by

Imam ke 10 Ahlulbait : Imam Ali bin Muhammad Al-Hadi As

Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa (Bahasa Arab: ابوالحسن علی بن محمد بن علی بن موسی ) lebih dikenal dengan sebutan Imam Hadi As (212-254 H) putra dari Imam Jawad As dan Imam kesepuluh umat muslim Syiah.
Ia juga dikenali dengan nama Imam Ali al-Naqi As. Ia sejak tahun 220 H sampai 254 H yaitu selama 34 tahun memegang jabatan keimamahan atas umat Islam Syiah.
Ia banyak menghabiskan masa keimamahannya di kota Samara Irak dan berbarengan dengan masa kekhilafaan sejumlah khalifah dari Bani Abbasiyah diantaranya khalifah Mutawakkil Abbasi. Ia dimakamkan di kota Samara, yang pada tahun 2004 kubah makamnya rusak akibat sebuah aksi peledakan yang dirusak kembali pada tahun 2005 melalui aksi peledakan dengan modus yang sama.
Imam Hadi As banyak meriwayatkan hadis mengenai aqidah, tafsir Al-Qur’an, fiqh dan akhlak. Doa Ziarah Jamiatu Kabir salah satu doa ziarah yang masyhur dikalangan Syiah menurut keyakinan yang kuat juga diriwayatkan oleh Imam al Hadi As.
Dimasa keimamahannya, ia mendidik dan mencetak banyak murid yang kemudian menjadi ahli dan pakar dalam bidang agama. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah adalah Abdul ‘Adzhim Hasani, Utsman bin Sa’id, Ayyub bin Nuh, Hasan bin Rasyih dan Hasan bin Ali Nashir.
Nasab, Kuniya dan Laqab
Ayah Imam Hadi yaitu Imam Jawad adalah imam kesembilan umat Islam Syiah. Ibunya bernama Samanah [1]atau dalam riwayat lain Sausan [2]Ia memiliki putra yang kemudian menjadi imam penggantinya yaitu Imam Hasan Askari, sehingga kemudian ia dan putranya dikenal dengan nama ”Askariyyin”. [3] Ia sejak tahun 233 H atas perintah Khalifah Bani Abbas menetap di Samara, sampai kemudian menghabiskan usianya juga di kota tersebut. Imam Hadi As banyak memiliki gelaran/laqab, diantaranya: Najib, Murtadha, Naqi, Alim, Faqih, Amin dan Tayyib. [4]kuniyanya yang terkenal adal Abu al-Hasan. [5]
Diantara imam yang memiliki kuniya yang sama adalah Imam Kadzhim As dan Imam Ridha As, yaitu Abu al-Hasan. Untuk bisa membedakan antara ketiganya maka disebut Abu al-Hasan awal untuk Imam Kadzhim As, Abu al-Hasan Tsani (kedua) untuk Imam Ridha As dan Abu al-Hasan Tsalits (ketiga) untuk Imam Hadi As. Ukiran yang terdapat dalam batu cincin Imam Hadi As “‌اللّه ربّی و هو عصمتی من خلقه‌” [6]Cincin lainnya berukiran kaligrafi yang bertuliskan, “حفظ العهود من الخلاق المعبود” [7]
Kelahiran dan Wafatnya
Berdasarkan periwayatan dari Syaikh al-Kulaini, Syaikh Mufid dan Syaikh Thusi dan juga Ibnu Atsir, Imam Hadi lahir pada pertengahan bulan Dzulhijjah tahun 212 H di kawasan yang bernama Sharya di dekat kota Madinah. [8] Sebagian perawi lain yang meyakini tanggal kelahirannya pada hari kedua atau kelima bulan Rajab tahun yang sama. [9][10] Syaikh Mufid dan perawi lainnya meriwayatkan Imam Hadi wafat pada bulan Rajab setelah 20 tahun 9 bulan menetap di Samara. [11] Sebagian sumber menyebutkan ia wafat pada hari ketiga Rajab. [12]Berdasarkan riwayat lainnya versi wafatnya justru terjadi pada tanggal 25 atau 26 Jumadil Tsani. [13] Tahun wafatnya bersamaan dengan periode pemerintahaan khalifah ke-13 Dinasti Abbasiyah, yaitu Mu’taz.
Istri dan Keturunannya
Istri Imam Hadi As bernama Salil. [14]Ia budak dari Naubah [15]yang kemudian melahirkan Imam Hasan Askari As. Mayoritas ulama Syiah menyebutkan Imam Hadi memiliki 4 orang putra, namun mengenai jumlah putrinya para sejarahwan berbeda pendapat. Hadhaini menulis, putra Imam Hadi As terdiri dari Imam Hasan Askari As, Muhammad, Husain dan Ja’far. Yang terakhir ini karena mengklaim diri sebagai imam pengganti ia dikenal dalam sejarah dengan sebutan Ja’far al-Kadzab (pendusta). [16] Mengenai keturunan Imam Hadi As, Syaikh Mufid menulis, “Penggantinya adalah Aba Muhammad Hasan sebagai imam selanjutnya, sementara keturunan lainnya bernama Husain, Muhammad, Ja’far dan seorang putri bernama Aisyah.” [17] Sementara Ibnu Sahr Ashub berpendapat putri Imam Hadi As bernama Aliyah. [18]Sebagian ulama Ahlusunnah juga berpendapat sama, bahwa Imam Hadi As memiliki 4 putra dan seorang putri. [19]
Masa Keimamahan
Imam Hadi As memegang tampuk keimamahan pada tahun 220 H. Dari sini umat Syiah khususnya dalam jumlah yang terbatas meragukan keimamahan Imam Hadi As. Syaikh Mufid [20] menulis semua pengikut Imam Jawad As kecuali orang-orang khusus yang sedikit jumlah meyakini pelanjut keimamahan adalah Imam Hadi As. Sedikit orang ini meyakini keimamahan berada ditangan Musa bin Muhammad (w.296) yang dikenal dengan nama Musa Mubarraqah. Namun karena usianya tidak lama yang kemudian dimakamkan di Qom, pengikutnyapun beralih meyakini keimamahan Imam Hadi As. [21] Sa’ad bin Abdullah tokoh yang sebelumnya menolak keimamahan Imam Hadi As dan memilih memberikan baiatnya kepada Musa Mubarraqah, namun kemudian merujuk dari pendapatnya dan beralih mengakui keimamahan Imam Hadi As. [22]
Dalil Keimamahan
Menurut pendapat Tabarsi dan Ibnu Shahr Ashub, kesepakatan pendapat mayoritas umat Syiah adalah dalil yang paling kuat mengenai keabsahan keimamahan Imam Hadi As. [23] Syaikh Kulaini meriwayatkan demikian juga dalam sejumlah literature Syiah klasik lainnya, bahwa sewaktu Imam Jawad As diminta ke Baghdad oleh khalifah Mu’tasham Abbasi, dan menganggap keselamatannya berada dalam keadaan bahaya, iapun memperkenalkan putranya Imam Hadi As sebagai penggantinya dihadapan pengikutnya. [24] Dengan adanya nash-nash yang jelas baik sewaktu menjabat keimamahannya maupun masa setelahnya, tidak ada lagi ruang bagi umat Syiah untuk meragukan keimamahan Imam Hadi As. [25] Para Khalifah Abbasiyah yang Berbarengan Masa dengan Imam Hadi As Imam Hadi dimasa keimamahannya, ia berbarengan dengan masa sejumlah kalifah dari Dinasti Abbasiyah, yang dapat dirincikan sebagai berikut:
Mu’tasham, saudara Ma’mun (218-227 H)
Watsiq putra Mu’tasham (227-232 H)
Mutawakkil saudara Watsiq (232-248 H)
Muntashir putra Mutawakkil (6 bulan)
Musta’in putra paman Muntashir (248-252H)
Mu’taz putra lain dari Mutawakkil (252-255 H)
Imam Hadi As dimasa pemerintahan khalifah Mu’taz mencapai kesyahidannya dengan cara diracun di dalam rumahnya sendiri, dan jenazahnya dimakamkan di Samara. [26]
 
Footnote :

  1. Mufid, hlm. 635.
  2. Naubakhti, hlm. 135.
  3. Ibnu Jauzi, Tadzikarat al-Khawāsh, jld. 2, hlm. 492.\
  4. Arbili, Manāqib, jld. 4, hlm. 432.
  5. Arbili, Manāqib, jld. 4, hlm. 432
  6. Dakhil, jld. 2, hlm. 209.
  7. Bihār al-Anwār, jld. 50, hlm. 117.
  8. Mufid, al-Irsyād, hlm. 635.
  9. Misbāh lil Kaf’ami (Jannatu al-Imān al-Wāqiyah), hlm. 512
  10. Syaikh Abbas Qomi, jld. 3, hlm. 1835.
  11. Mufid, al-Irsyād, hlm. 649
  12. Naubakhti, Furuq al-Syiah, hlm. 134
  13. Arbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 4, hlm. 7.
  14. Dakhil, Aimmatunā, jld. 2, hlm. 209.
  15. Naubah, nama wilayah yang luas di bagian selatan Mesir.
  16. Khasibi, al-Hidāyah al-Kubrā, hlm. 313
  17. Al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 649.
  18. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld. 4, hlm. 433.
  19. Ibnu Hajar, al-Shawā’iq al-Muhriqah, hlm. 207.
  20. Mufid, al-Irsyād, hlm. 638.
  21. Naubakhti, Furuq al-Syiah, hlm. 134.
  22. Asy’ari Qomi, al-Maqālāt wa al-Farq, hlm. 99.
  23. Musnad al-Imam al-Hadi As, hlm. 20.
  24. Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 381.
  25. Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 382.
  26. Arbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 4, hlm. 40.

 
Sumber : http://id.wikishia.net

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *