian ulama-ulama “su.” Imam Shadiq as membagi ulama “su” dalam beberapa kriteria:
1. Ulama yang mengambil ilmu dari maarif Ahlul bayt, lalu, merubah isi dari ilmu tersebut demi kepentingan dirinya atau penguasa.
2. Ulama yang jelas-jelas berdusta atas nama Al-Quran dan Sunnah demi mendapatkan manfaat duniawi serta menjauhkan masyarakat dari Ahlul Bayt as
3. Ulama yang sudah berusaha berdagang ilmu demi mendapatkan sponsor, namun tidak mendapatkan pembeli sehingga bertindak ngawur dan merusak sosial.
Ulama “SU” dalam pandangan Rasulullah saww dan Imam Ali as
Sayid Tehrani dalam bukunya menjelaskan hadis-hadis terkait ulama “su” dari Rasulullah saww dan Imam Ali as.
Rasulullah saww bersabda,
“ Seburuk-buruknya Ulama adalah yang menyesatkan umat dari kami, menjauhkan umat dari kami, menjegal jalan kebenaran umat kepada kami, mencuri nama dan laqab kami lalu diberikan kepada musuh-musuh kami atau kepada yang tidak layak. Memuji para penguasa dzalim, padahal laknat lebih layak bagi mereka.”
Sepanjang sejarah kita banyak melihat ulama-ulama yang disifati oleh Rasulullah saww. Baik pada zaman bani Umayah, atau pada zaman bani Abbas. Demi mendapatkan tempat di kerajaan atau secuil dinar dan dirham, mereka tidak segan menjual Hadis palsu atas nama Rasululllah saww dan menjual tafsir Al-quran demi kepentingan politik penguasa.
Imam Ali as ditanya terkait manusia terburuk dari yang terburuk:
فَمَن شِرارُ خلق الله بعدَ إبلیسَ و فرعونَ و نمرودَ، و بعدَ المُتَسَمّین بأسمائکم، المُتَلقِّبین بألقابکم، و الآخذین لأمکِنَتِکم، و المتأمّرین فی ممالِکِکُم؟
Wahai Imam Ali as, siapakah makhluk Allah swt yang terburuk setelah Iblis, Firaun, Namrud , para pencuri nama dan laqab kalian, pengambil dan pencuri hak-hak serta kepemilikan kalian?
Imam Ali as menjawab,
العلماء إذا فَسَدوا، هم المُظهِرون لِلأباطیل، الکاتمون للحقائق، و فیهم قال الله عزوّجلّ: «اولئک یَلعَنهُم الله و یَلعَنهُم اللّاعِنون * الا الذین تابوا
Mereka adalah Ulama-ulama “su” karena ketika mereka telah rusak, mereka menampilkan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran. Tentang mereka Allah swt berfirman, “ Mereka adalah kaum yang Allah swt laknat dan dilaknat pula oleh seluruh makhluk yang bisa melaknat. Kecuali mereka benar-benar bertaubat.
Jika kita melihat pernyataan Imam Ali as, maka kita akan melihat dengan jelas bahwa Ulama “su” lebih buruk dari Firaun, Namrudz dan musuh-musuh Ahlul bayt as. Karena mereka membungkus keburukan dengan kebaikan dengan jubah ulama. Bahkan mereka menjual nama Rasulullah saww dan Al-Quran demi kepentingan duniawi dan penguasa.
Hasan bin Tsabit bersyair terkait ulama-ulama seperti ini:
عجبتُ المبتاع الضلالة با لهدی و من يشتری الدنيا بالدين أعجب
و أعجب من هذين من باع دينه بدينا سِواه فهو من ذين أعجب
Aku heran dengan penjual kesesatan dengan baju petunjuk, namun aku lebih heran lagi yang membeli dunia dengan agama.
Aku lebih heran lagi dari kedua pelaku (diatas) yang menjual agamanya demi orang lain (Hartawan/Penguasa)
oleh : Abu Syirin Al Hasan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed