by

Wangsit Siliwangi dan Kota Qom

Prabu Siliwangi sebelum menghilang dari pandangan pengikut setia dan rakyatnya berpesan kepada mereka yang terkenal dengan Uga wangsit Siliwangi. Pesan Prabu Siliwangi ini sangatlah panjang, namun yang perlu digaris bawahi adalah suatu saat Padjajaran akan kembali Berjaya ditangan seorang pemuda (Satria Piningit) yang akan hijrah ke Ciwene/Ciwane.
Arti kata Ci dan Wene
Ci dalam bahasa sunda singkatan dari Cai yang bermakna Air, namun maksud dari kata CI adalah sebuah tempat untuk bermukim. Karena ketika sebuah tempat untuk bermukim tidak memiliki air sebagai sumber kehidupan manusia, maka dipastikan tempat tersebut tidak layak huni. Contoh kongkrit adalah ketika Siti hajar ditinggalkan di dekat Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan tidak ada sumber air sedikitpun, maka dipastikan tempat itu tidak layak huni. Untuk itu Allah swt memberikan air Zamzam untuk Sayidah Hajar agar tempat tersebut menjadi tempat layak huni. Terbukti setelah mata Air Zamzam melimpah ruah, tempat tersebut menjadi sebuah pemukiman yang sekarang terkenal menjadi Mekah.
Wene atau Wane memiliki makna yang variatif namun dalam bahasa sunda klasik wene adalah Perempuan Perawan Suci, Waneja suci atau awewe parawan suci. Cuman arti lembah perempuan perawan suci ini tidak pernah disentuh oleh para pentakwil kata-kata Uga Wangsit Siliwangi, karena menurut mereka makna ini tidak relevan.
Seperti diskusi saya dengan seorang Sunda yang memiliki darah dan keturunan langsung dengan kerajaan padjajaran ketika mengartikan seorang pemuda (Satria Piningit) akan Hijrah ke Ciwene, kebingungan jika mengartikannya ke sebuah tempat yang dimiliki oleh Perempuan Perawan Suci, karena tempat tersebut hematnya, tidak ada.
Untuk itu para penakwil Uga Wangsit Siliwangi mengartikan Ciwene dengan arti yang lain seperti Lembah berbentuk mangkok, Palung, Istana bawah laut, Daerah perawan (Belum tersentuh), Dataran Rendah seperti: Bandung, Bogor, Banten, Jakarta dll. Ketika diartikan dengan lembah dataran rendah atau Palung, semua kota yang berdataran rendah mengklaim bahwa Ciwene adalah daerah mereka dan itu justru mengaburkan Uga Wangsit Siliwangi.
Ciwene dalam Literatur Ahlu Bayt as
Islam memperkenalkan Dua Perempuan Perawan Suci, Pertama Sayidah Maryam dan yang kedua adalah Sayidah Fatimah Maksumah. Untuk yang pertama sangat jelas disebut didalam sejarah dan Al-Quran, namun yang kedua tidak banyak diketahui kaum muslimin terkecuali kaum muslimin dari Mazhab Ahlul Bayt as.
Sayidah Fatimah Maksumah as dilahirkan di kota Madinah pada tanggal 1 Dzulqadah, tahun 173 hijriah. Wanita Suci ini dibesarkan di bawah bimbingan dua manusia suci, ayahnya Imam Musa Kadzim as, dan kakaknya Imam Ridha as.
Pada tahun 200 hijriah, Imam Ali ar-Ridha as terpaksa meninggalkan kota Madinah menuju Khorasan di bawah tekanan penguasa Dzalim saat itu. Setahun kemudian, Sayidah Fatimah Maksumah berangkat menyusul kakaknya menuju kota Marv ditemani sejumlah saudaranya seperi Fadhil, Jafar, Hadi, Qasim dan Zaid serta beberapa orang lainnya.
Perjalanan wanita agung beserta rombongan dari Madinah menuju Khorasan tersiar ke berbagai wilayah. Di setiap daerah yang mereka lewati, para pencinta Ahlul Bait menyambutnya, dan memanfaatkan kehadiran sumber pengetahuan dan keluhuran akhlak ini. Mereka juga ingin mendapatkan berkah dari kedatangan manusia agung ini di daerah yang dilewati rombongan Sayidah Maksumah. Begitupula Sayidah Maksumah menjelaskan penerimaan putra mahkota Imam Ridha as dan keharusan khilafah ditangan Imam-imam Ahlul Bayt as.
Tentunya perjuangan Sayidah Maksumah memancing amarah penguasa Abbasiyah ketika itu, sehingga beliau dikejar dan di intimidasi dan banyak dari kubu Sayidah Maksumah gugur meneguk cawan kesyahidan dan Sayidah Maksumah akhirnya jatuh sakit. Dalam sakitnya beliau berpesan untuk dibawa ke kota Qom.
Beliau berkata, “”Bawalah aku ke kota Qom, karena aku mendengar dari ayahku bahwa kota ini adalah pusat para pecinta Ahlul Bait as.” Mendengar permintaan Sayidah Fatimah, mereka pun membawa beliau ke kota Qom.”
Tepat tanggal 23 Rabiul Awal 201 Hijriah, Sayidah Maksumah as bersama rombongannya tiba di kota Qom. Para tokoh dan ulama Qom menyambut rombongan Ahlul Bait Rasulullah Saww. Seorang pecinta Ahlul Bait as dan pembesar di kota Qom yang bernama Musa bin Khazraj, menjadi tuan rumah yang menjamu Sayidah Fatimah selama di kota Qom. Sayidah Fatimah berada di kota Qom selama 17 hari. Pada hari-hari terakhir masa hidupnya, Sayidah Fatimah lebih banyak menyibukkan diri bermunajat kepada Allah Swt. Beliau akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 10 Rabiul Tsani dan dimakamkan di kota Qom.
Kini kota Qom terkenal dengan Kota wanita suci. Maksumah sendiri bermakna suci dari segala bentuk dosa dan kotoran. Iran menggelari kota Qom sebagai “ Syahre Hazrate Ma’sumeh” yaitu Kota Wanita Suci.
Berkat Wanita Perawan suci ini, Qom berubah menjadi kota pendidikan dan pusat pendidikan agama Islam, khususnya Mazhab Ahlul Bayt as serta tempat mencetak Ulama-ulama dan kader-kader yang sangat berpengaruh didunia sekarang.
Sebut saja, Imam Khomeini, Sayid Ali Khamenei, Sayid Hasan Nashrullah Libanon, Sayid Husein Al-Hautsi Yaman dan lainnya yang tidak mungkin satu persatu disebutkan disini adalah Produk Hauzah Ilmiyah Qom Kota wanita suci.
Untuk itu tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu tafsiran diantara tafsiran-tafsiran Uga wangsit Siliwangi bahwa  Padjajaran atau Nusantara akan berubah suatu saat oleh seorang Pemuda yang Hijrah ke Ci Wene (Kota Wanita suci Qom Al-Muqaddasah) dan memberikan perubahan yang signifikan sebagai penghubung dengan Ratu Adil. (Imam Mahdi as/Wali Amr)
Abu Syirin Al-Hasan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed