by

Al-Alusi (Ulama Besar Ahlussunah), Siapa Bidadari Manusia di Surat Al-Insan?

Al-Alusi dalam Tafsirnya Ruhul Maani menjelaskan bahwa Surat Insan adalah surat yang khusus Allah swt turunkan untuk Ahlul Bayt as.
Ketika Allah swt menjelaskan tentang kenikmatan surga, Pasti Allah swt mencatumkan kenikmatan Bidadari didalamnya. Namun ketika Allah swt menceritakan kenikmatan surga didalam surat Insan, tidak mencantumkan sama sekali Bidadari didalamnya.
Gerangan apakah sehingga Allah swt tidak mencatumkan “Hurul Ein” didalam surat Al-Insan?
Al-Alusi didalam kitab tafsirnya Ruhul Maani menjelaskan sebab-sebab kenapa disemua surat yang menceritakan kenikmatan surga Allah swt mencatumkan kenikmatan bidadari, namun didalam surat Al-Insan Allah swt melakukan pengecualian tidak mencatumkan sama sekali bidadari.
Ya, Dikarenakan didalam surat Al-Insan ada Haura Insiyah, Bidadari Manusia. Sayidatul Itrah Fatimah Zahra as. Ulama besar Ahlu Sunah ini bahkan menambahkan alasan mengapa Allah swt tidak mencatumkan bidadari di dalam surat Al-Insan.
Al-Alusi berkata,
“Karena Allah swt ingin menjaga perasaan Sayidah Fatimah Zahra as sehingga tidak mencatumkan bidadari didalamnya.”
Dahsyat…Allah swt Wajibul wujud, Kesempurnaan Mutlak, Sang maha tidak terbatas menjaga perasaan kekasihnya Fatimah Zahra as Haura Insiyah.
Lalu bagaimana dengan Orang-orang yang menyakiti perasaannya setelah kematian ayahandanya. Bagaimana dengan orang-orang yang menyerang kediamannya. Bagaimana dengan orang orang yang membawa kayu bakar mengatakan,
“ Wahai Fulan didalam rumah tersebut terdapat kekasih Ahmad Fatimah Zahra as?”
Dan orang tersebut mengatakan, “ Sekalipun.”
Allah swt menjaga perasaan Fatimah Zahra as didalam surat Al-Insan. Lalu bagaimana murkanya Allah swt kepada orang-orang yang mendzalimi sayidah Fatimah Zahra as.
Untuk itu Imam Jawad as selalu menangis keras ketika mengenang Syahadah bunda Fatimah Zahra as dan berkata,
“ Wallah laqad Hutika Hijabullah”
Demi Allah!! Pada waktu itu (Pasca kembali dari Saqifah) mereka telah mengoyak ngoyak Hijab Allah swt.
Untuk itu Ayatullah Marasyi Najafi selalu bersedih jika mengenang rasa sakit yang menimpa Bunda Zahra as. Sehingga melakukan amalan Itikaf 40 hari di Haram Imam Ali as demi mengetahui makam neneknya Fatimah Zahra as.
Setelah Imam Ali as menghentikan beliau dan menunjukan makam sayidah Fatimah Maksumah sebagai ganti Kubur Bunda Zahra as, beliau diakhir hayatnya tetap berharap mengetahui kubur Bunda Zahra as.
Sayid Marasyi Najafi di detik-detik kematiannya banyak berbincang dengan temannya dari kalangan Jin yang sudah berumur 5000 tahun dan pernah membantu Imam Ali as membantai kaum Jin yang bughat dan berbaiat kepada Imam Ali as di Ghadir Khum.
Akhirnya Sayid Marasyi tak kuasa menahan unek-unek hatinya dan bertanya kepada sahabatnya dari kalangan Jin terkait kuburan ibunya Fatimah Zahra as. Jin itu menangis dan terdiam lama dan meminta maaf kepada Sayid Marasyi seraya berkata,
“Pada waktu itu kami ingin mengiringi Maula Imam Ali as dalam acara pemakaman, namun ketika itu tiba-tiba alam jin menjadi gelap gulita sampai proses pemakaman selesai. Ketika itu untuk pertama kali Alam Jin menjadi gelap gulita sehingga kami tidak bisa melihat satu sama lain.”
Duka Zahra, jika ditimpakan kepada siang akan berubah menjadi malam.
Adhamallah Ujurakum Bi Syahadati Fatimah Zahra as
 
Sumber : FB Abu Syirin Al-Hasan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed